Home AGENDA TUBUH TARI SEBAGAI ARSIP DAN ARTEFAK CULTURAL

TUBUH TARI SEBAGAI ARSIP DAN ARTEFAK CULTURAL

145
0

SENI.CO.ID – Hari ini Senin, 18 Oktober 2021 sebuah peristiwa penting dalam kebudayaan di Kota Bandung, tepatnya di kampus  INSTITUT SENI BUDAYA INDONESIA (ISBI) BANDUNG sebuah Pengukuhan Guru Besar kepada Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum.

Berikut adalah Pidato Pengukuhan Guru Besar
Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum.
Dalam Bidang Ilmu Sejarah Tari Pada Program Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia Bandung 18 Oktober 2021

Assalamualaikum Wr. Wb.
Sampurasun, Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua, omsuatiastu Namo Budaya, Salam Kebajikan.

Alhamdulillahirobbil alamiin, Washolatu wassalamu ‘ala asrofil anbiya’i walmursalin wa’ala alihi washohbihii azma’in, amaa ba’du.

Fuji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Bahwa kita masih diberi kesehatan dan keberkahan sehingga kita dapat bersilaturahmi baik secara aktual maupun virtual karena masih diliputi suasana COVID-19.
Solawat dan salam disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.

Yang terhormat:
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Ristek RI, atau yang mewakili;
Yang terhormat:
Dirjen Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi; Ditjen Pendidikan Vokasi; Ditjen Kebudayaan Kemendikbud Ristek RI
Yang terhormat Gubernur Jawa Barat Bapak Dr. H. Mochammad Ridwan Kamil S.T.M.U.D
Yang terhormat Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, atau yang mewakili
Yang terhormat Wali Kota Bandung;
Yang Terhormat Ketua beserta anggota Senat Akademik ISBI Bandung;
– Ketua dan anggota Dewan Penyantun;
– Ketua dan anggota Dewan Guru Besar Indonesia
– Ketua dan anggota Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Baru
– Ketua dan anggota Perkumpulan Guru Besar Indonesia Jawa Barat
– Ketua dan anggota Majelis Rektor PT Negeri se-Indonesia
– Ketua dan Anggota Forum Rektor Indonesia
– Para Rektor atau Pimpinan Perguruan Tinggi Seni se-Indonesia
– Para pinisepuh inohong Jawa Barat;
– ParaTenaga Pendidik dan Kependidikan di lingkungan ISBI Bandung;
– Mitra-Mitra ISBI Bandung;
– Para Seniman dan Budayawan;
– Para mahasiswa dan tamu undangan yang berbahagia;

Pada kesempatan yang terhormat ini izinkan saya menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul “TUBUH TARI SEBAGAI ARSIP DAN ARTEFAK CULTURAL”.

Topik ini penting untuk diangkat sebagai salah satu upaya untuk mengajak kepada hadirin khususnya para pelaku seni dan budaya. Serta pada pemerintah sebagai penyangga kekayaan seni dan budaya Indonesia untuk menyadari bagaimana tubuh tari sebagai arsip memiliki makna penting sebagai artefak cultural dan artefak estetik yang perlu diselamatkan dari kehilangan jejak sejarahnya.

Tubuh merupakan modal dasar sebagai medium utama tari. Tubuh sarat makna dan simbol yang memiliki fungsi dan bentuk. Tubuh dalam tari menjadi penanda makna–makna yang terungkap dalam gerak. Bentuk tubuh yang indah, tinggi, ramping, atau tubuh yang gemuk, bulat, pendek, tetap melahirkan imaji estetik dalam tari. Tubuh tari akan dipandang berbeda dari setiap individu tergantung pengalamannya. Pengalaman sangat menentukan terhadap pemaknaan tubuh tari. Tubuh dapat dibelai, dapat dicintai, bahkan dibenci, tubuh dapat dianggap indah atau jelek juga dapat dianggap suci atau profan. Bagaimana tubuh didefinisikan secara fisik maupun sosial (Synnot, terj. 2007: 11)

Tubuh fisik yang mewujud pada tubuh penari memberikan makna tubuh sebagai dimensi sosial. Pada masa Renaisance banyak pemaknaan pada tubuh sebagai sekuler dan privat terutama dalam seni rupa baik dalam lukis maupun patung. Leonardo da Vinci misalnya salah seorang pelukis hebat dan legendaris melukis tubuh sebagai sebuah keindahan dengan memberi warna-warna yang menyala. Seorang filsuf seperti Castiglione memuji keindahan sebagai suatu yang suci dan tanda yang benar atas kebaikan batiniah. Kebaikan dan keindahan merupakan sesuatu yang identik khususnya dalam tubuh manusia. (Synnot, terj. 2007: 28).

