De Javu dalam Lukisan Cat Duko Yuta Inten

De Javu dalam Lukisan Cat Duko Yuta Inten

121
0
SHARE

SENI.CO.ID – Cat duko dan multiplek yang umum dikenali dalam proses kerja industri seperti otomotif atau manufaktur, di tangan Yuta Inten benda tersebut menjadi medium utama dalam ciptakan kaya seninya. Tentutu berbeda dengan cat minyak yang telah menjadi keadaan ideal dalam proses melukis, ungkap Jajang Supriyadi kurator pameran tunggal lukisan ‘De Javu” karya Yuta Inten, berlangsung pada 2-4 Agustus di Gedung Indonesia Menggugat Bandung.

Jajang menyebutkan, kondisi tidak ideal tentu saja bukan selalu karena hal-hal diluar diri seniman. Pada keadaan spesifik merupakan keadaan diri siniman, baik secara fisik maupun psikologis. Keadaan tersebut acapkali tidak dapat ditolak. Yuta Inten berkarya seni dalam keadaan mengidap gangguan focus. Satu kondisi yang secara psikologis mengakibatkan kerja yang menuntut focus. Lalu Bagaimana jadinya, jika seniman tidak memiliki kamampuan tersebut?

Tambah Jajang, dalam prosesnya, Yuta memanfaatkan keadaan cat duko yang diencerkan. Kemudian ditebar secara sporadis pada sisi bagian tertentu bidang panel multiplek yang sebelumnya telah didasari cat warna hitam, sebagian memperlihatkan proses dasar. Sebaran cat duko lainnya lebih implusif, merupakan cara Yuta untuk menjaga agar tidak kehilangan focus.

“Memanfaatkan karakter cat duko yang encer, kemungkinan mengarahkan untuk mengontrol lelehan menjadi laku terjaga yang dilakukan Yuta. Tiap awal peleburan antar cat, Yuta menambahkan kembali sebaran cat baru diatasnya hingga beberapa tahap. Tampak lapisan tumpukan cat pada beberapa bagian, yang pada sisi tertentu justru memperlihatkan ketidakterdugaan visual yang menarik. Sebaran cat mengundang kesadaran instingtif menemukan bentuknya melalui lelehan dan ketidakterdugaan peleburan warna,” jelas Jajang.

De Javu merupakan perasan dimana sutu kejadian yang dilihat pernah terjadi sebelumnya. Sedangkan bagi Yuta de javu bukan semata pernah hadir namun kenyataan sesunguhnya. Sebuah pengalaman yang terus menerus diserap hadir kembali dalam wujud yang perbeda. Pengalaman ini berupa pengalam sepritual dan pengalan edikasi.

“De Javu merupakan bagian dari pengalaman ruh kehidupan kita. Seberapa jauh tingkatan spiritual yang kita sadari? Dari terlahir, mati dan hidup lagi. De javu adalah kenyataan dan saya tidak sedang bermimpi,” ujar Yuta, seniman yang sedang selesaikan S2 Seni Rupa ITB, saat ditemui pada pameran tunggalnya di Gedung Indonesia Menggugat (3/8/2018).

Warna merah dan hitam menjadi pilihan warna dalam lukisan, bagi Yuta warna itu merasa dekat dengan area de javu dirinya. Warna merah ia tangkap sebagai simbol keberanian dan semangat. Hitam lebih menunjukan masa lalu yang gelap dan kesedihan. Walau demikian lukisannya tidak menunjukan kekelaman, namun kekuatan dari warna merah merupakan pancaran cahaya, pacaran energi dan semangat.

Yuta sebutkan dalam membuat karya lukisannya lebih memaksimalkan intuisi. Ia sebarkan cat kesana kemari dan digoyang-goyangkan sehingga mewujud dalam satu bentuk yang menurutnya itu tidak terlahir begitu saja, namun dari sebuah proses yang panjang dari pengalamannya.

“Ketidakterdugaan sebaran dan peleburan antara warna cat, justru menghadirkan tekanan estetik yang berbeda dibandingkan sapuan kuas. Dalam pertimbagan artistik, keterbatasan focus yang dimiliki Yuta dapat diarahkan pada jalan lain dengan mengunakan kesadaran yang dikondisikan,” papar Jajang. *(mang)

Comments

comments

Leave a Reply

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY