Home Bahasa Sesal Kepinding

Sesal Kepinding

516
0
Cerpen: Taufan S. Chandranegara
Dia diburu masa lalu selaku pemimpin pembantaian Neo-Drone, pada masa peralihan revolusi teknologi non-prima spektakuler, itu dulu bisik hatinya. Ketika aku masih disebut si pandir, awal mula menjadi pemangku kekuasaan.

Sekarang,  dia, gelandangan di tengah futuristis megalopolis terkurung fantasi akronim-akronim, diremang gosip merah jambu kenes asal bunyi terbaca monoton, sama persis ketika dia menjadi kuasa diri sendiri. Tak ada transisi estetis apapun kecuali para figuran intelektual genre bingung.

Diplomasi stimulus tak seindah warna asli sebuah lukisan kehidupan, disisi nilai penampakan siluman degradasi stabilitas berjamur dalam selang saluran air. Dia, konon tertipu sistem politisasi setara itu, terdesak kaumnya sendiri, ditinggalkan begitu saja,  penyebab persekongkolan terjadinya peristiwa pembantaian Neo-Drone itu.

“Tangan ini robotik hidupku, musuhku, diriku sendiri.” Pikirannya memvisualkan perilaku diri sendiri, hadir di kesendirian kini, di sepi menakutkan, di sunyi merobek-robek kemanusiaannya.

Di musim perubahan berlangsung di saat-saat kejatuhan kekuasaan dari kursi-kursi imitasi buatan sendiri, mendemo diri sendiri pula, dibentuk oleh kealpaan kemapanan adikuasa adigang adigung, telah menghancur leburkan, merampas semua miliknya. Karma itu berlangsung cepat dengan bunga tinggi.

Perkumpulan arisan kaum feodal bentukan kekuasaan imitasi menghempaskan, mengakhiri segala kekuatan darah biru kepalsuan identitasnya. Terbuka kedok para kepinding ketika para kecoa berebut sampah peradaban kekuasaannya.

Ketika nilai menjadi pedoman isu-isu, mencuatkan isme area abu-abu, di antara pepohonan demokrasi plutokrat sistem autokrasi, di balik kuasa mono-rel, kejang-kejang menghisap diri sendiri. Dia, terperangkap dalam polarisasi oportunistis Auto-Drone buatannya sendiri pula.

“Kejamnya diriku.” Liris menyayat di hati telah beku mengeras menjadi batu megalitikum kuantum, menghantam setiap sel-sel otak, menarik-narik dirinya keruang pekat hitam sempurna.

“Ohoi! Sesal kemudian tak berguna…” Suara itu lagi, hadir gegap gempita.

Orasi obat anti ngantuk untuk parlemen plastik pernah dia suarakan di podium massa promo aksi, dalam diskon papan atas menyulap batu menjadi emas permata ratna mutu manikam. Penyebab dia sekocak keadaannya kini.

Dia, menjadi semirip badut tak lagi dikenali sebagai mantan penguasa nomor wahid Kerajaan Samudera Gigantik. Kini, dia, seperti ulat bulu di antara sesama gelandangan futuristis, meski, dia, dulu penjual mode opera modus operandi seni akting promo gaya hidup kekuasaan imitasi, menuju kursi plastik berkostum peri nyamuk, seakan-akan pembela semua kaum.

Sebetulnya, dia, memang tidak pernah membela kaum siapapun. Dia pencipta mobilisasi kutu kepinding-kecoa, alat pencapaian tujuannya, pembohong nomor satu, dalam aroma kaumnya, mengeruk isi apapun ekosistem jagat raya, kepalsuan propaganda penampakan pengganda imaji, berkostum peri bunga.

“Wahai! Penciptaku. Rasanya aku kurang pantas hidup lebih lama, tolong matikan saja, aku, sekarang dong hiks hiks hiks”, suara sedu sedan hanya dalam pikiran kegilaannya.

“Ohoi! Sesal kemudian tak berguna…” Suara itu lagi, hadir gegap gempita.

