Home AGENDA Teringat Puisi Toto Sudarto Bachtiar “Tentang Kemerdekaan”

Teringat Puisi Toto Sudarto Bachtiar “Tentang Kemerdekaan”

250
1
Toto Sudarto Bactiar /ist
SENI.CO.ID – Jelang 17 Agustus 2021 saya teringt puisi dari sastrawan Indonesia
Toto Sudarto Bachtiar, dalam NgopiSore ini lalu saya membaca lagi puisinya.
Tentang Kemerdekaan
Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua suara
janganlah takut kepadanya
Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara
janganlah takut padanya
Kemerdekaan ialah cinta kasih yang mesra
Bawalah daku kepadanya.
1953
ALHAMDULILLAH saya sempat beberapa kali bertemu beliau di rumahnya yang sederhana di belakang kampus ISBI (dulu ASTI /STSI) Bandung sebelum beliau wafat.
Toto Sudarto Bachtiar (TBS) adalah penyair Indonesia (1929-2007). Puisi diatas bagi saya sebagai penyemangat itu dihari jelang 76 tahun Indonesia Merdeka.Sajak TSB itu diambil dari Kumpulan Sadjak 1950 – 1955 (Balai Pustaka, Jakarta, 1962).
TSB dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 12 Oktober 1929. Penyair yang dikenal dengan dua kumpulan puisinya: Suara (1956) dan Etsa (1958) ini, juga dikenal sebagai penerjemah yang produktif.
Toto dikenal sebagai catatan sejarah sastra tahun 1950-an, yang pada zamannya penuh perjuangan, sehingga karya-karya Toto selalu berisi perjuangan dan perlawanan melawan penjajah, seperti sajak “Pahlawan Tak Dikenal”, “Gadis Peminta-minta”, “Ibukota Senja”, dan yang ini dirasa cocok untuk saat jelang 69 tahun Indonesia Merdeka, “Ode I”, “Ode II”, “Tentang Kemerdekaan”.
Saat terjadi Clash I, ia bergabung dalam Polisi Tentara Detasemen 132 Batalyon 13 di Cirebon. Pada waktu menjadi mahasiswa di Jakarta, pernah menjadi redaktur majalah Angkasa dan menjadi redaktur Menara Jakarta. Turut pula mendirikan majalah Sunda di Bandung bersama Ajip Rosidi tahun 1964 dan pernah menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Puisinya banyak dimuat media pada tahun 1950-an dan tersebar di beberapa media di Indonesia.
Sajaknya yang berjudul Ibu Kota Senja, menggambarkan situasi batiniah perjuangan menaklukkan Kota Jakarta. Ia menggambarkan Jakarta tanpa kompleks sebagai pendatang.
TSB seorang penyair yang luar biasa, Tahun 1950-an namanya muncul yang diperkenalkan pertama kali oleh adalah paus sastra Indonesia yaitu H.B. Jassin lewat sajaknya “Ibu Kota Senja”.
TSB juga adalah penterjemah yang baik dari karya sastra dan dramawan dunia. Karya ternama dari drama “Pelacur” (Jean Paul Sartre, 1954), Sulaiman Yang Agung (Harold Lamb, 1958), Bunglon (Anton Chekov, 1965), Bayangan Memudar (1975) novel Breton de Nijs yang diterjemahkan bersama Sugiarta Sriwibawa, Pertempuran Penghabisan sebuah novel Ernest Hemingway, 1976, dan Sanyasi drama Rabindranath Tagore, 1979. 
Kumpulan Puisi karya Toto Sudarto Bactiar/ist
TSB juga dikenal sebagai penyair dengan dua kumpulan puisinya yakni Suara (1956) dan Etsa (1958). Untuk kumpulan puisi Suara, Toto memenangkan Hadiah Sastra BMKM pada tahun 1957.
Subagio Sastrowardojo menyebut Toto dengan “Hati Sabar Toto Sudarto Bachtiar”. Nada-nada duka yang hampir mewarnai di seluruh puisinya. Toto adalah tokoh yang sabar dan penerima menghadapi nasib, tangan nasib yang sering tidak terduga-duga dan tidak berperasaan juga diterimanya dengan sabar, bahkan sering dengan tersenyum atau malahan tertawa terbahak-bahak.
Toto merupakan lirikus yang kental dan jernih, kepekaan dan kesadaran personal dan sosialnya kuat dan tajam, tanpa menjerumuskan puisinya ke dalam jurang gelap atau menjadikannya serupa slogan yang sekerontang pidato. Puisi Toto membangun dan menempatkan posisinya sebagai puisi yang baik dan terasa wajar.
Dan yang menarik adalah tahun  1950 A. Teeuw menuliskah Toto Sudarto Bachtiar dengan kalimat:
What makes this poetry so difficult to understand is the obscurity of its syntactical connections. … and in addition to this there is his strongly associative, often symbolic use of words. … Altogether this makes reading these poems very much a matter of groping in the dark. … However, Toto Sudarto Bachtiar is one of the few really original Indonesian poets since 1950. Ya TBS adalah penyair asli Indonesia. A Teeuw tepat menyebut TSB demikian.
TSB merupakan generasi penerus penyair Chairil Anwar pada dasawarsa 1950-an. Nama TSB memang tak bisa dilupakan dalam sejarah sastra Indonesia. TBS juga saat itu menulis untuk majalah Siasat (dalam lembaran Gelanggang), Pujangga Baru, Indonesia, Zenith, dan Mimbar Indonesia. TSB juga pernah menjadi redaktur majalah AURI Angkasa, redaktur Menara Jakarta.turut pula mendirikan majalah Sunda di Bandung bersama Ajip Rosidi tahun 1964 dan pernah menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.
Bersama dengan Sitor Situmorang, Harijadi S. Hartowardoyo, Ramadhan KH, Rendra dan Sapardi Joko Damono yang disebut Subagio Sastrowardoyo sebagai generasi Kisah dan dikenal sebagai salah satu tonggak sastra Indonesia pada periode 1950-an dengan ciri masing-masing. Namun nama Toto Sudarto Bachtiar kemudian seolah-olah terlupakan “sejarah”.
Saya ingin menyebut TSB di hari kemerdekaan ini, karena saya ingin mengatakannya dan sempat beberapa kali berdialog dengan TSB di rumahnya di kawasan Buah Batu Bandung dekat kampus Seni dimana saya menimba ilmu dan tentu waktu itu saya masih mahasiswa sampai lepas saya menjadi jurnalis.
Saya juga pernah meminta TSB diskusi Sastra saat itu di CCF (IFI-Kini) Francis di Bandung dimana TSB bicara sastra bersama Ayu Utami yang saat awal-awal dia muncul sebagai pemedanng Sayembara Roman DKJ.
Saya juga dekat sekali dengan  Mohamad Sunjaya (alm) aktor teater yang juga sahabatnya TSB, menurut Kang Sunjaya bahwa sosok Toto Bachtiar adalah figur yang sederhana dan yang terpenting dia anti suap. Ia juga menyebutkan, Toto merupakan salah satu pejuang kemerdekaan karena sempat menjadi tentara. “Meski demikian diakhir hayatnya TBS tidak memiliki pensiunan,”kenang Kang Sunyaya.
Toto Sudarto Bachtiar wafat di usianya yang ke-78 tahun, di Desa Cisaga, Kota Banjar, Jawa Barat.
Dalam NgopiSore ini saya terbayang jika sempat ke Bandung saya akan ziarah ke makam TSB yang ada di TPU Gemuruh Bandung. (am/beberapa sumber)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here