Home AGENDA MONOLOG DRAMATIK

MONOLOG DRAMATIK

236
0

Oleh: Taufan S. Chandranegara *)

Ketika bumi tak berdasar, langit tak ada, apapun tak ada. Makhluk hidup bergelantungan pada abstraksi pengkultusan diri sendiri. Nah, ini celaka banget, lantas apakah konsumtif juga masih ada. Pertanyaan berhenti pada redaksional pesanan nasi kotak tanpa lauk-pauk memadai, sebab kehidupan telah menjadi angin di hampa udara, itupun kalau masih ada.

Walah, kalau angin saja tak ada di hampa udara, lantas bagaimana nasib gajah, harimau atau serigala ataupun binatang lainnya, termasuk jasad renik hingga molekul penghidup materi. Apakah daya hidup pada sistem atomistis masih menggeliat secara alami. Lagi-lagi pertanyaan pandir dari makhluk seperti saya; Loh jadi anda pandir ya; Kurang lebih begitu.

Oh! Kalau anda pandir. Apakah anda masih bisa baca tulis; Kadang bisa, kadang-kadang tidak; Apakah itu artinya anda termasuk jenis makhluk multi dunia; Bukan juga, saya makhluk multi duniawi, tergantung jenis jual beli pasaran pesanan kuenya, atau kadang-kadang tahu sama dengan tempe, atau tahu sama dengan tahu tempe lah hai, seraya mencubit diri sendiri.

Semakin tak jelas saja, tapi, jangan khawatir sobat, saya tetap mengagumi anda. Semakin anda tak jelas saya semakin kagum; Dahsyat, bukan main-main, terima kasih anda telah bersedia mengagumi saya. Keduanya bersalaman, lantas saling memberi salam perpisahan, saling berpelukan, bertangis-tangisan.

Demikianlah adegan semi-dramatik. Artinya kurang lebih hal itu cerita antara dramatisasi puisi di antara cerpen di luar kisah tentang novel, ataupun kisah sembelit terheroik dalam susastra kedramaan, oleh sebab karakter tak lagi mencapai epik dari musikalisasi dramatik keadaban-esensial. Seperti telepon berdering lalu mati. Berdering lagi. Mati lagi. Hanya begitu saja.

Akan tetapi barangkali memang demikian, kekinian dari pengadeganan pendramaan, di antara dramatisasi telah tersuspensi, oleh, acuan tak bernama diluar konfesi asumsi. Pusing tujuh keliling, berpusing-pusing. Tercapai atau tidak, menjadi tak penting lagi, terpenting tak masuk perangkap tikus. Sekalipun telah tersedia perangkap super sekali secara teknologis, maupun antropologis sangat strategis super praktis.

Namun, acap kali namun, maka tendensi keterperangkapan menjadi non-logis, ketika logistik berubah menjadi perilaku sosial, ter-aso-si-al, di luar formalitas legal formal lompatan bajing ala superhero bersalto. Nah loh, disini pula barangkali, dramatisasi kisah dramatik terlihat peran kepalsuan dari keaktoran, akibat pola dari skenografi disuperkan oleh akronim bualan siang bolong.

Tak ada lagi rasa malu-malu kucing, sebab kucing tak lagi mengeong-ngeong, berubah rupa menjadi selicin belut, menggeliat kian kemari, lantas melesat lepas entah kemana. Raib, sirna, ajaib, mencuri adegan menyelinap di balik layar, masuk kedalam kotak wayang. Adegan selesai tanpa solilokui, meski prolog senantiasa menjadi garis tebal.

*) Praktisi Seni
Jakarta Indonesia, 30 Juni 2021.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here