“Cukupkan penderitaanku telah menjadi tua, menjelang buta, tidak ada satupun peduli. Mereka merampas semuanya. Peralihan cuaca jungkir balik aku lah penyebabnya. Aku pengecut asli, beraninya keroyokan, aku berani berteriak-teriak, jika massal, sebenarnya aku pengecut, selalu lari dari gelanggang, jika aku sendirian. Aku sudah tak berguna penciptaku hiks hiks hiks” Dia menangis terus, menggema pada waktu dalam jiwa.

“Ohoi! Sesal kemudian tak berguna…” Suara itu lagi, hadir gegap gempita.

Sebenarnya sih, dia sedang berpura-pura kalah, sedang akting lagi, agar bisa mencapai tujuannya lagi. Dia sudah menjadi lalat, kadang-kadang juga menjadi kepinding, orientasi pikirannya tetap pada nilai manipulasi pada metode diplomasi hua hi hu.

Sesungguhnya diam-diam, dia, dendam karena disingkirkan dirinya sendiri, dikucilkan dari waktu, membelenggu kuasa robotiknya.

“Pencipta ku, jangan membiarkan hidupku seperti ini dong, lebih lama menjadi tua.” Jantung berhenti sejenak. Tersedak sejenak. Lantas tertawa terbahak-bahak, tersedak lagi, seperti makhluk mau mati akan tetapi tidak jadi. Dia kembali berakting agar lebih meyakinkan, pada diri sendiri.

“Kamu gila ya!” Kata perasaannya sendiri, berkecamuk simpang siur. Kembali dia, merangkak dengan cepat menuju depan panggung sandiwara itu. Berdiri seolah-olah dari lunglai menuju gagah menggeram pada diri sendiri. Lampu-lampu spot menyala fokus, panggung memerah. Lalu kepiawaiannya memainkan imaji peranan, mengguncang tubuhnya. Antara tangis dalam tawa terbahak-bahak.

Dia terus melakukan hal itu, terbahak-bahak dalam tangisan, geraman, amarah amoral. Seakan-akan puncak dari rasa kehilangan entah apa. Meski sesungguhnya dia pura-pura tak pernah tahu, untuk apa hidup tanpa gelar kekuasaan apapun.

Hanya waktu di musim terus berganti tidak menaruh dendam apapun padanya, meskipun dia pernah menyakiti ekologoi secara geo-ekologi pada sistem secara geologis, di ranah ekosistem sempurna milik Ilahi.

“Dasar biang kerok! Beraninya main keroyokan!” Kata jiwa-jiwa telah merasuk di sel-sel darah, menuju syaraf-syaraf dalam diri, akan segera meledakkan kepala batunya.

Dia manipulator kelas kakap, berkepala ikan hiu. Pencuri keadilan, mau menang sendiri, dia lah, tangan ajaib konspirator alias the invisible hand, sesugguhnya.

Ketika dia merasa bisa menyulap sistem ekologi. Mega-mega sarkastis geo-ekologi membrangus dirinya, menjadi bukit batuan fosil tak berguna. Tak lagi ada emas permata ratna mutu manikam, hanya ada air mata darah terus mengalir.

Akhir dari kuasa kekuasaannya, telah direbut paksa makhluk robot buatannya sendiri, karena dia selalu lupa diri, congkak, pongah, takabur, kini apapun keinginannya sebenar-benarnya, tak lagi kan terujud. Bahkan dia, tak pernah tahu kata-kata dari pikirannya sendiri, untuk siapa, di mana, kapan.

Waktu baginya adalah angan-angan, mimpi, muskil, niskala surealistik, pada kosong, mungkin pada sepi, mungkin juga pada aksioma, mencipta paradoks skema-skema. Matematis non-visual, non-nalar, non-virtual, non-visi, non-misi.

Karena fiksi, telah membunuh setiap molekul darah, merembes ke permukaan pori-pori kulit berlogam mulia, meledakan propaganda dirinya. Menggelegar! Membahana. Lalu kosong. Lalu bisu. Lalu tamat.

Jakarta, Indonesia, November 02. 2019. 

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here