Home DIALOG Yudi Yudoyoko: Diriku Harus Bermanfaat bagi Orang Lain

Yudi Yudoyoko: Diriku Harus Bermanfaat bagi Orang Lain

1647
0
Yudi Yudoyoko
SENI.CO.ID – Sosok akhir pekan SENI kali ini kami pilih adalah Yudi Yudoyoko seniman fenomena dan mengejutkan. Ia adalah seniman yang dibisa digolongkan multitalenta. Nalarnya yang cerdas dan memiliki skill yang luar biasa. Bicara banyak dari mulai dirinya orang tua sampai soal karya yang terus gelisah tanpa henti.
Yudi Yudoyoko lahir di Jakarta, Indonesia. Sejak 2003 menetap di Montevideo, Uruguay. Seniman/desainer lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain jurusan Seni Lukis Institut Teknologi Bandung tahun 1989. Sekolah desain grafis di BIOS, Montevideo. Berijazah teknik menjahit Adi Busana dari Institut Strasser, Montevideo.
Sebelumnya adalah fashion editor pada majalah majalah MODE, Jakarta-Jakarta, kolaborator untuk majalah HAI, Indonesia. Ilustrator untuk majalah S/N New World Poetics, Texas USA; perancang grafis untuk penerbit La Flauta Mágica, Montevideo; kolaborator untuk majalah Lento, Uruguay dan dosen di sekolah sekolah mode Institut Strasser, Petter Hammer Fashion School dan Jurusan Seni Rupa Universitas Katolik Montevideo, Montevideo. Sebagai seniman aktif berpameran secara tunggal dan kolektif di negara negara di Asia, Amerika Serikat, Amerika Latin, Brazil dan Eropa.
Mendapat berbagai penghargaan serta beasiswa sebagai seniman dan peneliti, diantaranya; penghargaan senirupa nasional Uruguay; penghargaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Uruguay untuk proyek riset serta pameran internasional yang mengartikulasikan senirupa dan desain. Profil dan karyanya diterbitkan dalam buku buku diantaranya; Seni Kontemporer Uruguay, Koleksi The Orient Company, 2009; PANORAMA Seni Kontemporer Uruguay, 100 Ineludible artist in the contemporary scene, 2016.
Berikut adalah wawancara EKSKLUSIF SENI bersama Yudi Yudoyoko pekan lalu dan petikannya disampaikan kepada Dwi Dago Korespoden SENI.CO.ID di Bali, selamat menyimak:
Apa yang mendasari Anda saat ini untuk menjadi seniman, dan apakah ini Cita-cita dari kecil atau bagaimana?
Dari kecil aku memang maniak melukis, dinding di rumah ortu-ku penuh dengan berbagai gambar gambar bikinanku. Berbarengan dengan itu aku juga maniak sama yang namanya kerajinan, berbagai jenis kerajinan waktu aku kecil bertebaran di sekitar tempat tinggal dan sekolah SD ku. Mulai tenunan, sepatu hand made sampai pabrik odading dan sukro aku jelajahin. Aku juga ingat salah satu kesukaanku adalah main dengan kaleng bekas yang dilubangi dan diberi kaki semacam tengki dan dengan itu aku merancang semacam instalasi irigasi lengkap dengan sungai dan bak airnya. Kalau cita- citaku sebenarnya ingin jadi Insinyur. Tapi hasratku terhadap seni dan desain sangat besar.
Bakat seni mengalir dari siapa?
Barangkali ada bakat yang mengalir dari orang tuaku, Ayahku profesinya adalah seorang dokter, sekalipun demikian buku catatannya penuh dengan oret oretan gambar dan dia juga pintar bikin desain poster, aku ingat betul suatu keka Ayahku diminta membuat poster kegiatan di fakultasnya, dengan penuh kecermatan aku memperhatikan bagaimana dia menulis dengan kuas dengan cat poster flouresent di atas karton warna, Aku kagum sekali. Jangan salah Ayahku adalah seorang empu, selain dokter yang sangat baik dan cermat dia juga ahli dalam perbengkelan, jago memasak dan merancang serta membuat sendiri mebel-mebel di rumahku. Di tambah juga jago Bahasa mulai Bahasa Jerman, Belanda dan tentunya Inggris, dari kecil kami diajari bahasa oleh ayahku. Ibuku adalah seorang ibu yang top, tapi bakatnya dalam seni biasa saja tapi ibunya atau nenekku adalah seorang pemain Acordeon dan Biola di orkes melayu, maksudnya bukan dangdut tapi orkes melayu dari wilayah Sumatra Barat.
The tip of the iceberg, 2017
 The tip of the iceberg, 2017
Bagaimana Anda di ITB apakah orang tua dan keluarga mendukung karier Anda untuk menjadi seniman?
Ya, mendukung abis. Cuma pada awalnya waktu aku mau daftar ke FSRD ITB ayahku bilang: “Mau jadi apa?” tapi sebenarnya dia hanya ngetest seberapa yakin aku untuk sekolah kesenian.

Apa kampus ITB sebagai instusi pendidikan berpengaruh besar pada Anda dalam berkesenian?

Ya, ITB pengaruhnya sangat besar dalam berkesenian, pada tahun 80-an masa saya kuliah dosen-dosennya adalah para master seni kelas berat Indonesia, aku merasa sangat beruntung, biarpun tidak selalu aku setuju dengan pendapat dan pandangan mereka akan kesenian, tetapi justru dari situlah aku menemukan kesempatan untuk mendebat dan mengembangkan kesenian yang bagi aku pada masa itu seharusnya dipraktekan.

Para dosen ku di ITB pada masa itu mereka adalah para seniman besar seni moderen, sementara sekarang aku sadar saat tersebut aku dengan dorongan berkesenian kontemporerlah yang menggaung-gaung di kepala dan jiwaku. ITB sebagai salah satu instusi pendidikan terbaik saat itu mememiliki standar yang sangat bagus, dan ini membantu dalam mengkonstruksi fondasi dari kesenianku.

Saat masih di ITB apakah membentuk suatu komunitas yang khusus terlibat di dalamnya?

Pada dasarnya aku adalah sorang yang soliter. Tapi ada grup yang aku prakarsai ada juga grup yang dibentuk barengan sama kawan kawan, yang pas sekalipun aku suka berkerja kelompok dan bersahabat.

Selain ITB yang mempengaruhi Anda sebagai seniman ada yang lain?

Pendidikan formalku dalam kesenian hanya ITB, tapi jaman itu aku juga akfti di organisasi perancang busana PAPMI bahkan aku adalah sekretaris dari PAPMI cabang Bandung. Kenapa? Karena sebelum masuk ITB, sewaktu masih di kelas 2 SMA aku mendapat penghargaan sebagai juara ke III Lomba Perancang Mode (LPM) Indonesia yang diadakan ap tahun oleh majalah Femina dan Gadis, sebelum menang LPM aku sudah menjadi anggota PAPMI Bandung sebagai perancang busana. Maka sambil kuliah di ITB aku juga mengajar di di sekolah desain mode INTERMODEL, jadi kegiatanku tumpang-tindih antara seni dan desain. Aku juga bikin grup musik, seperti biasa semua anak muda kan ingin jadi rocker, aku jadi vokalisnya, dan aku menulis musik dan lagu, waktu itu laguku mencapai puluhan kaset, sekitar 400 lagu ada sepertinya yang aku produksi. Dan tahun 90-an aku punya kontrak sama agen lagu yang menjual lagu-laguku di Jakarta. Jadi aku banyak mendidik diriku sendiri dengan berbagai kegiatan yang kreaftif.

Anda dikenal sebagai seniman fenomenal yang nyeleneh, sampai sekarang selalu penuh kejutan sensasional, apakah tema-tema karyanya selalu mewakili sisi personal individual Anda?

Tentu saja semua berdasarkan pada bagaimana aku sebagai individu serta kaitannya dengan hal hal di luar diriku, dalam kasusku aku merasa sering terjadi tegangan antara aku dan hal diluarku, kadang kadarnya cukup ekstrim namun aku selalu berusaha menjadikannya sebagai bahan bakar atau energi buat prosesku berkarya.

Tema Fetish  sering jadi karya Anda, kenapa?

Fetish  ya? Hehee… Aku rasa setiap manusia memiliki fetish-nya sendiri-sendiri bentuknya bisa beragam. Sering kali dalam berkarya adalah: Tendang dulu atau tabok dulu, lalu kalo udah tercengang atau kesima baru aku jejelin hasil proses pemikiran yang intinya ingin aku sampaikan sebagai pesan dalam karyaku.

Ada karya spiritual dan ikon-ikon religiusitas sering ditampilkan, sebenarnya persoalan apa yang ingin disampaikan dalam karya ini?

Tanpa mengakui sebagai beragama tertentu aku rasa aku termasuk manusia yang religius, dalam hal ini aku punya keyakinan akan moral, hal-hal yang baik dan buruk, karma, nilai posif dan negaf dll. Jika aku menggunakan Ikon ikon religi adalah sebagai salah satu alat, katakanlah saja sebagai perangkat bahasa, karena ia cukup efektif dalam menyampaikan pesan yang cukup susah jika harus diterjemahkan melalui visual yang lain.

Agama aku rasa adalah sesuatu yang bagus dan bermanfaat sebagai pembentuk keyakinan, serta membantu mengkontrol moral dan tindak-tanduk seseorang. That’s it, ketika ia dikembangkan dalam sosial yang beragam keyakinannya, apalagi diadaptasikan ke dalam sistem kemasyarakatan lain atau politikk, maka ia sering kali menjadi masalah. Apalagi ketika ia diyakini sebagai sesuatu yang mutlak dimana keyakinan lain dianggap salah maka fungsinya bisa menjadi sesuatu yang mendampakkan benturan-benturan bahkan sesuatu yang berkebalikan dari niat awalnya beragama.

Seniman modern mana yang Anda Kagumi dan yang mempengaruhi Anda dalam berkarya?

Aku berhenti mengagumi seniman lain semenjak aku lulus kuliah. Aku bisa sebutkan beberapa seniman yang pada masa dulu aku sukai: William Blake, René Magrie, Anselm Kieffer, AR Penck, Giorgio de Chirrico, Edward Hopper adalah beberapa yang aku bisa sebut.

La curación del mente, 2017

La curación del mente, 2017

Bagaimana Anda sebagai individu jika berurusan dengan sejarah seni, di Indonesia dan dunia?

Ufffff….. Menurutku sejarah adalah ketika sesuatu mengubah, memperbaharui, menambah, memperkaya cara berfikir dan cara berkehidupan masyarakat. Sejarah seni modern berkembang dan terasa pengaruhnya pada masa akhir abad 19 dan pada abad 20, dimana ide-ide briliant para seniman bersamaan dengan teknologi dan berbagai segi kehidupan mengubah arah berpikir. Belakangan seni lebih berupa pengulangan pengulangan dan variasi dari berbagai pemikiran terdahulu, jika saja ada seniman besar jaman sekarang adalah dikarenakan juga seorang yang pandai menangani perihal public relation dan dipilih oleh kalangan elit kesenian semacam kurator dan pebisnis seni untuk dimajukan sebagai seniman. Sejarah dalam kedalaman seperti abad 20 telah berakhir. Seniman sekarang adalah salah satu bagian dari mesin bisnis, kebudayaan adalah mekanisme yang digerakan oleh ekonomi. Sebentar, berarti kita masih punya banyak hal untuk diperangi ya…? Hehee…

Apakah Anda berkarya seni untuk menjadi kaya, terkenal atau sebuah panggilan jiwa?

