Home Bahasa Dehumanisasi

Dehumanisasi

452
0

Cerpen Taufan S. Chandranegara

Telinga makhluk jejadian itu maha penting untuk dunia kasat mata maupun non-kasat mata. Akan tetapi makhluk jejadian itu bingung. Serupa tak paham, untuk apa punya telinga, kalau di dunia makhluk jejadian lain, fungsi telinga konon, katanya untuk menerima suara apapun alias untuk mendengarkan.

Baiklah. Agar cerita ini berjalan lancar makhluk jejadian itu diberikan nama julukan saja oleh pengarangnya, dia bernama Si-Siasat.

Nah, Si-Siasat, tak jelas jenis kelaminnya. Harap dimaklumi, karena Si-Siasat, makhluk jejadian, entah termasuk golongan siluman atau sebangsa dedemit atau tuyul musiman. Jadi, entah pula, terbuat dari apa. Identitas dirinya telah disimpulkan, berbentuk ‘makhluk jejadian’, bernama, Si-Siasat, lengkaplah dia sebagai sosok peranan berkarakter antagonis neooportunisme, sekaligus, protagonis neokanibalisme.

Layar Panggung Terbuka Lampu-lampu menyala silau berkilau, dalam urutan adegan. Begini ceritanya. “Weleh! Walah, juga boleh. Bisanya komentar aja deh!”

”Bagaimana aku tak komentar. Tak pelak lagi, tak akal pula, ada makhluk jejadian bernama seperti maksudmu, dengan identitas serupa itu pula. Tak akan laku sebagai skenario konseptual, di saat penyuka hiburan, ingin melihat hiburan setara hal ihwal bersifat kontekstual edukatif-heroik, tak sekadar carangan.”

Ketika perdebatan semakin panjang lebar, semakin tak jelas pula ujung pangkalnya itu, Si-Siasat, diam-diam molos dari naskah penulisnya melewati lubang jarum, di antara titik koma, kalimat tanya serupa kalimat berseru, sekilat itu, secepat itu, langsung menguap, adaptif pada cuaca, situasi setempat, di manapun dia singgah. Kalau makhluk Si-Siasat, dekat dengan pohon, dia akan sewarna dengan pohon atau daunnya, intinya, makhluk itu serupa bunglon. Keren-kan?

Itulah awal mula Si-Siasat, bertanya-tanya dalam pikirannya, untuk apa dia punya telinga? Apa fungsinya, bermanfaat atau tidak, bisa di jual gadai atau jual lelang atau jual beli, apakah mungkin, jangan-jangan tak ada pembeli, tak ada daya jual, atau lagi, atau pula, hanya terjadi tawar menawar, tanpa membeli, artinya tanpa menjual.

Pusing! Berapa harga tawarnya. Apakah harga jual sebanding dengan harga tawar jual beli atau setara kebenciannya dengan telinganya sendiri. Pertanyaan mungkin bisa berbalik jadi jawaban, atau menjadi mekanisme tanya jawab jual tampang, tanpa daya beli akibat dari jual beli tak terjadi transaksi, atau mungkin saja jual beli melalui ranah gratifikasi. Wah! Sebuah celah tak asing, potong bebek angsa masak di kuwali.

Gawat! Repot! Serba bercelah meskipun seakan-akan tak bercelah, serupa pintu angin bolak balik, terus mondar-mandir, di pikiran Si-Siasat. Gawat! Bahaya! Kalau akhirnya bisa disimpulkan oleh kalangan pakar publikasi komunikasi kelas-pro. Gawat! Bahaya! Gila! Lantas kesadaran mengetuk-ngetuk, betapa pentingnya fungsi telinga, untuk makhluk sejenis dia. “Celaka. Betul-betul celaka!” Teriakan di pikirannya nyaring sekali.

Meskipun akhirnya Si-Siasat, selaku makhluk jejadian, tetap, akan mencari jawaban kepada siapa saja, di mana saja kapan saja, masa bodoh amat. “Aku harus mendapatkan jawabannya, dengan cara apapun”, kata kalimat di kepalanya.

Si-Siasat, akan tetap bertekad, akan bertanya kepada setiap makhluk semirip dia, di mana pun, sekalipun, acap kali, setiap detik, menjumpai benda apapun, atau makhluk apapun, serupa dia atau tidak, siapa saja, sekalipun berbentuk patung jejadian, teknologi pandir jejadian atau pintar, masa bodoh, itu tekad bulatnya.

*

Semusim hari, semusim tahun, waktu terus bergulir kedepan, tidak kebelakang. Itupun merupakan salah satu keheranan Si-Siasat. “Mengapa waktu tak bisa di putar ulang. Ini tak bisa didiamkan,” itu pula salah satu tekadnya, dari sekian banyak tekad-tekad lainnya. Dia harus bisa menemukan cara untuk pula memutar waktu berulang-ulang, mundur maju. Sesuka hatinya. Sesuka kemauannya.

Di isi kepalanya hanya ada dua kata, jual-beli? Tapi dia bingung sendiri apa maksud dari kata itu? Jual-beli. “Artinya apapun. Apa saja gitu deh, harus bisa di jual, wajib bisa di beli. Gila! Ini sebenarnya, ada di mana sih? Kalau apa saja bisa di beli ataupun di jual, di beli lagi di jual lagi. Hah! Ha. Ha. Ha. Gila! Hah!” Dia segera berpikir cepat. Dia menjadi ragu-ragu terkait dengan niat akan menjual telinganya.

“Kalau dihilangkan dengan cara menjual telingaku, lalu di beli oleh makhluk jejadian lain. Artinya tak ada rahasia lagi di antara makhluk jejadian. Si pembeli telingaku, bisa mendengar semua kisahku. Wah! Ngaco! Enggak bisa ! Enggak mau! Bahaya, bakal cepat datang bencana, bukan keberuntungan. Waahhh! Secara gitu loh! Semua persoalan masih hitam di atas pelangi buram, itu akan terjadi akumulasi di luar tafsir, bisa mungkin akan terlihat sesungguhnya, termasuk kajadian kepakaran akumulatif relatif itu? Dodol! Kelinci terlihat berbulu harimau belang. Kalau main mata bisa langsung kelilipan dong! Bongkar! Menuju cermin langit. Gawat! Ogah. Enggak jadi!”

Lalu dengan kesal dia bilang kepada telinganya. “Telinga! Dengar ya baik-baik. Aku tidak akan menjualmu, atau menukarmu dengan apapun. Tidak. Kau jangan senang dulu ya telinga. Sekali lagi. Aku tidak akan menjualmu dengan cara apapun”, dia berteriak sekeras-kerasnya kepada telinganya sendiri.

*

Musim perang-perangan sedingin batu es, membuat cuaca gonjang-ganjing, dunia masih belum bisa tidur lelap. Ketika dia berpapasan dengan makhluk jejadian lain, juga tengah lalu-lalang di sepanjang jalan itu, mendadak ada suara menegurnya, agak ngeledek sih.

“Loh! Kamu-kan? Makhluk pembual itu kan? Iya kan! Benar kan? Mau jual kuping enggak jadi. Iya kan?”

Si-Siasat, tidak punya jawaban, terpana diam. Dia mendadak seperti pikun agak linglung, tak tau harus jawab apa. Dia memilih diam meski mulutnya ingin meludahi makhluk sial, di hadapannya. Dia benar-benar mendadak bisu.

“Tidak punya jawaban ya. Malu ya. Saudara, masih punya malu Bung?”

Akan tetapi, Si-Siasat, harus mengatakan persoalan sesungguhnya, hal itu memeras perasaannya sekaligus isi otaknya sebadannya. “Entahlah menurut anda, kita berada di benua mana sih?” Sepintas agak terdengar merengek tapi Si-Siasat, segera malih rupa.

“Hahaha. Pura-pura linglung ya. Agar saya tak tega melihat saudara, lantas saudara memancing saya, agar tak tega minta potongan harga dari anda? Karena saudara pura-pura pikun, gitu yaa.”

Ada banyak hal tidak dia setujui dari ucapan makhluk jejadian di hadapannya itu, hih, bahkan wajah rupa bentuk dari makhluk itu lebih jelek dari dirinya. Semisal kata, ketika mekanisme urakan baru saja muncul dari konsonan kata makhluk jejadian itu, sungguh bukan merupakan diksi dialogis bermanfaat, mengakibatkan serempetan bumper, jika sungguh hal itu terjadi dalam proses kehendak taklimat berpikir anonim, setara perubahan iklim dalam komposisi orkestrasi opera peradaban jungkir balik. “Wahh!” Batin Si-Siasat terbelalak menguap.

Mungkin pula akibat cermin langit semakin lebar, makhluk jajadian semuka bumi terkaca di angkasa, pemantik ozon bolong pemantik neraka memanas, nyaris akan mengguncang planet bumi pada waktunya kelak, isu itu telah mempercepat api neraka bergolak lebih mengerikan akibat pengkhianatan kamu siluman, dalam suatu perdebatan sengit dengan raja iblis mastodon bara api, sebetulnya untuk memanggang tape bakar pun tak jua matang, hihihi, tapi itulah kaum siluman-iblis, tetap sombong. “Walah! Weleh euy!” Benak Si-Siasat.

*

Ketika planet bumi, seolah-olah pula berputar setara, dekonstruksi ekosistem, mungkin, akibat eksplorasi berlebihan dari keinginan hidup-materialisme individualisme setara nuklir, tak peduli hajat hidup bersama di kolong langit, keserupaannya, tak akan seindah kisah susastra drama, ‘Nyanyian Angsa-Anton P. Chekov’, di ranah putaran abad lagu opera peradaban.

Mungkin pula, guncangan planet bumi, tengah bertujuan, mengingatkan, pentingnya, menjaga ekosistem. Sampah plastik di lautan, gemerlapan bagai logam berkilat dari angkasa, sampah konsumtif pengikis erosi lingkungan hijau. Si-Siasat, sebagai makhluk jejadian, sungguh semakin tak mampu menjawab pertanyaan, makhluk dihadapannya itu.

“Loh! Saudara ditanya malah bengong. Gimana sih!”

Si-Siasat malah balas bertanya. “Aneh nggak sih? Semisal, dalam kisah fiksi, ada makhluk jejadian tak bertelinga? Tak mendengar apapun, tapi melihat, namun apa daya kasih tak sampai. Apakah, wusss gitu?”

“Saya kasih saran ya. Sebaiknya anda memeriksakan diri ke ahli perilaku pikiran. Ceritakan secara rinci pola dari pikiran anda. Apa sesungguhnya kemauan sel-sel otak saudara, berbanding lurus dengan kaca-kaca di langit. Selaku makhluk jejadian, secara keilmuan. Paham kah saudara maksud saya?” Sambil berkacak pinggang meski celananya sedikit kedodoran.

Si-Siasat cengar cengir, lantas dia menyergah cepat. “Pertanyaan ini tidak ada jawabannya dipikiran saya. Hal tersebut tak berguna juga dipikirkan, kecuali menyoal telinga anda atau telinga saya. Demikian Bung? Itu jawabannya.” Si-Siasat mempertegas.

Jawaban dari Si-Siasat, cukup menggetarkan makhluk jejadian itu, sembari membenahi dirinya, sedikit menarik simetris celananya, meski tetap seperti semula, setelah menyulut penasaran kepada Si-Siasat. “Oh! Saudara, ingin tetap meneruskan perdebatan ini dengan saya? Baiklah. Begini Bung, disimak ya. Ketika konseptual mengalami perubahan terus menerus, ditemukan atau tidak jawaban itu, baik secara filosofis atau pun-non, dalam tanda petik koma, sebagai makhluk serupa, sekelas tuyul atau apapun istilahnya, terserah. Anda? Saudara maksud saya, jawaban anda, sungguh tak memberi manfaat.”

“Jadi kita berdebat nih! Oke. Pertanyaan aneh dipikiran anda, Bung. Akan terus ada. Bagaimana caranya, anda akan mendapatkan kuping saya dengan potongan seperti pada umumnya kan, seharga cukup signifikan, lewat jalur gratifikasi ataupun jalur tuyul. Bukan begitu maksud saudara?”

Makhluk jejadian lain itu kembali dengan gagah, melakukan sanggahan. “Itu dekadensi, represif pada masalah belum jelas benar. Saudara mudah sekali mengatakan, dalam suatu etos heroik berbalik kronik, atau sebaliknya, begitukan maksudnya? Ahai! Anda memang luar biasa. Piawai bersilat lidah Bung. Sedangkan opini salah kaprah mengarang di angkasa, menghindari ketakutan, gemetaran, pada persoalan opsi versus diskursus opsi”, melihat Si-Siasat mengernyitkan dahi, langsung menyergah lagi. “Saudara? Terlihat jelas sedang, bingungkan? Ngaku aja deh. Jangan gengsi-an dong, malu sama langit!”

Dengan kesal super gondok, Si-Siasat, tadinya akan langsung menyergah-menghardik, namun tak jadi, dengan santai suara mengalir dari kerongkongan Si-Siasat. “Begini saudara. Apakah perdebatan ini berguna? Jika ditinjau dari sisi filosofis mau pun sebaliknya. Hal tadi, telah anda maksudkan itu, telah menjadi perdebatan di kancah neraka, menimbulkan pengkhianatan siluman, pada raja iblis mastodon bara api, akibat titik temu tak memukau jawaban. Apakah saudara paham, atau perlu saya jelaskan dengan memakai bahasa planet lain?”

“Ooh wualah! Filsafat, tidak memerlukan jawaban, tapi pencarian makna tanpa henti. Silakan saja, jika ingin menilik, masalah seruwet pikiran anda semiring itu, bahkan terasa terlalu diagonal, serupa garis imajiner pada teori ruang, bisa merubuhkan bisa menguatkan. Di situ letaknya, titik penumpu, opini dari berbagai opsi. Tak mungkin jadi mungkin, atau, sebaliknya.” Kembali makhluk itu, memperbaiki celananya masih bolak-balik melorot, terlihat kedodoran.

Perdebatan keduanya semakin tak terukur, semakin jadi benang kusut, seruwet polusi nuklir dunia, di arena pandemi sampah plastik.

Jakarta Indonesia, 1 Oktober 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here