Pada masa tersebut tumbuh penguatan ide tubuh sebagai sesuatu yang indah, baik, personal,dan privat. Monisme Sartre menyebutkan bahwa tubuh adalah diri dan diri adalah tubuh. “aku menghidupkan tubuhku, tubuh adalah sebagaimana aku tampak, aku adalah tubuhku yang menunjukkan isi siapa aku” (Sartre dalam Synnot, 2007: 49). Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa setiap tubuh memiliki identitas atau ciri tersendiri.
Tubuh bukan hanya kulit, daging, dan tulang yang dirangkai dari bagian-bagiannya, merupakan sebuah keajaiban medis. Di sekitar tubuh muncul berbagai kontroversi yang menghebat, mengenai ikatan-ikatan, makna, nilai, kriteria hidup dan mati, serta bagaimana tubuh ditinggali dan dicintai (Synnott, terj. Maezier, 2007: 1-20).

Tubuh tidak hanya telah ada secara alamiah, tetapi juga menjadi sebuah kategori sosial dengan maknanya yang berbeda yang dihasilkan dan dikembangkan setiap zaman oleh populasi yang berbeda. Demikian pula halnya dengan atribut tubuh sesungguhnya bersifat sosial. Tubuh menjadi simbol utama diri dan penentu diri yang utama.

Tubuh sebagai sebuah fenomena sosial beragam dari budaya ke budaya. Tubuh fisik dan fenomenologis sekaligus produk budaya. Tari sebagai bagian kecil dari unsur kebudayaan menjadi budaya yang memunculkan kekhsan si pencipta yang dituangkan melalui tubuh tari. Tubuh tari menjadi fenomena sosial dan cultural (Synnott, terj. Maezier, 2007: 1-5).

Hadirin yang saya hormati,
Tubuh yang menari dalam diskursus teori-teori kritis sering dibaca sebagai wacana yang menyimpan ingatan atau memori sebagai lintasan sejarah masa lampau hingga kekinian. Tubuh menari bergerak mengekspresiaan perasaannya yang kemudian disebut sebagai “tarian” sangat terikat oleh ruang dan waktu. Di sinilah tari memiliki makna sebagai presentasi kultural yang bersifat sesaat (ephemeral). Gerak tubuh menari tidak dapat disimpan seperti viasual art, tulisan, atau patung sehingga ungkapan gerak tari dari tarian yang sama sangat memungkinkan terjadi perubahan (Minarti, dalam Murni, 2014: 26).

Hal ini pun sebagai konsekuensi logis pewarisan budaya masyarakat Indonesia sebelum masa Hindu Budha berkaitan dengan tradisi lisan. Demikian halnya dengan tari disimpan dalam ingatan dan tuturan.

Tubuh tari mulai terekam pada masa Hindu-Budha dalam relief candi Borobudur dan Prambanan serta beberapa candi lain yang dibangun sekitar abad ke-9 Masehi. Pada relief-relief tersebut nampak tubuh tari dengan gaya dan teknik yang kemungkinan besar dipergunakan pada masa Mataram Kuna. Ragam sikap tari yang ditemukan di situs-situs kuno tersebut membuka ikonografi tari sebagai ladang penjelajahan yang menghubungkan arkeologi dengan seni pertunjukan (Minarti dalam Murti, 2014: 27).

Seperti salah satunya saat ini yang dilakukan oleh kelompok The Sound of Borobudur. Bagaimana kelompok ini melakukan pelacakan terhadap alat-alat musik yang terdapat dalam relief candi Borobudur. Instrumen tersebut kemudian dikumpulkan satu persatu dan dimainkan dengan kolaborasi yang melahirkan alunan bunyi nan indah da bermakna.

