Home BERITA From Beijing to Bali

From Beijing to Bali

574
0
Karya Pande Nyoman Alit Wijaya Suta, yg di Beijing Biennale

Oleh: Wayan Jengki Sunarta*

Berhasil lolos dalam ajang seni rupa bertaraf internasional tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi perupa. Selain menjadi salah satu tolak ukur bagi kualitas karya, tentu juga menjadi semacam pengakuan forum internasional terhadap karya yang dibikin perupa.

Tahun 2019 ini, tiga perupa Indonesia lolos dalam kurasi Beijing International Art Biennale (BIAB). Mereka adalah Antonius Kho, Pande Nyoman Alit Wijaya Suta, dan RB Ali. Pada tahun 2010, karya Antonius Kho juga berhasil lolos dan tahun 2015 menyusul karya Pande yang menembus gawang kurasi BIAB. Bagi ekosistem seni rupa Indonesia, tentu ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri karena perupa Indonesia tetap diperhitungkan di tingkat internasional.

Karya saya, Antonius Kho yg di Beijing Biennale

BIAB merupakan pameran seni rupa internasional yang dirintis sejak 2003 dan digelar oleh Pemerintah Kotamadya Beijing, China. Selama sepuluh tahun terakhir, tercatat sekitar empat ribu seniman dari berbagai negara yang berpartisipasi dalam pameran tersebut dengan pengunjung pameran sekitar satu juta orang.

BIAB yang menginjak usia ke-8 itu bertema “Dunia yang Penuh Warna dan Masa Depan Bersama”. Pameran yang melibatkan sekitar enam ratus seniman dari berbagai negara tersebut digelar di Museum Seni Nasional China, Beijing, dari tanggal 26 Agustus hingga 23 September 2019.

Sebagai platform untuk pertukaran budaya internasional, BIAB mengadopsi mode kerja sama Komite Kuratorial Tiongkok dan kurator internasional. Panitia BIAB berpegang pada gagasan untuk melakukan upaya membangun platform internasional yang spesifik. Melalui konsepsi mempromosikan keharmonisan global dan menghormati keragaman budaya, BIAB telah mendapatkan pengakuan dan dukungan yang melimpah dari seniman berbagai negara.

Karya RB Ali yg di Beijing Biennale

Tiga perupa Indonesia yang lolos BIAB menampilkan karya-karya yang sesuai dengan tematik event tersebut. Antonius Kho menampilkan karya berjudul “Jari Menari” (104 x 94 cm, mixed media on canvas, 2019) yang mengisahkan figur-figur yang bergerak lincah dalam sebuah tarian mengikuti irama musik yang dinamis. Figur-figur yang menari itu sesungguhnya menebarkan pesan-pesan perdamaian dalam rangkuman keindahan seni. 

Antonius Kho adalah perupa kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 1958. Dia menempuh pendidikan seni di Academy of Fine Art, Cologne, Jerman dan memilih Bali sebagai tempat tinggal. Antonius banyak terlibat dalam berbagai pameran bersama, di dalam maupun luar negeri. Pameran tunggalnya, antara lain “Faces in Memory” di Jerman (2019), “Sweet Memories” di Shanghai, China (2018), “Remembering 1” di Koi Gallery, Jakarta (2017), dan sebagainya.

Pande Nyoman Alit Wijaya Suta menampilkan karya berjudul “Sweet Dream” (150 x 180 cm, akrilik di kanvas, 2019). Karya itu mengungkapkan renungan tentang makna kebahagiaan. Bagi Pande, kebahagiaan tidak bisa diukur dengan kekayaan. Kebahagian sangatlah sederhana ketika manusia mampu tersenyum dalam menghadapi berbagai masalah. Dan, bermimpi yang indah akan membuat dunia ini penuh warna. Bermimpi dalam hal ini adalah bermimpi saat terjaga ketika menjalani kehidupan.

Pande Wijaya Suta adalah perupa kelahiran Denpasar, 29 Agustus 1984.  Dia menamatkan pendidikan seni rupa di ISI Yogyakarta. Sejak 2008 aktif dalam banyak pameran bersama, antara lain “Bali Megarupa” (2019), “Merdeka dalam Ekspresi” di Taman Budaya Bali (2019), “Nitibumi” di Bentara Budaya Bali (2016), Beijing International Art Biennale, China (2015), “Colek Pamor” di Museum Arma, Ubud (2014).

Sementara itu, lukisan RB Ali yang lolos dalam BIAB 2019 berjudul “Relativity of Time” (150 x 150 cm, akrilik di kanvas, 2018). Lukisan itu berkisah tentang manusia dan kehidupan yang tidak bisa dipisahkan dari konsep ruang dan waktu. Ali menuturkan bahwa ke mana pun manusia pergi, apa pun yang dilakukannya, manusia akan terus berada dalam pusaran ruang dan waktu. Waktu akan terus bergerak, meninggalkan kisah hidup yang tidak akan terulang lagi.

RB Ali adalah perupa kelahiran Lampung, 25 Agustus 1977. Dia menetap di Tangerang Selatan, Banten. Sejak 1996 dia aktif menampilkan karyanya dalam banyak pameran bersama. Pameran tunggalnya antara lain “Lelaku” di Planet Art Gallery Jakarta (2019), “Tembang Sunyi” di Galeri Nasional Jakarta (2016), “Inner Beauty” di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (2014).

Pengalaman mengikuti BIAB menumbuhkan kesan yang mendalam bagi ketiga perupa tersebut. Mereka sepakat bertemu di Bali dan menggelar pameran bersama bertajuk “From Beijing to Bali”. Pameran ini digelar di Danes Art Veranda, Denpasar, Bali, dari tanggal 2  hingga 10 Desember 2019. Pameran ini dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi dan perayaan bagi ketiga perupa yang lolos dalam BIAB.

Dalam pameran kali ini, Antonius Kho menampilkan lukisan-lukisan figuratif dan ornamentif dengan teknik mozaik dan media campuran. Fokus dalam lukisannya cenderung menyebar di seluruh bidang kanvas. Pola-pola figur manusia disusun dari berbagai mozaik gambar hewan, mata, dan topeng yang berpadu membangun keutuhan. Dia membuat lukisannya dalam komposisi yang terstruktur, penuh goresan-goresan kuat, dan penerapan warna-warna cerah dan lembut. Secara umum, lukisan-lukisannya seperti perpaduan aneka jenis nada yang membangun harmonisasi.

Hal itu, misalnya, tampak pada lukisan berjudul “Two Best Friends” (100 x 100 cm, mixed media on canvas, 2019) yang menampilkan persahabatan dua perempuan. Dua figur perempuan itu disusun dari mozaik gambar hewan yang ditata sedemikian rupa dipadu dengan warna-warna lembut.

Kekuatan dan kelenturan torehan garis yang berpadu dengan mozaik gambar-gambar hewan yang membentuk figur manusia juga tampak dalam lukisan “Pengantin Myanmar” (100 x 80 cm, mixed media on canvas, 2018). Atau, pada lukisan “Myanmar Dance” (95 x 75 cm, mixed media on canvas, 2018) dimana mozaik-mozaik hewan saling berebut perhatian dengan figur penarinya.

Pande Nyoman Alit Wijaya Suta menyuguhkan lukisan-lukisan yang diinspirasi dari benda-benda sakral dan simbol-simbol kuna yang selalu menyisakan ruang misteri bagi dirinya. Dia menyusun objek lukisannya dengan garis-garis yang dibubuhi berbagai ikon atau simbol yang biasa ditemukan dalam seni tribal. Setiap detail lukisannya dibubuhi simbol-simbol atau ikon-ikon arkaik yang ditata sedemikian rupa menjadi satu kesatuan.

