Home AGENDA Lakon MEDEA Jean Anouilh Dipentaskan NEO Theatre Indonesia

Lakon MEDEA Jean Anouilh Dipentaskan NEO Theatre Indonesia

1030
0

MEDEA: Aku masih harus membuang dunia malam ini, demi sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih hidup dariku… Sesuatu bergerak dalam diriku senantiasa, sesuatu yang mengatakan TIDAK untuk kesenangan, sesuatu yang mengatakan TIDAK untuk kebahagiaan… Aku MENGIKUTIMU dalam darah dan kejahatan: aku akan membutuhkan darah dan kejahatan untuk MENINGGALKANMU…

JASON: Kau nampak seperti binatang buas kecil yang berantakan, terkoyak hingga ke usus, namun masih mendongakkan kepalanya: untuk menyerang!… Setialah di jalanmu. Rebutlah, robeklah, berjuanglah, memandang rendahlah, hinalah, bunuhlah, dan tolaklah segala sesuatu yang BUKAN DIRIMU…

Yeni Kustaman berpean seba Medea. / Dok NEO THEATRE

SENI.CO.ID – Kira-kira itulah cuplikan dialog Medea dengan Jason dalam lakon MEDEA karya dramawan eksistensialis Prancis, Jean Anouilh (1910-1987), Terjemahan & Sutradara Fathul A. Husein.

NEO Theatre Indonesia dengan dukungan khusus Jurusan Teater ISBI Bandung akan menampilkan pertunjukan pada 11-13 September 2019, pukul 19.30 WIB, di GK. Dewi Asri ISBI Bandung, JL. Buah Batu No.212 Kota Bandung.  

Para pendukungnya adalah Pimpinan Artistik Joko Kurnain bersama para aktor: Yeni Kustaman, Yani Mae, Irwan Jamal, Dedi Warsana, Heksa Ramdono, dan Romi Irgani.

MEDEA sebuah kisah tragedi dalam mitologi Yunani Klasik. Jean Anouilh (1910-1987), dramawan Prancis, mengangkat kisah tersebut ke dalam sebuah lakon dalam perspektif filsafat Eksistensialisme. Mengungkap dengan tajam dan cerdas sisi eksistensialisme seorang perempuan, Medea, putri Ietes dari Kolkis, sang keturunan dewa matahari, yang berani mengatakan TIDAK terhadap kesenangan dan kebahagiaan jika harus tunduk sekaligus memperhambakan diri terhadap kuasa-kuasa di luar dirinya. Seorang anti-konformis sejati yang dengan tegas MENOLAK segala sesuatu yang BUKAN DIRINYA.

Ia telah berjuang habis-habisan seraya mengorbankan apapun (tak terkecuali lambang kebesaran sang ayah yang raja, melenyapkan nyawa saudara kandung, serangkaian pembunuhan, kebohongan, penipuan, dll.) demi kehidupan dan capaian ambisi duniawi seorang lelaki konformis bernama Jason dari Iolkos, yang sangat dicintainya dengan membabi-buta.

Tatkala akhirnya malah dikhianati oleh lelaki itu, yang malah menikahi putri raja Kreon di negeri Korintus tempatnya meminta pelindungan dari pengejaran berbagai pasukan, maka ia putuskan untuk bunuh diri sembari membunuh anak-anak, buah cinta bersama lelaki itu, tentu sebagai protes dan penolakan. Tema infanticide (pembunuhan anak oleh orang tuanya) dan bunuh-diri Medea jelas merupakan puncak dari ultimatum eksistensialnya yang hingga detik terakhir bersikukuh mengharamkan nyawanya dan nyawa anak-anaknya untuk direnggut oleh apa pun dan siapa pun di luar dirinya.  Medea sadar sepenuhnya bahwa anak-anaknya yang telah ia ‘gunakan’ sebagai pemicu bom racun untuk membunuh dan melelehkan tubuh Kreon beserta putrinya, harus berakhir pada kematian atau hukuman mati. Padahal, dalam keyakinan ‘ras’ Medea, tidak ada hukuman atau norma apa pun yang boleh menyentuh dirinya dan anak-anaknya.

Inilah teriakan pilu terakhirnya dalam kekokohan sikap kepala batu yang meremuk-redamkan batinnya: “Lihatlah, Jason! Inilah guncangan terakhir Medea! Aku masih memiliki kepolosan untuk memenggal gadis ini, anak-anak yang akan sangat aku cintai, dan menjadikannya dua potongan yang suam-suam kuku ini. Lihatlah, mereka sedang menunggu darah, mereka tidak tahan menunggu lebih lama lagi…”

Bagi yang ingin menyaksikan silakan sekali lagi catat: pada 11-13 September 2019, pukul 19.30 WIB, di GK. Dewi Asri ISBI Bandung, JL. Buah Batu No.212 Kota Bandung. Pementasan ini didukung sepenuhnya oleh SENI.CO.ID sebagai media official. |AEM

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here