Home AGENDA Longser Bandoengmooi “Benclang-Benclung” sebuah Kado Ulang Tahun untuk Kota Bandung

Longser Bandoengmooi “Benclang-Benclung” sebuah Kado Ulang Tahun untuk Kota Bandung

485
0

Kota Bandung 209 tahun, kelompok seni Bandungmooi sajikan teater rakyat Longser berjudul “Benclang-Benclung” berikan kado khusus. Perjalanan kelompok Longser modern ini pun ulang tahun ke usia 23 tahun jadi yang mau terobati dan ngakak bebas datang saja dan saksikan pentas yang akan mengocok perut diabad ini. Bandoengmooi tea..edun!

SENI.CO.ID Bandoengmooi merupakan sebuah komunitas seni yang independen. Fokus pada pengembangan sumber daya manusia di dunia seni dan budaya. Siapa pun boleh masuk dan terlibat langsung di komunitas ini, wujud terpenting adalah dedikasinya terhadap pemajuan pendidikan, konservasi, revitalisasi, dan inovasi seni dan budaya lokal.

Bandoengmooi berdiri atas prakarsa Aendra H. Medita (jurnalis/seniman), Dodi Rosadi (seniman) dan beberapa orang pegiat seni lainnya. Program pertama sekaligus pelucuran komunitas ini, yakni diselenggarakan pameran lukisan karya Rosid (1996) di CCF Bandung.

Ditengan panasnya suhu politik di Indonesia dan pembungkaman terhadap pers, tahun 1997 Bandoengmooi secara sembunyi-sembunyi gelar Diskusi Kebebasan Pers dengan mengundang pers mahasiswa se Indonesia. Tahun 1998 Bandoengmooi pertama kali gelar pertunjukan Teater Monolog Berjudul Terkapar Aktor/karya Hermana HMT dan Brehoh karya Aendra H. Medita.

Dari tahun 1998 sampan sekarang Bandoengmooi lebih dominan gelar pertunjukan, teater baik teater modern maupun teater tradisional (Longser). Walau pentolan-pentolan Bandoengmooi sudah pada sibuk dengan pekerjaanya masing-masing namun tetap menjalin komunikasi dan senantiasa dapar support dari mereka.

Kami mengambil nama itu dari nama majalah tompo dulu bernama Mooi Bandoeng. Supaya tidak persis sama, kami membalikan kata Bandoeng di depan dan kata mooi mengikutinya. Dalam bahasa Belanda mooi artinya indah, molek dan Bandoengmooi  adalah Bandung yang indah, bisa juga Bandoeng yang molek.

Dibawah pembinaan Hermana HMT  dan Ketua Selamat Oki Pratomo, dengan anggota aktif sekitar 60 orang dari berbagai kalangan, kini Bandoengmooi kembangkan pelatihan teater tradisonal longser, teater modern, seni helaran Bangbarongan, melakukan pemulyaan terhadap air bersih melalui kegitan Upacara Adat Hajat Cai, dan gelar pertunjukan dengan konsisten mengusung tema pemeliharaan lingkungan hidup serta kritik sosial lewat bahasa seni.

Salah satu adegan Drama Pakaian dan Kepalsuan karya Bandoengmooi /Hermana HMT

Komunitas ini adalah komunitas berbadan hukum dengan Akta Notaris No. 2 tanggal 26 November 2007, didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya, dan dimulai sejak tanggal 26 September 1996 dengan maksud dan tujuan:

  • Turut membantu program pemerintah dalam melaksanakan pembangunan, khususnya dibidang pendidikan, konservasi, revitalisasi, dan inovasi seni dan budaya.
  • Turut mengembangkan sunbar daya manusia, agar terwujud manusia yang cerdas, trampil, cekatan, mandiri dan bertanggungjawab.
  • Sebagai media komunikasi dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam wujud seni dan budaya.
  • Turut mewacanakan nilai-nilai budaya lokal ke tingkat global.

