Home AGENDA Kiprah Yorie Kumalasari, Effects Artist Asal Surabaya di DreamWorks Animation

Kiprah Yorie Kumalasari, Effects Artist Asal Surabaya di DreamWorks Animation

163
0
Yorie Kumalasari, Effects Artists di DreamWorks Animation Studio, California (Dok: Yorie Kumalasari)

Profesi sebagai effects artist di Amerika Serikat masih jarang ditekuni oleh perempuan. Yorie Kumalasari asal Surabaya adalah salah satunya yang dipercaya untuk menjadi effects artist di studio bergengsi DreamWorks Animation di California. Seperti apakah profesi yang satu ini? Yuk, ikuti ceritanya!

Studio DreamWorks Animation yang berlokasi di Glendale, tak jauh dari kota Los Angeles di negara bagian California terkenal lewat produksi film-film animasinya yang selalu meledak di Box Office Amerika, antara lain Kung Fu Panda, How to Train Your Dragon, The Boss Baby, dan juga Trolls.

Yorie Kumalasari, Effects Artists di Dreamworks Animation Studio, California (Dok: Yorie Kumalasari)
Yorie Kumalasari, Effects Artists di Dreamworks Animation Studio, California (Dok: Yorie Kumalasari)

Perempuan asal Surabaya, Yorie Kumalasari, adalah salah satu anggota tim sukses DreamWorks Animation yang dipercaya untuk menjadi Effects Artist sejak bulan Februari 2018 lalu.

“Sekarang lagi ngerjain (film) How to Train Your Dragon yang ke-3,” ujar Yorie Kumalasari saat dihubungi oleh VOA Indonesia baru-baru ini.

Tidak hanya sudah menonton dua film yang sebelumnya, suami Yorie yang berprofesi sebagai animator di Walt Disney Animation Studio kebetulan juga ikut terlibat dalam penggarapan dua film tersebut.

“Jadi kayak family legacy sekarang,” kata Yorie sambil tertawa.

“Dia mengerjakan yang pertama dan kedua, saya yang menyelesaikan,” tambahnya.

Yorie Kumalasari, Effects Artist di DreamWorks Animation (Dok: Yorie Kumalasari)
Yorie Kumalasari, Effects Artist di DreamWorks Animation (Dok: Yorie Kumalasari)

Rencananya film How to Train Your Dragon: the Hidden World ini akan dirilis Februari 2019 mendatang.

Mengenai profesinya sebagai effects artist, Yorie bertugas ‘menghidupkan’ gambar-gambar seperti air, ledakan, api, asap, dan debu.

“Saya ambil Master di New York University, majornya Digital Imaging and Design. Di situ saya belajar 3D dan saya kira effects itu yang paling keren gitu bagian (dari) 3D. Jadi saya belajar untuk effects and akhirnya saya sekarang sudah mengerjakan banyak film-film di US,” papar Yorie yang adalah lulusan S1 jurusan sistem informasi dari Universitas Surabaya.

Gambar adegan berupa efek api karya Yorie Kumalasari di film How To Train a Dragon 3 (Dok: Yorie)
Gambar adegan berupa efek api karya Yorie Kumalasari di film How To Train a Dragon 3 (Dok: Yorie)

Hingga kini, Yorie sudah terlibat dalam penggarapan film-film Hollywood terkenal seperti Power Rangers, The Fate of the Furious, Hotel Artemis, masih banyak lagi.

Bisa melihat namanya terpampang di bagian akhir film tentunya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Yorie dan juga orang tuanya.

“Senang ya, karena saya itu waktu di Indonesia sering melihat film-film Hollywood. Papa (dan) Mama saya juga suka nonton bioskop. Jadi sekarang kalau lihat nama saya di credit kan jadi senang banget,” cerita perempuan kelahiran Riau tahun 1981 ini.

Sebelum bekerja di DreamWorks Animation, Yorie juga pernah bekerja di perusahaan the Mill di New York dan Los Angeles dimana ia banyak mengerjakan produksi iklan untuk televisi.

“Setelah itu saya mulai freelance di beberapa company dan di situ juga saya mengerjakan commercial, kadang film. Terus kemarin juga sempat kerja di Disney Animation, mengerjakan (film) Moana,” kata Yorie.

Yorie Kumalasari (kanan) bersama pengisi suara karakter Moana, Auli'i Cravalho (kiri) (Dok: Yorie Kumalasari)
Yorie Kumalasari (kanan) bersama pengisi suara karakter Moana, Auli’i Cravalho (kiri) (Dok: Yorie Kumalasari)

Perjalanan karirnya pun ia lalui dengan proses pembelajaran. Waktu pertama kali ia terjun ke dunia animasi ini, ia memulai profesinya sebagai seorang Generalist.

