Home Uncategorized Rumah Seni Cemeti Gelar Pameran dan Presentasi Seniman Residensi Pasang Air...

Rumah Seni Cemeti Gelar Pameran dan Presentasi Seniman Residensi Pasang Air #2

4577
0
Pameran dan Presentasi Seniman Residensi Pasang Air #2 / foto: Cemeti

SENI – Rumah Seni Cemeti Gelar Pameran dan Presentasi Seniman Residensi  Pasang Air #2 dalam event ini seniman yang akan menyajikan karya adalah Aliansyah Caniago, Brydee Rood, Faysal Mroueh. Acara akan digelar 24 – 31 Mei 2016.

Pembukaan 
Selasa, 24 Mei 2016 | 19.30
Diskusi
Senin, 30 Mei 2016 | 19.30
bertempat
Rumah Seni Cemeti
Jl. D.I. Panjaitan 41 Yogyakarta

Siaa mereka berikut sosok mereka
Aliansyah Caniago 

Aliansyah Caniago (lahir di Jakarta, 1987) lulus dari Institut Teknologi Bandung, Fakultas Seni Rupa dan Desain, di jurusan Lukis. Ia tinggal dan bekerja di Bandung.

Proyek seni Aliansyah Caniago merupakan respon terhadap laju pembangunan yang bergerak cepat dan pengaruhnya terhadap penyempitan ruang khususnya di area selatan kota Yogyakarta. Selama masa residensinya di Rumah Seni Cemeti, ia melakukan beragam pengamatan dan riset sederhana dengan menggunakan tubuh dan panca inderanya untuk menyerap dinamika kota dan karakter masyarakat. Melalui perbincangan dengan berbagai orang yang ia temui dalam penjelajahannya, Aliansyah mencoba menelusuri kembali sejarah penciptaan kota Yogyakarta dan mencari jejak-jejaknya yang digerus oleh perubahan. Hal ini kemudian ia analogikan sebagai tahi lalat yang hilang. Dalam salah satu karyanya, Aliansyah berkolaborasi dengan Doni Maulistya berjalan kaki membuat sebuah garis lurus yang membentang dari barat ke timur. Mengintervensi simbol kekuasaan berupa garis imajiner yang membentang dari Pantai Selatan hingga Gunung Merapi. Melalui tindakan ini, ia bermaksud membangun dialog antara ruang dan penghuninya mengenai arah peradaban yang mereka bangun saat ini.

Brydee Rood

Brydee Rood (lahir di Takapuna, New Zealand, 1978) meraih gelar Masters di the Elam School of Fine Arts, University of Auckland, New Zealand pada tahun 2007.

Brydee Rood mengembangkan beberapa proyek baru untuk residensinya di Rumah Seni Cemeti; meliputi karya site-specific performance, video, dan bunyi. Karyanya yang berjudul ‘Bodies of Water’ terletak di Sendang Kasihan, dimana ia mencoba menggali aksi ritual mandi di mata air tersebut dan mendalami dialog-dialog baru yang berkaitan dengan kelangsungan hidup yang saling berhubungan dan kesejahteraan sumber-sumber air. Percobaan ini bermaksud untuk mengembangkan suatu bentuk koreografi baru bagi karyanya dengan menggabungkan penciptaan bunyi eksperimental yang interaktif dan proses ritual melalui pertukaran secara fisik dengan air.

Seni sebagai suatu peristiwa seremonial dan meriah bergabung dengan musim hujan dan Sendang, untuk berbagi proses secara aktif dan meningkatkan kesadaran kita dan hubungan dengan air; memasukkan sejarah keramat di Yogyakarta yang terlokalisasi, animisme Jawa yang luas dengan campuran Dewa air dan mitologi pembuat perubahan (Buaya, Makara, Taniwha, Ganesha, Pemberkatan Air) diapit oleh jangka waktu interaksi manusia kita saat ini. Proyek Rood merefleksikan potensi menemukan sistem kepercayaan yang baru melalui seni, performance, dan aksi kolektif. Dengan mengapungkan pertanyaan kritis yang berkaitan dengan persepsi geopolitis saat ini mengenai air, perubahan iklim, kuasa, perang air, polusi dan ekonomi air, Rood berusaha untuk mengingat air sebagai suatu kekuatan hidup yang penting dan bukan sebagai suatu komoditas atau sumber daya yang diambil untung, atau dieksploitasi dalam kerangka kapitalis global.

Faysal Mroueh

Faysal Mroueh (lahir di Nicosia, Cyprus, 1987) memperoleh gelar BA dari University of Westminster di London, Inggris, dan baru-baru ini menyelesaikan program residensi pasca-sarjana di De Ateliers di Amsterdam, Belanda.

Sebagai kulminasi dari periode residensi di Rumah Seni Cemeti, Faysal Mroueh menampilkan sebuah instalasi yang menyediakan titik awal menuju suatu jalinan narasi ganda. Untaian pertama dari narasi tersebut meliputi suatu kelompok obrolan daring yang memainkan peran sebuah fantasi eskapisme yang menghuni sebuah koloni di bulan Jovian Io yang vulkanik dan tidak ramah, bahwa mereka mengklaim telah mencapai melalui suatu bentuk maya tanpa tubuh. Dalam permainan peran ini, beberapa tema muncul di sekitar implikasi mengenai migrasi manusia ke Luar Angkasa. Para peserta menawarkan fragmen yang terombang-ambing antara mengakhiri hingga mengabadikan konflik terestrial dan yang lainnya, pandangan yang lebih pesimis. Untaian kedua meliputi seorang petugas yang mengapropriasi simbolisme crocodilian yang bertanggungjawab terhadap ajuan kompleks pulau penjara dari skala dan kerumitan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Secara formal, karya ini dipondokkan dalam suatu struktur yang mentah dan teatrikal, yang merupakan suatu respon patung dengan tema naratif, hakikat melihat karya dan wilayah selatan Yogyakarta.

Dalam Undangannya yang diterima SENI.co.id mengatakan bahwa program residensi Pasang Air, Rumah Seni Cemeti bertujuan memfokuskan pada pentingnya praktik seni dengan perhatian pada proses-proses seni serta pengalaman-pengalaman sosial dan inovatif. Selama tiga bulan, tiga seniman dari tiga negara: Indonesia, Belanda, dan New Zealand diberi kesempatan untuk berkonsentrasi dalam berkarya, melakukan eksperimen dan berinteraksi dengan seniman lain, kalangan profesional dan komunitas tertentu. Model yang berbeda dieksplorasi dengan tujuan untuk bekerja pada wacana kritikal dan bentuk seni visual yang beragam.

Inilah Program residensi Pasang Air #2 diselenggarakan oleh Rumah Seni Cemeti dan didukung oleh Mondriaan Fund (Belanda) dan Asia New Zealand Foundation. Dan Program residensi Pasang Air #2 telah berlangsung selama tiga bulan dari bulan Maret hingga Mei 2016 di Rumah Seni Cemeti. (AMK)

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here