Home AGENDA SANENTO ITU

SANENTO ITU

939
0

SENI.CO.ID — Namanya Sanento Yuliman (1941-1992) bagi jagat seni namanya sangat penting di Indonesia. Sanento salah satu kritikus terdepan yang benar-benar dicatat dan diperhitungkan dalam dunia seni.
Malam tadi saya membaca, jejak-jejaknya Sanento yang disajikan di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki.

Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992), adalah hasil gawe Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta. Pameran ini bisa disaksikan sampai 15 Januari 2020. Yuk kita saksikan perjalanan Sanento.

Rabu (11/12/20) malam itu, pembukaan pameran ini diawali pembacaan puisi karya Sanento Yuliman berjudul Laut oleh Rebeca Kezia diiringi musik Sri Hanuraga, sayang soudsystemnya buruk di ruang itu. Goenawan Mohamad pun menyebutnya demikian karena pembacaan puisi karya Sanento menjadi kurang tercerna.

Kurator Pameran Hendro Wiyanto dan Danuh Tyas Pradipta (Putra dari Sanento) telah memilih sejumlah data arsip yang konperhensif, artinya bahwa tentang Sanento dalam ruang lingkup dan isi karya Sanento terpetakan dan arsip-arsip ini akhirnya bicara banyak.

Karya Sanento lebih lengkap dengan sajian yang khusus dalam kotak-kotak yang tersusun. Bahkan naskah tulisan dan keliping yang disajikan memberikan ruang jelajah yang melihat makin kuat bahwa Sanento adalah pemikir yang ulung.

Ada surat menyurat untukl S. Sudjojono, sketsa, mesin ketik sebagai senjata menulis dipamerkan.

Pameran juga menerbitkan buku trilogi kumpulan kritik seni rupa, Tiga buku itu merupakan rangkaian produksi pengetahuan Seri Wacana Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta. “Dari Pembantu Seni Lukis Kita: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa Oei Sian Yok (1956-1961), Rumpun dan Gagasan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-2019) Bambang Bujono, dan Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-1992) Sanento Yuliman.


’’Seni membutuhkan sesuatu di luar dirinya sebagai zona refleksi, konfirmasi, dan koneksi dengan dunia yang lebih luas. Di sini, kritik seni diperlukan dan Sanento memiliki semua itu,’’ demikian Danton Sihombing Plt. Ketua Dewan Kesenian Jakarta yang punya perhelatan ini.

Danton juga menyebut bahwa pentingnya kritik dan pemikiran dalam dunia seni, salah satu pandangan Sanento Yuliman selaku kritikus dan pemikir seni rupa di Indonesia adalah pendapatnya bahwa seni rupa modern di negeri ini merupakan proses transaksi serupa tukar menukar kebudayaan akibat pengaruh Barat di masa kolonial dan kesadaran kaum intelektual dalam mengadopsi tata cara hidup modern.

Goenawan Mohamad yang membuka pameran ini menyebut Sanento sebagai seorang penulis yang memiliki pemikiran filosofis. ’’Saya mengenal Sanento sekitar tahun 68 sepulang dari Eropa dan saat itu saya tahu tulisannya saya di Jakarta dan Sanento di Bandung,’’ katanya diatas panggung saat membuka pameran ini.

“Sanento dalah salah satu orang yang tertarik dengan ide bahwa seni tak harus terkungkung pada batasan-batasan seni tinggi dan berseberangan dengan seni terapan. Ia adalah orang yang percaya pada pentingnya keterampilan mencipta karya dan mempresentasikannya, bukan sekadar ahli konsep,” jelasnya.

Akhirnya dalam catatan ini bahwa “Mengingat-ingat Sanento Yuliman (1941-1992) itulah sejarah kuat catatan penting milik bangsa ini yang sangat kuat. Kami belajar padamu Sanento ilmumu luhur dan kami takjim… (AM)

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here