Home AGENDA Lenny Ratnasari Weichert Eksplorasi Identitas Perempuan & Spiritual

Lenny Ratnasari Weichert Eksplorasi Identitas Perempuan & Spiritual

1179
0
Salah satu Karya Perupa Lenny Ratnasari Weichert/sn

 

SENI.CO.ID – Dengan tajuk “Pigrimage” pameran solo perupa Lenny Ratnasari Weichert akan mengeksplorasi karya seni instalasi dengan isu identitas perempuan, spiritualitas maupun kesadaran akan teritori serta wacana Islam dalam konteks budaya.

Pilgrimage diberi makna bukan sebagai ritus mengunjungi tempat-tempat suci, namun sebagai ungkapan ekspresi tentang diri. Perupa kelahiran 1970, yang telah malang –melintang diberbagai aktifitas seni rupa internasional seperti di Jerman, Singapura, Inggris, Belanda, dan Hungaria ini menyatakan “Pilgrimage sesungguhnya pengalamanku melihat ke dalam diri sendiri,” ujar Lenny dalam rilisnya kepada SENI.CO.ID 16 Setember 2016.

Lenny menegaskan bahwa Pilgrimage telah meluas artinya sebagai semacam bentuk empati pada nasib perempuan lain. “Saya berharap pameran solo saya juga memicu perbincangan sejarah kelam yang dialami para perempuan di Indonesia pada masa lalu “, ujarnya.

Perupa Lenny Ratanasari Weichert/twitter
Perupa Lenny Ratanasari Weichert/twitter

Lenny memilih Kurator, Bambang Asrini Widjanarko dan  Ko-kurator Frigidanto Agung untuk membedah tiga karya utama, yang kemudian menjadi tiga zona penting pameran ini, yakni:

To Be or Not To Be, kristalisasi pengalaman-pengalaman dan identifikasi memori  masa lalu yang beragam, seperti kegundahan sebagai seorang perupa perempuan dan perannya sebagai manusia yang menjaga reproduksi generasi.

Dinners Club, yakni perjamuan makan malam yang unik dan sangat spesial dari tokoh sejarah dan dunia mitologi. Sebuah zona yang kompleks dan bertumpuk-tumpuk pemahaman juga tafsir. Meja yang membentuk gender female, video dokumentasi dan piring-piring yang tersemat lambang-lambang dari 9 perempuan: Malahayati, Colliq Pujie, Bunda Teresa, Siti Khadijah, Helena Blavatsky, Aung San Suu Kyi, Dewi Sri, Venus serta Dewi Kwan Im.

Homage to Anonymous  adalah narasi tentang Islam, namun tidak mengulik soal scriptural kitab suci. Karyanya lebih pada sejarah dan budaya Islam di Tanah Air. Sosok Fatimah Binti Maimun diandaikan sebagai hulu para Wali, yakni Wali Songo. Yang mengkritisi konsep dominasi patriarki di masyarakat dan dalam waktu sama sebuah empati pada perempuan-perempuan yang dihilangkan dalam sejarah.

Sementara itu, Tubagus “Andre” Sukmana; dalam katalog pengantar pameran menyatakan bahwa terselenggaranya pameran solo Lenny Ratnasari Weichert yang pertama kali di Galeri Nasional Indonesia patut diapresiasi. “Sebelumnya ia telah beberapa kali berpameran secara bersama disini, seperti Pameran Crossing Signs (2011) dan Wall of Fiction (2012) dan hal tersebut menjadi kesempatan yang berharga bagi  eksistensi Lenny Ratnasari Weichert di medan seni rupa Indonesia”, ujar Kepala Galeri Nasional.

Pameran Pembukaan PILGRIMAGE

20 September 2016, Galeri Nasional Indonesia

Pameran: 21 September – 1 Oktober 2016

|AM/FG

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here