Home DUNIA Marlon Brando hingga Leonardo DiCaprio: Standar ketampanan aktor Hollywood dari tiap dekade

Marlon Brando hingga Leonardo DiCaprio: Standar ketampanan aktor Hollywood dari tiap dekade

617
0
Marlon Brando adalah satu dari sedikit aktor Hollywood yang digilai penggemar film perempuan karena ketampanan dan personanya./GETTY IMAGE

Berikut ini adalah para pria yang paling digilai perempuan pada zamannya. Christina Newland melihat bagaimana bintang film pria ditampilkan sebagai objek hasrat yang berbeda, sesuai zaman mereka.

Kekasih impian, idola pertunjukan, pacar dari layar kaca, dan pencuri hati. Apapun sebutannya dan bagaimanapun Anda menyebut mereka, para aktor film ini sudah bersama kita sejak pertama kali kita menonton film. Mereka memberi kita impian tentang pacar ideal dan fantasi yang menghiasi dinding-dinding kamar para remaja.

Impian romantis itu bisa berupa rahang kotak Paul Newman atau intensitas kepercayaan diri Denzel Washington yang telah membuat hati berdebar. Namun, apa pun jenisnya, selama hampir seabad terakhir bioskop telah menjadi ruang aman bagi para perempuan yang mendamba.

Di mana lagi selain di bioskop, seorang perempuan terlepas dari ras atau usia atau kelas sosial, bisa mendamba secara begitu terbuka, tanpa peduli dengan tabu?

Film
Setiap era memunculkan kriteria tersendiri terhadap aktor yang digemari para penikmat film perempuan.

Di luar bioskop, pria dipersilakan melirik perempuan di mana pun mereka inginkan, terlepas dari ketakutan atau perasaan perempuan itu sendiri.

Namun perempuan, yang begitu terbelenggu oleh keinginan laki-laki, yang diajarkan untuk menyangkal dan menghindari nafsu laki-laki di setiap kesempatan, mungkin menemukan objek ideal keinginan mereka pada bintang film idola.

Dengan cara tersebut, mereka mungkin bisa membalas tatapan para lelaki dengan cara menatap balik.

Film Little Women dirilis Desember lalu. Para penggemar aktor favorit Hollywood terkini, Timothée Chalamet, pasti akan melirik atau memuja film tersebut.

Mari periksa daya tarik Chalamet: sosok ikal coklat, berkaki kurus seperti anggota The Strokes yang hilang, tulang pipi bersudut, bagai melihat kembalinya cinta abadi kita pada pria yang tidak mengintimidasi.

Di era setelah #MeToo, mungkin itu tidak terlalu mengejutkan. Selama beberapa dekade, para aktor pencuri hati jadi tempat untuk melihat hasrat romantis dan seksual para perempuan.

Popularitas kepribadian para lelaki itu mencerminkan bagaimana kita memandang maskulinitas pada waktu tertentu. Jadi, simak daftar para lelaki pencuri hati pada setiap dekade, dan kisah yang muncul dari masa mereka.

aktor, hollywood, ketampanan
Aktor Amerika kelahiran Italia Rudolph Valentino tahun 1925. Nama aslinya adalah Rodolpho Alphonso Guglielmi di Valentina d”Antonguolla.

1920-an

Kekasih Latin: Rudolph Valentino

Di era film bisu, lebih banyak perempuan pergi ke bioskop daripada pria. Perempuan kelas pekerja dan imigran tahun 1920-an sering menganggap bioskop sebagai satu-satunya hiburan mereka sepanjang hari.

Bioskop memberi mereka oasis ketenangan dari kehidupan domestik yang penuh pekerjaan.

Maka masuk akal bahwa sang pujaan masa itu, yang namanya kita masih ingat sampai sekarang, adalah Rudolph Valentino. Dia ditemukan seorang penulis skenario perempuan, June Mathis, yang tahu bahwa audiens perempuan mungkin akan memujanya.

Valentino lahir di Italia. Dengan sosok langsingnya, rambut hitamnya yang licin, dan mata berbentuk almond yang miring, ia memainkan berbagai karakter ramah, ‘eksotis’, dan menciptakan tren yang disebut ‘Kekasih Latin’.

