Home BERITA Atasi Amin Penyair Santun

Atasi Amin Penyair Santun

340
0
Atasi Amin, putra pelukis Jeihan sekaligus Direktur Studio Jeihan Bandung/ Andi Sopiandi

OLEH Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

KALAU ada pertanyaan, siapakah penyair angkatan muda di Jawa Barat yang santun baik dan rendah hati? Jawabannya adalah Atasi Amin, putra pertama almarhum Maestro lukis Jeihan Sukmantoro. Semua pasti setuju.

Malam lebaran Idul Adha kemarin, saya mendapat pesan dari Atasi Amin bahwa ia harus dirawat di rumah sakt Santosa karena sakit. Komunikasi lancar, bahkan ketika saya telpon ia nampak masih semangat dan bergurau.

Atasi jarang bergurau, bahkan ketika daam pertemuan atau kongkow sastra dimanapun lebih banyak jadi pendengar.

Jumat 23 Juli 2021 pagi jam 00.45 WIB Atasi memberi kabar lagi bahwa ia harus pindah dari ruang isolasi ke ruang ICU karena gagal napas, Oksigennya menurun hingga 80. Dia harus terapi plasma konvaselen golongan darah B, sebanyak dua labu. Saya coba kutip menyebarkan infonya, termasuk rekan-rekan yang lain juga membantu. Jumat sore, saya mendapat kabar dari aktor teater Rinrin Chandraresmi bahwa satu labu darah golongan B sudah didapat dari Ikatan Alumni ITB, bersamaan dengan itu, Atasi juga memberi kabar bahwa darah sudah didapat. Lengkaplah dua kabu darah B untuk menolomgnya.

Namun Sabtu 24 Juli 2021 jam 13, nomor WA Atasi sudah tidak on, saya terus komunikasi dengan penyair Ahda Imran dan beberapa rekan. Mingu kemarin 25 Juli 2021, siang hari perupa Tisna Sanjaya menanyakan kabar Atasi. Beberapa menit setelah Tisna mengakhiri pembicaraa, kabar duka itu datang, Atasi meninggal dunia. Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun…

Puisi Atasi Yang Humoris

Atasi Amin, lahir di Bandung 21 Juni 1966, sejak kecil puisinya sudah sering dimuat di harian Pikiran Rakyat, kerap membacakan pisisinya di beberapa kota. Buku karyanya adalah Laut Merah bersama penyair Diro Aritonang dan Soni Farid Maulana, Antologi puisi Mukatamar 2003, Senandung Bandung, Benterang, Ke pintu dan terakhri Potret Diri (2017).

Puisi-Puisi Atasi Amin memanfaatkan gaya puisi mbeling, ada juga beberapa puisi bergaya liris dan perpaduan antara gaya mbeling dan gaya liris. Acep Zamzam Noor menyebut bahwa puisi-puisi Atasi Amin berusaha untuk menjadi puisi-puisi yang santai, main-main, ceplas-ceplos tapi juga cerdas dan menghibur. Santai karena tema-tema yang diangkat kebanyakan hal-hal sederhana dan sehari-hari. Juga berita-berita yang biasa didengar di radio, dilihat di TV atau dibaca di koran.

Meskiun ada juga tema-tema serius, semisal IMF, partai, kebakaran hutan atau paristiwa kerusuhan, tapi ia ungkapkan dengan santai. Bermain-main menjadi hal penting dalam sebagian besar puisi Atasi. Salah satu varian puisinya menurut Zulfa Nasrullah (penyair muda) misalnya permainan kata. Atasi menemukan keunikan kata dan menempatkannya secara nyeleneh pada suatu situasi wacana tertentu. Misalkan pada puisi “Sorak” ia hendak memberitahu bahwa rakyat tengah bersorak sorey mengantar matahari pulang dan bukan bersorak pagi.

Matahari yang pulang merupakan keadaan sore yang secara diksi memiliki kemiripan bunyi dengan diksi sorai. Lantas Atasi menggantinya dengan diksi sorey. Pada puisi “TKW” dimana pahlawan dirombak menjadi pah! lawan!. Diksi tersebut sengaja dirusak untuk menampilkan sudut pandang lain dari potensi bunyi yang dimilikinya.

Menurut Acep Zamzam, Atasi Amin punya modal untuk melaju di jalur puisi-puisi seperti ini. Ia punya sudut pandang yang khas dalam memandang kehidupan. Ia juga punya rasa humor dan kesimpulan yang mengagetkan. Puisi “Maaf” (1992) puisi tentang rasa dahaga ketika berpuasa, yang membuatnya terpaksa meneguk segelas jus buah yang diambil dari kulkas. Di luar dugaan ia mengakhiri sajak ini dengan: maafkan, ternyata dosa itu segar. Tentu saja sikap bermain-main yang dilakukan Atasi dalam puisi ini punya makna serius, bahkan religius.

Rasa humor, barangkali ini juga harus selalu dipelihara oleh Atasi Amin jika ingin terus melaju di jalur yang dipilihnya ini. Bukan berarti harus menulis puisi-puisi lucu, atau menulis hal-hal aneh yang akan membuat orang tertawa. Melucu bukanlah satu-satunya cara dalam menulis puisi mbeling. Rasa humor yang saya maksud adalah sikap atau cara pandang seseorang dalam mengungkapkan sesuatu. Tidak kaku, tidak formal dan selalu di luar dugaan. Rasa humor tidak selalu berhubungan dengan keinginan melawak, tapi justru dengan kecerdasan dan kecanggihan memainkan kata-kata. Seseorang yang mempunyai rasa humor itu santai, tidak tegang, cuek, main-main, nakal tapi juga cerdas dan religius. Ini salah satu puisi Atasi

Kureguk laut
Sampai kering
Lalu aku kencing
Untuk hutanku
Yang terbakar

Itulah puisi puisi Atasi Amin. Tapi diluar karyanya, sungguh amat jauh bebeda, Atasi adalah pribadi yang tak banyak bicara, santun dan rendah hati. Setiap orang yang kesusahan ditolongnya, baik materi atau sekedar semangat. Atasi adalah salah satu pendonor tetap bagi kelangsunagn diksusi sastra yang digelar di Bandung oleh Majelis Sastra Bandung (MSB). Beliau dan adiknya Adi Azasi yang meminjamkan studio Jeihan dipakai kegiatan MSB serta mempersilahkan kedai kopinya dipakai markas.

Akhir akhir ini, ia sering curhat bahwa ia tidak bisa nulis puisi “bagus” seperti dulu, curhat soal keluarga, soal soal kebanggaannya pada anak istrinya, serta kedai kopi miliknya. Entah berapa tahun saya bersahabat dengannya, hampir setiap bertemu saya salut pada kepriadiannya yang santun pada siapapun.

Kini orang baik itu telah pergi, ia dimakamkan sebelah ayahandanya, Jeihan, Seperti puisimu Atasi
rebahlah
doa doa meninggi
dari penjara badan
ke persinggahan berikut

Pileuelueyan Atasi..cag! 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here