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, maka lembaga ini senantiasa akan melakukan berbagai usaha yang tidak bertentangan dengan hukum/undang-undang yang berlaku. Usaha ini meliputi:

  • Menyelenggarakan pendidikan/workshop/pelatihan di bidang seni budaya.
  • Membangun kesadaran masyarakat akan hak-hak dan kewajibanya sebagai individu dan mahluk sosial dengan pendekatan seni budaya.
  • Menyelenggarakan diskusi/seminar/saresehan berbagai masalah, media komunikasi, sosial lewat seni budaya di tingkat lokal maupun internasional.
  • Menyelenggarakan berbagai event pertunjukan berbagai bentuk seni dan budaya lokal.

KONSEP TEATER BANDOENGMOOI

Imajinasi dan kreativitas kita akan membuka pintu perbaikan, produk baru dan jasa, pasar dunia baru, cara komunikasi yang baru, dan cara baru untuk melestarikan lingkungan dan sumber daya alam. Imajinasi dan kreatifitas beri jalan munuju hal yang lebih indah dan berirama.

Istilah ruang pada teater adalah ruang tempat manusia membaca tanda-tanda kehidupan di masa lalu, sekarang, atau dan memiliki fungsi sebagai refleksi dari kehidupan. Teater tidak hanya sebagai media ekspresi pikiran dan perasaan, tetapi juga seperti kehidupan sendiri atau miniatur kehidupan di atas panggung yang sarat dengan simbol dan makna.

Tentu saja, kami ingin bahwa realisasi kehidupan di teater tidak hanya bentuk dan kemudian selesai pada waktu itu. Teater diharapkan memberikan semangat untuk kehidupan manusia, setidaknya sebagai refleksi, kecerdasan, dan keindahan artistik dari gagasan-gagasan yang ditawarkan.

Dalam setiap pembuatan teater,  metode Stanislavsky’s realism menjadi bagian dalam berakting, tetapi kami lebih mengacu pada semangat teater tradisional Sunda (longser) dan Pengaruh teater Brecht. Spirit itu dikembangkan dengan gaya atau metode sendiri yang mewujud dalam ide dan bentuk baru dengan sebutan Teater Sabrehna.

Sabrehna diambil dari bahasa Sunda dan berarti apapun yang ada, tampak atau seperti itu. Dalam teater kami, konsep Sabrekna tidak dikatagorikan penganut teori tertentu (Stanislavinsky, Brecht, atau Artaud). Sabrehna berarti apapun yang kami lihat, apapun yang kami pikirkan, apapun yang kami rasakan, dan apa pun yang kami gerakan pada koridor kesadaran penuh, tanpa melupakan etika dan estetika sebagai tanggung jawab kepada publik.

Namun demikian, itu tidak berarti bahwa kami meremehkan teori yang ada. Kami hanya merasa takut untuk terjebak pada teori dan menganggap bahwa kami tidak bisa mengikuti teori mereka sepenuhnya. Kami tidak bisa menjadi realis utuh, Artaud, atau Brecht. Alasan kami mengacu pada Brecht sebagai dasar adalah karena konsep ini memiliki keunikan seperti semangat Longser yang akrab dengan hidup kami.

KONSEP LONGSER BANDOENGMOOI

Apabila kita analisa lebih dalam lagi, seni budaya lokal besar sekali manfaatnya bagi peningkatan penguasaan skill, keaksaraan, pembangunan kepribadian dan kecerdasan masyarakat (pelakunya). Sebagai contoh Longser (Teater Tradisional Jawa Barat).

Mengembangkan Longser berarti kita mengembangkan multi talenta di bidang kesenian, karena Longser merupakan teater tradisional yang memuat berbagai jenis kesenian lokal yang tumbuh di masyarakat termasuk penguasaan keaksaraan. Pertunjukan Longser merupakan ramuan dari seni musik tradisional, seni tari tradisional, seni akting, seni lawak, seni suara (bernyanyi), seni tutur (bercerita) dan seni rupa. Sedangkan bagi pembambangunan kepribadian, Longser mampu mendorong seseorang (pelakunya) untuk berani tampil, percaya diri,  dan bertutur kata dengan baik di hadapan umum.