Penggemar Valentino hampir secara eksklusif merupakan perempuan. Dia memunculkan perasaan kebencian dan ketidaksukaan pada sebagian besar pria Amerika. Itu mungkin karena dia dianggap sebagai ‘orang asing’ yang menarik perhatian perempuan Amerika.

Valentino meninggal muda secara tragis, mengokohkan ketenarannya dan menyebabkan sesuatu yang nyaris histeria di antara para penggemar perempuannya. Nama-nama lain yang kurang diingat akan muncul juga: Wallace Reid, Ramon Novarro, dan Gilbert Roland.

Apa yang paling mencolok dari popularitas Valentino dan tipenya selama bertahun-tahun ini adalah bagaimana mereka secara eksklusif menarik lebih banyak perempuan daripada pria dan masih berhasil menjadi sangat sukses.

aktor, hollywood, ketampanan
Lana Turner dan Clark Gable di film “I’ll Find You”

1930-an

Pria tangguh membumi: Clark Gable

Selama periode Depresi Hebat, selera penonton film mulai menjauh dari fantasi muluk-muluk dari dekade sebelumnya. Publik beralih pada idola tangguh yang lebih membumi.

Lelaki dengan cara bicara cepat menggatikan sang ratu glamor; pria tangguh macho menggantikan pria pesolek berpakaian rapi. Masuk akal.

Dalam masa sulit yang penuh gejolak, pemberontakan dari aturan gender tradisional dikesampingkan demi sosok pasangan yang solid dan aman: seorang lelaki yang dapat melindungi Anda dari ketidakpastian dunia di luar.

James Cagney dan Edward G Robinson menjadi ikon sinema kejahatan dengan penggambaran mereka sebagai penjahat jalanan. Namun ada satu lagi pria dengan gaya kasar dan berantakan, dan yang terpenting mungkin bahwa dia pria yang sangat Amerika. Pria itu dikenal sebagai ‘Raja Hollywood’. Namanya adalah Clark Gable.

Jangkung, rahang persegi, dengan kumisnya yang terkenal itu, Gable memerankan pria romantis yang berapi-api. Lawan mainnya adalah perempuan-perempuan Hollywood yang paling diinginkan waktu itu; Jean Harlow, Joan Crawford, dan Carole Lombard.

Dalam kehidupan nyata, bicaranya jelas dan dikenal karena cintanya pada alam bebas. Majalah penggemar zaman itu tanpa henti menegaskan kembali bahwa Gable adalah pria yang diidolakan para wanita.

Salah satu majalah melaporkan pada tahun 1934 bahwa dalam kunjungan ke New York, ia disambut dengan intensitas sekelas Beatle-mania: “dikerubungi perempuan yang berteriak dan menjerit”.

Pada tahun 1939, ia menutup dekade dengan berperan sebagai Rhett Butler di Gone with the Wind, mengabadikan statusnya sebagai pria gagah.

aktor, hollywood, ketampanan
Frank Sinatra pada 1924.

1940-an

Penyanyi sentimental: Frank Sinatra

Secara fisik, si mata biru tidak terlalu menarik. Kurus, selalu kerempeng, dan tingginya hanya 170 sentimeter. Dibandingkan dengan beberapa aktor pria berbadan besar, ia mungkin tampak seperti sosok kecil.

Semua itu terhapuskan ketika dia membuka mulut untuk bernyanyi. Si vokalis yang manis itu menjadi pengiring lagu bagi jutaan romansa para fans perempuan. Doa bahkan membantu mengumpulkan uang untuk obligasi perang, berkat kemunculannya dalam iklan pemerintah AS.

Kolumnis Gossip Louella Parsons menulis tentang Sinatra pada tahun 1944. “Selama dua puluh tahun meliput Hollywood, saya belum pernah melihat hal semacam demam Sinatra ini,” ujarnya.

Saat itu, Sinatra sudah membintangi beberapa film musikal. Anchor Aweigh dan Gene Kelly adalah dua dari beberapa lawan mainnya.

