Home BERITA Jati Diri Tanah Jatiwangi

Jati Diri Tanah Jatiwangi

470
0

SENI.co.id — Menengok sedikit tentang Jatiwangi, adalah daerah pembuatan genteng, meski sebelum abad ke 20, masyarakat Jatiwangi masih menganggap tabu apabila tanah yang biasanya berada dibawah, ditempatkan diatas kepala, seperti genteng.

Sehingga saat itu tidak ada rumah terbuat dari tanah, batu dan pasir. Masyarakat Jatiwangi saat itu merasa bahwa tanah, batu dan pasir harus ada dibagian bawah, sedangkan untuk bagian atasnya boleh berupa kayu kayuan dan daun daunan.

Rumah bertembok saat itu hanya rumah orang Belanda, sedangkan rumah warga terbuat dari kayu dan bambu, berdinding anyaman bambu atau papan serta beratapkan dari daun aren, rumbia atau alang-alang.

Tahun 1905, seorang warga bernama H. Umar Bin Ma’ruf ingin untuk
memperbaiki suraunya dengan memakai atap genteng. Karena warga sekitar tidak ada yang bisa membuat genteng, ia mendatangkan seorang ahli pembuat genteng dari pesantren Babakan Jawa Majalengka bernama Barnawi.

Kemudian H. Umar mendirikan tempat pembakaran genteng di Cikarokrok, sebelah barat Sungai Cipinang, Burujulwetan. Setelah itu, warga menjadi tertarik membuat rumah beratap genteng, maka bermunculanlah para pengrajin baru genteng di distrik Jatiwangi hingga sekarang, karena tanah liat di Jatiwangi sangat cocok untuk bahan bakau genteng.

Bahkan tahun 1930an industri genteng mendapatkan perhatian Pemerintah kolonial Belanda bahwa genteng Jatiwangi berkualitas dan dipakai untuk bangunan kantor. Pada 1980-1990-an, genteng Jatiwangi sudah merambah pasar internasional seperti. Negara Eropa, Malaysia, dan Brunei Darussalam menjadi negara-negara tujuan pengiriman genteng Jatiwangi.

Genteng Jatiwangi memang terbuat dari bahan baku tanah berkualitas tinggi, dari usaha ini Jatiwangi menjelma menjadi kota kecil yang kaya, mulai dari Desa Burujul, Cicadas, Sukaraja, Jati sura, Jatiwangi, Loji.

Meskipun para pengrajin dari tahun ke tahun berkurang, dari 700 orang/pabrik, sekarang tinggal 150 pengrajin. Peran pengrajin genteng berkurang, apalaggi adanya jalan tol, sebuah kapitalisasi kota menjelma.

Maka hanya ada dua pilihan saat ini yakni mati atau berubah. Kemunculan JAF, seiring waktu dari mulai menggelar event-event kesenian dan mengundang orang dari luar negeri, JAF menjadi wadah kreatifitas bagi masyarakat di wilayah desa Jatisura, Jatiwangi, Majalengka. Memang JAF didirikan salah satunya karena industri genteng sedang lesu.

Rampak Genteng

Tahun 2012 lalu, masyarakat Jatiwangi Jawa Barat menggelar rampak
genteng, diikuti oleh 1500 peserta. Rampak genteng adalah bermain musik bersama dengan alat musik terbuat dari genteng, melulu genteng. Mereka yang terlibat mulai unsur siswa, PNS, TNI dan Polri serta masyarakat biasa.

Di tahun 2015 rampak genteng di ulangi lagi dan diikuti oleh 5000 peserta. Saat itu Jatiwangi heboh oleh kebersamaan yang menyatu dalam rangka mengsung ajen seni budaya sendiri.

Pelopornya adalah Jatiwangi Art Factory (JAF), sebuah organisasi nirlaba
yang berfokus kepada kajian kehidupan lokal pedesaan lewat kegiatan seni dan budaya seperti festival, pertunjukan, seni rupa, musik, video, keramik, pameran, residensi seniman, diskusi bulanan, siaran radio dan pendidikan.

Didirikan pada 27 September 2005. Sejak 2008 JAF bekerja sama dengan Pemerintahan Desa Jatisura melakukan riset dan penelitian dengan menggunakan keterlibatan kesenian kontemporer yang kolaboratif dan saling berkaitan.

