Home Uncategorized Novel Kesatu: Dongeng Sangkala

Novel Kesatu: Dongeng Sangkala

1275
0

Episode: – I – Candrasa Suluk Penyair

Oleh   : Taufan S. Chandranegara.

Editor : Aendra Medita.

Sekapur Sirih:

Dongeng ini, kisah di antara ranah waktu paralel. Serupa ‘Dongeng Sangkala’ sebelum tidur. Siklus mencipta lakon semesta. Cinta, kasih sayang, tak ada lain. Menjaga gravitasi kehidupan. Pengabdian.

Dalam bentuk seri cerita silat kontemporer, campursari, dari waktu ke waktu di zaman berlari. Berseliweran di lorong imajinasi, berbingkai moral akal budi. Melengkapi kazanah penulisan, pustaka cerita silat. Semoga bermanfaat. Selamat membaca.

***

Bab Satu: Misteri Candrasa Suluk Penyair.

01. Pembuka. Awang-gemawang mega menyala. Tanpa rentang waktu.

Menentukan arah mata angin, sebaiknya bertanya pada angin, atau, barangkali, menjelma dalam peranan Dewa Singa si raja hutan jagat raya, mampu membaca tanda-tanda, desiran udara, oksigen pembawa kabar.

Tidak, sebaiknya tetap menjadi makhluk kasatmata, biasa saja. Meski aklamasi, telah menutup peristiwa. Aksioma, menuju niskala waktu tempuh. Senandika akal budi tetap bening di nirwana. Seluas paradigma asta brata, semesta pengabdian.

***

02. Sang White Poem, alias, The Golden Hawk. Bertengger di kurva horizon.

Suluk Matahari.

Berjuta kunang-kunang, menjelma langit.

Berjuta kupu-kupu, menjelma mega-mega.

Zaman, mencipta teknologi. 

Zaman, mencipta kronik sejarah

Akal budi, mencipta sains.

Kebudayaan, milik makhluk kasatmata. 

Keseimbangan, perdebatan kontekstual.

Kemaslahatan hidup, sepanjang masa.​

Dia, terbang meninggi. Sirna, menjelma matahari. Dia, Sang Penyair itu.

***

03. Perguruan Seputih Awan. Pagi.

Kejadian sepagi ini, mengejutkan warga Perguruan Seputih Awan. Suhu Sangkala, tidak ditemukan di ruang privat meditasi olah akal budi. Menggaib, tidak terlihat jejak, frekuensi apapun.

Delapan murid khusus, penjaga perpustakaan, sekaligus pendamping Suhu Sangkala, bungkam.

Tujuh Belas murid penjaga Candrasa Suluk Penyair bungkam. Candrasa itu, pusaka utama perguruan, titisan Candrasa Dewa Langit. 

Candrasa Suluk Penyair, telah raib pula, ditukar dengan candrasa palsu. Dua puluh satu murid penjaga lingkungan perguruan pun bungkam.

Dua puluh empat pengasuh, pendidik para murid pemula, kelas junior, bungkam.

***

Seluruh warga perguruan berkumpul di pendopo padepokan. Penduduk Desa Alas Purwa Kala Jati. Menghadiri upacara resmi Suluk Kebijaksanaan, tradisi perguruan, dengan seksama. Turut prihatin, atas kehilangan candrasa itu. 

Upacara berlangsung singkat, khidmat. Pesan murid utama, Red Hawk, kepada semua warga. 

“Ikhlas, adalah salah satu fitrah Ilahiah tertinggi.” 

***

“Nasib perguruan selanjutnya ada pada Kakak, sebagai pewaris mumpuni.” Suaramu seperti air terjun Seribu Danau, dilereng pegunungan sisi Utara perguruan. Tempat, kewajiban di pundakku membimbingmu, atas permintaan Suhu Sangkala.

Kenangan manis, ketika itu semarak asmarandana bagai trisula saling silang, bak cinta bersegi-segi. 

Kegembiraan, cemburu berbunga-bunga. Nurani mekar bak kembang matahari. Menyuluh tiga mata air saling memberi kesegaran. Kasih sayang, cinta, olah akal budi-bela diri. 

Lantas maklumatmu, memutuskan, bahwa kita saling menjaga kasih sayang dalam persaudaraan. Kau tulis di lontar, untuk dua lelaki, kakak seperguruanmu. Kau tanam, di tengah padang ilalang itu. Meski, cinta tak mampu dibelenggu.​

“Aku tidak punya jawaban, Raden Ayu Moon Segara Cakrawati. Kakak White Hawk, masih ada. Beliau kakak seperguruan. Wajib menghormati.” Suara datar itu menggugah prosa tersimpan, terpana. Seperti film diputar ulang, di benak Raden Ayu Moon Segara Cakrawati, alias Moon Ayu. 

“Kau tahu. Dia menghilang.” Gemas merona hati.

“Itu sebabnya Raden Ayu…” Belum selesai diucapkan.

“Aku perempuan biasa! Bukan Raden Ayu!” Kesal. Perdebatan kecil macam itu, seiring waktu, tak jua berubah. Sejak mereka sebelum akil balig, hingga dewasa, kini.

“Silsilah takhta, melekat pada darahmu Raden Ayu…”

“Stop!” Melesat, terbang menjauh. Membuang kesal. Nangkring di atas ilalang bergoyangan, menari-nari diterpa angin, di wilayah Desa Alas Purwa Kala Jati, subur makmur, indah nan hijau bak zamrud khatulistiwa, nyaris semirip Desa Karang Tumaritis. Pusat pertapaan Begawan Semar, bermukim bersama keluarga. 

Sekaligus merupakan Pusat Data Planet Bumi tercanggih. Cabang parlemen kahyangan bidang Konsultan Publik Hati Bening, penasihat para kesatria bumi.

***

04. Sebuah tempat. Mega-mega kurva horizon. Tengah hari.

Pertempuran dua kesatria dari satu perguruan tidak mampu mengelak waktu. Hanya mereka berdua, saling tahu, kapan saatnya bertemu olah bela diri. Masing-masing memiliki kekuatan berimbang. 

Pukulan jarak jauh White Hawk, terasa mendesir dahsyat. Lompatan salto Red Hawk, segera balik menyerang White Hawk, bertubi-tubi, berkecepatan tak terduga dari segala penjuru mata angin.

Sungguh diluar sangkaan White Hawk, keilmuan olah bela diri, Red Hawk, nyaris sempurna. White Hawk, agak terdesak. Benturan kesaktian andalan masing-masing tak terelakan. Keduanya terbang berlompatan, jumpalitan, meninggi ke angkasa, saling menyerang. Benturan dua kesaktian, bersilangan cahaya sekilap mata. Indah nian pertempuran dua satria itu.

Apa boleh buat, keduanya tak jua menjejak tanah. Mengolah kekuatan tenaga dalam Cakar Naga Singa di angkasa. Dua pedang kembar Rajawali Hati Suci, terhunus. Beradu api kilatan petir. ​

Bahaya! Jika keduanya tidak menjaga presisi kesadaran pada kontrol pelatihan olah bela diri. Kurang dari seperempat detik saja, masing-masing akan berakibat fatal, meregang nyawa. 

“Stop!” Suara lantang, seraya terkekeh-kekeh, terdengar bijaksana, mumpuni. 

Namun, kedua satria itu, terlanjur melepas jurus tenaga dalam frekuensi pamungkas, Core Semesta. Hanya kentut sakti Semar, mampu menyedot mencipta lesus, meredam, jurus pamungkas kedua satria itu. Untuk kembali pada hakikat kesadaran dialogis.

“Glar!” Ledakan menyilaukan berkilatan. Wus! Wus! Ledakan sirna seketika tersedot kentut sakti Semar, mencipta lesus.​

Batara Ismaya alias Begawan Semar Badranaya atau Ki Semar. Melayang, tersenyum khas, dalam sikap bersila. Lantas kembali terkekeh-kekeh. Berada di tengah kedua satria itu.

“Untuk apa rebutan lesus. Hehehe. Adu nyali olah bela diri tak akan menemukan Candrasa Suluk Penyair, telah menggaib bersama Suhu Sangkala.”

Cut to: (Insert).

Tiga panakawan, Gareng, Petruk, Bagong, tersenyum cerdas. Melihat kejadian itu, di layar monitor digital multidimensi. 

