Home DUNIA Penemuan kembali sebuah mahakarya yang hilang

Penemuan kembali sebuah mahakarya yang hilang

492
0
Lukisan berjudul Salisbury Cathedral from the Meadows karya John Constable dipamerkan di Royal Academy pada 1831 namun tidak pernah dibeli orang. Karya ini tersimpan di studio. Karya ini tersimpan di Constable hingga akhir hidupnya di 1837 /Hak atas foto WIKIMEDIA COMMONS

Sebuah lukisan yang menggambarkan dua anak-anak bermain dengan cahaya lilin baru-baru ini diselamatkan dari ketidakjelasan. Kelly Grovier mengeksplorasi pentingnya rasa ingin tahu dalam karya seni.

Kita seharusnya lebih bertanya-tanya tentang rasa ingin tahu yang mendorong manusia. Dia adalah api yang membakar di balik penemuan-penemuan ilmiah dan pencarian atas seni.

Adalah rasa ingin tahu yang menyemangati Caspar David Friedrich saat melahirkan karya Two Men Contemplating the Moon (1825-30) dan menggugah keajaiban yang tersembunyi di balik imajinasi kita lewat lengkungan pelangi melalui karya John Constable, Salisbury Cathedral from the Meadows (1831).

Sama halnya, rasa ingin tahu lah yang membawa Anda berhenti sejenak di sini, bertanya-tanya tentang apa yang menginspirasi para penulis, musisi, sineas, desainer, dan seniman. Semua orang, menurut Albert Einstein, “yang berhenti bertanya-tanya dan berdiri dengan decak kagum, sama saja seperti mati; matanya telah tertutup”.

Dan, Einstein juga percaya bahwa “proses penemuan ilmiah” – tujuan satu-satunya dalam kehidupannya – “adalah, pada dasarnya, pelarian yang terus-menerus dari rasa ingin tahu”. Keingintahuan, dalam hal ini, seolah kekuatan pendulum yang mendorong dan membuatnya terpelanting.

Sejak zaman dahulu, para filsuf punya pendapat berbeda tentang rasa ingin tahu yang mengawali segala pemikiran mendalam. Bila Plato punya kutipan terkenal, “filsafat dimulai dari rasa ingin tahu” dan melihat emosi ini sebagai bagian penting dari proses pemikiran, filsuf Prancis René Descartes justru menganggap perasaan mudah takjub dan kagum adalah penghalang untuk kejernihan pikiran.

“Meskipun bagus bila manusia terlahir dengan kecenderungan untuk hasrat itu”, tulisnya dalam risalah filosofis terakhirnya, The Passions of the Soul pada 1649, “karena dia menjauhkan kita dari memperoleh ilmu pengetahuan, maka kita harus sekuat mungkin berusaha untuk menghilangkannya.”

Bagi Descartes, rasa ingin tahu layaknya roda latihan di sepeda, untuk menuju pemikiran yang mendalam; mereka mungkin membawa Anda ke arah yang benar, tapi Anda tak ingin teman-teman melihat bahwa Anda bergantung padanya.

Bagi ilmuwan dan penyair Amerika-Kanada Rebecca Elson, yang meninggal dunia di usia 39 tahun pada 1999, rasa ingin tahu bukanlah hambatan untuk memperolah ilmu pengetahuan, namun kewajiban intelektual yang ia anggap sangat serius. “Kami para astronom,” ujar dia mengawali salah satu puisinya, “adalah nomaden… Kami memiliki antusiasme..Maka hormatilah tanggungjawab kami untuk merasa ingin tahu”.

Namun terkadang, Elson mengaku, dia lupa pada kewajibannya untuk terus bertanya-tanya: “Cahaya bintang tampak terlalu tajam… Aku lupa bertanya/Dan hanya menghitung saja”.

Bagaimana Anda menjaga api keingintahuan seperti kanak-kanak sebelum mereka tenggelam dalam keseriusan yang dingin?

Dari Plato ke Elson, Descartes hingga Einstein, tantangan dari perasaan ingin tahu adalah menjaga keseimbangannya: bagaimana Anda menjaga api keingintahuan seperti kanak-kanak sebelum mereka tenggelam dalam keseriusan yang dingin?

Juga bagaimana membuatnya tak sekadar kekuatan pemicu bagi para pemikir.

Boleh dibilang, ‘tanggung jawab untuk merasa takjub’ paling berat ada di pundak para musisi, penulis dan penyair, pembuat film dan desainer.

Kita bergantung terus-terusan kepada mereka untuk merasa takjub kepada dunia.

Namun kita juga pemilih. Meskipun kita seharusnya merasa ingin tahu seperti anak tiga tahun, sebuah lukisan atau patung yang dibuat oleh profesional namun tampak seperti dipahat oleh anak kecil akan langsung diganjar dengan cemoohan.