Demikian halnya yang dengan tari yang telah dilakukan oleh lyer (kini Lopez y Royo) yang berkolaborasi dengan koreografer sekaligus penari dari Surakarta yaitu Mugiyono Kasido, yang membaca kembali relief-relief di candi Prambanan untuk dijadikan dasar penciptaan sebuah tarian baru. Inilah salah satu contoh bahwa bagaimana hubungan antara tari dan arsip melalui arkeologi bisa terjalin. Dan ini pun sebagai bukti bahwa arsip tari tidak selalu berkisah tentang sesuatu yang abstrak atau mati. Terbukti pula bahwa praktik pengarsipan yang dilakukan para periset dan seniman menjadi aksi aktif dalam merekonstruksi narasi tentang masa lalu dan masa kini di Indonesia (Minarti dalam Murti, 2014: 28)

Tubuh tari juga terekam dalam berbagai naskah-naskah seperti Serat Wedhana, kitab, babad, dalam bentuk kisah. Kisah tubuh tari juga terungkap dalam prasasti-prasasti seperti prasasti Waharakuti (840 A.D.) dan Mantyasih (904 A.D) yang menyebutkan tentang matapukan yang memiliki arti “menari tari topeng”. Prasasti Perot ( 850 A.D.) disebutkan istilah manapal yang artinya juga “menari tari topeng”.

Dalam prasasti tersebut terdapat pula istilah mangigal = mangigél yan artinya menari tanpa topeng. Selain itu terdapat pada prasasti Salud Mangli (898 A.D), Panaraga (901 A.D), Kêmbang Arum (902) dan lain-lain (Soedarsono, 1997: 5). Jejak-jejak sejarah ini menjadi penanda tubuh tari tercatat dalam sebuah bentuk artefak , mantifak, maupun sosiofak.

Larasati dalam bukunya The Dance Makes You Vanish menyebutkan dalam konteks ketubuhan, tari merupakan sebuah cara pendang dan juga taktik dalam pelahiran ruang ingatan. Larasati juga menyumbangkan gagasan tentang ketubuhan dalam sebuah pola dasar pemahaman bahwa arsip adalah sebuah olahan dari fragmentasi ingatan, baik berupa kebendaan, waktu, ataupun tema terpilih. Konsep arsip dalam konteks konflik juga sangat bergantung pada model-model kolonial: terkontestasi dan dinarasikan berdasarkan kekuatan hegemonik (nasional). Ia juga menyebutkan bahwa arsip dan kehadirannya bisa dipakai sebagai metodologi, taktik, dan strategi dalam meranahkan tubuh-tubuh yang tergantikan (Larasati, 2013, juga dalam Larasati, 2014: 189). Arsip ketubuhan menjadi kunci utama dalam ranah ini.

Sebuah metode etnho-narrative-archive (arsip etnonaratif) yang ditawarkan Larasati yaitu dalam mengarsipkan tubuh tari atau ketubuhan. Metode ini sebetulnya telah dilakukan kebanyakan orang dalam riset ketubuhan. Kurangnya dokumen pendukung baik berupa foto maupun video misalnya maka andalannya adalah dari cerita yang dituturkan. Inilah yang dimaksud dengan etnho-narrative-archive sebuah metode partisipasi aktif dalam menganalisis, membaca, melihat, dan melahirkan karya yang pola pendekatannya–ketubuhan (tari) dipandang secara hirtoriografi dengan memperhatikan politik ingatan (Larasati, 2014: 190).

Ketika kesulitan mendapatkan dokumen tentang ketubuhan seorang penari karena belum diarsipkan, maka untuk mendapatkan informasi penting dilakukan dengan mendengarkan cerita dari dipelaku atau saksi hidup di luar pelaku atau bahkan cerita dari pengalaman diri sendiri yang kemudian dituliskan. Cerita itu memberikan gambaran bagaimana pelaku melalui sebuah proses penciptaan atau kepenariannya hingga periset dapat ikut membayangkan kejadian tersebut. Proses ini merupakan sebuah proses transmisi, dalam memetakan pola-pola tubuh dalam ruang rasional. Maka dari narasi yang disampaikan oleh penutur dapat ditangkap sebuah arsip ketubuhan yang merupakan sebuah filosofi relasional yang membentuk ingatan dan kesejarahan. Materialistisnya meranah pada pelaku itu sendiri pada rasa atau estetika yang berkaitan dengan apa yang dirasakan. Dan bagaimana sebuah arsip dimaknai dalam keseharian.

Hadirin yang saya hormati
Tubuh tari, ingatan tari, dan teknik tari dalam hal ini tidak hanya berupa paparan atas apa yang bisa direkam, tetapi juga tubuh pelaku sebagai metode archival itu sendiri mampu berbicara. Arsip yang didedikasikan pada bagaimana tubuh berperan sebagai pengingat menjadi sangat penting.

Dalam pelacakan sejarah tari di Inonesia setelah masa kemerdekaan di mana para pelakunya masih ada dapat dijadikan sebagai narasumber utama. Tubuh penari mesti menjadi penutur yang menjadi alternatif penggunaan metode etnho-narrative-archive. Ketika identitas kultural penari berhubungan langsung dengan identitas kepenariannya maka tubuh penari tidak hanya mewakili dirinya sendiri sebagai individu, tetapi mewakili gaya tari serta wilayah kultural.

Sebagai contoh Sardono W Kusumo, Sentot, Retno Maruti, Didik Nini Towok, Miroto, Eko Suprianto, koreografer-koreografer handal di Indonesia, ketubuhannya membawa persepsi dan representasi pribadi dan kulturalnya sebagai penari Jawa. Sebut juga Huriah Adam, Gusmiati Suid, Boy G Sakti, koreografer-koreografer yang ketubuhannya membawa persepsi dan representasi pribadi dan kulturalnya sebagai penari Sumantra Barat. Demikian halnya dengan R. Sambas Wirakusumah, R. Tjetje Somantri, R. Nugraha Sudiredja, Gugum Gumbira Tirasonjaya, Iyus Rusliana, ketubuhannya membawa persepsi dan representasi pribadi dan kulturalnya sebagai penari Sunda. Sebut juga Mimi Dewi, Mimi Suji, Mimi Dasih, Mimi Sawitri, Mimi Rasinah, Mimi Keni, Sujana Arja, Wentar Kontjar, dan lain-lain yang ketubuhannya menjadi peletak sejarah tari topeng Cirebon yang menjadi arsip estetik dan arsip kultural.

Arsip estetik bagaimana keindahan gerak-gerak yang dilahirkan oleh tubuh-tubuh penari satu dengan lainnya memiliki nilai keindahan dan keunikannya masing-masing. Sementara arsip kultural bagaimana tubuh-tubuh penari mewakili wilayah budaya dengan kekhasan gaya dari masing- masing etnik.

Sungguh luar biasa keragaman tubuh tari yang terlahir dari nenek moyang kita sejak zaman pra-sejarah hingga kini yang telah melewati perjalanan sejarah panjang berabad-abad. Ini menjadi arsip yang berupa arefak estik dan kultural yang diwariskan dari satu generasi ke generasi ke generasi berikutnya. Dan saya menjadi bagian terkecil dari penerima estapet pewarisan tari tradisi Sunda. Dengan harapan arsip ketubuhan yang berbentuk artefak estetik dan kultural dapat mengalir pada pewaris selanjutnya.

Artefak estetik tubuh tari bukan hanya terlihat oleh mata telanjang tetapi setiap sikap gerak, rangkaian gerak, kalimat geral, itu memiliki makna memiliki jiwa, memiliki ruh. Ketubuhan penari akan nampak perbedaan dari pengalaman-pengalaman yang dapat menunjukkan “ruh” ketubuhan seorang penari. Begitu banyak tubuh-tubuh tari yang sejatinya merupakan arsip yang belum dikomendasikan. Padahal itu semua memiliki arti penting yang menjadi peletak jejak sejarah tari di Indonesia.

Tubuh sebagai presentasi cultural dan sosial. Tubuh tari dalam sebuah upacara ritual merepresentasikan rasa dan jiwanya yang mengembara jauh ke dalam tubuhnya sendiri. Semakin dalam mengembara dengan gerak- geraknya yang terungkap maka semakin dalam mengenal jengkal demi jengkal tubuh.

Tubuh penari dapat berbicara dengan tubuhnya sendiri untuk siapa tubuh tarinya dipersembahkan. Maka tidak heran jika Mimi Sawitri menyebutkan “menari untuk Tuhan”. Bagaimana ketubuhan bergerak untuk Tuhan dengan gerakan yang hikmat teramat dalam. Bagai mana tubuh penari Panji yang direpresentasikan kedalam gerak, makna, dan ruh yang terpancar dalam gerakan tubuh yang tenang, mengalir ninergis antara tubuh dan tuhan yang jauh berada di sana. Serta dengan tingkat marifat karakter manusia tertinggi. Artefak kultural gerak tubuh penari dapat menunjukkan identitas wilayah budayanya.

