Home AGENDA Guru dan Visualisasi Rupa Batik “SAKOLA”

Guru dan Visualisasi Rupa Batik “SAKOLA”

283
0

SENI.CO.ID – Guru dan Visualisasi Karya Rupa Batik “SAKOLA” dikemas dalam tajuk Realitas Sosial.  Tatkala negara Jepang menerapkan gerakan pembaharuan sosial Restorasi Meiji bagi bangsanya untuk mengharuskan mendapat pendidikan yang mumpuni, peran guru sebagai seorang pendidik menduduki harkat dan martabat yang begitu mulia serta terhormat.

Pendidikan dan karakter disiplin merupakan hal yang sangat penting untuk diikuti oleh masyarakat Jepang yang sudah dirintis sejak masa Tokugawa (1603 – 1868). Hasil dari gerakan restorasi yang terjadi pada abad ke-19 ini, bangsa Jepang menjadi sebuah negara yang sangat maju dan makmur dalam segala bidang. Tak bisa ditampikan lagi, ini merupakan peran dan jasa dari para guru.

Guru menentukan maju atau mundurnya peradaban suatu bangsa. Pada masa Perang Dunia Ke-2 ( World War II ), bangsa Jepang mengalami guncangan petaka yang sangat hebat. Nagasaki dan Hiroshima luluh lantak oleh dahsyatnya kekuatan Bom Atom yang dijatuhkan oleh pihak Amerika Serikat.

Sepanjang mata memandang, kedua kota yang semula indah itu berubah menjadi kota yang mengerikan, hancur-berantakan, dan memakan korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya.

Atas peristiwa ini Jepang berkabung dan secara politik-militer menyerah kepada sekutu. Ada kejadian yang sangat menyentuh pasca diledakkannya kedua kota ini, yakni; Kaisar Hirohito sebagai pemimpin besar negara, tidak menghitung dulu berapa besar kerugian yang diderita negara, berapa jumlah korban jiwa yang melayang akibat ganasnya bom hidrogen tersebut, tapi Sang Kaisar bertanya pada para bawahannya,

“Berapa Guru yang masih hidup?”. Tampak begitu jelas, bahwa sosok guru begitu diagungkan dan diberi mandat mulia oleh negara untuk memulihkan karakter dan mental bangsanya yang sudah hancur. Alhasil, dengan semangat Bushido-nya, dalam 2 dekade Jepang mampu bangkit kembali menjadi negara yang sangat maju di semua lini bidang dan sangat disegani oleh pihak Barat.

Hal di atas merupakan peristiwa yang sangat inspiratif dan ada teladan yang sangat istimewa, terutama bagi sosok yang berprofesi sebagai guru. Peran guru yang membangun “karakter mental” murid-muridnya bisa menjadi indikator maju atau mundurnya generarasi pada sebuah bangsa/negara.

Baru-baru ini telah diselenggarakan sebuah pameran karya rupa bertajuk “SAKOLA” yang disemangati oleh tema “Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Visualisasi Batik Modern dengan Media Gutta Tamarind”, pameran digelar dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November.

Bertempat di Gedung PPK (semula Gedung YPK) Jl. Naripan No. 7-9 Bandung, terdapat 28 karya yang ditampilkan dari 14 orang Guru Seni Budaya yang berasal dari Provinsi Jawa Barat dan Banten.

Pameran berlangsung dari tanggal 25 November – 05 Desember 2018 dan Workshop pada hari Minggu, 02 Desember 2018 yang diikuti oleh para siswa, mahasiswa, dan para pecinta seni. Dalam pameran ini, bertindak sebagai kurator adalah Citra Smara Dewi dan Ariesa Pandanwangi.

Dalam paparannya, kedua kurator ini memandang bahwa “Sakola” (dalam bahasa Sunda) atau “Sekolah” dalam bahasa Indonesia, merupakan salah satu aktivitas masyarakat dalam menuntut ilmu sebagai upaya mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Di balik aktivitas sekolah terdapat terdapat nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan yang menyentuh, khususnya yang terdapat di beberapa pelosok tanah air, dan kerap secara langsung dialami oleh guru.

Tampak karya-karya yang dipamerkan mengangkat realitas sosial yang menyentuh human interest. Misalnya, bagaimana perjuangan seorang anak yang harus menyebrang jembatan yang rapuh, atau menyebrangi sungai berarus deras, bahkan guru juga menyoroti kasus bagaimana anak yang harus bekerja keras dan berujung putus sekolah karena ketiadaan biaya.

Secara visual selain terdapat nilai estetik, juga disampaikan nilai-nilai kepahlawanan, keteladanan, dan semangat pantang menyerah yang mendasari proses pembentukan watak dan kepribadian peserta didik.

Dalam rangka Hari Guru Nasional realitas sosial tersebut diangkat oleh 14 orang Guru yang mengajar Seni Budaya. Ada 4 hal penting yang disampaikan oleh para perupa dalam pameran ini; Pertama, transfer knowledge yaitu bagaimana guru berupaya menyampaikan pengetahuannya tentang seni melalui karya visual kepada anak didiknya secara langsung, karyanya berbicara tentang objek, garis, bidang, dan warna. Kedua, upaya pembuktian bahwa Guru Seni Budaya mempunyai sisi lain yaitu daya juang untuk membuka potret pendidikan yang kerap luput dari perhatian awam. Ketiga, upaya pendidikan karakter melalui ekspresi visual, yaitu potret sisi lain “Sakola” yang dibidik oleh guru merupakan contoh perjuangan untuk mencapai citacita yang tangguh.

Keempat, menyampaikan report perjalanan sejarah dunia pendidikan kini, yang harus dihadapi dan dipikirkan oleh khalayak, tidak hanya pemerintah tetapi kita juga sebagai apresiator. Pameran ini bukan semata peristiwa berkumpulnya sekolompok Guru Seni Budaya namun melalui kekuatan Komunitas Seni 22 Ibu, tempat/wadah mereka bergabung hingga dapat membentuk Identitas Lokal yang dapat berperan strategis dalam memperkuat ketahanan budaya, sehingga bangsa Indonesia dapat bertahan menghadapi derasnya pengaruh yang datang dari luar.

Mengapa harus karya seni batik yang dipamerkan? Proses belajar mengajar tidak hanya berlangsung di dalam kelas, yang hanya tertuju pada penyampaian materi saja. Melalui media seni batik dengan Gutta Tamarind diharapkan menjadi inspirasi bagi guru-guru di Indonesia sebagai inovasi pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik di kelas. Selain itu, batik juga merupakan produk kearifan lokal atau Local Genius. Local Genius merupakan kemampuan kebudayaan setempat dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu kedua kekuatan kebudayaan tersebut berhubungan.

Haryati Soebadio menyamakan istilah local genius dengan cultural identity yang diartikan sebagai kepribadian budaya suatu bangsa, sehingga menjadi lebih mampu menyerap dan mengolah pengaruh kebudayaan yang datang dari luar, sesuai dengan watak dan kebutuhan pribadinya. |A.K Patra/seni.co.id

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here