Home BERITA  Hermawan Rianto, Kepadamu di Surga

 Hermawan Rianto, Kepadamu di Surga

156
0
HERMAWAN RIANTO/DOK

OLEH Taufan S. Chandranegara *)

KETIKA aku bilang tembakaumu rasa coklat, kau ngakak perlahan, lalu kita saling bertukar cerita tentang metode cangklong lebih sehat dengan tembakau; terkekeh-kekeh aku, kau dengan gayamu, Aendra Medita, senyum sedikit tawa tak terlalu berderai, mungkin karena dia bukan perokok. Itu awal pertemuan kita bertiga di sebuah warung kopi teranama di Bintaro Sektor 9.

Semangat juangmu masih seperti sekian puluh tahun lalu, ketika pemuda, Hermawan Rianto, masih kurus ceking, dengan badanmu meninggi begitu seperti galah, bikin kesal, aku harus selalu mendongakkan kepala kalau kau berdiri, menunduk melihatku, jauh lebih pendek, seperti tuan majikan dengan bawahannya ha..ha..ha, di antara properti sembari bercerita simpang siur tentang film, seni-politik praktis musim kodian, di sebuah pertunjukan teater di era 80an, semoga aku si gaek ini tak salah ingat.

Bro. Kesal aku, belum berjuang kita, ‘Gambaridoep.com’, baru akan dimulai, setelah kau sibuk di kelas akademis, doktor pula, lantas tenggelam di museum, kita baru saja bertemu lagi setelah sekian tahun, dipertemukan oleh si Aendra Medita –sekarang dia PemRed kita, haha begitu cepat peralihan generasi– pertemuan kita baru seumur jagung kata pepatah, Aendra Medita, baru mau menelan air liur setelah menjelaskan konsep ‘Gambar Idoep dot com’, (gambarideop.com) celaka betul, kau pergi tanpa pamit, tak ada warisan pula hehehe.

Di sebuah kafe itu setiap Rebo kami diskusi, Aendra Medita, Hermawan Rianto (tengah) Taufan S.Chandranegara/gambaridoep.com

Kenapa? Kau jadi orang jujur sepenuh jiwa, lurus saja kita katamu. Kalau belok ke neraka-kita, kataku, Aendra Medita, tertawa pula, kali ini agak terbahak-bahak tapi sedikit, mungkin karena dia jurnalis yang lurus budi pula, tak juga punya apa-apa, hanya semangat media untuk amal kebaikan pada publik. Memang itu, selalu menjadi cita-cita dalam kumparan terus menerus, kita, selalu dipertemukan.

Bro? Bagaimana kami bisa menyusulmu ke surga, untuk sidang redaksi rebo-an,–selalu di warung kopi itu- ha..ha..ha, karena sewa kantor mahal kali– kini. Maklum kita bertiga-sebagai manusia diluar keturunan feodal, sulit kali, ruwet perhitungannya, untuk kantong manusia sederhana seperti kita. Berbeda dengan kantong yang korup kan, kataku. Lantas kau ngakak sekuat hatimu, sembari lanjut ngobrol menyoal film misteri, para penguasa hantu, termasuk hantu penguasa manusia, hingga si Manis Jembatan Ancol, kisah misteri dari belahan benua jauh juga lokal, dalam banyak kisah tutur sederhana hingga menjadi teks, skenario-film.

Bro, sekarang aku mau bilang terus terang, kenapa aku memanggilmu dengan sebutan kakanda Bimasena, itu sebetulnya karena aku kesal melihat kau tinggi, aku pendek, Aendra Medita, gemuk, aku merasa jadi tergencet di antara Semar dan Bimasena, hahaha, sungguh, itu bagian dari kelakar santun kita, selalu saja punya pelepas kesederhanaan, sebab kalau aku bilang kita miskin, Aendra Medita, pasti protes-kita lebih kaya dari orang kaya di dunia, ujarnya. Faktanya? Kataku. Kita di sayang Allah, karena kita bukan koruptor; Aamiin Ya Allah, serentak kami bertiga. Tak lama karyawan warung kopi mendekat “Mau tambah lagi Pak Kopinya?” Serentak pula kami menjawab “Oh, tidak. Terima kasih, sebentar lagi kami akan pulang.”

Lalu sunyi meninggalkan warung kopi itu, kesunyian di tengah peradaban milenial simpang siur, sunyi membawa angan, daya juangmu tak sirna Bro. Di barisan ‘Gambar Idoep dot com’ (gambaridoep.com), telah hadir generasi cerdas, penerusmu, penerus kita si gaek, kau sudah tahu kan? Sebelum kau mangkat ke surga. Sayonara! Sampai jumpa di surga.

Jakarta Indonesia, 27 August 2021.

*)Praktisi Seni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here