Tubuh tari sebagai artefak sosial. Bagaimana tubuh tari berkaitan erat dengan lingkungan yang mengitarinya. Bagaimana sebuah pesta panen, pesta laut, dan pesta-pesta lainnya yang merepresentasikan tubuh penari dalam kegembiraan dan kebahagiaan. Aura gerak tubuh dinamis menggugah dan mengundang keinginan untuk ikut terlibat dalam.

Tubuh tari yang hidup dan berkembang di keraton, menunjukkan representasi dari kelas sosial dari penikmat gerak tuguh tari. Pola-pola gerak tubuh penari di kalangan istana tertata dan terpola sampai batas-batas gerak tubuh pun diatur sedemikian rupa. Sementara gerak tubuh penari yang hidup di kalangan rakyat menunjukkan kebebasan tanpa pembatasan-pembatasan yang mengekang pada tubuh penari. Tubuh teri dapat menunjukkan tingkat strata sosial dan juga tubuh tari dapat menjadi penanda perkembangan pola pikir manusia, hingga muncul tubuh tari sebagai representasi seni untuk pertunjukan.

Bagaimana kita dapat mengetahui semua perjalanan sejarah tari dari satu masa ke masa lainnya. Di antaranya adalah dapat dilihat dari tubuh tari yang diperlakukan sebagai sebagai arsip narativ , serta artefak estetik dan kultural yang terus melaju mengikuti alur perubahan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.

Maka di sinilah pentingnya bagaimana tubuh tari sebagai arsip, artefak estetik, dan artefak kultural terus digali dan diamati hingga menemukan benang merah jejak-jejak sejarah tari dari yang bersifat individu maupun komunal. Dengan perkembangan teknologi saat ini tubuh tari sebagai arsip, artefak estetik dan artefak kultural dapat ditangkap melalui alih media agar tidak kehilangan jejak sejarah tari di Indonesia.

Hadirin yang saya hormati
Sebelum saya mengahiri pidato pengukuhan ini, perkenan saya menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah tulus ikhlas membantu saya untuk sampai pada pencapaian jabatan Guru Besar dalam bidang ilmu Sejarah Tari, Program Pasca Sarjana Institut Seni Budaya Indonesia Bandung.

Pertama-tama puji syukur pada Allah SWT, yang telah memberikan jalan terbaiknya pada saya untuk sampai pada titik ini. Ucapan serta penghargaan setinggi-tingginya pada para pimpinan ISBI Bandung. Ketua ASTI Bandung tahun 1992-1995 Prof. Saini KM., Ketua STSI tahun 1995- 2000 Prof. Iyus Rusliana, SST., , Ketua STSI Bandung tahun 2000-2004 Prof. Dr. Anis Sujana, S.S.T, M.S., Ketua STSI Bandung tahun 2004-2008 Prof. Arthur Supardan Nalan, M.Hum, Ketua STSI Bandung tahun 2008-2012 Drs. Enoh , Ketua STSI Bandung tahun 2012-2013 Prof. Dr. Endang Caturwati, S.S.T., M.S.

Terima kasih juga saya sampaikan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, yang telah memberikan dukungan penuh pada saya. Terima kasih juga saya sampaikan pada Ketua dan Anggota Senat yang telah menyetujui pengusulan Guru Besar saya, Para wakil Rektor, Direktur Pascasarjana yang membantu pengurusan usulan Guru Besar saya. Terima kasih banyak juga saya sampaikan pada Direktur Sumber Daya baik itu pada masa Prof. Dr. Bunyamin Maftuh M.Pd., M.A juga Dr. Mohammad Sofwan Effendi, M.Ed. serta para Staf Sumber Daya yang memproses usulan jabatan Guru Besar saya. Para Dekan, Wakil Dekan para ketua Lembaga, Kepala Biro dan staf yaitu Gian Aditya Candra, S.T dan Shindu Yogaswara, A. Md. yang membantu administrasi dan proses pengusulan GB saya. Serta seluruh tenaga pendidik dan kependidikan ISBI Bandung yang telah memberikan dorongan, perhatian, bantuan, sehingga saya dapat kesempatan menyampaikan pidato pengukuhan ini.

