Home DIALOG Dialog Khusus, Ananda Sukarlan: “Lewat Musik, Saya Bebas Tidak Perlu Jaim”

Dialog Khusus, Ananda Sukarlan: “Lewat Musik, Saya Bebas Tidak Perlu Jaim”

3217
0
Ananda Sukarlan

SENI.co.id — Tokoh pekan ini adalah sosok hebat dalam dunia musik di dunia. Namanya untuk dunia musik sangat luar biasa. Dialah Ananda Sukarlan dikenal sebagai pianis, komponis, pendidik, penulis dan aktivis kebudayaan Indonesia. Pada periode 2003-2007 ia menjadi anggota Musica Presente, proyek ambassador of Spanish music yang terdiri dari 10 musikus yang bertujuan memperkenalkan musik Spanyol dan mengasimilasikannya dengan berbagai budaya serta bidang seni yang lain.

Ia juga telah bekerjasama dengan Fundacion Musica Abierta untuk membuat musik bagi anak-anak cacat (disabled). Apa yang telah ia pelajari di periode itu kini ia usahakan untuk diwujudkan di Indonesia, antara lain lewat yayasan yang didirikannya bersama beberapa rekan yang lain, Yayasan Musik Sastra Indonesia (http://musik-sastra.com ). Sebagai pianis, ia telah memenangkan banyak kompetisi internasional di masa mudanya, yang membawanya ke karir musik internasional yang gemilang.

Sampai saat ini ia telah memperdanakan lebih dari 300 karya baru yang ditulis khusus untuknya oleh komponis-komponis dunia. Musik-musik tersebut menggunakan elemen-elemen etnik Indonesia yang telah diperkenalkan oleh Ananda Sukarlan.

Selama periode 1996-2006 ia mengadakan minimal 50 konser setahun di seluruh bagian dunia dihadiri oleh para anggota kerajaan dan para pejabat tinggi banyak negara, dan sejak 2006 ia mengurangi kegiatan konsernya untuk lebih berkonsentrasi ke composing.

Pada tahun 2000 ia diundang oleh Kementrian Kebudayaan Portugal untuk menjadi solois dengan Portuguese National Symphony Orchestra sebagai seniman Indonesia yang membuka hubungan budaya antara dua negara setelah hubungan diplomatik Indonesia-Portugal kembali dibuka. Saat ini ia sudah mengeluarkan 14 Compact Discs, beberapa diantaranya telah memenangkan penghargaan di Spanyol, antara lain Disco de Oro (Golden Disc) dari majalah Compact Disc (Spanyol) dan Best Classical Recording of the Year.

Pada bulan September 2005 ia menerima gelar “Musician of the month” oleh Radio Nacional de Espana dan menjadi cover majalah Radio Clasica.

Sebagai komponis, karyanya telah banyak dipesan dan dimainkan di benua Amerika dan Eropah. Festival & organisasi yang telah meminta karyanya antara lain Mozart 250 years di Mexico , Associated Board of Royal Schools of Music , Mexico Symphony Orchestra, Segovia Guitar Festival dll.

Ia telah mencipta beberapa karya besar, antara lain sebuah kantata tentang cinta “Ars Amatoria”. Sebagai seorang komponis yang produktif, karyanya mencakup hampir semua instrumen. Karya nya yang terbanyak adalah karya untuk vokal yang saat ini berjumlah lebih dari 150 lagu.

Musiknya telah banyak ditulis sebagai bahan desertasi dan tesis doktoral di beberapa universitas, antara lain di Griffith ( Queensland ), Sydney, Maastricht , Glasgow , Madrid dan banyak universitas di Amerika Serikat.  Karyanya yang paling terkemuka adalah Rapsodia Nusantara yang sangat virtuosik untuk piano yang kini berjumlah 10 nomor, yang mana setiap nomor didasari oleh musik rakyat dari satu provinsi di Indonesia. Nomor-nomor tersebut telah dimainkan oleh ratusan pianis baik dari Indonesia maupun internasional. Dua buah thesis & disertasi yang telah diterbitkan online tentang karya-karyanya ada di : http://henochkristianto.blogspot.comdan http://tpanandasukarlan.blogspot.com

Dalam catatan musik Ananda adalah orang Indonesia pertama, dan saat ini satu-satunya, yang tercantum di 2000 Outstanding Musicians of the 20th century.  Sebagai penderita Tourette – Asperger Syndrome yang berhubungan dengan autisme, ia kini berkonsentrasi dalam aplikasi pendidikan musik untuk anak-anak yang menderita penyakit serupa serta telah menulis beberapa artikel serta menjadi pembicara dalam hal ini.

Bukan sekadar itu Ananda kini juga  banyak diundang sebagai pembicara untuk mengajar atau memberi ceramah, antara lain di Middlesex University (London), Edinburgh University, Griffith University (Brisbane, Queensland), Sydney Conservatory of Music, Maastricht Conservatory of Music, Monterrey Conservatory (Mexico) dan banyak konservatorium di Spanyol.

Ia telah memperkenalkan musik tradisional Jawa dan Bali ke banyak komponis dunia, sehingga elemen musik ini berasimilasi dengan banyak karya baru yang ditulis pada abad ini oleh para komponis itu. Bekerjasama dengan Chendra Panatan, mereka berhasil mempagelarkan tari Kecak yang pertama kalinya di Spanyol, yang kemudian menginspirasi banyak komponis untuk mempelajarinya. Komponis Jesus Rueda memasukkan elemen ini di karyanya, Sonata “Kecak” yang dipersembahkan untuk Ananda.  Karya terbesar dari asimilasi kebudayaan sampai saat ini antara lain Simfoni no. 2 “Nusantara” untuk piano dan orkes, oleh komponis Spanyol David del Puerto.

Media Sydney pernah menulisnya: “One of the world’s leading pianists and has been at the forefront of championing new piano music” (Sydney Morning Herald)

Berikut ini Dialog pianis Ananda Sukarlan dengan SENI.co.id  bicara panjang dari mulai proses kreatif sampai suka dukanya. Ditengan kesibukannya melakukan finishing touches opera Tumirah yang akan dipentaskan di Indonesia dan ia berseloroh “Stress banget karena semua udah nguber-nguber …. tapi akhirnya tadi malam kelar deh,” ujar Ananda pada SENI.co,id Selamat menyimak dialog khusus ini:

Tolong sampaikan konsep dalam berkarya Anda secara khusus pada kami? 

Ini tentu tergantung karya apa. Lagu yang panjangnya tiga menit kadang-kadang tidak perlu konsep awal. Misalnya saya sedang baca sebuah puisi yang bikin musiknya “bunyi” di kepala saya, ya saya langsung tulis. Tapi kalau opera yang panjangnya 1 jam lebih, ya harus terstruktur dari awal.

Dalam kasus ini saya kerja seperti arsitek, semua saya rancang dulu: strukturnya, progresi harmoninya, kontras dan karakter tiap section dll, baru kemudian saya menulis not-notnya. Jadi kalau saya “macet” di satu section, saya bisa pindah ke section lain untuk nantinya balik lagi ke section yang “macet” itu karena saya bisa pegangan ke rancangan awal.

Kalau konsep secara menyeluruh, saya menganggap bahwa berkarya itu sebuah bentuk komunikasi tapi yang lebih abstrak (atau lebih keren: lebih dalam), karena apa yang ingin saya komunikasikan itu tidak bisa dilakukan lewat kata-kata. Tapi disinilah “jebakan” yang banyak seniman jatuh ke dalamnya: berkomunikasi itu berarti menetapkan karakter dan jati diri, bukan “menjadi orang lain”. Oleh karena itu saya sadar, seringkali musik saya tidak bisa langsung dimengerti, atau bahkan tidak disukai oleh beberapa orang.

Sebab, saya ingin berkata lewat musik saya, “ya ini lah saya”. Musik saya tidak bertujuan untuk menghibur, atau memberikan apa yang dibutuhkan pendengar saya, tapi justru menyampaikan apa yang ada di hati saya lebih jujur daripada kalau dengan kata-kata, karena saya di sini tidak perlu “takut menyakiti hati”, “kata-katanya harus dihaluskan” atau bahkan “jaim”. Lewat musik, saya bisa bebas karena sama sekali tidak perlu jaim.

