Kelompok Seni Rupa de Dada Jakarta & Credo Art Bekasi Pameran di...

Kelompok Seni Rupa de Dada Jakarta & Credo Art Bekasi Pameran di Tokyo

912
0
SHARE
Raden Saleh karya Chandra Maulana

SENI.CO.ID – Kelompok Seni Rupa de Dada Art Studio Jakarta dan Credo Art Studio Bekasi Kembali Meriahkan Kegiatan Asia International Friendship Exhibition and Symposium 2018 di Tokyo Jepang

Pameran seni rupa Asia International Friendship Exhibition and Symposium 2018, tahun ini kembali diagendakan di Eco Gallery, Shinjuku, Tokyo, Jepang pada tanggal 14 s/d 16 Juli 2018. Kegiatan berskala Internasional ini merupakan kerjasama antara Kelompok Seni Rupa ARTLINC. (ART LEARNING INCUBATOR) Jurusan Seni Murni, FSRD ISBI Bandung, Indonesia dengan AACA (ASIA ART AND CULTURE ASSOCIATION), Tokyo, Jepang. Kegiatan ini sponsori oleh PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB). PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) merupakan distributor resmi kendaraan Mitsubishi di Indonesia sejak tahun 1970 dari Mitsubishi Motors Corporation dan Mitsubishi Fuso Truck and Bus Corporation, terus berkembang dengan pesat hingga saat ini. Tahun ini menjadi tahun kedua PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) menjadi sponsor utama dalam kegiatan Asia International Friendship Exhibition and Symposium ini.

“The Representation of Art in Asia : From Traditional to Contemporary” merupakan tema kegiatan pamerannya. Tajuk ini relevan dengan misi dan kondisi seni rupa, untuk melihat dan membandingkan kedua kebudayaan yang sangat luas diranah seni rupa kontemporer Indonesia saat ini.

Menurut Agus Cahyana (Kurator Pameran) The Representation of Art in Asia : From Traditional to Contemporary dapat diartikan sebagai salah satu cara untuk dapat menghadirkan kembali nilai-nilai warisan budaya tradisi Indonesia dalam konteks kekinian melalui karya seni rupa. Dalam hal ini interpretasi warisan nilai bisa dituangkan dalam bentuk ide, rupa atau medium yang dihadirkan lagi sesuai dengan semangat zamannya sehingga menghasilkan karya yang mencerminkan persilangan warisan budaya masa lalu, masa kini, dan imbas dari budaya global.

Pada tahun ini kegiatan Asia International Friendship Exhibition and Symposium 2018 kembali dimeriahkan oleh keikutsertaan seniman-seniman profesional Chandra Maulana, Yeni Fatmawati, Fifi Rahmi Oktini, Edwin Makarim, Ranny Saraswati dan Cut Dewi Fransina Yoesoef yang tergabung dalam Kelompok Seni Rupa de Dada Art Studio Jakarta dan Credo Art Studio Bekasi.

 

Chandra Maulana
Chandra Maulana
Raden Saleh karya Chandra Maulana
Raden Saleh karya Chandra Maulana

Chandra Maulana dengan dua karya lukis, salah satu karya lukisnya yang berjudul “Raden Saleh” menggunakan teknik pointilis yang mengangkat sebuah konsep karya tentang salah satu tokoh seni rupa Indonesia Yaitu Raden Saleh salah seorang seniman modern pertama di Indonesia.

Yeni Fatmawati
Yeni Fatmawati
Rumah Gadang Karya Ranny
Rumah Gadang Karya Yeni Fatmawati

Yeni Fatmawati juga menampilkan dua karya lukis, salah satu lukis berjudul “Rumah Gadang” mengangkat konsep rumah tradisional (Indonesia: Rumah adat) dari Minangkabau (juga dikenal sebagai Minang atau Padang), etnis kelompok pribumi ke dataran tinggi Sumatra Barat, Indonesia. Arsitektur, konstruksi, dekorasi internal dan eksternal, dan fungsi rumah mencerminkan yang budaya dan nilai-nilai Minangkabau.

Fifi Rahmi Oktini
Fifi Rahmi Oktini
“Melasti”
“Melasti” Karya Fifi Rhami Oktini

Fifi Rahmi Oktini dengan dua karya lukis, salah satu karyanya berjudul. Melasti adalah upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi oleh seluruh umat Hindu di Bali. Upacara Melasti digelar untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan.merupakan ungkapan dan rasa kasih yang tiga terbatas.

Edwin Makarim
Edwin Makarim
“In The Arms of An Angel” Karya Edwin Makarim
“In The Arms of An Angel” Karya Edwin Makarim

Edwin Makarim dengan dua karya lukis, salah satunya berjudul. Dengan konsep menggambarkan cinta dan kasih sayang antara ibu dan anak. Kasih sayang Ibu dan anak adalah kebiasaan di Indonesia, anak diberikan kasih sayang dengan cara di gendong menggunakan kain batik tradisional. Kain batik tradisional sangat multifungsi bisa digunakan untuk apa saja.

Ranny Saraswati
Ranny Saraswati
Ranny Saraswati dengan karya "Balinese Dancer"
Ranny Saraswati dengan karya
“Balinese Dancer”

Ranny Saraswati dengan dua karya lukis berjudul “Balinese Dancer”. Konsep dari karya ini adalah mengenai Tari Bali. Tari Bali yang dikenal dengan semangat, warna-warni kostum dan gerakan tubuh yang tepat dan lain sebagainya. Gerakan yang sangat membutuhkan kekuatan fisik, dan ada banyak perhatian terhadap detail dalam Tari Bali.

Fransina Yoesoef
Cut Dewi Fransina Yoesoef
Cur Dewi Fransina Yoesoef "Papayas Leaf Batik"
Cut Dewi Fransina Yoesoef
“Papayas Leaf Batik”

Terakhir Adalah Cut Dewi Fransina Yoesoef juga dengan dua karya lukis, salah satunya berjudul “Papayas Leaf Batik”. Konsep dari karya ini adalah mengenai pembuatan motif batik yang distilasi menjadi sebuah motif batik. Motif yang nampak ini merupakan hasil dari stilasi daun pepaya dan kemudian diberikan tambahan ornamen dekoratif dalam bentuk ornamen lain seperti buah-buahan atau ukel-ukel. Diambil dari pohon pepaya yang tumbuh di Imogiri (Jawa Tengah) dan daerah sekitarnya.

Hadirnya kontribusi sponsorship dari PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) serta partisipasi dari kelompok Seni Rupa de Dada Art Studio dan Credo Art Studio diharapkan dapat menjadi motivasi untuk memeriakan dan menesukseskan kegiatan Asia International Friendship Exhibition and Symposium 2018. Kegiatan ini tidak sekadar bentuk intepretasi para perupa terhadap budaya Indonesia semata, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan sekaligus pernyataan terhadap identitas Ke-Indonesiaan yang unik dan selalu menjadi kebanggaan tiap anak bangsa dalam kancah pergaulan internasional. Dengan keyakinan bahwa nilai-nilai dalam budaya tradisi nusantara akan selalu dapat diwariskan sesuai dengan bentuk dan konteks zamannya. Bravo!Asep Miftahul Falah

 

Comments

comments

Leave a Reply

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY