Home Bahasa Puisi Acep Iwan Saidi: DEMOKRASI TELAH KELELAHAN

Puisi Acep Iwan Saidi: DEMOKRASI TELAH KELELAHAN

601
0
Acep Iwan Saidi

Pada usianya yang belia, demokrasi telah kelelahan. Kelebihan tuturan. Kulitnya keriput. Raut wajahnya seabad lebih tua. Lihatlah, beberapa petugas telah tewas di dalam kotak suara. Hasrat kuasa yang membabi buta telah membunuhnya, saat matahari belum lagi naik setengah tiang. “Kemana kita akan mengadu?”, tanya hukum kepada hakim di balik jeruji. Telah lama hukum dipenjarakan. Sedangkan di halaman, orang-orang berteriak tentang kebebasan. Demokrasi hanya termenung. Kelelahan.

Pada usianya yang belia, demokrasi telah kelelahan. Kelebihan tuturan. “Harapannya tipis”, kata seorang dokter di ruang periksa. Ia hanya menulis resep alakadarnya, di balik tirai ICU. Telah lama para dokter bekerja di dalam bilik gawat-darurat. Telah lama. Tapi, demokrasi kita lunglai. Tensinya terlalu rendah. Hasrat kuasa yang membabi buta telah menghisapnya hingga ke sumsum. “Besok puskesmas ini terpaksa harus dikuburkan”, demikian tertulis di kaca ruang sekuriti.

Pada usianya yang belia, demokrasi telah kelelahan. Kelebihan tuturan. “Kita kembali ke halaman satu”, kata seorang guru sekolah dasar kepada para siswa. Di tangan kanannya tergenggam kurikulum tiga belas. Kebebasan adalah pelajaran pertama yang harus dicamkan. Hanya dalam kebebasan terletak keberagaman. Tapi, lonceng sekonyong-konyong burbunyi tiga kali. Pelajaran harus segera diakhiri. Lusa pada lembaran ujian, pertanyaan pertama yang mesti dijawab tentu tentang kebebasan sebagai hak asasi. Selalu begitu dari dulu, sejak dimulai. Para guru telah kelelahan. Seperti halnya demokrasi.

Pada usianya yang belia, demokrasi telah kelelahan. Kelebihan tuturan. “Perhatikan sekali lagi instruksinya, jika demonstrasi telah menjadi anarki, tembak saja mereka di bagian kaki, ingat, di bagian kaki, agar mereka roboh dan hilang nyali!” Besok pagi di televisi, demonstrasi betul-betul dikabarkan menjadi anarki. “Demokrasi telah dicurangi!”, celoteh seorang supir taksi kepada penumpangnya yang seksi, seorang mahasiswi. “Saya akan menonton,” ujar si mahasiswi menimpali. Terlambat. Televisi sudah keburu mati.

Pada usianya yang belia, demokrasi kita telah kelelahan. Lusa, barangkali, ia hanya tinggal nisan. Tinggal tuturan.

Bandung, 3 Ramadhan 1440H

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here