“Generalist itu maksudnya saya kerjanya mulai dari animator. Saya juga buat modeling, rigging, jadi semuanya kecuali effects,” jelas perempuan yang

Dalam dunia digital, modeling adalah pembuatan model sebuah obyek dalam bentuk 3D di komputer. Sedangkan rigging adalah pembuatan struktur tulang pada obyek.

Yorie Kumalasari, Effects Artists di Dreamworks Animation Studio, California (Dok: Yorie Kumalasari)
Yorie Kumalasari, Effects Artists di Dreamworks Animation Studio, California (Dok: Yorie Kumalasari)

Profesi Yorie sebagai effects artist ini memang cukup menantang dan masih rawan ditekuni perempuan di industri animasi.

“Biasanya yang ngerjain laki-laki semua ya. Jadi lihatnya kalau cewek, ‘oh, pasti enggak bisa itu, soalnya terlalu teknis,’” kata Yorie yang sudah berdomisili di Amerika Serikat sejak tahun 2005.

Terbukti di proyek film How to Train Your Dragon: the Hidden World yang tengah ia kerjakan kali ini ada sekitar 40 effects artist yang terlibat. Namun, hanya empat diantaranya yang perempuan, termasuk dirinya.

“Kemarin juga waktu untuk Moana itu, effects artist-nya ada 55 total. Ceweknya cuman lima orang,” cerita seniman yang pernah mengikuti kontes Miss Indonesia mewakili Riau pada tahun 2005 ini.

Walaupun masih sedikit perempuan yang menekuni dunia animasi, data bulan Maret tahun 2018 dari organisasi serikat kerja, the Animation Guild, yang mewakili seniman animasi, penulis, dan para pekerja teknik animasi sejak tahun 1952, menunjukkan peningkatan persentase anggota perempuan yang kini mencapai sekitar 25,6 dari 4,230 anggota yang terdaftar dan bekerja di wilayah Los Angeles. Angka ini naik 2,4 persen dari Oktober 2016.

Data dari Animation Guild tahun 2018 itu juga menunjukkan bahwa hanya ada sekitar 70 karyawan perempuan dari 477 karyawan yang bekerja di DreamWorks Animation.

Menurut the Animation Guild, studio animasi yang paling banyak memiliki karyawan perempuan di Los Angeles saat ini adalah Wild Canary, yang memproduksi serial televisi, antara lain Miles from Tomorrowland dan Puppy dog Pals, dimana 40,6 persen mereka adalah perempuan, diikuti oleh studio Cartoon Network yang 39 persen karyawannya adalah perempuan.

Yorie Kumalasari bersama sutradara film Moana, Ron Clements (kiri) dan John Musker (kanan) Dok: Yorie
Yorie Kumalasari bersama sutradara film Moana, Ron Clements (kiri) dan John Musker (kanan) Dok: Yorie

Sebagai perempuan, Yorie berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu bekerja di industri animasi, khususnya sebagai effects artist di Amerika Serikat.

“I proved to them that I could do it. So, even if I’m a girl, I can still do it,” tegas Yorie.

Untuk bisa berada di titiknya yang sekarang pun ia harus melalui perjalanan yang panjang. Yorie berpesan kepada teman-teman yang ingin mengikuti jejak karirnya adalah agar tidak pernah berhenti belajar, karena dunia 3D akan selalu berkembang.

“Jadi don’t give up and just keep learning, and practice makes perfect.”

Ucapan terima kasih dari dua sutradara film Moana atas kerja keras Yorie (Dok: Yorie Kumalasari)
Ucapan terima kasih dari dua sutradara film Moana atas kerja keras Yorie (Dok: Yorie Kumalasari)

Tip dari Yorie jika ingin bekerja di studio animasi besar seperti DreamWorks Animation adalah fokus ke bidang yang ingin ditekuni, apakah itu efek, animasi, modeling, atau rigging. Menurut Yorie, studio-studio besar biasanya tidak mencari generalist, karena pekerjaannya terlalu luas. Setelah fokus kepada efek, ia lalu mulai mendapat pekerjaan untuk ikut menggarap film-film besar Hollywood.

Terakhir, Yorie juga berpesan untuk tidak takut untuk bertanya kepada para ahli di bidang yang ingin ditekuni.

“Jangan takut untuk e-mail (seniman-seniman) di LinkedIn. Tanya tips atau mungkin mereka mau lihat portfoliomu, supaya mereka bisa kasih advice,” pungkasnya. |VOA/RED

 

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here