Meskipun rasa ingin tahu, tak diragukan lagi, menjadi kekuatan yang berdenyut melalui kuas setiap pelukis, sejujurnya, hanya sedikit saja yang mampu menangkap esensinya dan menuangkannya ke dalam karya.

lukisan, karya seni, abad pencerahan inggris
Dalam lukisan “Two Boys Blowing a Bladder by Candlelight” oleh Joseph Wright of Derby, tergambar ketakjuban akan ilmu pengetahuan di Abad ke-18

Baru-baru ini, tepatnya pada 2019, sebuah mahakarya yang dibuat oleh seniman di masa Pencerahan Inggris, Joseph Wright of Derby, yang sebelumnya tidak diketahui oleh sejarawan seni, menimbulkan decak kagum tersendiri.

Dengan halus, lukisan ini menggemakan subjek yang sedari tadi kita bahas: dua anak lelaki kecil sedang menguji sebuah kantong yang bercahaya, menyala oleh kerlip lilin tak terlihat di belakangnya.

Cahaya bulan

Wright of Derby disebut-sebut berkaitan dengan kelompok yang dinamai Lunar Society — sebuah kelompok termasyhur pada Abad ke-18 yang anggotanya terdiri dari ilmuwan dan industrialis, yang secara rutin bertemu untuk mendiskusikan dan membuat percobaan paling mutakhir.

Kegiatan mereka menarik bagi banyak pihak, termasuk para penemu mesin uap dari Skotlandia, James Watt dan Matthew Boulton, hingga fisikawan Erasmus Darwin.

Dari ahli keramik legendaris Josiah Wedgwood hingga penemu lintas-bidang pengetahuan Joseph Priestley, yang salah satu penemuannya adalah keberadaan gas, termasuk oksigen.

Lukisan ini diketahui dibuat satu dekade sebelum Priestley berhasil mengisolasi O2 (yang kala itu dengan ceroboh disebutnya sebagai “udara tanpa-phlogiston”). Two Boys Blowing a Bladder by Candlelight menangkap ketakjuban dua anak kecil di puncak perubahan zaman, saat ilmu pengetahun perlahan-lahan menguak bagaimana semesta dan tubuh kita bekerja.

Rasa takjub ini terlihat di mata kedua anak di dalam lukisan, saat mereka menguji sejauh mana embusan nafas mereka mendorong dinding kulit kantong. Tatapan mata ingin tahu ini membeku, tepat sebelum ia meledak menjadi pengetahuan empiris.

lukisan, karya seni, abad pencerahan inggris
Lukisan “Two Men Contemplating the Moon” oleh Caspar David Friedrich menggarisbawahi kehadiran spiritual yang agung di alam semesta

Setengah abad kemudian, sebuah lukisan lain dengan cermat menggambarkan aura serupa, Two Men Contemplating the Moon (1819-20) karya Caspar David Friedrich, tampak mirip dengan lukisan dua bocah di atas — kali ini dalam versi dewasa.

Rasa takjub kedua pria di lukisan ini tetap ada, meski setelah mengetahui berbagai macam penemuan ilmiah. Di sini, objek yang membuat mereka terkagum-kagum adalah bulan sabit, alih-alih kantong udara. Namun keduanya sama-sama merupakan metafora dari semangat meraka yang berbinar-binar.

Akar dan dahan pohon yang saling mencuat ditimpa cahaya bulan menambah indah lukisan. Pikiran bisa menyelidiki, namun misteri akan terus ada.

Atau benarkah demikian? Seabad sebelum Eisntein berkata bahwa ilmu pengetahuan “adalah, pada dasarnya, pelarian yang terus-menerus dari rasa ingin tahu”, penyair Inggris John Keats mengeluhkan bahwa alasan-alasan empiris “akan memotong sayap malaikat” dan “menggantikan misteri dengan aturan dan batasan”.

Hasil menyedihkan dari penaklukkan itu, ujar Keats tentang dampak ilmu pengetahuan, akan membunuh rasa ingin tahu dan “mengosongkan udara dari hantu” dan “mengoyak sulaman pelangi” — dan menggantikan pertanyaan-pertanyaan dengan tugas-tugas menghitung yang tak punya jiwa.

Dengan menjelaskan keindahan yang sebelumnya tak bisa dijabarkan, Isaac Newton, ujar Keats, merenggut dan “menghancurkan pelangi yang puitis dan menjadikannya sebuah prisma semata”.

Hari-hari ini, dua abad setelah Keats mengutarakan pendapatnya tentang matinya rasa ingin tahu, seorang pelukis dengan aliran abstrak, Liliane Tomasko yang berasal dari Zurich, berusaha menyulam lagi keajaiban warna-warna pelangi. Karya seninya yang diberi judul Amygdala – namanya diambil dari kumpulan neuron di otak manusia yang bertanggung jawab terhadap emosi (termasuk rasa bahagia dan takut, kecemasan dan kekaguman) – adalah simpul dari kegembiraan, kecantikan dan bahaya yang saling bertaut.

Di dalam visi Tomasko yang berkabut dan membingungkan, jiwa-jiwa berhenti menghitung dan melebur dengan misteri, merenungkan di mana keberadaan kita di dalam tenunan ajaib dunia. Bukankah itu luar biasa?

Sumber Kelly Grovier BBC Culture / Hak atas foto diatas WIKIMEDIA COMMONS

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here