Home BERITA Sunaryo, dalam “Lawangkala” dan Hakekat Kemanusiaan

Sunaryo, dalam “Lawangkala” dan Hakekat Kemanusiaan

573
0
Sunaryo dalam 20TH Anniversary of Selasar Sunaryo Art Space - SSAS, Bandung, Indonesia /dokumentasi pribadi

“Mata waktu” terus memandang ke arahku. Terus bergerak sambil mendesakkan pertanyaan, tentang kekinian dan masa datang, lalu diantara keduanya makna keindonesiaan seperti apa yang bisa kutorehkan?

Mata waktu adalah saksi mata, tentang keinginanku menemukan nilai dan kesadaran manusia tentang hakekat hubungan yang fana dan menjadi kekal.

Hubungan yang akhir-akhir ini begitu pelik, sebagaimana kulihat dalam banyak peristiwa kemanusiaan di tengah realitas politik. Dibawah tatapan sang waktu, orang-orang tak bisa lagi membedakan mana yang fana dan yang kelak menjadi kekal. Atas nama marwah identitas, golongan, kefanaan diperjuangkan seakan adalah sesuatu yang kekal. Padahal sejarah atau realitas sosial politik senantiasa berlangsung di bawah kuasa nyata waktu yang berubah, berproses.

Perubahan adalah hukum besi sejarah. Ironisnya demi memperjuangkan itu tak sedikit orang rela memusuhi kawan, kerabat, bahkan persaudaraan dalam kemanusiaan. (Sunaryo, 17-8-18)

SENI.CO.ID – Pada ulang tahun yang ke 20, Selasar Sunaryo Art Space Dago Bandung menyelenggarakan program spesial bekerja sama dengan IndoArtNow, pameran tunggal Sunaryo dengan tajuk Lawangkala yang berlangsung 16 September sampai 23 September 2018 bertempat di Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) Dago Bandung, Indonesia, pameran dikuratori Agung Hujatnikajennong.

“Lawangkala adalah frasa yang hibrid. Jika sains Newtonian membedakan waktu dengan ruang dan objek (massa), maka waktu (kala) di sini justru dibayangkan sebagai ‘objek’ yang menyatu dengan lawang, sebuah pintu atau gerbang. Jika lawang (pintu) kita pahami sebagai elemen yang berkonotasi fisik, yang notabene merupakan bagian dari sebuah ‘ruang’, maka Lawangkala juga berarti sebuah matra yang hibrid, di mana ruang dan waktu menyatu.”

Sunaryo punya gairah berlebih untuk bekerja dengan ruang, terbuka maupun tertutup, sempit ataupun luas, pribadi maupun publik, alami atau industrial, dst. Baginya, ruang adalah medium sekaligus ‘material’ tersendiri.

sunaryo2Dan sebagaimana tercermin pula pada sikap Sunaryo terhadap berbagai jenis material lain, ruang di sini bukanlah sesuatu untuk ‘ditaklukan’, melainkan untuk dihidupkan oleh suatu keterlibatan manusia (dalam hal ini: seniman). Dan seorang seniman, katanya lagi “…tidak seharusnya bekerja untuk mengubah karakter alamiah suatu material, tapi justru untuk membuatnya lebih ‘lantang berbicara’.”

“KITA SERING TIDAK SADAR BAHWA RUANG DAN WAKTU SESUNGGUHNYA SENANTIASA BERSAMA KITA, DAN PERSIS DALAM KEKHILAFAN ITU, KITA MENJADI OBJEK BAGI RUANG DAN WAKTU, SEMENTARA SUNARYO MERANCANG INSTALASI INI SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA KITA, PENONTON SECARA SADAR MENGALAMI RUANG DAN WAKTU ITU SEKALIGUS.”

Kita menjadi subjek, yang diharapkan dapat menyadari, senyampang berjalan menelusuri setiap kelokan terowongan bambu yang berderak-berderik, bahwa kita sedang mengalami sebuah instalasi seni: sebuah ruang dan waktu yang ‘lain’.

“Ada liniearitas yang kuat pada Lawangkala, yang secara subtil menyiratkan cara pandang Sunaryo atas konsep ruang dan waktu: Misalnya, bahwa di dalam ruang dan waktu yang kita alami itu tidak pernah ada ‘rute dan gerak’ benar-benar lurus, dan di dalamnya kita dihadapkan pada ‘perangkap-perangkap’, di mana kita harus memilih dan menentukan sikap (diam, terpaku menatap ilusi arus air, atau bergerak meneruskan ‘perjalanan’). Instalasi ini dapat diibaratkan sebuah lensa mikroskopik yang meneropong sebuah fragmen atau momen terkecil dalam kehidupan manusia.”

sunaryo4 sunaryo3 sunaryo1Pada pameran tunggal Sunaryo yang bertajuk Lawangkala ini, kita diajak oleh seniman untuk mengalami kehadiran ruang dan waktu sebagai ‘objek’ sekaligus ‘subjek’, di Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) yang merupakan realisasi dari impian Sunaryo untuk mendukung perkembangan seni rupa di Indonesia.

Hari ini, sebagai institusi, SSAS telah menjadi salah satu pemain kunci dalam lanskap seni-budaya Indonesia. Secara literal, kata “Selasar” menggambarkan sebuah area terbuka yang menyambungkan satu ruang menuju ruang lainnya. Konsep utama dari “Selasar”, juga merefleksikan tujuan dari ruang ini untuk mempertemukan karya seni pada audiensnya, dan mempertemukan kebudayaan yang berbeda.

Sejak diresmikan 1998 silam, SSAS tak terpisahkan dari sosok Sunaryo, seorang seniman yang lahir tahun 1943 di Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Ia memulai karier artistiknya sejak belajar di Studio Seni Patung, Fakultas Seni Rupa dan Desain institut Teknologi Bandung. Setelah menyelesaikan studinya, di tahun 1975 ia melanjutkan studi marmer di Carrara, Italia. Sekembalinya di Indonesia, Sunaryo kemudian menjadi dosen di alma maternya.

Sebagai seniman, Sunaryo dikenal sebagai pencipta sejumlah monumen publik di Bandung dan Jakarta antara lain yaitu Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (MONPERA) di Bandung dan Patung Jenderal Sudirman di Jakarta. Pengabdian Sunaryo di bidang seni budaya selama hidupnya telah menghasilkan beberapa penghargaan seperti Penghargaan Akademi Jakarta, Lifetime Achievement dari Art Stage Jakarta dan Jogja Biennale tahun 2017 lalu, dan penghargaan Chevalier dans L’ordre des Arts et Lettres oleh Kementerian Kebudayaan Perancis.

Dalam praktek artistiknya, Sunaryo seringkali menaruh perhatian pada isu-isu sosial politik dan lingkungan. Seperti dalam pameran Titik Nadir (The Inferno) yang merupakan pameran peresmian Selasar Seni Sunaryo, nama sebelumnya dari SSAS. saat itu (1998) merupakan masa-masa kekacauan dan nestapa bagi rakyat Indonesia: runtuhnya rezim Orde Baru diiringi krisis ekonomi dan sosial. Alih-alih menampilkan karya-karyanya dengan indah untuk pembukaan, Sunaryo membungkus seluruh karya dan sebagian bangunan SSAS dengan kain hitam.

September 2018 merupakan ulang tahun ke 20 dari Selasar Sunaryo Art Space. Untuk memperingati peristiwa, SSAS mempersembahkan pameran tunggal Sunaryo di Ruang A, Ruang B dan Ruang Sayap. Pameran menampilkan karya-karya terbaru sang maestro berupa instalasi dan karya multidisiplin dari bambu dan bahan-bahan berbasis serat untuk merealisasikan gagasannya tentang kesementaraan, seperti hidup manusia yang hanya selewat saja.

Dan Sunaryo bukan saja piawai membaca semua itu dalam karyanya namun dalam “Lawangkala” ia telah mampu membaca Hakekat Kemanusiaan yang sejatinya terjadi saat ini.***

Laporan Nurdwi Subagyo untuk SENI.CO.ID Editor AHM 

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here