“Hanya terkena kentut sakti Romo Semar, persoalan sepelik apapun di seantero planet mudah selesai. Peace for the world guys.” Kata Gareng. Ketiganya tersenyum seindah taman hati, nirwana para penyair langit.

Panakawan, para putra Ki Semar, mengemban tugas memantau peristiwa seantero Planet Bumi. Melalui satelit kahyangan, langsung, ke Pusat Data Desa Karang Tumaritis.

End/Cut to:

“Maha Guru!” Serentak, keduanya memberi hormat perguruan.

“Walahkadalah! Kahyangan gonjang-ganjing ikut terkejut, pusing tujuh keliling. Mencermati perilaku makhluk kasatmata. Bumi bersin-bersin, bergoyang-goyang. 

Kabar hilangnya pusaka itu telah diketahui oleh kahyangan. Kalian sebagai cucu pewaris kehidupan. Jaga perilaku sosial, budi pekerti, tutur kata kesantunan, baik di dunia maya maupun non-maya. Senantiasa mewawas nurani dalam kontrol akal budi, seakal-akal.

Beningkan hati. Terangkan pikiran. Segera temukan candrasa itu.” Begawan Semar senyum semesta.

“Maha Guru…” Kedua satria serentak akan bertanya.

“Aku, hanya mengeban tugas.” Lantas, Begawan Semar, sekilap cahaya sirna.

“Kakak?” Penuh tanya. White Hawk, menyela cepat. 

“Adik, rahasia ini wajib dijaga.” Keduanya saling menghormat. Blasz! Keduanya sirna menuju waktu tempuh. ​

Frekuensi suara batin White Hawk, tertuju kepada Red Hawk. “Maaf, adikku. Lain waktu aku jelaskan.”

***

05. Sebuah Kampus. Di Elkhahzam Metropolis. Malam. 

Lorong panjang arsitektur klasik khas benua jauh. Sebuah kampus telah ada sejak abad ke-18 masehi. Seseorang mengayuh sepeda dengan cepat, menuju Laboratorium (Lab). Menyusuri koridor terbuka, di antara taman, menuju pintu masuk Lab. Memarkir sepeda, sekenanya. Bergegas masuk ke Lab.

“Halo!” Tim Kolang-kaling, berkumpul, menghadap layar digital multidimensi. Serentak menoleh kearah suara, dia, terlihat bergegas menghampiri, seraya mengirim suara batin, pada kelompok itu.


Frekuensi dialog batin atau laku dalam masing-masing dipertemuan itu, mungkin, membahas persoalan serius, sekaligus menegangkan. Hanya beberapa kalimat pendek, sepintas lamat-lamat masih tertangkap makna oleh penulis.

“Gawat!” Terlihat menjelaskan.

“Lantas?” Suara batin mereka serentak.

“Gawat!” Visual di layar digital berubah topik.

“Lantas?” Suara batin mereka serentak. 

“Gawat!” Visual di layar digital berubah topik.

***

06. Kahyangan. Pagi.

Para dewa sejagat tengah menggelar sidang paripurna outdoor, di Taman Bunga Estetis Multidimensi, memukau. Berada di antara Hutan Nirwana Multidimensi, asri memesona. Sidang, dipimpin Raja Dewa Batara Guru. 

Telah sampai pada, hakikat, makrifat, mufakat, bahwa para dewa tidak mencampuri urusan internal makhluk kasatmata. Dianggap telah dewasa, punya kemampuan mengurus kemaslahatan planet masing-masing.

Menyoal, hal ihwal, keilmuan, baik dibidang sains, teknologi, maupun dibidang ilmu-ilmu sosial, sejauh demi kemaslahatan planet masing-masing. Para dewa pun menyerahkan sepenuhnya pada akal budi makhluk kasatmata. Sebagaimana telah diatur, ditetapkan dalam kitab undang-undang kebijaksanaan semesta, berikut juncto pasal-pasal sebagaimana telah tertulis.

Kewajiban para dewa, sebatas, mengawasi, menasehati, merestui, serta memberi pelatihan terampil. Sesuai jadwal telaah kerja telah ditetapkan, diatur, dalam pasal-pasal konstitusi semesta. Menyesuaikan dengan hal-hal dibutuhkan, demi, kemaslahatan makhluk kasatmata di planet manapun, termasuk, di Planet Bumi.

Risalah selanjutnya segera dikirim ke planet-planet. Untuk diketahui, menjadi tanggung jawab para pengasuh planet bersangkutan. Teguranpun akan disampaikan langsung kepada pengasuh planet masing-masing. Jika diperlukan.​

***

07. Sebuah tempat. Di batas Elkhahzam Metropolis. Malam.

Terlihat sosok-sosok, samar dari balik huma-huma tumbuhan berduri berdaun lebih besar dari pohon putri malu. Di antara celah labirin pohon-pohon besar, hutan perbukitan batas kota. Perkiraan jarak, dari kota Elkhahzam Metropolis, ke hutan ini kurang lebih enam puluh dua kilometer. Oh! Ternyata, ada, makhluk bermukim di dua gugus lereng bukit. 

Mengintip, situasi dari balik labirin pohon berhuma ini. Ada gerbang untuk keluar masuk. Bukit dipotong vertikal. Gerbang kokoh, menyatu dengan bukit. Kesibukan makhluk itu tak jelas benar. Tersamar labirin pohon-pohon besar hutan ini. 

Baiklah, kalau sedikit mendekat, mungkin bisa agak jelas. Temaram dari sisi sebelah sini. Lampu-lampu sorot di belakang makhluk itu, membentuk penampakan bersiluet. Kalau diamati lebih cermat, mereka, semacam makhluk berkepala mirip kadal, tapi, tak serupa benar.

Mengendap-ngendap lagi maju lebih mendekat. Wah! Dari bagian mata makhluk itu menyala tajam berkilau, hijau muda kebiruan, agak kuning. Ada semacam lidah menjulur-julur keluar masuk, mungkin, dari mulut. Bisa jadi dari telinga, mungkin saja, mereka kan makhluk.

Frekuensi laku batin memfokus nalar, mengolah kesaktian nurani Tekno Mata Malaikat. Nah! Kan! Benar. Mereka, hihihi tak serupa kadal dalam arti sebenarnya. Oke! Mencoba lebih mendekat lagi. Mengendap-ngendap amat pelahan. 

“Krak!” Wah! Kisruh! Batang kayu kering terinjak.

Para makhluk, serentak diam sejenak, mendesis, mendengus-dengus, mengeluarkan suara aneh, lenguh, tapi semacam lengking. 

Balik badan akh! Segera menyelinap, secepat kilat. Kabur! Mengendap-ngendap cepat. Menjauh dari mereka, sekilap cahaya.

Terasa di belakang punggung, ada sesuatu mengejar. Apa boleh buat. Wess! Melesat super cepat. Seraya meraih sepedaku. 

“Wah! Aku, masih dibuntuti. Bernyali Bung? Kejarlah awak.” Wess! Blaszz! Tubuh ringan melebur molekul. 

Sirna dari siapapun di belakangku, dengan Tekno Halimun Siluman, sekaligus uji coba teknologi tinggi nan sakti, temuan, si cantik ceriwis, Klasita Verin alias Brue, ketomboian, karismatik, cantik. Jadi kangen!

***

08. Pusat Data Desa Karang Tumaritis. Siang.

Menurut data pesawat dengung alias drone pengintai milik Planet Bumi, melalui satelit kahyangan, langsung, ke Pusat Data Desa Karang Tumaritis. Tergambar di layar digital multidimensi. Upacara kolosal kenegaraan, kaum Makhluk Raksasa. Komplit dengan parade persenjataan berat. Walah!

Menilik dari gambaran upacara kenegaraan kaum Makhluk Raksasa tersebut, sungguh, membuat bulu kuduk bergidik. 

“We must increase alertness Pak Gareng.” Kata Petruk.

“Wueleh. Peanuts! Kita tunggu hasil investigasi Om Gatotkaca.” Kata Bagong.

“Just calm down lah hai. Dilarang buruk sangka. Kita, wajib baik sangka. Itu pesan Romo Semar.” Ketiganya tersenyum. 

“Waspada!” Ketiganya serentak mengacungkan jempol. 

***

(BERSAMBUNG) 

Jakarta, Indonesia, July, 07, 2019.

***

Catatan: Novel seri cerita silat kontemporer, campursari, karya, Taufan S. Chandranegara, kelak akan diterbitkan oleh Seni coid. Editor : Aendra Medita



Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here