Home GALERI Aksara Kayu Agoes Salim ST, Sebuah Catatan

Aksara Kayu Agoes Salim ST, Sebuah Catatan

214
0
Aksara Kayu Karya Agoes Salim ST /Tasch-2018

SENI.CO.ID – Kayu sebagaimana adanya dimanapun, sejak masa purba hingga kini, di hutan natural ataupun hutan metropolis, sosio-adaptif, aplikatif, memenuhi berbagai bentuk kehidupan manusia paralel bersama kebutuhan formal lainnya, dalam kultur arsitektur, sejak tekno purba ke zaman now.

Lantas budaya pikir manusia bertahap lagi, sedikit maju, kayu, mampu menjadi seni produksi-reproduksi, eksplorasi, eksploitasi, kegilaan eksperimental, visual, tekno seni kayu. Seterusnya berkelanjutan di gaya hidup manusia, bersama teknologi di peradabannya. Baik seni ukir atau cukil, hal itu, salah satu bentuk tekno natural, kepurbaan di ranah seni kayu, antara lain loh.

Mengukir, mencungkil kayu. Muncul centong salah satu alat dapur, kayu, mampu menjawab keinginan kehidupan material seni budaya manusia, di habitatnya. Berkembang biak dari kepurbaan menuju modern, konon, hal purba itu modern, pada masanya, kini, hanya kelanjutan dari kepurbaan itu. Jadi, barangkali hal modernisme itupun sekadar-akulturasi saja, tidak hebat-hebat amat.

Agoes Salim ST, dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) lahir, tumbuh di kota pahlawan wanita Kartini, Jepara Jawa Tengah, sekaligus perupa profesional namun Agoes Salim tidak mau disebut pro. Menurut Agoes Salim, pro itu menjadi seni terbatas, tak berani keluar dari zona aman. Menarik untuk digaris bawahi.

“Lantas mengapa dengan si pro itu.” Kami bertanya santai, menikmati kopi sore.

“Membatasi material dibatas deskripsi selera.” Jawab Agoes Salim tegas.

“Loh! Justru selera membentuk seni laku atau tidak laku.”

“Tahu! Saya tahu batas laku dan tidak!” Tampaknya dia agak marah. “Pada

pameran ini saya mau bebas dari dogma pasar macam itu.” Katanya tegas.

“Maksud anda apa.” Kami bertanya santai.

“Saya terbang bebas di angkasa luas diluar dari keterbatasan dunia ide ke dunia

indra atau sebaliknya, bolak balik. Sesuka hati dong.”

“Loh! Nanti karya anda nggak dilirik pasar pembeli loh.”

“Ikhlas.”

“Mengapa Ikhlas.” Mencoba mendesak Agoes Salim.

“Karena kayu tak sekadar materi. Bukan benda mati, tergolek di pinggir hutan ‘illegal logging’ ataupun selokan. Kayu memberi makna multitafsir.”

“Apakah pasar pembeli tahu menyoal multitafsir itu.” Tanya kami.

“Wajib tahu. Multitafsir, dalam arti positif. Itu sebabnya karya seni itu mahal. Itu sebabnya pula saya pameran. Ini edukatif sifatnya.” Jawab Agoes Salim tegas, santai. Tersenyum lebar hehehe.

Wah gawat. Mungkin dan barangkali, itu sebabnya pula harga karya seni menjadi relatif, diperlukan kecerdasan pasar pembeli tampaknya. Agoes Salim, sungguh-sunguh menggaris bawahi dialog dari gagasan sederhana, kayu, memberi makna multitafsir. Lantas dengan serta merta dari gudang karya Agoes Salim, terbuka pintu lebar-lebar, keluarlah gelondongan kayu dalam bentuk rupa-rupa trimatra tak terduga.

Ada, Yani Mariani Sastranegara, pematung, ada Hardiman Radjab, perupa, kami hadir memenuhi undangan Agoes Salim, untuk ngobrol-ngobrol santai, sekaligus menyeleksi karya-karya trimatra kayu natural terbaiknya untuk di pamerkan di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta Indonesia.

Kopi sore kudapan renyah pisang goreng, Terjadilah suasana dialogis rupa-rupa seni dari berbagai arah mata angin. Luas memang gagasan dalam dialog estetika kayu Agoes Salim. Hingga sampai pada pertanyaan sederhana ‘apaan sih seni itu’ obrolan fokus pada materi kayu, hingga kudapan lemper datang lagi.

Hal ihwal bahwa kayu memberi makna multitafsir, sungguh membuat kami tidak masuk ke ranah filosofis seni ruwet, repot oleh tolok ukur formal sejarah seni anu, dari itu ke-itu lagi, tak penting benar, membuat pendidikan seni formal menjadi berkepanjangan, seharusnya bisa dipersingkat. Mengapa? Pelajaran sejarah macam itu mudah didapat di global komunikasi dengan sangat lengkap, di zaman now.

