Home BERITA Inilah Kronologis Diberhentikan dan Dibubar Paksa Pentas Pantomime oleh Polisi

Inilah Kronologis Diberhentikan dan Dibubar Paksa Pentas Pantomime oleh Polisi

908
0
Pamtomimer Wanggi saat performance di Jalan Asia Afrika (FB)
SENI.co.id – Seperti diberitankan SENI.co.id pada  hari kemarin (28/3) Seniman Pantomime Bandung Wanggi Hoediyatno Ditangkap dan Diinterogasi Polisi Berikut kronologis dan pernyataan sikap perihal diberhentikan dan dibubarkannya kegiatan budaya Perayaan Tubuh Internasional 2016 dan ditangkapnya Pantomimer Wanggi oleh pihak kepolisian Sumur Bandung,  tanpa prosedur yang jelas yang diterima SENI.co.id

KRONOLOGIS DAN PERNYATAN SIKAPPERAYAAN TUBUH INTERNASIONAL 2016 DIBERHENTIKAN dan DIBUBARKAN PAKSA OLEH KEPOLISIAN SEKTOR SUMUR BANDUNG DI BANDUNG DAN PENANGKAPAN SAYA YANG TANPA SURAT DAN PROSEDUR TAK JELAS.

  1. Pada hari minggu malam, tanggal 27 Maret 2016 pukul: 19.19, saya dan teman-teman yang sudah siap untuk melakukan Perayaan Tubuh bersiap di titik Nol Kilometer, kami berangkat 14 orang (9 diantaranya performance artist) yang terdiri dari kawan-kawan Sastra Inggris Unpad Jatinangor 9 orang, Kelompok Anak Rakyat (Lokra) 4 orang dan saya. Kami datang terlambat di lokasi karena menyiapkan beberapa property dan brifing lapangan menuju titik Nol kilometer.

 

  1. Setiba di lokasi titik 1 (Nol Kilometer) sekitar pukul 19.50, lalu segera saja semua kreator menyiapkan diri untuk memulai Perayaan Tubuh dengan merespon ruang titik Nol Kilometer (titik awal mulai) semua seniman bergerak dengan ritualitas tubuhnya masing-masing menginterpretasikan sejarah Nol kilometer selama 15 menit.

 

  1. Lalu menuju titik ke 2 yaitu Halaman Depan Harian Pikiran Rakyat, disana kawan-kawan tubuhnya lebih leluasa bergerak dan meruang, karena halaman Pikiran Rakyat (PR) yang luas dan bersejarah dengan adanya instalasi mesin ketik tuanya, semua bergerak merasakan energi masa lalu diruang itu, selang 20 menit.

 

  1. Kami bergerak berjalan menuju titik ke 3 yaitu Depan Gedung Merdeka, saya yang lebih dulu tiba dilokasi karena malam itu mendadak gerimis, sayapun berteduh dan berpantomime sembari menunggu kawan-kawan lainnya datang ke Depan Gedung Merdeka, disana semua orang bergumul seperempat lingkaran, karena gerimis yang akhirnya memadapati halaman depan gedung merdeka, suasana masih kondusif, lalu kawan-kawan datang dengan hening dalam bahasa tubuhnya sendiri-sendiri, bergerak dengan khidmat, beberapa menit berselang, ada sekitar 20 menitan lebih.

 

  1. Saya memberi kode bisikan pada setiap performance untuk segera bergerak menuju titik ke 4 yaitu di Dalam Tiang Bendera Asia-Afrika yang seperti di iklan salahsatu stasiun TV (sekarang ada Taman, Kursi, Pot bunga), gerimis rintik masih turun juga, tapi kawan-kawan tak patah semangat untuk menggerak tubuhnya selama 17 menitan.

 

  1. Dalam perjalanam menuju titik ke 4 saya menyambut 2 orang performance perempuan yang sudah siap untuk melakukan performance di Taman Tiang Bendera Asia-Afrika (samping Jalan Sukarno). Saya dan beberapa rekan lainnya kemudian berjalan ke area taman tersebut, dan kami merespon ruang itu dengan bahasa tubuhnya, lalu 2 orang tersebut sudah melakukan performancenya, tubuh mereka berdua di bungkus plastik oleh rekan lainnya, malam itu area taman begitu ramai orang berselfi dan berfoto-foto seperti malam biasa, di bawah rintik gerimis tak membuat mereka (publik) pergi, malahan semakin banyak yang penasaran dan mendokumentasikan dengan media rekam& gadget, saya pun turut bergerak dan merespon dengan memunguti sampah yang berceceran di kursi taman dan pot bunga, entah itu sampah milik siapa? Beberapa menit berlalu, ada sekitar 2 sampai 4 orang polisi berada di kerumunan publik, memotret dan seperti mencari siapa penanggung jawab kegiatan. Setelah 2 orang performance yang seluruh badannya terbungkus plastik, langsung saja saya mengajak performance yang pria mengangkat tubuh plastik menuju titik ke 5 (Tugu Asia Afrika), performance berlangsung cukup lama karena menunggu 2 orang performance dibungkus plastik seluruh tubuhnya berlangsung sekitar 25 menit.
  1. Ketika kami membawa 2 orang tubuh performance yang di bungkus plastik, beberapa polisi hendak menghentikan langkah saya dan Pak Ari (salahsatu performance) yang sedang menggendong tubuh plastik, sesampainya di titik ke 5 (Tugu Asia Afrika), para Polisi meminta identitas salahsatu performance yang sedang melakukan ritualitas performancenya, sayapun membaca gelagat/gesture polisi yang berkumpul disekitar kami performance. Pak Ari yang memberikan KTP dan salahsatu Polisi memotret KTP juga meminta surat izin kegiatan, kata salahsatu polisi : “Kamu sudah mengundang orang banyak, bagaimana kalo nanti terjadi kecelakaan”. Lalu kami dibubarkan dan dihentikan paksa oleh 4 orang polisi dan beberapa polisi berpakaian preman dan berseragam. Saya segera menutup Perayaan Tubuh 2016 dengan mengucapkan “Terima kasih buat semua masyarakat bandung yang telah setia menyaksikan Perayaan Tubuh tahun ini, hatur nuhun, dan juga terima kasih buat pak polisi dan semuanya,” Saya pun tak ingin adu mulut panjang dan mendengarkan pasal-pasal karet yang dijelaskan polisi, dan menyuruh publik dan rekan-rekan seniman membubarkan diri sekitar pukul 21.20 wib.
  2. Setelah semua membubarkan diri, saya dan beberapa rekan media pergi berjalan menuju Gedung Indonesia Menggugat, namun di tengah perjalanan, saya bertemu salahsatu intel dan disuruh melapor ke kantor polisi sumur bandung perihal kegiatan yang tanpa ijin, saya dibawa inte tersebut, salahsatu rekan media Mang Agus Bebeng tadinya ingin ikut menemani tapi intel itu bilang; “Biar sendiri aja, cuma minta keterangan dan BAP perihal kegiatan”. Sayapun di bawa naik ke mobil Alphard warna hitam, yang dikemudikan intel juga, tepatnya di pertigaan jalan tamblong, 15 menit setelah kegiatan Perayaan Tubuh di bubarkan polisi.
  1. Didalam mobil saya, ditanyai perihal surat perijinan dan pemberitahuan, kenapa tidak membuat surat? Saya bilang, sudah biasa pertunjukan dijalan dan buat kegiatan , aman aja tuh pak, Polisi : “ya udah nanti di kantor aja ceritain, kita buat Berita Acara Interogasi”, katanya. Sesampainya di kantor polisi, saya masih bermakeup pantomime dan berkostum lengkap, masuk ke ruangan dan mereka mulai menginterogasi perihal kegiatan tanpa pemberitahuan itu, ada 2 orang intel dan 1 orang polisi satlantas yang tadi membubarkan saya dan rekan-rekan seniman, ketika saya di interogasi, dimintai keterangan dan identitas juga tema kegiatan, siapa yang membuat kegiatan,siapa yang mensponsori dana, tujuan kegiatan untuk apa dan dalam rangka apa dan apa pekerjaan saya. Ketika dimintai identitas, saya tidak bawa KTP tapi untunglah saya membawa scan pasport di folder tablet. Didalam ruangan pula saya bercerita kenapa saya tidak membuat surat pemberitahuan, karena sejak tahun 2012 saya dan rekan2 sudah lelah, ketika kami buat surat tidak pernah di tanggapi dan disaat kegiatan berlangsung tidak ada 1- orang polisi menjaga ketika kami performance, ngapain buat surat, lebih baik uang print buat konsumsi kalo ujungnya nggak ada yang mengamankan. Saya dikasih minum teh botol, ada sekitar 6 pertanyaan yang saya jawab dan 2 pertanyaan jawaban saya tidak, lalu saya disuruh baca kembali surat Berita Acara Interogasi itu kemudian menandatangani 2 lembar BAi (Berita Acara Interogasi). Sekitar pukul 22.10 saya dibebaskan dan suruh pukang, rekan saya Gatot sudah menjemput saya di ruang depan kantor polisi.

* * *

Wanggi juga memberikan keterangan bahwa dirinya saat ini:

Sampai tulisan ini dikeluarkan saya dalam keadaan sehat wal’afiat dan juga telah muncul di beberapa media online, juga apresiasi dan perhatian serta dukungan semangat rekan-rekan seniman, media juga lainnya perihal di Berhentikan dan di Bubarkannya Perayaan Tubuh Internasional 2016 oleh pihak Kepolisiam Sumur Bandung. Saya terus- menerus mengingatkan juga mengecam atas tindakan kepolisian yang mencekal juga membungkam Kebebasan Berekspresi di ruang publik, yang sekali lagi berdalih tanpa ijin/pemberitahuan juga pasal-pasal karet, yang juga perlakuan/cara yang tidak etis terhadap seniman ketika melakukan ritualitas keseniannya, karena inipun akan berdampak pada citra kepolisian di mata masyarakat. Bahwasanya kebebasan berekspresi di Indonesia kini masih belum dapat tempat nyaman bagi para pelaku seni yang hidup di negara hukum, karena perihal kebebasan berekspresi ada di UUD 1945 dan disahkan dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia. Banyak kejanggalan dalam pelaksanaan UUD dilapangan perihal ini.

hidup di negara hukum, karena perihal kebebasan berekspresi ada di UUD 1945 dan disahkan dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia. Banyak kejanggalan dalam pelaksanaan UUD dilapangan perihal ini.

Kemerdekaan berekspresi merupakan salah satu hak yang fundamental yang diakui dalam sebuah negara hukum yang demokratis dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Di Indonesia sebagai negara hukum, jaminan mengenai kebebasan berekspresi diatur dalam UUD 1945 Amandemen ke II yaitu dalam Pasal 28 E ayat (2) yang menyatakan bahwa “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya”. Selanjutnya dalam ayat (3) menyatakan “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat”. Selain itu UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia secara lebih dalam mengatur mengenai kebebasan berekpresi tersebut, dalam Pasal 22 ayat (3) UU tersebut menyebutkan bahwa“Setiap orang bebas mempunyai, mengeluarkan dan menyebar luaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan atau tulisan melalui media cetak maupun media cetak elektronikdengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa”.

Selain menjamin kemerdekaan berekspresi, ternyata Negara juga menjamin dan memberikan perlindungan terhadap hak individu atas kehormatan atau reputasi (right to honour or reputation) setiap warga negaranya. namun itu semua hanya slogan dan tanpa aplikasi, Negara dan Kepolisian Gagal dalam hal ini. Semoga menjadi perenungan dan intropeksi pembelajaran buat kita semua warga negara yang menjunjung dan menghormati hukum dan HAM.

Salam Perjuangan!

Saya Wanggi Hoediyatno,

Seniman Pantomime dan Inisiator PERAYAAN  TUBUH INTERNASIONAL 2016.

Terima Kasih. Bandung, 28 Maret 2016.

(SENI.co.id)

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here