JAF memiliki program festival residensi, festival video residensi dan festival musik keramik. Di awal tahun ini, JAF kembali mengajak warga melakukan hal yang sama yakni rampak genteng, tak tanggung tanggung sebanyak 11.000 orang yang sudah siap ikut dalam acara spektakuler itu.

Ini pencapaian yang luar biasa, dalam waktu yang bersamaan warga Jatiwangi menyatukan tanah (genteng), musik dan manusia.

Kreativitas rampak genteng,menyatukan tanah dan masyarakat melalui musik. Tanah dieksploitasi sebagai ciptaan Tuhan yang harus dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, sebagai bahan baku produksi seperti batu bata, genteng, keramik serta tanah juga bisa sebagai bahan baku pembuatan seni seperti guci, patung, cetakan pembuatan topeng, ornamen ruangan.

Tentu banyak lagi manfaat tanah seperti untuk bahan peralatan rumah tangga, sebagai habitat hewan tanah, fungsi keseimbangan ekologis, sumber mata air sumur, serta membantu pembentukan tambang dan bisa membuat pulau buatan seperti Singapura.

Sementara musik, adalah simfoni kehidupan, bagian integral dari seni dan selalu yang mewarnai manusia. Daun gemerisik, hujan yang turun serta angin adalah musik alami yang indah, jadi apa artinya dunia jika tanpa musik, suasana akan beku dan tidak cair, monoton, tidak ada relaksasi rutin dan tentu saja tidak ada hiburan. Tak hanya itu, musik mampu membangkitkan gairah dan spirit hidup.

Mendengarkan musik, menghayati dan menikmatinya merupakan aktivitas yang menyenangkan dan bisa membuat kita nyaman. Efek inilah yang secara medis dan psikologis menimbulkan reaksi positif pada kondisi fisik dan psikis manusia, termasuk di dalamnya masyarakat Jatiwangi.

Luar biasa manfaat musik dalam kehidupan manusia, untuk kesehatan fisik, psikologis dan kecerdasan manusia, terutama yang dikembangkan melalui terapi musik.

Rampak genteng, merupakan terapi dan penyemangat warga Jatiwangi untuk tetap menggunakan tanah sebagai bahan genteng dan kehidupan mereka. Melalui kreativitas seni rampak genteng, mereka bisa percaya diri bahwa tanah adalah kehidupan mereka. Jatiwangi diberi Tuhan tanah sebagai warisan yang abadi.

Melalui Rampak genteng yang ketiga kalinya, masyarakat Jatiwangi berupaya meningkatkan intelegensi karena rangsangan ritmis musik genteng mampu meningkatkan fungsi kerja otak mereka, memperjelas kemampuan berpikir mereka lebih jernih dan tajam. Rangsangan rampak genteng itu bisa juga meningkatkan kemampuan berbahasa, meningkatkan kreativitas, serta meningkatkan konsentrasi dan daya ingat.

Mengubah suasana hati dan kondisi emosi, relaksasi yang dapat menghilangkan stress, mengatasi kecemasan, memperbaiki mood dan menumbuhkan kesadaran spiritual.

Sebagai manusia, tentu memamfaatkan unsur musik dan tanah sebagai
bahan perenungan bukanlah hal yang susah. Tinggal bagaimana manusia bisa berpikir untuk itu. Tanah dan musik yang sudah menjelma di

Jatiwangi menjadi karya seni, mengantarkan masyarakat Jatiwangi pada kesadaran yang dalam dan penuh, bahwa manusia tak pernah berdaya tanpa kekuatan Tuhan yang telah menciptakan tanah dan musik. Tanah adalah salah satu bahan baku pembuatan manusia, maka ketika matipun manusia akan kembali pada tanah.
JAF melakukan pendekatan terhadap warga dengan seni. Salah satunya seni membuat alat musik dari tanah. Aktivitas seni yang dijalankan JAF diharapkan merangsang kreativitas warga. Tercatat, sejumlah seniman yang pernah melakukan residensi di Jatiwangi berasal dari Yunani, Jerman, Singapura, Amerika Serikat, Bosnia, Meksiko, Argentina dan lain-lain.

Sementara dari tanah air seniman datang dari Jakarta, Bandung, Kalimantan dan Jogjakarta.

Jatiwangi telah membuka peta baru kesenian Indonesia. Tiap acara yang digelar JAF selalu mendapat antusias tinggi, untuk “Rampak Genteng” kali ini, JAF berharap warga tetap memanfaatkan tanah sebagai bahan perenungan.Cag!

Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here