Home MULTIMEDIA Hardiman Radjab di Balai Budaya, (Sebuah Upaya Tak Pernah Padam)

Hardiman Radjab di Balai Budaya, (Sebuah Upaya Tak Pernah Padam)

307
0
Karya Hardiman Radjabberjudul Asian Games 2018/TASCH-2018

 

SENI.CO.ID – Apalah artinya sebuah gerakkan seni atau kebudayaan dalam kaidah dasar niat positif. Jika setelahnya, muncul hanya melayani musim, tanpa upaya tulus mencintai negeri tercinta ini dengan kerja kreatif, peduli sejarah, toleran pada multikultur.

Semisal pada hal paling sederhana. Menjaga lestari gedung bersejarah bernama ‘Balai Budaya’ milik Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Republik Indonesia, gedung tepat guna untuk penyelenggaraan seni budaya. Berbagai bentuk pameran seni, serta aktivitas seni lainnya, juga sebagai ruang temu kangen para pelaku seni-kebudayaan.

Bangunan Balai Budaya, diresmikan oleh, Ketua Badan Pekerja Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional (BMKN), R. Gaos Hardjasoemantri, pada 14 April 1954. Lantas di tahun 1960an, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, memugar Balai Budaya, untuk para pelaku seni-kebudayaan Indonesia, sebagai ruang edukasi-komunikasi. Di tahun 1963 Manifes Kebudayaan menggelegar di gedung itu.

Sejak berdiri, gedung Balai Budaya, di Jalan Gereja Theresia No. 47. Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. Sejarah mencatat antara periode 1950 – 1970, telah berlangsung masa paling aktif berbagai perhelatan seni-kebudayaan antara lain oleh, Sutan Takdir Alisyahbana, Wiratmo Soekito, HB Jassin, Trisno Soemardjo, Zaini, Nashar, Anas Ma’ruf,  Sanoesi Pane, Armijn Pane, Affandi, WS Rendra, Soedjoyono, Umar Kayam, J.E. Tatengkeng, Mochtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, Ajip Rosidi, Taufiq Ismail.

Pada periode 1957 – 1997, telah terselenggara hampir 600 kegiatan seni-budaya. Juga majalah sastra Horizon, dikelola, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Hamsad Rangkuti, pernah berkantor di gedung itu. Lantas generasi berkelanjutan setelah Roedjito, Goenawan Mohamad, Danarto, Remy Sylado dan kawan-kawan.

Berlanjut lagi tongkat estafet pengurus Balai Budaya Jakarta, kepada generasi selanjutnya, antara lain, Cak Kandar, Sri Warso Wahono, Syahnagra Ismail, Isul dan kawan-kawan, telah mengukuhkan Yayasan Balai Budaya, kini, kembali menunggu karya-karya kreatif para pelaku seni di Indonesia.

Ada banyak nama, baik dari masa lampau maupun hingga masa kini, para seniman, budayawan pernah berjasa, bekerja, berkarya di gedung itu. Menghidupkan, memberi nafas makrifat, mufakat, total, ikhlas demi perkembangan seni-kebudayaan negeri nyiur melambai setelah pekik merdeka atau mati.

Fakta, telah menjadi deklarasi kemerdekaan atas nama Putra Putri Indonesia oleh Soekarno-Hatta, menjadi utama dalam gerakan Indonesia Maju – hingga melahirkan Pancasila – UUD 1945, sebagai kontrol ‘absolut’ untuk demokrasi impor itu.

Lantas bergeraklah Putra Putri Indonesia di segala lini sektor. Mengumandangkan ‘Soempah Pemoeda’ di tengah luruhnya badai imperialisme – kolonialisme. Satu hal terpenting selalu diingatkan oleh Soekarno-Hatta, bahwa rakyat Indonesia wajib tetap maju mengibarkan Sang Saka Merah Putih, setinggi-tingginya dimanapun berada.

Maka berkibarlah Sang Saka Merah Putih, Indonesia menjadi anggota ke-60 Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada 28 September 1950. Indonesia setara, di antara bendera bangsa-bangsa lain. Presiden RI, Soekarno, selanjutnya mengumandangkan Indonesia adalah Pancasila, di podium PBB, mewakili bangsanya tercinta.

Terjadilah segala daya upaya, harus terjadi, di tengah masa transisi Indonesia terus maju. Pesta olahraga Asian Games, pertama, pada 24 Agustus – 4 September 1962, di Jakarta Indonesia. Sukses berkelanjutan meski ada saja aral melintang, dalam perkembangan etos kemajuan bangsa. Dengan kekuatan penuh cinta ‘Sang Dwiwarna’ terus berkibar di Nusantara-Indonesia.

Tanpa terasa Indonesia, kembali memanjatkan rasa syukur Nasional pada perhelatan Asian Games 2018, kedua, beberapa waktu lalu sebuah kebanggaan bagi sejarah generasi masa depan, telah berlangsung di Jakarta-Palembang, 18 Agustus – 2 September 2018. Menjadi sukses Nasional untuk Indonesia Unit.

Pada beberapa waktu lalu pula, dengan tema karya-Hardiman Radjab di Balai Budaya (Sebuah Upaya Tak Pernah Padam) adalah salah satu manusia Indonesia, berada di gedung bersejarah itu, bersama kawan-kawan seniman pada 18-25 Agustus 2018, dalam tema pameran besar ‘Indonesia Dalam Perhelatan Dunia’ menebarkan jejaring cinta untuk negeri.

Hardiman Radjab, seniman unik tanpa kata-kata, hanya dengan koper, serta barang-barang bekas, secara kebudayaan, nasionalis maupun historis, dia seniman mumpuni. Saya tak akan membahas karyanya, telah banyak dibicarakan di belantara seni rupa Indonesia.

Hardiman Radjab, bukan tokoh, berasal dari kota Malang, Jawa Timur, bersama koper, barang-barang bekas di masa kecilnya, hanya dengan itu dia mencoba menaklukkan Jakarta Metropolis. Sebuah upaya mencintai negerinya sampai badan terkubur tanah. Salam Indonesia Unit.

Jakarta, Indonesia, September 5, 2018.

Taufan S. Chandranegara, praktisi seni.

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here