Secara khusus, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para guru tercinta saya Prof. Iyus Rusliana, S.S.T, yang telah membina saya sejak saya masuk SMKI maupun ASTI bahkan sampai saya bekerja di ASTI/STSI/ISBI Bandung saat itu. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Prof. Dr. Endang Caturwati, S.S.T, M.S, selalu memberi semangat, membimbing dan memberikan motivasi-motivasi untuk terus meningkatkan kompetensi diri. Juga terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Prof. Dr. Nina Herlina Lubis, M.S., promotor saya di Universitas Padjadjaran, yang sekaligus juga penilai dari usulan saya dan Prof. Dr. I Wayan Rai S M.A. yang selalu memberi support pada saya. Terima kasih juga saya sampaikan kepada guru-guru saya Ibu Irawati Durban Ardjo, Ibu Risyani, S.S.T., M.Sn., Bapak Toto Amsar Suanda, Bapak Indra Rahmat Yusuf, Bapak Gugum Gumbira (alm) yang pertama kali membawa saya ke luar negeri, Prof. Dr. Dr. Ganjar Kurnia Ir. DEA., serta guru-guru lainnya di Jurusan Tari yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu.

Terima kasih saya sampaikan pada guru-guru saya di Sekolah Dasar (SD) Negeri Pasirangin Ciamis, yang pada kesempatan ini hadir Kepala Sekolahnya. Terima kasih juga pada guru-guru SMPN I Ciamis yang alhamdulillah kepala kesolahnya juga hadir saat ini. Kepada Pak Encim, S.Pd., M.M.Pd, berkat beliaulah saya mengenal SMKI dan akhirnya membawa saya untuk sekolah di SMKI Bandung.

Terima kasih saya sampaikan pada guru- guru saya di SMKI Bandung, yang pada kesempatan ini juga hadir kepala sekolahnya (SMKN 10 Bandung ) yaitu Bapak Bambang Satriadi S.Pd., M.Pd. Juga kepada Prof. Dr. Narawati, S.Pd., M. Hum, Prof. Juju Masunah, S.Sen., M.Hu, P.Hd. Terima kasih juga saya sampaikan kepada ibu angkat saya di Bandung yaitu Ibu Hj. Aam Amalia yang dulu membimbing saya sampai bisa menulis artikel2 kesenian untuk dimuat di Pikiran Rakyat saat itu.

Terima kasih yang tiada terhingga juga saya sampaikan kepada orang tua saya, Bapak H. Iyas Somantri yang hari ini memaksakan hadir di sini walaupun jauh dari Ciamis dan Ibu saya Hj. Elin Herlinayati (alm). Yang selalu menempa saya untuk bisa menjadi mandiri. Juga Bapak Mertua saya H. Yakub (alm) dan Ibu mertua saya Hj. Hodijah (alm). Juga kakak saya H. Wawan Herawan, S.E, yang membimbing dan mendampingi saya pada awal- awal kos di Bandung. Kakak saya Titin Herawati yang mengantar saya dulu testing di SMKI Bandung, Adik-adik saya Hj. Ani Herniawati, S.Pd. M.Pd., adik saya Ida Herdari, S.Pd. yangs semuanya selalu suport. Juga Bibi saya Hj. Entin Kurniatin, yang selalu menyediakan bahan-bahan untuk jualan saya waktu di SMKI.

Terima kasih yang tidak terhingga juga saya sampaikan pada suami saya tercinta tercinta Drs. H. Ono Karyono atau Kang Oka, yang membimbing saya dengan sabar. Saat itu saya masih bau kencur mau dinikahi demi ingin sekolah, hingga sampai bisa seperti ini, terima kasih ayah. Juga anak-anak saya Muhammad Mughni Munggaran, S.Sn., M.Sn. yang mengikuti jejak dalam dunia seni serta putri saya Siti Malikul Mulki yang keduanya selalu sabar dan tak pernah protes melihat kesibukan ibunya, dan tentunya seluruh keluarga, Bibi, Ua, paman, ponakan-ponakan yang selalu memberi perhatian dan semangat. Doa dan harapan saya semoga Allah memberikan balasan yang berlipat ganda kepada mereka. Aamiin yaa robbal alamiin.

Hadirin yang berbahagia.
Demikian buah pikiran saya yang saya sampaikan dalam pengukuhan ini. Terima kasih atas kesabaran hadirin dalam menyimak paparan ini. Mohon maaf atas kata yang kurang berkenan. Semoga kita selalu diberi kesehan dan selalu ada dalam lindungan Allah SWT. aamiin.
Wabillahi taufik walhidayah, Wassalamualaikum Wr.Wb.

Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum.

(DRA/SENI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here