Kemampuan Sinatra dalam peran dramatis menjadi semakin jelas pada dekade berikutnya, tetapi tahun 1940-an adalah puncak popularitas romantisnya di kalangan penggemar perempuan. Ia dijuluki ‘Bobby Soxers’.

Sebelum Elvis atau The Beatles, Sinatra-mania berada pada puncak tertingginya.

aktor, hollywood, ketampanan
Marlon Brando tahun 1955.

1950-an

Sang pemberontak: Marlon Brando dan Harry Belafonte

Memang benar bahwa jika Anda ingin menemukan contoh orang tahun 1950-an, ala Don Draper misalnya, yang paling mewakili adalah Rock Hudson yang sangat tampan atau pria berjas flanel abu-abu, Gregory Peck.

Namun pencuri hati yang lebih menarik dan tentu saja lebih berpengaruh adalah mereka yang punya sifat bohemian dan sikap yang tidak konvensional. Mereka akan mengubah masyarakat AS di tahun-tahun mendatang.

Marlon Brando adalah idola perempuan dan pusat karismanya sendiri. Pada tahun 1951, dia membintangi film yang diadaptasi dari teater Broadway sukses, A Streetcar Named Desire.

Brando bermain tanpa ampun bersama Stanley Kowalski dengan energi seksual sedemikian rupa sehingga film tidak pernah sama lagi setelahnya.

Dalam kenakalan ala remaja nakal yang mengambil alih Amerika pada 1950-an, reputasinya tumbuh bersama sesama aktor seperti Montgomery Clift dan James Dean.

Brando, seperti Dean dan Clift, adalah seorang biseksual. Kombinasi antara tampilan maskulin dan feminin: berbahu lebar, jantan, dengan t-shirt ketat, bermandikan keringat, tetapi juga berwajah lembut, berbibir pucat, hampir cantik adalah pusat dari daya pikatnya.

Brando mewujudkan paradoks yang telah lama memesona wanita dan membuat banyak orang yang berpegang pada peran gender tradisional di tahun 50-an merasa tidak nyaman.

Kolumnis Gossip, Hedda Hopper, menulis pada tahun 1952 bahwa “Dalam kelompok perempuan mana pun, nama Marlon Brando bagai api unggun”.

Meski begitu, Hopper pun mengakui bahwa tentu saja Brando tidak jadi selera semua orang.

Hopper menceritakan bahwa beberapa temannya menganggap Brando ‘vulgar’ dan bahwa gaya berpakaian bohemiannya dengan jeans, t-shirt, dan mokasin, membuatnya terlihat berantakan.

Sementara itu, bintang Calypso Harry Belafonte menjadi bintang layar di awal 1950-an, menjadi apa yang disebut majalah Photoplay sebagai ‘idola Negro pertama’.

Belafonte bergerak melampaui penghibur musik dan menjadi pemeran utama romantis dalam musikal seperti Carmen Jones (1954) dan Island in the Sun (1957), melanggar aturan tradisional tentang seperti apa pria terkemuka itu.

Dia dan temannya, Brando, juga menjadi pendukung gerakan hak-hak sipil yang blak-blakan pada dekade berikutnya.

aktor, hollywood, ketampanan
Aktor Fred Williamson sebagai Jefferson Bolt di film ‘That Man Bolt’, 1973.

1970-an

Pria kekar: Richard Roundtree; Burt Reynolds, Fred Williamson, hingga Robert Redford

Mungkin pada tahun 1970-an terjadi ledakan pria-pria keren karena efek sesudah revolusi seksual.

Tahun 1970-an adalah tahun yang bebas, ketika bioskop akhirnya menyingkirkan sisa-sisa sensor. Para pria yang tidak takut tampil di Playgirl Magazine atau memakai baju yang tak dikancing di pusar, ada di mana-mana.

Di layar lebar, mereka menampilkan gaya provokatif yang seksual dengan koboy macho (Redford), kelas pekerja (Reynolds), polisi kota yang tangguh (Roundtree), dan anggota kelompok bandit (Williamson).

