Portal Ekonomi Kreatif “Patrakomala” Diluncurkan Disbudpar Kota Bandung

Portal Ekonomi Kreatif “Patrakomala” Diluncurkan Disbudpar Kota Bandung

163
0
SHARE
Kadisbudpar Kota Bandung Dewi Kaniasari memaparkan portal “Patrakomala” /AGP

SENI – Disbudpar Kota Bandung pada 3 Juli 2018 mengadakan acara Soft Launching Portal Ekonomi Kreatif “Patrakomala” di Aula Bandung Creative Hub Jalan Laswi Kota Bandung dan Grand Launchingnya akan digelar bulan September saat festival Hachcaton.

Hadir dalam kesempatan tersebut Kadisbudpar Kota Bandung Dewi Kaniasari, Kepala Seksi Pengembangan  Kreatif dan Teknologi Media Mega dan para pelaku ekonomi kreatif Bandung.

Mega memaparkan “Patrakomala”  adalah Portal yg diinisiasi Disbudapar Kota Bandung untuk mewadahi para pelaku industri kreatif dan pelaku ekonomi kreatif d kota Bandung.

“Fungsi portal selain mengumpulkan data base juga hasil  pengumpulan data base itu akan dipetakan untuk dijadikan kebijakan oleh pemda,” ujar Mega kepada media Selasa, (3/6)

Mega menjelaskan latar belakang melakukan pendataan di portal “Patrakomala” ini  adalah untuk mewadahi para pelaku  industri kreatif yang mempunyai nilai tambah tapi tidak punya pasilitas, maka dalam hal ini Dispudbar Kota Bandung menyediakan pasilitas  dengan menggunakan sistem A.P.I (Application Program Interface).

Sementara itu  Kadisbudpar Kota Bandung Dewi Kaniasari menjelaskan yang melatarbelakangi  pihaknya  ingin melakukan pendataan adalah karena pada saat Bidang Ekonomi Kreatif (ekraf) bergabung deng Disbudpar di awal 2017 data basenya masih kurang, terakhir dilakukan data base untuk pelaku ekonomi kreatif di Kota Bandung ini pada tahun- 2015-2016 oleh bagian perekonmian,

“Saya minta ke kepala bidang ekraf untuk melakukan data base memakai IT sekalian bikinkan portal dan aplikasinya,  selain data base yang kita butuhkan juga pemetaannya di setiap wilayah  Jadi dari 30 kecamatan yang ada di Kota Bandung ini apa saja sih untuk ekrafnya, ekraf kan ada 16 sub sektor yang menurut para pengamat dari 600 sektor ini semuanya ada di Kota Bandung. Jadi hal inilah yang saya prioritaskan di tahun 2018 yaitu data base dan maping,” paparnya.

Kegiatan data base dan maping ini berpararel juga dengan kegiatan-kegiatan nyata lainnya di kewilayahan nah kegiatan nyata ini salah satunya ingin menjawab pertanyaan bahwa selama ini perhatian pemerintah  untuk para pelaku  ekraf kurang.

“Insyaalloh ke depannya selain melakukan  pendataan dan pemetaan (mapping) kita juga akan mengadakan pelatihan-pelatihan diantara e-comers,” tambah Dewi.

Kegiatannya akan dilangsungkan tanggal 5 Juli dengan mengambil sub sektor fashion yang memang potensinya sangat luar biasa dari Kota Bandung, kegitan pelatihan ini bekerja sama dengan ekraf dan alibaba.com

“Kita lakukan pelatihan sub sektor fashion secara rutin. selain itu kita ingin pertontonkan (showcase) hasil kreatifitas anak-anak Kota Bandung pengemasannya kedalam festival dan rencananya bulan September nanti akan dipertontonkan 4 sub sesektor fashion,  musik, film, dan kuliner,” lanjutnya.

Menurut Dewi yang pasti pihaknya ingin  ingin memperlihatkan  bidang ekraf disbudpar bisa menjangkau lagi ke graasroot. Di kewilayahan pihaknya tidak hanya bicara tataran wacana saja tapi harus melakukan  pembinaan internal di Kota Bandung agar produknya berkualitas dan bernilai ekonomi tinggi,

“Para pelaku ekonomi kreatif silakan datang ke disbudpar Kota Bandung  untuk kita sharing ide  sharing info, bicara berbagai macam hal, karena Disbudpar Kota Bandung mah hanya fasilitatior saja.  kita tidak tahu ide-ide kreatif teh nu kumaha,  justru para pelaku dan kominitas yang tahu kita memfasilitasi mumpung bidangnya ada. Nah kalau yang tak sempat ke Disparbud Kota Bandung kunjungilah portal si Patrakomala, disana sudah ada data para pelaku ekraf ini,” ajaknya.

Data  menurut Dewi akan  dijadikan data untuk bahan kegiatan ke depannya dan Dewi memastikan tidak ada kendala anggaran karena pihaknya sudah kolaborasi dengan akademisi, pebisnis, swasta, komunitas pemerintah kota dan instasni terkait serta media.

Masih kata Dewi dukungan semua fihak unttuk memajukan ekraf di Kota Bandung, “Karena  pariwisata Kota Bandung hanya berbasis budaya dan ekraf, tidak punya andalan pariwisata alam sebanyak yang dipunyai Bandung Barat dan Kabupaten Bandung,”tuturnya lagi

Tentang Logo Bunga Patrakomala

Visi dan misi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif tersampaikan mealalui logo portal Patrakomala yang sesuai dengan karakter bunga itu sendiri. Patrakomala adalah bunga khas Kota Bandung yang harus dilestarikan da diperkenalkan kepada masyarakat luas. Bunga Patrakomala mempunyai ciri khas 4 (empat) kelopak yang menjadi symbol dari pembangunan kepariwisataan Indonesia yang mencakup 4 pilar, yaitu: (1) destinasi; (2) pemasaran; (3) industry, dan (4) kelembagaan. Keempat pilar tersebut merupakan upaya perwujudan azas pembangunan dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan dan kekhasan budaya dan alam, serta kebutuhan manusia untuk berwisata.

Simbol 5 (lima) putik Patrakomala menggambarkan kolaborasi Penta-helix yang merupakan kegiatan kerjasama antar lini/bidang Academic, Bussines, Community, Governmen, dan Media, yang dikenal sebagai ABCGM diketahui akan mempercepat pengembangan.

Patrakomala akan bersinergi dengan sistem dan jaringan yang telah dimiliki oleh Pemerintah Kota Bandung, sehingga sinkronisasi data dapat selalu terhubung dengan baik secara digital dalam induk creativeconomy.bandung.go.id.

Asep GP

 

 

Comments

comments

Leave a Reply

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY