Home AGENDA SAMPAR ANONIM

SAMPAR ANONIM

172
0

Cerita Pendek TAUFAN S. CHANDRANEGARA

MARJUN, tidak marah, tak perlu kesal pada hal tak penting pula. Sebab momok-momok kepalsuan telah menjadi gosip antar penghuni desa ke desa, hingga ke desa-desa ujung gunung, bahkan sapi menjadi kambing atau kesebalikkannya berkembang menjadi topik, paling indah di tengah keramaian kenduri simpang siur-air kata api serupa kata air, ataupun sebaliknya lagi, seolah-olah sulit membedakan mana api mana air-tentu mudah melihat sulapan kepandiran macam itu.

Sebab api telah menjadi air kubangan limbah industri nihilisme, lantas industri mencoba mengolah limbah beracun mengembangkan teknologi kudapan lingkungan seolah-olah bermanfaat untuk tanaman ataupun pertumbuhan pohon di hutan sekitar desa itu. Protes tak mampu menembus telinga, jawaban simpang siur, riuh bak ayam ternak kelaparan dalam kandang.

Paradoks, merupakan idiom seolah-olah mampu bermanfaat untuk keselamatan atas nama, sebab kritik sekadar lewat masuk tong sampah peradaban desa-desa, sejak sekitar pegunungan telah berlimbah negatif itu, terus menguap mengeluarkan bau tak sedap serupa bau, bangkai makhluk neraka sejenis iblis bermuka banyak bertopeng-topeng.

Marjun, tak habis pikir. Apa iya, pengkhianat itu berhasil menyusup, lantas bermukim di kediamannya, tak lebih luas dari ruang tamu kaum majikan. Siapa, dimanakah pengkhianat itu bersembunyi, apa mungkin serigala pengkhianat bersembunyi di balik kasur, bantal guling si Bleki, nama anjing kesayangan, Marjun. Kutu busuk betulan deh, kalau sungguh, benar begitu. Kalau tidak?

Suara-suara aneh, memang, sungguhan sering kali menyelinap ke telinga, Marjun. Tapi itu hal kiasan biasa, urusan si Bleki, kalau hanya menyisir pengacau kelas kepending macam itu. Sombong ber-gaib diri, seolah-olah tak terlihat, tapi hobi nampang bolak balik muncul kepermukaan dunia nyata, sekilas berwajah setan, sekilas hantu, sekilas dedemit.

“Bleki! Kau urus bajingan penyelinap itu.”

“Clear up! Den.” Suara Bleki, menggonggong nyaring. Sekilas cepat si Bleki menyeruput kopi susu sedap kelas wahid buatan, Marjun. Hadiah untuk Bleki, setiap kali sukses melaksanakan tugas.

Marjun, yakin betul penyusup, pengkhianat masuk lewat jalur frekuensi monyet. Tapi, ternyata, Marjun, tak terlalu pintar, hal itu terasakan di benaknya. “Tuyul betul, aku masih bisa kecolongan”, kesal tertahan. Marjun, ingat pesan guru spiritualnya, wajib sabar, tak boleh emosional asal cuap-cuap, dalam menghadapi iblis bertopeng-topeng.

“Kalau pengkhianat itu, menyusup lewat jalur frekuensi monyet, jenis monyet macam apa pula mereka”, di benak Marjun.

“Sialan!” Di benak, Marjun.

“Sabar Den.” Bleki menggonggong dua kali.

“Kau paham rupanya maksudku, Sobat.” Marjun, mengelus tiga kali, kepala si Bleki.

Malam bertambah waktu menuju fitrahnya. Gelap, gemintang terlelap, tetap berkedipan, berkerlipan menghias waktu malam. Bulan separuh kelapa memberi cahaya sesuka keikhlasannya. Tak ada kata, tak ada duka lara, Marjun, terus melacak keberadaan pengkhianat itu bersama si Bleki, terus menggonggong kian kemari, melolong-lolong.

Mendadak Marjun, bersama si Bleki, merasakan tanah disekitar bergetar, bergemuruh, lantas meletuskan suara-suara seperti bergumam. Bleki, mendadak membesar, tubuhnya semakin meninggi, menggeram menyalak menggelegar.

Marjun, luar biasa kaget. Belum pernah menyaksikan, Bleki menjadi seperti itu, matanya menyala-nyala. Marjun, pun membesar, meninggi melebihi Bleki. Keduanya tampak bersiap menghadapi musuh, kira-kira begitu.

Tanah semakin bergetar, tambah bergemuruh, letusan menjadi ledakan, horor menyebar magnit pemangsa, bau darah meluas ke angkasa, sosok berlompatan, berkelebatan dari dalam tanah, terus meledak-ledak. Keempat kaki kokoh si Bleki, mencengkeram tanah, tampaknya Bleki, akan menyerang duluan, menggeram hebat.

Marjun, merasakan tubuhnya kuat seperti raksasa, bersiap pula melakukan serangan. Marjun, terbangun kaget akan melompat, sarungnya di tarik-tarik si Bleki, sembari menggeram. “Ada apa sobat?” Bleki, terus menggeram menarik-narik sarung, Marjun, beringsut menghampiri mengelus kepala si Bleki, bersandar di kaki Marjun, masih terasa kantuk menggelayut. Si Bleki, segera berdiri menatap, Marjun.

“Kau lapar sobat?” Bleki, merundukkan kepalanya “Oh, kau juga mengalami mimpi itu tadi?” Bleki, mendongakkan kepala memberi tanda dengan anggukkan kepala.

Marjun, melihat jam dinding, bersegera, bergegas menyiapkan perlengkapan pendakian. Keduanya menuju gunung berlimbah racun industri nihilisme. Sejak itu mereka tak pernah kembali.

Jakarta Indonesia, Juni 2021.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here