Aktor Longser dituntut merangkai cerita dan penguasan bahasa secara spontan, besar sekali manfaatnya bagi peningkatan penguasaan public speaking. Berlatih akting Longser adalah berlatih mengolah imajinasi, mengolah emosi, mengolah tubuh dan menyerap ilmu pengtahuan yang hasilnya bukan semata untuk mencetak seseorang menjadi pelaku seni, namung dari pengolahan itu secara tidak langsung telah merangsang Kecerdasan Majemuk seseorang yang menjadi landasan pembangunan karakter.

Lawakan yang cukup kentel membuat Longser sangat akrab dengan apresiatornya, ringan dan sangat menghibur. Apabila pengemasannya di tata lebih apik dan senantiasa melihat perkembangan zaman, prospek kedepan Longser terbilang cukup menjajikan. Dunia televisi lokal maupun nasional semakin banyak dan senantiasa melirik, mengingat dunia lawak adalah hiburan yang tidak aus ditelan zaman. Terlahirnya komedian di televisi seperti Opera Van Java dan sejenisnya tidak lepas dari adopsi teater rakyat (Lenong, Longser, Ketoprak dan sabagainya) yang berkembang di Indonesia. Dalam artian, selain bisa hidup sebagaimana Longser seutuhnya, seni longser pun bisa menjadi tempat penggodogan awal untuk menuju entertainer yang cakupannya tidak berkembang di daerah semata. Dibekali penguasaan keberaksaraan yang signifikan, Longser dan pelakunnya bisa didorang menjadi seni dan seniman lokal yang mengglobal, sehingga seni Longser menjadi industri kreatif, sumber mata pencaharian yang dapat meningkatkan kelayakan hidup teruma bagi para pelakunya.

Longser Membangun Kecerdasan Majemuk

Saat ini masyarakat kita banyak beranggapan bahwa seni Longser hanya sebuah seni pertunjukan teater tradisional yang nilainya tidak lebih dari media hiburan semata. Anggapan itu bisa dibenarkan jika pelaku dan masyarakat apresiatornya hanya memandang satu sisi itu saja. Tapi, ketika mau menelusuri lebih dalam lagi, melihat pada proses kreatif yang dilakukan para awak pentasnya, disana kita akan melihat ilmu pengetahuan yang terbilang penting untuk digali dan berguna sekali bagi penbangunanan karakter yang telah disebutkan di pembahasan tujuan di atas.

Inovasi seni Longser menjadi sebuah ilmu pengetahuan diluar wujud keseniannya  adalah satu cara dari sekian banyak cara yang bisa dikatakan dan cukup ampuh dalam melakukan koservasi/revitalisasi seni budaya lokal Jawa Barat. Sebagai ilmu pengetahuan orang tidak dipaksa untuk menjadi seniman, tapi lewat pembelajaran Longser seseorang didorong menjadi individu yang kreatif, inovatif, produktif, mampu bekerja sama, menciptakan solusi, dan memahami kepemimpinan sejalan dengan harapannya tanpa harus menggangu atau meninggalkan propesi yang digelutinya. Sebagai ilmu, motode pelatihan Longser bisa pula mendorong motivasi, kenyakinan, dan potensi diri kaum pelajar/mahasiswa/masyarakat umum. Pelatihan Longser mendorang/merangsang Kecerdesan Majemuk, nyaitu; Kecerdasan Linguistik, Kecerdasan Matematis, Kecerdasan Visual, Kecerdasan Musikal, Kecerdsan Fisik, Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Intrapersonal, dan Kecerdasan natural.

Putu Wijaya, seorang penulis, aktor juga sutradara teater dan film menyebutkan, “ teater tidak hanya membelajarkan orang jadi seniman. Bila orang ingin menjadi anggota masyarakat yang baik atau menjadi pemimpin, tak pelak lagi, ia memerlukan pelatihan teater. Seorang pembawa acara, seorang penyiar, seorang guru, seorang penjaja barang akan sangat terbantu oleh seni akting”.

Lewat cerita yang disampaikan, Seni Longser pun menjadi sarana komunikasi penyampaian informasi penting pada masyarakat, diantanya; 1. Tentang Kesehatan, 2. Tentang Pendidikan, Tentang Lingkungan Hidup, 3. Tentang Sosial dan Politik, 4. Tentang Iptek, 5. Tentang Pemerintahan, 6. Tentang Ketenagakerjaan, dan lain sebagainya.