Haha… untuk menjadi kaya seharusnya aku dulu sekolah program komputer atau berinvestasi ke fiber optic. Aku selalu salah mustinya jaman tahun 80-an itu aku sekolah jadi DJ bukan bikin grup band rock, kalo aku dulu sekolah jadi DJ barangkali aku udah jadi Super DJ…. Hehee. Kesalahanku adalah aku lebih merasa hidup dan berarti ketika aku bisa melakukan penelian dalam tema-tema yang bagiku menarik dan mengembangkan pemikiran serta lalu berbagi pendapat lewat karya karya seni tanpa ada seseorang yang mendikte.

Sejak remaja aku sadar kehidupan itu sangat mengikat, makanya aku pilih kesenian sebagai salah satu yang memungkinkan aku untuk bisa lebih banyak mengontrol diriku sendiri. Kalau lalu ada yang mengenalku atau aku jadi kaya aku tidak tolak sebagi efek sampingannya.

Semua ‘isme’ seperti ekspresionisme, surealisme, realisme, abstrak, modernisme, post modern, kontemporer, dll, sangat menguatkan, bagaimana menurut Anda?

Mari kita serukan “an label” apapun juga. Kalau ditelaah memang semua bisa diklasifikasikan, tanpa berfikir buruk nggak ada masalahnya, tapi aku tuh kutu loncat! Kadang ekspresionisme, lalu loncat ke surealisme, lalu loncat ke whatever-isme, hanya orang yang kurang percaya diri yang bersikukuh berada dalam satu kubu. Bagi aku semua sekedar perangkat, dan penggunaan perangkat adalah tergantung pada apa yang akan kita kerjakan dan sampaikan. Aku merasa utuh jika semua sisi dalam kepribadianku terpupuk dan terjalani, mulai yang dari satu sisi ekstrim yang satu ke sisi ekstrim yang lain.

Bagi Anda bagaimana seharusnya dalam pengajaran Seni di Indonesia?

Harus lebih sistematis , dengan lebih banyak membuka lapangan pertukaran pendidikan dengan negara negara lain. Pendidik harus lebih kompeten dan dipercayai oleh para murid. Bangsa Indonesia pada dasarnya memiliki kepandaian tangan yang tinggi serta kebebasan berpikir yang luas, sayangnya lebih banyak pemalas dan kurang menempa diri dengan informasi dan lahan berpikir yang baik.

wish I was never grow up

Apa yang membuat ‘api’ berkesenian Anda selalu menyala?

Karena aku masih selalu jengkel sama kehidupan, karena selalu ada yang harus kita pikirkan dan bagikan dengan orang lain, karena aku masih hidup, dan aku yakin bahwa aku memiliki misi dalam kehidupan, dan aku merasa bahwa diriku harus bermanfaat bagi orang lain.

Melihat karya seni Anda seperti melihat pertempuran di dalam diri Anda untuk bisa merasakan kekuatannya sendiri dengan karyanya sendiri, bagaimana menurut Anda?

Setiap saat setiap detik berlalu dengan pengambilan keputusan, kadang keputusan ini harus melalui semacam pertempuran karena kita selalu akan dituntut konsekuensi dan pertanggungan jawaban. Kekuatan bisa aku rasa bahkan keka aku dihadapkan pada keraguan, kadang aku merasa lelah dan ingin menyudahi apa-apa aku dan apa apa yang aku kerjakan namun selalu semacam keterikatan, kutukan yang aku rasa baik yang mengembalikan aku ke jalanku: seniman morat marit.

Bisa Anda gambarkan tentang diri Anda sendiri dan karya-karyanya?

Kontradikf dalam berbagai hal, namun selalu kembali pada aku sebagai manusia yang berusaha keras untuk menjadi manusiawi.

Ideologi semacam apa yang menjadi dasar dan latar belakang dari berkarya?