Lukisan-lukisan Pande dalam pameran ini semuanya berukuran 120 x 100 cm dengan bahan akrilik di kanvas. Lewat lukisannya, dia menceritakan interaksi budaya Bali dan China yang telah berlangsung sejak zaman dahulu. Misalnya, legenda raja Bali kuna, Jayapangus, yang menikah dengan putri dari China, Kang Cing Wie, tampak pada karya berjudul “Jero Gede” dan “Jero Luh”. Sosok Jero Gede dan Jero Luh dalam bentuk barong landung hingga kini disakralkan oleh masyarakat Bali.

Interaksi budaya Bali dan China juga ditampilkan Pande lewat lukisan berjudul “Kwangen”.  Kwangen adalah salah satu sarana persembahyangan umat Hindu-Bali yang di dalamnya terdapat pis bolong (uang kepeng). Pis bolong diyakini berasal dari China dan hingga sekarang masih dipergunakan untuk pelengkap ritual di Bali.

Karya Pande yang tak kalah menariknya berjudul “Barongsai in Bali”. Setiap perayaan Imlek, kesenian barongsai seringkali dipentaskan di beberapa tempat di Bali. Barongsai juga diyakini menginspirasi masyarakat Bali menciptakan Barong Ket yang erat kaitannya dengan pementasan sakral dan ritual. Lukisan-lukisan Pande menunjukkan interaksi budaya Bali dan China yang telah terjalin harmonis dari zaman kerajaan Bali kuna.

Sementara itu, RB Ali menampilkan lukisan-lukisan yang diinspirasi dari mengikuti dan mengunjungi BIAB. Dia melihat banyak persamaan budaya di antara kedua negara (Indonesia dan China), terutama upaya-upaya melestarikan situs-situs peninggalan leluhur.

Hal itu, misalnya, tampak dalam lukisan “Culture” (80 x 110 cm, akrilik di kanvas, 2019). Lukisan tersebut menampilkan ikon-ikon kebudayaan Indonesia dan China yang dirangkai menjadi satu kesatuan, seperti Borobudur, pura, Tembok Besar China dan Forbidden City. Lewat lukisan ini, Ali ingin menyampaikan bahwa ada keterkaitan budaya antara Indonesia dan China.

Lukisan-lukisan Ali yang lain menampilkan tema yang lebih beragam, dari persoalan cinta, eksistensi diri, dan renungan soal waktu. Lukisan berjudul “Energi Cinta” (80 x 110 cm, akrilik di kanvas, 2019) menampilkan empat figur perempuan dalam posisi terdistorsi. Lukisan ini menyuguhkan perenungan bahwa energi cinta mampu menyelesaikan berbagai permasalahan demi mencapai kedamaian.

Lukisan Ali yang berjudul “Dialog Waktu” (80 x 110 cm, akrilik di kanvas, 2019) menarik perhatian karena permainan warna dan garis yang sublim. Lukisan yang cenderung abstrak ini mengandung perenungan perihal waktu. Bahwa masa lalu adalah bahan pembelajaran untuk menghadapi masa kini dan masa depan.

Kekuatan lukisan-lukisan Ali terletak pada upaya memadukan garis, bidang dan warna yang diselingi dengan figur-figur tertentu. Bahkan dari permainan garis, bidang dan sapuan warna yang lembut itu membentuk figur yang tersamarkan. Hal itu, misalnya, tampak pada lukisan “Tersisih” (80 x 110 cm, akrilik di kanvas, 2019), di antara dua figur perempuan tampak terlentang sosok yang misterius.

Selain sebagai ajang silaturahmi di kalangan perupa, pameran ini layak diapresiasi karena menyuguhkan karya-karya dengan tematik dan teknik beragam yang digali dari proses berkesenian yang panjang. Pameran ini juga penting sebagai upaya membangun dan memperkuat wacana interaksi budaya Indonesia dan China.***

*Wayan Jengki Sunarta menamatkan pendidikan Antropologi Budaya di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. Dia juga sempat studi seni rupa di ISI Denpasar. Selain dikenal sebagai penyair, dia adalah penulis seni-budaya dan kurator seni rupa.

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here