Home BERITA Monolog Wanoja Sunda, Sebuah Karya Tentang Kekuatan Wanita Sunda

Monolog Wanoja Sunda, Sebuah Karya Tentang Kekuatan Wanita Sunda

699
0

SENI.CO.ID – Baru-baru ini, The Lodge Foundation pada 29 Januari 2020 menyelenggarakan sebuah karya seni pertunjukan monolog di Grand Ballroom Savoy Homann Hotel Bandung. Karya seni monolog yang digagas oleh  Heni Smith (Direktur The Lodge Group) ini diberi judul Monolog Wanodja Soenda, sebuah karya monolog yeng bertemakan tentang kekuatan wanita Sunda pada era kolonialisme.  Pertunjukan yang berdurasi lebih dari dua jam ini digarap secara apik dan dramatik oleh Wawan Sofwan selaku Sutradara. Peran Inaya Wahid sebagai Narator memberikan kesan tersendiri, yakni pemunculan kekuatan karakter perempuan, dan Ibu Atalia Praratya Kamil sebagai Pembaca Puisi tentang peran perempuan dan perjuangannya. Sementara tim yang terlibat  dalam proses kreatif karya seni monolog ini hadir sebagai Penulis Naskah, Endah Dinda Jenura, Wida Waridah, Zulfa Nasrullah & Faisal Syahreza. Setting Artsitik dan Lighting oleh Deden Bulqini. Pagelaran seni pertunjukan ini turut didukung oleh Satoe Komunika, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat serta PT Kereta Api Indonesia.

Karya seni pertunjukan monolog yang ditampilkan di Grand Ballroom Savoy Homann Hotel ini menghadirkan suasana kota Bandung pada era tahun 1930-an, yang mengisahkan tentang semangat perlawanan dari para wanita Sunda di era Hindia Belanda. Para wanita Sunda yang telah berkiprah di bidang politik, pendidikan dan seni budaya, yakni Lasminingrat (Maudy Koesnaedi), Dewi Sartika (Sita Nursanti) & Émma Poeradiredja (Rieke Dyah Pitaloka). Semangat perlawanan mereka terwujud dalam setiap pergerakan dari perhimpunan para wanita yang pada masa itu mengalami diskriminasi dan penindasan. Masing-masing tokoh yang diperankan memiliki kekuatan karakter tersendiri. Lasminingrat yang diperankan oleh Maudy terlihat begitu melankolis dan andalemi namun justru memunculkan karakter sosok Lasminingrat yang kuat, tabah dan cerdas. Sita memerankan Dewi Sartika dengan elegan dan pertentang, yang memang merupakan watak asli dari sosok Dewi Sartika yang teguh, ulet, visioner dan pantang menyerah. Lalu Rieke memerankan tokoh aktivis, organisatoris ulung sekaligus politisi wanita Sunda pemberani yang motékar, Émma Poeradiredja, dengan ekspresif dan menawan.

Tiga tokoh Wanoja Sunda, memaknai perjuangan dalam garis sejarah yang satu sama lain saling terhubung oleh tali semangat perubahan. Tiga tokoh tersebut dalam pergulatannya yakni di jalur dunia pendidikan dan politik, para Wanoja Sunda lebih dari sekedar menginspirasi tetapi berani bertindak dan mengambil peranan besar. Keputusan-keputusan berani, keluar dari paradigma yang mejerat lama kaum perempuan di masa penjajahan, oleh para Wanoja Sunda disikapi dengan aksi dan kepercayaan akan keadilan berdiri sebagai manusia yang setara.

Mereka yang dikisahkan sebagai wanoja-wanoja di Tatah Sunda, yang dalam interaksi menghadapi berbagai macam warna dinding penolakan, berbagai macam penindasan sampai mereka terbangun  menyalakan ‘Api Perlawanan’ dengan khas nan cerdas. Meski masing-masingdari mereka berbeda kota kelahirannya, generasi, bahkan jalur perlawanannya tetapi satu sama lain saling menguatkan lewat keniscayaan kesetaraan dalam hidup bernegaradan mengabdi sebagai Manusia Indonesia.

Selain itu, sebelum monolog lahir dimulai, hadir pula penampilan dua perupa wanita masa kini yang tengah berkarya sebagai simbol bahwa kaum wanita juga mampu melakukan pekerjaan yang dianggap hanya bisa dikerjakan oleh kaum laki-laki. Wanita muda tersebut adalah Risa Noorisa – seorang penempa logam – dan Edrike Joosencia – seorang pelukis media arang – yang menampilkan karya-karya mereka yang mewakili semangat dan pengabdian seorang wanita.

Di sela-sela konferensi press di ruang Savoy Room, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menuturkan bahwa dari sisi konten perlu ‘diviralkan’ supaya pesan-pesan nilai luhur dari pementasan monolog ini langsung tersampaikan pada jutaan kaum wanita yang tidak sempat nonton pertunjukannya. Pemerintah Jawa Barat juga terinspirasi dari gerakan Sakola Kautamaan Istri, yaitu dengan membuat program Sekoper Cinta yaitu Sekolah  Perempuan Raih Impian dan Cita-cita yang sudah mencetak  ribuan kaum wanita di Jawa Barat menjadi lulusan yang yang memiliki keterampilan. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Déwi Sartika bahwa nasihat sebagai pembangkit niat dan keteladan sebagai penggerak. Dalam kaitannya dengan pagelaran seni pertunjukan monolog, Ridwan Kamil sangat mengapresiasi dan senantiasa akan turut serta membantu dan mendorong lahirnya mahakarya-mahakarya baru yang bermanfaat bagi masyarakat luas. *I Patra/Seni.co.id   

    

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here