Antihipokritisme, Antikapitalisme, Antifanatisme, dan lemah lembut terhadap bumi, tumbuhan dan satwa.

Kalau seseorang menyelesaikan Sekolah Seni apakah dia bisa langsung disebut seniman?

Tergantung apakah dia memproduksi karya seni? Atau sekedar menjalankan tradisi memproduksi benda tanpa makna.

Ada guru di sekolah seni yang dominan dan ingin ditiru dan tidak untuk mengekspresikan diri sendiri, bagaimana menurut Anda?

Tajong we! (basa Sunda, atinya Tendang saja!) Kita butuh pengajar atau tutor dengan wawasan luas dan mendalam dan memiliki self confident yang memadai, bukan diktator seni… hehe

Bagaimana seni di Indonesia dapat berkembang dengan baik?

Aku rasa Seni di Indonesia sudah berkembang dengan baik, bahkan sudah mengalami masa keemasannya dalam hal ini seni tradisional yang sangat tinggi nilainya, tapi kepicikan dan globalisasi menggesernya. Seni di jaman kini * seperti juga segi segi lain dibutuhkan ketransparanan, hal ini kaitannya dengan tata pemerintahan, dana kebudayaan dan pendidikan tidak pernah terbuka dan transparan dimana semua rakyat bisa mengakses informasinya. Proyek proyek kebudayaan harusnya terbuka dan dikembalikan pada manusia manusia yang berinisiaf dan mau bekerja. Misalnya ada pendanaan untuk proyek kesenian dimana siapapun dimungkinkan untuk mengajukan proposal dan lalu ada team juri yang menilai kelayakan proyek proyek tersebut dan dipilih pemenang untuk mendapatkan pendanaan, selanjutnya ia harus mempertanggung jawabkan penuntasan proyeknya secara hukum. Ini sekedar contoh, yang pas menurutku jika ingin berkembang dengan baik maka banyak pihak harus bekerja sama.

yy

Yudi Yudoyoko

Pada awalnya apa dan siapa yang mempengaruhi gaya Anda?

Pada awalnya sekali: adalah komik karya Abuy Ravana, Yan Mintaraga, lalu buku-buku kedokteran ayahku, lalu majalah semi porno Varianada, tabloid Melody Maker, majalah ID, Fangoria, film-film horror, lalu band seper Emerson Lake & Palmer, Yes, Genesis, Pink Floyd serta Marillion, Lalu Boy George, Frankie Goes to Hollywood, Duran Duran dan Nina Hagen serta SEX PISTOLS dan hampir semua music pop. Lalu Jean Paul * Gaultier , Vivienne Westwood, Rei Kawakubo, Marn Margiela, Walter Van Beirendonck. Lalu pelukis Girgio de Crirrico, René Magrie, Anselm Kieffer, lalu The book of Job, Baghavad Gita, and so on…

Pengaruh dari musik, teater dan fashion sepertinya mempengaruhi Anda dalam berkarya, drama dalam karyanya juga seperti mengekspresikan kegelisahan dan juga puisi, bagaimana menurut Anda?

Ya, dan banyak , unsur unsur lain yang campur aduk, dan kerjaku adalah semacam membuat semacam order/susunan dari chaos situasi dan informasi ini.

Bagaimana cara Anda berkonsentrasi pada sebuah objek?

Nggak bisa, aku nggak bisa konsentrasi dengan satu obyek, selalu aku berkerja rangkap dalam berbagai jalur kreatif dan proyek yang kadang sepertinya bertolak belakang, namun pada akhirnya selalu aku bisa menemukan titik temu yang menunjukan koordinat tentang siapa, apa dan bagaimana aku melihat dan mencerna masalah.

Kalau begitu bagaimana Anda memilih sebuah objek?

