Home AGENDA Narasi Visual “Bicara Tubuh” dan Kekurangan Dramatik Makna Tafsir

Narasi Visual “Bicara Tubuh” dan Kekurangan Dramatik Makna Tafsir

654
0
ARTOTEL menampilkan sebuah pameran seni. Narasi dan Visual “Bahasa Tubuh”, Sayang kurang dramatik dalam keliaran dalam makna karya seni yang  bebas tafsir. 
SENI.co.id – Tubuh menjadi objek yang menarik dalam nilai estetika. Tubuh juga tak akan pernah usai dibicarakan. Dalam estetika tubuh bagian penting yang bisa diperdebatkan secara multi tafsir.

Dua seniman muda berkolaborasi adalah Ucita Pohan (Writer) dan Felix Jazz (Photographer). Keduanya membuat kesepakatan eksplorasi karya seni yang mana ruang estetikan di ARTOTEL Jakarta. Setelah kolaborasi atara narasi dan visual dengan takuk “Bicara tubuh” kemudian karya mereka kini bisa dilihat di Artotel Jakarta (13 – 26 November 2018).

Paparan Ucita Pohan menulis karya tulis tangannya di sampaikan di dinding lantai dua sebuah ekspresi respon atas tema.  Penciptaan karya tulis Ucita dengan tafsir  tangan yang merupakan bagian tubuh pengungkapkan ruang karyanya dan Fotografi di respon Jozz Felix.

Sebenarnya pameran ini rada kurang kuat. Eksplorai kurang liar, kurang total bahkan yang hanya sekadar tampil buru-buru. Jika karya ini lebih dramatik lagi mestinya narasi visual ini mengejutkan.

Tapi patut dibanggakan keberaniannya tampil. Diksi dari Ucita sebenarnya masih soal kegelisahan memaknai tema dalam menarasikan kisah tubuh itu lebih jauh atau hanya sebuah respon semata.

Pun demikian untuk foto karya Felix juga tak terlalu istimewa, bermain di hitam-putih biar lebih ekspresi.  tapi karya biasa saja, daya tarik setandar, bermain croping visual,  Minimal pencahayaan sehingga detail belum dapat capaian maksimal. Beberapa karya Felix hanya manafsi  “Bicara Tubuh”  sekadar tampil. Tubuh hanya gagasan indah semata bukan kekuatan makna yang hadir. Jumlah sebanyak 15 foto direspon oleh diksi yang seakan bernarasi untuk “Bicara Tubuh”, namun masih kuran sarat makna. Meski begitu keberanian dua seniman muda layak mendapt tempat, maklu mereka baru pertaa tampil.

Ucita Pohan telah berkarir selama 10 tahun di media; sebagai penyiar radio, editor majalah dan pembawa acara. Lahir dan besar di Jakarta, Ucita kerap membahas topik seputar mode, kecantikan, dan gaya hidup lewat berbagai medium. Mulai dari program radio Fun Fearless Female di Cosmopolitan FM, berbagi di akun instagram @uchiet, hingga melalui cara yang lebih unik. Salah satunya adalah pameran karya lukis dengan kosmetik; Beauty on Canvas pada bulan April 2018. la masuk dalam daftar “18 Southeast Asian Instagram lnfluencers You Should Follow” huffingtonpost.com, menerima penghargaan sebagai “Inspiring Woman in Technology and Photography” dari Astalift Beauty Fest 2017, dan dinominasikan sebagai “Female Star Style of The Year” oleh Zalora Style Awards 2018. Sebaga seorang blogger dan beauty enthusiast, Ucita  menuangkan isi otak hati dalam narasi bertutur dari gelisah responnya.

Sedangkan Jozz Felix memulai karir fotografinya sejak 2013. Kedekatannya dengan dunia musik membawa Jozz berkesempatan mejadi fotografer resmi berbagai pertunjukan musisi seperti Glenn Fredly, Trio Lestari, dan Maruli Tampubolon hingga ditunjuk menjadi fotografer resmi “Celine Dion Jakarta Live 2018”. Di ranah sinematografi, Jozz juga mengeksplorasi “still photography” dalam film Filosofi Kopi 2 dan Foxtrot Six. Jozz juga telah dipercaya untuk proyek fotografi komersial berbagai perusahaan besar. Minatnya terhadap “portrait photography” hitam putih membuatnya berhasil menggelar beberapa pameran diantaranya, “Ekspresi Lirik”, “Filosofi Kopi 2”, “Tanda Mata Glenn Fredly untuk Slank”, “Tanda Mata Glenn Fredly untuk Yovie Widianto”, dan “Expression” 99th Years of Pentax.

Objek perempuan dalam memaknai karakter bagian tubuh belum tajam. Padahal model yang di eksplor banyak kekuatan. Mereka seperti Shareefa Daanish, Shafira Umm, Aditira, Andra Alodita, Nadya Putriani dan Jajang C Noer adalah meraka punya kekuatan dan karaktrer.

Akhirnya catatanya karya keduanya boleh jadi meski belum liar dan kuat, kita sambut apresiasi secara baik saja. Dan ini memang bagian dari proses panjang yang harus konsisten. Dan ditunggu karya selanjutnya. |Ulasan dan Foto AME untuk seni.co.id

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here