“Contoh sederhana. Lihat bagaimana alam, disebut purba, memberi nilai pada kayu dalam kala tidak terduga, entah berapa lama tekstur ini terbentuk.” Ujar Agoes Salim. Memperlihatkan karya trimatra gelondongan kayu di geletakkan begitu saja, sebagaimana kayu memberi makna multitafsir, natural.

Benar adanya. Muncul di kayu itu niskala nirmana natural. Seakan kayu itu menggambarkan kepada manusia meliuk-liuk membentuk corak beragam rupa, bagai prosa sketsa warna tak sekadar alegori. Barangkali ini bisa juga disebut sensibilitas seksual kayu dengan alam, dalam proses kehidupan sesungguhnya.

Kalau dilihat sepintas tekstur kayu natural itu hal biasa sehari-hari. Justru dari hal biasa sehari-hari, ada hal makna terlewat dari persepsi pikiran tak tercerna secara benar fokus, seakan-akan tampak biasa saja, sesungguhnya menjadi hal bermakna luar biasa, bukan baru atau lama menyoal konsepsi seni anu di seni ini atau itu. Agoes Salim, membukakan pintu, dibalik kesederhanaan kayu ada hal makna multitafsir itu.

Melihat berbagai tolok ukur pemikiran sederhana Agoes Salim, tampaknya seni tak perlu dibikin ruwet, tak perlu sulit secara formal, mendasar, mengenai plastisitas, misalnya, sebab alam lebih cerdas dari manusia, itu sebabnya alam memberi kehidupan.

Lantas ingatan saya seperti ditarik mundur ketika Hardiman Radjab, menggagas pameran bertajuk “Kriya Kayu” karya ikatan Alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ), pada Desember 2017 lalu, di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki. Mereka mampu melewati pasca seni kayu, tak lagi sebagai seni kriya saja, terbatas, dalam sebutan sempit, istilah formal.

Lompatan indra-ide pada daya niskala imajinasi Agoes Salim, menambah khazanah pelajaran pada pengetahuan bebas pilihan, menghadirkan trimatra kayu tidak dalam arti konsep formal, terbatas.

“Multitafsir kayu harus mampu menembus tolok ukur seni trimatra dalam makna konsepsi arti luas, mungkin lebih tepat disebut seni trimatra kayu multi dimensi. Saya akan masuk pada keseimbangan seperti tampaknya. Agar kembali menjadi pertanyaan-pertanyaan. Apakah betul itu keseimbangan.” Ujar Agoes Salim.

“Mengapa demikian.” Tanya kami sebagai tamu.

“Kembali pada kayu, telah memberi makna multitafsir.”

Agoes Salim tampaknya tidak sekadar mendudukan kayu dalam dunia indra-ide, tapi menembakkan imajinasi diluar batas-batas formal itu. Tidak lagi sekadar ruang menyapa kayu atau sebaliknya bolak-balik.

Mungkin. Seketika ruang menjadi indra-ide sekaligus, lantas tumbuh tubuh-tubuh intelegensi berlari bebas ke angkasa menjadi dunia akal budi, eksak sekaligus non-eksak dalam maya lalu-konkret tak sekadar obral obrol bias teoritis, mampet di lembaga bersubsidi birokrasi seni dewa anu, tak penting benar-textbooks.

Mungkin. Ini mungkin loh. Agoes Salim, akan mengedepankan kerja seni; Apakah itu keseimbangan diluar ketidak seimbangan, menjadi seni berpikir bolak-balik.

Menilik bentuk-bentuk karya Agoes Salim, diperlihatkan kepada kami. Mungkin kembali pada kepurbaan gravitasi, menelaah materi titik tumpuan logaritma matematis, sesungguhnya sangat modern, sebelum modernisme marak ditelan mentah-mentah pelajaran seni menjadi seni konsep atau konsepsi seni anu ataupun seni ini atau itu, meski akhirnya kesasar tapi toh “Pokok-ke gue modernisme.”

Maka kami, ketika di studio Agoes Salim; Yani Mariani Sastranegara, Hardiman Radjab. Menunggu keseimbangan naturalis matematis, kayu, dalam makna multitafsir, dari ranah akal budi Agoes Salim, dalam tajuk “Senyawa Kayu II Episode Aksara Kayu” di ruang pameran Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, telah berlangsung beberapa waktu lalu 25 Agustus-3 September 2018. Salam Indonesia Unit.

Jakarta, Indonesia,  2018.

Taufan S. Chandranegara, praktisi seni.

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here