Pencarian yang konstan, di setiap penelusuran aku bertemu dengan tema yang aku putuskan untuk aku teliti dan kembangkan lebih lanjut, kadang tema tersebut aku hentikan atau aku belokkan ke arah dan cara pandangan yang lain yang lebih relevan. Aku selalu berusaha agar obyek atau tema tersebut dak sekadar mewakili diriku, melainkan juga mewakili pengamat setidaknya ia bisa membangkitkan sesuatu di dalam diri pengamat.

Bagaimana Anda membandingkan gambar, lukisan, foto, film dan karya- karya Anda yang lainnya?

Seperti berbagai potongan puzzle yang jika disatukan dengan jelas bisa menggambarkan siapa dan apa yang menjadi misi berkesenianku.

Mengapa Anda banyak berkarya dengan cara atau gaya yang ganjil dan seringkali mendobrak norma-norma yang umum?

Aku berkeyakinan bahwa norma-norma adalah hal yang selalu berevolusi. Kreator adalah seseorang yang selalu mendorong memperluas batas batas serta menciptakan suaranya sendiri.

Mengapa akhirnya memutuskan untuk tinggal lama di Amerika Latin, Uruguay, Montevideo?

Semenjak masa kuliah di ITB aku selalu berkeinginan untuk mengembangkan diri di wilayah Amerika, dan Amerika Latin adalah wilayah yang bagi aku sangat kaya secara kebudayaan modern dan tradisional, serta penuh dengan konflik yang menarik, aku beruntung tidak jatuh ke Amerika Serikat, negara cetek hehee, Uruguay menurut pengamatanku adalah negara Amerika Latin paling maju, dan paling stabil serta tenang. So here I am….

Ia juga aktif berpameran diantaranya pameran kolektif:

2016 Panorama 1, Specters of desire, Self-portrait dan video dengan teks puitis, Pusat Pameran SUBTE, Montevideo; Shakespeare Genderless, Ruang pameran Teater Nasional Teatro Solis, Montevideo. 2015 Dress code, Intervensi kostum dengan kode kode dan simbol simbol, Pusat Pameran SUBTE, Montevideo; Degenerated Art, Video, instalasi lukisan, Engelman-Ost Collection, Montevideo; Free Wrestling!, Video, selfportrait dengan topeng topeng dan teks, Museum of Contemporary Art of Salta, Argentina; Episodie1, Fotografi selfportrait gender confuse, remake foto foto iconic, Pera de Goma, Montevideo. 2014 Felisberto Machine, Paintings, Museum Seni Rupa Nasional, Montevideo. 2013 Pameran Kolektif Seniman Seniman Bolivia, Merenko Art Gallery, Huston, Texas, EU; Children of Boredom, Kiosco Art Space, Montevideo; I’m a Shell, I’m a mask, Sputnik Gallery, Buenos Aires. 2012 DAG 3G ( 3 Generation of Argentinan Contemporary Drawings ), Massotatorres Contemporary Art, Buenos Aires; Free Wrestling! A look of fabulous world of Mexican free wrestling, Palais de Glace, Buenos Aires. 2011 Do It, Contemporary Art Space, Montevideo; Beauty Case, Exhibition Hall of Jakarta Art District, Indonesia. 2010 Menú Látex, Exhibition Centre – SUBTE, Montevideo. 2009 Exposition Nine, Mini Gallery, Belo Horizonte, Brasil; Uruguay Contemporary Art, Collection of The Orient Company, Exhibition Centre SUBTE, Montevideo; Love of my life dan Minch Meat, dua pameran , Massotatorres Contemporary Art, Buenos Aires. 2008 Erotic Art vs Porn Art, Marte Up-market Contemporary Art, Montevideo; Inevitably Pop – The Soul, National Museum of Visual Art, Montevideo; 3Penghargaan Seni Visual ke 53, Museum Seni Rupa Nasional, Montevideo. 2007 Interpreting Frida, Méxican Culture Space, Montevideo. 2006 Paintings, del Paseo Contemporary Art, Manantiales. 2004 Tics, Exhibition of artists from Uruguay and Argentina, Cabildo, Montevideo. 1995 Axis, Exhibition of Indonesian and Belgian Artists, Galeri Nasional, Jakarta, Indonesia. 1994 Original Sin – Dosa Bawaan, Alliance Française, Bandung, Indonesia. 1993 9th Bienal of Indonesian Visual Arts, Yakarta, Indonesia.