Pertunjukan Longser juga bukan semata menampilkan seni sebagai media huburan, namun dari karya seni yang ditawarkan mempu memberi nilai edukasi yang dapat meningkat kesadaran budaya dan kesadaran lingkungan, dan membangun citra daerah. Sedangkan bagi para pelaku seni, manfaat kegiatan ini lebih khusus untuk memberi peluang dalam mempresentasikan dan mempromosikan karyanya pada masyarakat umum.

Gelar Pertunjukan Longser adalah upaya pelestarian, mengenalkan dan promosi seni budaya lokal Jawa Barat pada masyarakat yang lebih luas, sekaligus memupuk gairah para seniman untuk terus kembangkan kreativitas dan produktivitas. Kegiatan inipun diharapkan memberi warna pada kemajuan daerah yang penuh irama, dan terasa berdudaya.

Menurut catatan sejarah Longser mulai muncul sekitar tahun 1915 atas prakarsa dua orang seniman Bandung benama Aleh dan Karna, selanjutnya  dipopulerkan oleh dua tokoh besar longser, Bang Tilil dan Ateng Japar. Pada mulanya Bang Tilil dan Ateng Japar berada dalam satu kelompok, namun entah apa yang terjadi dua sejoli bagai anak dan bapak itu sekitar tahun 1939 berpisah. Bang Tilil meneruskan kelompoknya dan Ateng Japar membentuk kelompok baru bernama Pancawarna. Kemudian keduanya beriringan, sama-sama membangun longser dengan kesepakatan pembagian wilayah. Pertunjukan Atang Japar ( Panca Warna ) lebih banyak dilakukan di wilayah Bandung Selatan, sedangkan Bang Tilil di wilayah Bandung Tengah.

Walau mereka punya warna yang berbeda, namun keduanya tetap saling berhubungan. Apabila Bang Tilil kekurangan pemain atau sebagian pemainnya berhalangan, ia sering kali minta bantuan ke Ateng Japar, sebaliknya Ateng Japar pun demikian ( saling transper pemain ). Ikatan batim mereka terus terjaga hingga Bang Tilil menyatakan diri mundur dari percaturan Longser, dan bagai ayah ke anak, Bang Tilil mewariskan dua buah saron ke Ateng Japar.

Sebelum pendudukan Jepang, antara tahun 1940 – 1943 seni Longser menurut Ateng Japar ( alm ) tumbuh subur, selain kelompok Bang Tilil dan dirinya ( Panca Warna) ada pula kelompok lain hingga mencapai 52 kelompok. Dari sekian banyak kelompok longser beberapa nama sempat ia sebutkan, diantaranya : Bang Soang dari Cimahi, Bang Kayo dari Batu Karut, Bang Timel dari Cimahi, Bang Cener dari Cimahi, Aup dari Kamasan dan Sumanta ( Longser Domba Nini ) dari Cikuda.

Semenjak pendudukan Jepang sampai tahun 50-an aktifitas longser mengalami kepakuman, bahkan bukan longser saja, jenis kesenian lain yang sama-sama berkembang saat itu, juga mengalami nasib yang sama. Kepakumannya bukan berarti tidak diminati lagi masyarakat, namun terkondisikan oleh peta politik dan perekonomian Indonesia yang pada umumnya corat-marut. Baru sekitar tahun 50-an ke atas, gairah kesenian mulai tumbuh kembali. Ateng Japar dan kelompok Longser Pancawarna mulai lagi ngamen ke setiap kampung hingga mengalami puncak kejayaan  sekitar tahun 1970 sampai dengan 1980-an.

Konsep Longser Pancawarna (Asli)

Dari sekian banyak kelompok longser yang menyemarakan Bandung tempo dulu hingga tahun 1980-an, yang tersisa adalah kelompok Pancawarna yang didirikan 1939 oleh seorang maestro longser benama Ateng Japar. Sesuai dengan arti Pancawarna (panca = lima, warna = rupa/ragam), mendiang Ateng Japar menawarkan lima ragam material, yaitu wawayangan, tari cikeruhanpencak silat, bodoran/lawakan dan lakon/cerita dengan pola pengadegan sebagai berikut :

Tatalu. Musik ditabuh menyongsong kehadiran penonton.

Pembukaan. Setelah penonton yang berdatang dianggap cukup banyak dan diperkirakan dapat memberi keuntungan secara finansial, masuklah para ronggeng dan memeperkenalkan diri, dan salah satu atau dua ronggeng ada yang bertindak sebagai sinden ( penyanyi ). Ia melantukan lagu Kidung. Lagu ini merupakan permohonan ijin atau doa pada Yang Kuasa agar dapat perlindungan adan berkah bagi para pemain ataupun penonton.

Wawayangan.  Para ronggeng mulai meperlihatkan kemahirannya menari. Dalam wawayangan ini para penari berusaha untuk menarik perhatian penonton dan di sinilah biasanya penonton tergila-gila pada penari ( ronggeng ). Penaripun selalu mendapat jukukan Si Oray ( Si Ular ), Si Pasir ( anak Panah ), Si Pelor (Peluru) dan lainnya.

Cikeruhan. Istilah ini diambil dari motif tabuhan kendang. Cekeruhan merupakan tarian yang pola tabuhannya bersuber dari ketuk tilu ( genre musik yang menginspirasi terlahirnya  Jaipongan ). Tarian ini lebih pleksibel, pemain laki-laki bisa merespon dengan turut nari begitu pula dengan penonnton sehingga susana pertunjukan penuh kehangatan.

Pencak silat. Merupakan ilmu beladiri yang ditampilkan sebagai tarian. Pada nomor ini serang penari wanita dikeroyok beberapa orang laki-laki, tapi semua pengeroyoknya dapat dikalahkan.

Bodoran/Lawakan dan lakon. Adegan ini merupakan adegan paling hangat dan paling disukai penonton. Penonton diajak tertawa lepas oleh candaan spontan, sindirin dan gerak tubuh pemain atau pelesetan jurus pancak silat (pencak bodor).

Konsep Inovasi Longser Bandoengmooi

Seni Pertunjukan kita memiliki ciri yang cukup menarik. Ia sangat lentur sifatnya. Sifat itu terpancar karena lingkungan masyarakatnya selalu berada dalam kondisi yang terus berubah.

Sebagai upaya pengembangan kreatifitas longser Bandoengmooi menawarkan format sebagai berikut ;

Tatalu. Pemusik sudah berada di panggung pertunjukan. Musik sudah ditabuh berfungsi sebagai tanda penyambutan kedatangan penonton. Musik senantiasa menyisipkan lagu-lagu lama/baru dan komposisi musik baru buah karya pinata musik sendiri.

Amitsun. Pelantunan rajah ( puisi mantra ) atau tarian ritual.

Tarian I. Merupakan sejenis tari kreasi baru yang dibawakan seorang penari atau lebih, dengan iringan musik jaipongan.

Cerita dan lawakan/bodoran. Cerita lebih terpokus pada satu tema, berstruktur dan dikemas dalam bentuk lawakan/bodoran.

Tarian II. Merupakan penampilan tari Cikeruhan atau tari gaplek dalam bentuk ketuk tilu kereasi.

Cerita dan lawakan. Merupakan lanjutan cerita dan lawakan/bodoran.

Tarian III. Tari kreasi baru atau jaipongan. Penari mengajak penonton untuk menari bersama.

Penutup. Cerita usai, sutradara atau pengatur laku masuk dan menutup acara, lalu disusul oleh musik instrumental.

Nah perjalanan itulah sehingga pada 26 September 2019, kelompok yang kini masuk usia ke 23 tahun akan mementaskan Longser berjudul “Benclang-Benclung” sebuah sajian Longser Landong Baeud – Ubar Jamedud (obat marah – obat cemberut) yang akan dipentaskan di Museum Kota Bandung (MKB) ini pun sekaligus sebagai kado 209 tahun Kota Bandung.

“Ini kado kami jadi datang dan tontonlah sajian longser kami,”ujar Hermana HMT pengatur laku dari pentas Lonser Bandoengmooi ini pada seni.co.id.

–TOM

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here