Dalam berproses setiap karya ada perenungan atau datangnya inspirasi seperti apa?

Lagi-lagi tergantung karya apa. “Rescuing Ariadne” untuk flute dan piano misalnya, panjangnya sekitar 7 menit, terinspirasi lukisan Titian di National Gallery di London, “Bacchus & Ariadne”. Sketch-nya saya buat di depan lukisan tersebut di museum itu sekitar setengah jam, tapi kemudian proses penulisan dan penguraian details itu makan waktu berminggu-minggu, diselangi oleh karya-karya dan proyek lain. Untung sekarang ada internet, jadi walaupun tidak diperbolehkan memotret lukisan itu di Gallery, saya bisa lihat fotonya di google kalau butuh.

Walaupun kalau dari google itu saya biasanya sulit untuk “kesetrum”. Melihat lukisan aslinya itu yang bikin “kesetrum”nya kuat. Makanya walaupun saya suka habis berjam-jam di Google Art Project, kalau saya “tergelitik” dengan satu lukisan, biasanya saya datangi itu galerinya, karena saya butuh karya asli dengan segala dimensinya untuk bisa “menekan tombol PLAY” di kepala saya.

Kemudian ada ratusan karya saya yang terinspirasi puisi (kalau ini bisa saja saya dapat dan baca di Google), nah itu bisa tercipta dalam hitungan menit, atau kalau sangat kompleks seperti lagu terakhir saya “IRAS” berdasarkan puisi Adimas Immanuel, atau “La Ronde” dari puisi Sitor Situmorang, ya sekitar 3 hari.

Lagi-lagi, karena ini panjang, butuh konsep awal yang jelas. He he .. iya, saya memang rada “control freak”. Saya kagum sama para pemain jazz misalnya, yang bisa sangat spontan. Saya pingin bisa seperti itu…

Anda sudah banyak karya-karya yang sudah dibuat, apakah sudah merasa puas atau belum?

Wah, sangat tidak. Kalau saya sudah puas, saya tidak akan menulis lagi dong! Menulis itu antara lain karena saya ingin membuat karya yang lebih baik daripada karya-karya sebelumnya. Makanya saya jarang mendengarkan rekaman karya-karya saya. Kalau saya dengar, itu terpaksa, karena: Pertama, Sedang dalam proses editing rekaman. Kedua, Saya ingin mendeteksi kekurangan saya apa di sana, dengan harapan semoga di karya mendatang saya bisa memperbaikinya. Ketiga, saya diundang oleh musikus yang main musik saya. Nah yang terakhir ini saya suka, karena dari tiap musikus saya belajar sesuatu.

Setiap musikus yang baik itu justru melihat sisi-sisi yg lain dari karya saya, yang saya sendiri tidak menyadarinya. Itu karena proses musikus menginterpretasi karya adalah melihatnya dari berbagai sisi dulu, sebelum mengerti secara keseluruhan, sedangkan seorang komponis memulai dari satu sudut pandang, biasanya tanpa melihat sudut-sudut pandang yang lain kami teruskan deh menulis karya itu sampai selesai.

Tapi ada beberapa hal yang rasa tidak puasnya sih agak tidak sehat, misalnya waktu saya bikin lagu pop (pertama dan satu-satunya yang pernah saya bikin), untuk Judika, “Indonesiaku”. Coba deh cek di youtube, itu mungkin lagu pop teraneh yang pernah anda dengar, hahaha …. nah itu ranah yang saya ingin selidiki, tapi benar-benar sangat asing masih buat saya. Makanya saya sedang bereksperimen habis-habisan di opera saya Tumirah yang sedang saya kerjakan buat bulan Mei ini. Saya ingin menekankan satu hal: karya saya yang cukup “populer” bukan berarti karya terbaik saya (menurut saya pribadi).

anandaSoal kualitas saya sendiri, saya bukan orang yang paling bisa menilai. Karya yang lebih kompleks juga belum tentu lebih baik daripada karya yang simple, walaupun saya sendiri menganggap Chamber Symphony (yang diminta pak Habibie sebagai pengabadian cintanya terhadap Ainun) yang super njelimet dan panjangnya 20 menit itu lebih baik daripada, misalnya, “Sadness Becomes Her” untuk biola & piano yang cuma 6 menit. Tapi “Sadness” jauh lebih populer, mungkin juga karena itu lebih “direct”.

Saya juga menulisnya langsung dari awal sampai akhir, pas ada kejadian yang membuat saya sangat sedih, dan saya tidak meng”edit” bunyi yang ada di kepala saya; itu semua saya tulis 100% apa yang saya dengar. Tentu karena durasinya lebih pendek, jadi lebih gampang dicerna juga oleh pendengar.

Ananda Sukarlan di Indonesia sangatlah banyak antara lain:

– Mendirikan Yayasan Musik Sastra Indonesia (YMSI) yg bertujuan memberikan pendidikan musik yang basic kepada anak-anak yg tidak mampu membayar, serta membantu anak-anak berbakat untuk uang kuliah mereka. http://musik-sastra.com/vision-a-mission

– Ananda sedang dalam proses menuliskan seri “Rapsodia Nusantara” (saat ini sudah 18 nomor), dimana setiap nomor adalah berdasarkan lagu-lagu daerah dari 1 propinsi. Tujuannya untuk memberi bahan kepada para pianis dunia, menemukan identitas musik klasik Indonesia dengan karya2 yang “Indonesia” tapi dengan teknik permainan klasik, tradisi virtuositas dari sejak Mozart, Beethoven dll. Ini salah satunya, dimainkan oleh pianis Argentina, Natalia Gonzalez, di tour Amerika Selatannya :https://www.youtube.com/watch?v=RNZXbs__QWY . Kini nomor2 Rapsodia Nusantara itu telah menjadi bagian repertoire dari ratusan pianis di dunia. 

– Di Spanyol, Ananda Sukarlan telah menuliskan karya-karya musik untuk anak-anak difabel (disabled), untuk 1 tangan saja, utk piano tanpa menggunakan kaki utk pedalnya dll bersama sebuah Yayasan (Fundacion Musica Abierta). Sampai akhirnya ia menuliskan satu Rapsodia Nusantara (no. 15) berdasarkan lagu daerah dari Lampung yang khusus untuk tangan kiri saja.  Berikut permainan ia sendiri, dan penjelasan : https://www.youtube.com/watch?v=r_TjyWYfFGE

 – Ananda juga telah menyambung koneksi sastra & musik di Indonesia, dengan menggunakan puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono, Eka Budianta, W.S. Rendra, Chairil Anwar dan puluhan lainnya untuk musiknya. Juga karya prosa seperti cerpen dan naskah teater telah dibikin opera, merintis opera berbahasa Indonesia.  Salah satunya dari sajak Chairil Anwar “Krawang Bekasi” ia bikin karya orkes : https://www.youtube.com/watch?v=CL8JIsa9CUk

Karya-karya Anda itu memiliki pola khas sastra dikolaborasi dalam musik dan tumbuh dalam imajinasi yang liar. Mohon dijelaskan? 

Saya memang doyan membaca, dan sejak adanya internet, bahasa Indonesia saya jadi mengental kembali. Sebelum 2004, musik saya yang berdasarkan sastra itu hanya dari puisi berbahasa Inggris dan Spanyol, dari Whitman, Frost, Becquer, dll.

Karena ada beberapa penyair yang menjadi “favorit” saya — artinya saya sering membuat musik dari puisi-puisi mereka, seperti Sapardi Djoko Damono, Eka Budianta, Nanang Suryadi, Adimas Immanuel, M. Aan Mansyur — saya jadi sadar bahwa untuk tiap penyair itu musik saya jadi ada “style”nya sendiri.

Yang berarti bahwa saya jadi “mengerti” bahasa mereka kalau saya sudah terjemahkan ke musik, dan musik saya terbentuk atau “terkontaminasi” oleh bahasa puitis mereka. Saya menemukan diri saya sendiri melalui karya seni mereka, gitu deh pendeknya. Saya (hampir) selalu menuliskan proses kreatif saya di blog saya,http://andystarblogger.blogspot.com bukan hanya untuk mereka yang butuh mengerti musik saya (terutama para mahasiswa yang membuat thesis atau desertasi dari musik saya) tapi juga buat semacam catatan untuk diri saya sendiri untuk memantau perkembangan saya.

Anda tentu memiliki inspirasi yang menjelma dalam berkarya, siapa tokoh inspirasi Anda? 

Banyak banget, dan bukan hanya “siapa” tapi juga “apa”. Dalam mengalih-wahanakan seni bidang lain, misalnya puisi atau naskah drama, bukan hanya karya literer tersebut yang menginspirasi tapi juga penyanyi yang akan menyanyikannya. Biasanya penyanyi lebih menginspirasi daripada musikus lain, karena karakter serta kelebihan & kekurangan suaranya. Instrumen para vokalis itu ya mereka sendiri: pita suaranya, tubuhnya, karakternya. Semua keterbatasan seorang musikus itu buat saya malah jadi sumber inspirasi, termasuk disabilitas fisik. Saya telah menulis banyak karya untuk piano 1 tangan saja, atau beberapa jari saja… itu melahirkan bentuk musik yang justru unik dan bunyinya tidak kurang daripada musik untuk pianis berjari sepuluh. Misalnya seorang pianis punya jari 15 pun tidak berarti musiknya akan lebih baik. Karya piano saya “Lonely Child” itu ditulis, selain tentang anak yang autis, juga untuk pianis dengan 1 jari (atau 1 stick) di tangan kanannya saja.

 Proses karya yang sedang Anda kerjakan saat ini?

Saya sedang mengerjakan satu hal yang baru buat saya: karya untuk narrator dan orkes. Ini berdasarkan cerita rakyat anak-anak Indonesia, yang ditulis ulang oleh Dr. Murti Bunanta. Buku-buku Dr. Murti itu dulu yang saya bawa dari Indonesia untuk anak saya Alicia waktu masih kecil di Spanyol, dan lewat buku-buku itu Alicia mengenal cerita rakyat kita, dan belajar bahasa kita juga. Nanti narratornya akan membaca bukunya, dan saya akan memimpin orkesnya menginterpretasi secara musikal kalimat-kalimat yang dibacakan itu. Saya selalu menyukai hal-hal baru, buat saya kalau kita sudah bisa mengerjakan satu hal, kita mesti move on dan mencoba hal yang lain. Hidup terlalu pendek untuk mengulang hal-hal yang sama dan “menikmati keberhasilan”. Kalau dalam hal yang non-musikal, saya juga sedang mencoba hal yang baru, yaitu crowd-funding untuk opera saya yang akan diperdanakan Mei ini, TUMIRAH. (Ananda Sukarlan dan Opera)

Memang kita ada beberapa sponsor untuk produksi ini, tapi saya ingin bereksperimen dengan crowdfunding. Di crowdfunding ini, kontributor akan mendapat sejumlah penghargaan, termasuk tiket (jenisnya tergantung besarnya kontribusi). Tapi ini tidak menutup kemungkinan kontributor dari luar kota. Mereka bisa negosiasi dengan team produksi kami tentang penghargaan yang akan mereka terima, termasuk mereka bisa minta karya musik dari saya yang ditulis khusus untuk mereka. Seperti yang saya bilang tadi, TUMIRAH adalah hasil eksperimen saya yang macam-macam, yang menjangkau ranah-ranah “beyond enemy lines” karena saya percaya musik itu harusnya tidak ada berbagai genre yang memisahkan; mereka justru harusnya menyatukan. John Lennon malah lupa menyebut itu di “Imagine”, dia membayangkan hidup tanpa (perbedaan) agama, tanpa negara, tapi yang saya inginkan adalah hidup tanpa pengkotak-kotakan genre musik!. AEME/SENI.co.id

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here