Dan juga sejumlah Penghargaan antara lain:
2012 Beasiswa Kreasi “Justino Zavala Muniz” Tingkat I dalam la kategori Seni Rupa, Dana Stimulus Kreatif dalam Formasi dan Kreasi Artistik (FEFCA) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Uruguay. 2011-2012 Penghargaan Pendanaan yang Diperlombakan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Uruguay; Proyek Till Fashion Do Us P’art – Links to a finite world, Sebuah pameran di luar Uruguay yang berupa bagian dari proyek penelitian yang mengkaitkan desain mode dan seni, Pusat Kebudayaan Spanyol Buenos Aires, Argentina, juga untuk penerbitan buku penelitian dengan judul yang sama. 2010 Penghargaan utama untuk Intervensi Ruang Non Konvensional, Pusat Kebudayaan Spanyol di Montevideo. 2008 Penghargaan The Orient Company dalam Penghargaan Seni Rupa Nasional ke 53, Montevideo. 1981 Pemenang ke 3 Lomba Perancang Mode Nasional Indonesia yang diadakan oleh Majalah Femina dan Gadis.

Anda sering mengadakan pameran di Indonesia dan di luar negeri? Pameran yang paling berkesan dimana?

Pameran lumayan di negara Uruguay, Argentina dan negara Amerika Latin lain seperti Brazil juga USA. Sempat juga sampai di Eropa lupa negaranya, sorry. Di Indonesia pameran sejak tahun 80-an, yang paling berkesan di Tanah Air adalah pameran dengan judul “Dosa Bawaan – Original Sin” tahun 1994 di Bandung, pameran berdua dengan Rifky Effendi, berkesan karena pertama kalinya aku bisa lengkap dan jujur menampilkan diriku dan pameran ini mendapat apresiasi yang sangat baik dimana publik yang sempat menikma pameran ini sampai saat ini masih terhentak dan terdampak olehnya. Berbagai pameranku di Amerika Latin juga sangat berkesan, tapi ada satu yang buat aku spesial, ketika aku berpameran tunggal di ruang pameran gedung Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Uruguay di Montevideo tahun 2006 pameran dengan judul “Anatomía”, dalam waktu yang singkat aku berhasil memproduksi dan menampilkan karya-karya instalasi yang selain sangat puis, dengan filosofi yang mendalam namun mudah dicerna, juga berhasil memadukan materi materi organis yang ephimeral serta permainan bahasa visual serta bahasa oral yang cerdik. Direktur Kebudayan pada saat itu berkomentar bahwa pameranku adalah pameran terbaik yang pernah berlangsung di tempat tersebut, bravo!

Dari penjualan karya seni yang mana yang Anda anggap paling berhasil?

Dari segi komersial, karya karya lukisanku berupa pemandangan horison
yang sangat puisi serta meditatif adalah seri karyaku yang paling berhasil. Dikarenakan gaya lukisanku ini salah seorang galeris dan penulis seni Argentina menjuluki aku sebagai seniman paling puitis di wilayah “Rio de la Plata” (Argentina dan Uruguay). Pernah suatu ketika pameran lukisan lukisan ini, dan sebelum selesai pameran semua lukisanku laku, bahkan ada seorang yang kedepannya dia menjadi Direktur Kebudayaan yang memborong kalau nggak salah tujuh lukisanku.

yy1

Yudi Yudoyoko

Apakah Anda hidup dengan hasil penjualan karya atau juga dari hal yang lainnya?

Dari hal lainnya saya bisa hidup.

