Home BERITA Selamat jalan Ireng Maulana

Selamat jalan Ireng Maulana

816
0

Musisi Jazz kenamaan Ireng Maulana meninggal dunia sekitar Minggu (6/3/2016) dini hari.

Kabar tersebut muncul di beberapa akun Twitter selebriti dengan hastag #RIPIrengMaulana. Glenn Fredly melalui akun Twitter @GlennFredly misalnya, mengucapkan duka bagi musisi yang dikenal hingga mancanegara ini.

“Terimakasih Ireng Maulana atas bakti & karyamu untuk musik Jazz Indonesia..Rest in Love om Ireng,” tulis Glenn.

Sementara promotor terkenal Peter F. Gontha tak ketinggalan mengucapkan duka yang mendalam. “Telah meninggal dengan tenang, Ireng Maulana,” kicau Twitter Peter F. Gontha, @PeterGontha.

Ireng Maulana memang diketahui sudah cukup lama mengidap penyakit stroke, sekitar 2012. Selain stroke, gitaris andal ini juga menderita penyakit jantung.

Ireng Maulana atau pemilk nama lengkap Eugene Lodewijk Willem Maulana ini lahir pada 15 Juni 1994. Ireng merupakan putra dari pasangan Max Maulana seorang gitaris dengan Georgiana Sinsoe yang seorang penyanyi. Ireng mempunyai kakak yang juga seorang musisi terkenal, Kibod Maulana, yang lebih dahulu meninggal dunia, pada 6 Juni 2015.

Di dunia musik Indonesia, khususnya musik jazz, nama Ireng Maulana begitu berpengaruh. Ia telah belajar musik jazz hingga ke Amerika Serikat. Ireng beberapa kali membentuk band jazz dan berkolaborasi dengan sesama musisi jazz, baik dengan musisi seangkatannya atau pun yang lebih muda seperti Andien.

demikian liputan6.com menulis dilamannya.

Ireng Maulana (dengan nama lahir Eugene Lodewijk Willem Maulana lahir di Jakarta, 15 Juni 1944; umur 71 tahun) adalah seorang pemusik jazz Indonesia. Ia juga pernah bermain bersama beberapa musisi junior seperti Bara, Andien, Iskandarsyah Siregar dan Syaharani.

Perjalanan karier

Ireng Maulana putra dari pasangan Max Maulana dengan Georgiana Sinsoe. Bakat musiknya menurun dari ayahnya, seorang pemain gitar asal Cirebon dan ibunya asal Sangir, adalah seorang penyanyi yang pandai memainkan piano. Nama Ireng diperoleh pada masa kanak-kanak. Adik kandung Kiboud Maulana ini terpaksa dititipkan orang tuanya kepada orang lain, untuk mengubah tabiatnya yang amat bandel. Kebetulan yang menerimanya adalah tetangganya, orang Jawa, yang kemudian memberi nama baru “Ireng”, yang artinya hitam, meskipun kulit si kecil anak putih bersih. Kesenangan akan jazz mungkin turun dari pamannya, Tjok Sinsoe, pemain bass pada era jazz tahun 40-an.

Sampai usia remaja Ireng belum berminat pada musik. Karena ada rasa tanggung jawab kepada keluarga, lantaran ayahnya meninggal, Ireng kemudian kursus bahasa Perancis dan mengetik, juga kursus pemegang buku bond A dan bond B. Namun bakat musiknya mulai menggoda. Pada usia 16 tahun, Ireng sudah bergumul dengan alat musik, terutama gitar. Dia mulai ikut-ikutan kakaknya Kiboud Maulana, yang waktu itu sudah menjadi gitaris kondang. Semula tujuannya bukan untuk mencari uang, hanya sekadar untuk gaya saja. Kemudian bergabung dengan grup band Joes & His Band, dan mulai turut serta pada festival-festival musik. Ternyata dalam lomba itu grupnya berhasil meraih juara ke dua, dan ia terpilih sebagai gitaris terbaik.

Dari kelompok Joes & His Band, ia bergabung bersama grup musik Gelora Samudra bermain di Hotel Des Indes Jakarta. Pada tahun 1960-an bersama Bing Slamet, Idris Sardi dan Eddy Tulis, mendirikan Band Eka Sapta. Grup musik ini ditampilkan oleh Mus Mualim, untuk mengisi acara Pojok Jazz TVRI pada tahun 1970-an. Keinginan memperdalam permainangitar membuat Ireng bertekad hijrah ke luar negeri selama beberapa tahun. Dia belajar di City Line Guitar Centre Amerika Serikat, anehnya dia malah belajar memainkan gitar klasik. Setelah itu dilanjutkan untuk memperdalam musik di Konijnklijk Conservatorium, Den Haag, Belanda. Mulai mempelajari musik jazz justru dari Mus Mualim.Pada tahun 1964, ia pernah melawat ke New York, turut berpartisipasi mengisi acara New York World Fair.

Tahun 1978 mendirikan grup Ireng Maulana All Stars dengan delapan anggota antara lain, Benny Likumahuwa, (trombone), Hendra Wijaya (piano), Maryono (saksofon), Benny Mustapha (drums), Karim Tes (trompet), Roni, (bass) dan Ireng Maulana sendiri pada (gitar dan banjo). Kelompok ini terus berkembang hingga terbentuknya Ireng Maulana Associates, sebuah organisasi tempat bergabung para musisi jazz di Jakarta. Dengan lembaga ini pula Ireng menyelenggarakan pesta musik jazz internasional Jakarta Jazz Festival. Selain itu ia juga pernah ikut tampil di North Sea Jazz Festival di Belanda.

Penampilannya dalam Festival Jazz Internasional di Singapura, September tahun 1983, mungkin tidak terlupakan Ireng Maulana. Dengan membawa bendera Ireng Maulana All Stars, sambutan penonton di luar dugaan. Mulanya terkesima, lalu di akhir pertunjukan mereka berdiri, bertepuk tangan, dan meneriakkan bis”(lagi) berkali-kali. Esoknya, pada tanggal 25 September 1983, surat kabar The Sunday Times, muncul dengan berita berjudul Standing Ovation for Jazz Group. Hal yang konon belum pernah dilakukan sebelumnya oleh penonton Singapura, terutama untuk musik jazz. Kritikus jazz Balbier S. Marcus mengomentari mereka sungguh luar biasa dan sangat sempurna dalam bidangnya masing-masing.”

  • Bergabung dengan band Gelora Samudra (1960)
  • Eka Sapta
  • Ikut main musik di New York World Fair (1964)
  • Bergabung dengan grup jazz Indonesia Lima (1968)
  • Pimpinan Ireng Maulana And His All Stars (1984)
  • Karyanya adalah

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here