Home BERITA Srihadi Soedarsono dalam Man x Universe, Mengugah dan Sublim

Srihadi Soedarsono dalam Man x Universe, Mengugah dan Sublim

1371
0
Salah satu karya Srihadi Soedarsono dalam pameram lukisannya bertajuk "Man x Universe" yang berlangsung sejak 11 Maret 2020-9 April 2020 di Galeri Nasioanal Jakarta/doc seni.co.id

SENI.CO.ID – Namanya Prof. Kanjeng Raden Haryo Tumenggung H. Srihadi Soedarsono Adhikoesoemo, MA adalah seorang maestro pelukis Indonesia yang lahir di Solo, 4 Desember 88 tahun lalu. Ia menggelar 44 karya lukisannya  dan sekaligus peluncuran buku “Man x Universe” yang berlangsung sejak 11 Maret 2020-9 April 2020 di Galeri Nasional Jakarta.

Peluncuran diresmikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Saat kita menyaksikan 44 lukisan yang terpajang atas 38 lukisan baru, selainnya koleksi pribadi. Karya-karya yang dihadirkan dalam kanvas besar dibuat dalam kanvas dengan media cat minyak, kecuali sketsa Borobudur yang dibuat tahun 1948.

Sejumlah karya adalah Mt. Bromo– The Mystical Earth (2017), Borobudur–The Energy of Nature (2017), , Papua–The Energy of Golden River (2017), Horizon–The Golden Harvest (2018), The Mystical Borobudur (2019), Jakarta Megapolitan–Patung Pembebasan Banjir (2020) dan Borobudur Drawing (1948).

Borobudur-The Energy of Nature 2019/katalog

Karya  adalah sebuah catatan kuat dan jejak warna dan sejarahnya. Srihadi tak sekadar melukiskan satu bentangan warna dan landscape, ia juga secara khsusu membuat hiperbol kritikal atas merespons realitas kekinian yang terjadi di tanah air.

“Panorama Indonesia itu tidak hanya Borobudur, tetapi sangat banyak. Selain keindahan, kita juga menghadapi keprihatinan. Saya mencatat dan menuangkannya lewat kanvas,” ujar Srihadi sore itu kepada media di ruang samping Galeri Nasional.

Ia mencatat warna kekuataan lukisan yang respon misalnya dalam konteks banjir awal tahun ini, “Lukisan saya tentang banjir, itu bentuk keprihatinan,” jelas Srihadi

Srihadi adalah seorang seniman yang pernah diangkat menjadi anggota Tentara Pelajar pada rentang tahun 1945 hingga 1948 sebagai wartawan pelukis yang menciptakan poster-poster untuk Balai Penerangan Divisi IV BKR/TKR/TNI di Solo. Karier militernya berakhir tahun 1948 ketika terjadi rasionalisasi dengan pangkat sersan mayor dan bersekolah lagi di SMA II Surakarta.

Pada periode 1947-1952 bergabung dalam Seniman Indonesia Muda di Solo dan Yogyakarta; sejak awal berdiri tahun 1950, sebagai anggota aktif dalam pembentukan Himpunan Budaya Surakarta di Solo. Juga aktif mengikuti pameran-pameran seni rupa di Solo dan Yogyakarta.

Pada tahun 1952 ia mulai memasuki pendidikan seni di Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung).

Pada tahun 1955, ia juga menciptakan logo Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR). Logo berbentuk sebuah palette dengan kata-kata “SENI RUPA BANDUNG” dengan lambang Universitas Indonesia. Setelah Maret 1959, bentuk Ganesha menggantikan logo UI di palette tersebut.

Ia lulus sebagai sarjana seni rupa dan diwisuda pada hari Sabtu, 28 Februari 1959, tepat dua hari sebelum Institut Teknologi Bandung diresmikan, Senin, 2 Maret 1959). Pada tahun 1960 Srihadi mendapatkan beasiswa dari ICA untuk belajar di AS untuk melanjutkan kuliah di Ohio State University hingga mendapat gelar master of art pada tahun 1962.

Ia menikah dengan Dra Siti Farida Nawawi dan memiliki dua anak perempuan dan satu anak laki-laki, yaitu Tara Farina, MSc, Rati Farini, SH, LLM, dan Tri Krisnamurti Syailendra.

Pada tanggal 1 Mei 1969 ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Pengangkatannya sebagai guru besar Seni Rupa pada tanggal 1 Desember 1992, sedangkan masa purnabakti sebagai PNS sejak tanggal 1 Januari 2007. Selain sebagai pelukis, ia juga mengajar sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung dan Institut Kesenian Jakarta.

Kurator Pameran “Man x Universe” yang juga dosen Senirupa ITB, Rikrik Kusmara menilai konsep horizon berkembang  menajadi salah satu  babak penting  dalam karir artistik Srihadi, dalam refpresentasi alam.

“Bagi Srihadi, garis  horizon dalam lanscape  memiliki  makna tersendiri sebagai  jawaban dari konsep esensi,” jelas Rikrik.

Beliau mencari pendekatan-pendekatan lain, selain pendekatan yang biasa diekspresikan. Pada Papua itu sangat berbeda esekali landscape-nya dengan yang lain. Begitu pula dengan Semeru, terang Rikrik.

Melihat  karya srihadi memang kita penuh dengan kontemplasi jiwa dalam. Kita diajak merenung dalam ketenangan dan warna hidup yang penuh perenungan, kendati semua itu memang harus menalaah kita sedang ada dialam yang menuju tujuan sebenarnya.

Lukisan Srihadi adalah kekuatan dalam horizon yang tersusun dengan sistematis dalam estetika yang kuat. Maka tak salah jika tokoh sekelas Jean Couteau menulis dalam buku yang diluncurkan pada saat pembukaan itu menyebutkan bahwa Srihadi mempunyai suatu kemampuan untuk ‘merasa’ yang selain luar biasa, juga dikembangkan  dan diasah oleh trasidi jawa asalnya: lebih-lebih kemampuan untuk ‘merasa’ tersebut ditopongi oleh suatu  ‘kecerdasan visual’ luar biasa yang memungkinkan mengkontruk di dalam setiap karyanya suatu sistem sibolik multi komplek yang padananya tidak terlihat hadir didalam ekspresi lisan atau tertulisnya.

Jean juga mengatakan bahwa Srihadi bukan hanya maestro simbolis/warnai Indonesia tetapi sebenarya termasuk salah seorang maestro simbolis-koloris kelas dunia.

Maka tak salah jika kita mengatakan Srihadi Soedarsono dalam Man x Universe, Mengugah dan Sublim. Salut ! | mediataaendra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here