Apakah menurut Anda, seniman Indonesia perlu pengalaman tinggal di luar negeri?

Aku tidak melihat keperluan tersebut, dengan kemudahan komunikasi sekarang, jarak dan dimensi mengecil. Yang lebih penting adalah melatih kemampuan untuk menyerap dan memproses informasi serta mengasimilasikan semuanya dalam diri.

Adakah kesulitan yang dirasakan Anda sebagai seniman?

Kesulitanku sebagai seniman dalam bidang seni, hampir bisa dibilang nggak ada kesulitan yang berarti . Aku merasa beruntung karena bisa melaksanakan dan merealisasi apapun kesenianku, bisa jadi karena faktor berbagai disiplin yang aku geluti ** juga menunjang. Selain berkarya sebagai seniman murni aku juga mengajar di sekolah fashion desain serta menjadi desainer grafis serta ilustrator.

Jika pertanyaan ini berkaitan dengan apresiasi, dan bagaimana publik menanggapi karya karyaku, aku merasa selalu saja ada orang yang suka dan orang yang tidak suka, tapi aku yakin sekali orang menger karyaku dia akan terhehe hehe…heheee… Dan aku nggak berharap sama sekali buat 100 persen pengunjung yang melihat karyaku untuk terketuk dan terkoneksi dengan karyaku, cukup 5 persen saja, aku sudah anggap sukses.

Sebagai seniman apakah Anda perlu menjual karyanya yang sangat disukainya atau berencana untuk menyimpan di Museumnya sendiri nanti?

Ada beberapa karya yang aku tidak mau jual, barangkali karena kaitan emosi dengannya. Disamping itu aku tidak mengandalkan berkehidupan dari menjual karyaku. Soal museum, aku sama sekali nggak berpikiran ke situ.

Kalau Anda merasa dekat dengan hasil karyanya apa malah menaikkan harganya agar tidak laku atau malah memasang tanda ‘not for sale’

Aku memilih untuk tidak menawarkan karyaku untuk di jual.

Bagaimana Anda menentukan harga jual karyanya apakah ada manajer yang membantu atau menentukan sendiri? Berdasarkan apa?

Berdasarkan pengalaman bekerja dengan beberapa gallery, dan penghargaan pribadiku terhadap karyaku sendiri.

Bagaimana persoalan karya seni telanjang dan seringkali Anda sebagai seniman sekaligus modelnya?

Penampilan telanjang adalah hal yang paling natural, sama sekali aku tidak melihat masalah dalam hal ini. Semua tergantung apa yang ingin aku sampaikan, pakaian juga sesuatu yang aku perhitungkan terutama ketika aku akan menarasikan sesuatu dengan simbol simbol dan kode kode yang terkandung dalam berbagai pakaian tersebut. Aku berusaha mengajukan pandanganku tentang standard moral, yang tidak selalu berkaitan dengan agama dan tradisi, tetapi lebih kepada hak azasi manusia semua mahluk hidup secara luas.

Bagaimana pengaruh agama pada karya-karya Anda?

Seni bisa lebih jauh menerobos nurani dan membangun relasi yang baik antara dua manusia sekalipun ia berbeda keyakinan, karena seni tidak dibatasi oleh dogma dogma agama. Pengalaman batin dan pikiran yang sebetulnya harus jadi sasaran, melalui indra, visual, bunyi dll, seni yang hanya sekedar untuk mata sama tak bergunanya dengan dekorasi.***

Untuk mellihat karya-karya yudi dan tentang Yudi Yudoyoko seni  dan mode.
http://yyudoyoko-nudehead.blogspot.com.uy/
http://tillfashiondouspart.tumblr.com/
ini link ke karya video ku di youtube
https://www.youtube.com/watch?v=lSP1sfUeA58
https://www.youtube.com/watch?v=M0W4sg6F9ks
|PEWAWANCARA : DWI DAGO
 EDITOR : AME

 

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here