Dekade itu benar-benar surga bagi perempuan yang terbebaskan secara seksual: apakah Anda menyukai Shaft atau The Sundance Kid, rambut dada yang terbuka dan kejantanan yang terbuka, sudah cukup untuk membuat siapa pun berada di ujung tanduk.

aktor, hollywood, ketampanan
Richard Gere dan Julia Roberts dalam film ‘Pretty Woman’, 1990.

1980-an

Laki-laki kelas menengah yang trendi: Richard Gere, Don Johnson

Idola dekade 1980-an tidak takut pada materialisme dan kesombongan. Mereka senang memakai setelan mahal dan menghabiskan banyak uang demi potongan rambutnya.

Mereka juga mempertahankan daya tarik macho melalui gerakan heteroseksual yang agresif dalam kehidupan nyata dan di layar lebar, mereka berperan sebagai pria tangguh, suka perempuan, dan gigolo.

Don Johnson membantu menjelaskan tampilan dekade ini di acara televisi Miami Vice, dengan gayanya yang santai dan hampir malas.

Begitu juga dengan Richard Gere. Meskipun ia bisa dibilang tidak benar-benar menjadi idola romantis sampai perannya dalam Pretty Woman (1991) bersama Julia Roberts.

Gere memiliki persona yang menjadikannya makhluk dari era Reagan. Perannya sebagai penghibur kelas atas di American Gigolo dipenuhi barang-barang mewah.

Dengan tubuh yang ideal, dia adalah objek dari tatapan ramah para perempuan dan queer, sesuatu yang relatif baru di bioskop AS.

Semakin banyak laki-laki, dari Gere hingga pahlawan penuh aksi Jean-Claude Van Damme – menanggalkan pakaian dan memperlihatkan pantat mereka yang telanjang kepada penonton.

aktor, hollywood, ketampanan
Leonardo DiCaprio ketika muda.

1990-an

Bocah cantik yang sensitif: Leonardo DiCaprio

Meskipun rasanya agak menghibur ketika sekarang kita harus membayangkan DiCaprio yang ganti-ganti pacar supermodel, sebagai bocah lelaki yang sensitif dan berwajah cantik seperti dulu, ketika pada tahun 90-an ia sangat cocok dengan perannya.

Aktor sezamannya, Johnny Depp, River Phoenix, Brad Pitt, dan sejenisnya, berbagi persona yang sama: tampilan remaja yang mempesona, agak tak bisa dipercaya, lebih mirip personel band yang juga jadi bintang film.

Jauh dari idealisme lelaki macho berbahu persegi, mereka berperan sebagai penyair, pengangguran, kekasih yang terkutuk, dan vampir yang ditulis Anne Rice.

Tetapi DiCaprio mencapai puncak dalam perannya sebagai Jack Dawson di film laris Titanic (1997) dan sebagai kekasih yang terkutuk dalam film favorit Romeo & Juliet (1996).

Dua film itu menjadikan DiCaprio sebagai malaikat romantis yang tragis pada dekade itu, mempengaruhi budaya di mana film, musik, dan sastra lebih tertarik dalam mendekonstruksi kedewasaan tradisional daripada menegakkannya.

aktor, hollywood, ketampanan
Timothée Chalamet si pacar internet.

2010-an

Pacar Internet: Timothee Chalamet

Saat ini, akibat meme dan akun penggemar di Twitter, menggemari para pria idola menjadi lebih mudah dan lebih populer dari sebelumnya.

Pacar internet tidak selalu memiliki tampilan atau tipe tertentu, tetapi satu hal yang tampaknya dimiliki oleh semuanya adalah jaringan fans online yang ‘gila’.

Ada pula kecenderungan pesona dalam kehidupan nyata yang menambah reputasi keseluruhannya.

Bisa jadi kebaikan hati Keanu Reeves yang terkenal, kebencian Chris Evans pada Donald Trump dan cintanya pada anjing, ekspresi wajah ramah Adam Driver, atau Timothee Chalamet dan kepolosannya saat berkata “Siapa? Saya?” adalah sesuatu yang menyenangkan, dan membuat kita menggemari mereka melampaui akting layarnya.

sumber: Christina Newland, BBC Culture

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here