Neo Asia Neo Japan, Japan-Indonesia International Friendship Exhibitions

Neo Asia Neo Japan, Japan-Indonesia International Friendship Exhibitions

483
0
SHARE
Suasana Pameran “Japan-Indonesia International Friendship Exhibition, dengan tema Neo Asia Neo Japan (The Traditional Japanese Art and Culture of Contemporary Art) /AO-SENI.CO.ID

SENI.CO.ID – Event “Japan-Indonesia International Friendship Exhibition”, bertajuk Neo Asia Neo Japan (The Traditional Japanese Art and Culture of Contemporary Art) resmi dibuka oleh Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Dr. Een Herdiani, S.Sen,. M.Hum.

Acara digelar di Galeri 212 FSRD ISBI Jalan Buah Batu No 212 Bandung pada Selasa, 6 Maret 2018. Pameran di Galeri 212 menampilkan sekitar 55 karya seni dari Jepang, akan berlangsung  Jum’at, 9 Maret 2017.

tphPameran Internasional ini merupakan kerjasama antara Kelompok Seni Rupa ARTLINC. (Art Learning Incubator) Jurusan Seni Murni ISBI Bandung dengan ASUMU GALLERY Jepang. Event kerjasama ini telah berlangsung sejak 2014, yang digelar 1 tahun dua kali di Indonesia dan di Jepang. Inilah upaya mengenalkan kebudayaan Jepang dan Indonesia melalui pameran seni rupa. Sebagai catatan tahun ini hubungan Indonesia-Jepang berlangsung 60 tahun.

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya memamerkan karya seni rupa di Galeri 212 FSRD ISBI Bandung. Pada tahun ini mencoba untuk memperluas jejaring dengan semangat silaturahmi mencari alternatif ruang sebagai upaya untuk menunjukan keberagaman karya seni rupa Indonesia.

Izumi Mizuta, Kurator Pameran/AO-seni.co.id
Izumi Mizuta, Kurator Pameran/AO-seni.co.id

Kali ini ARTLINC. Bandung dan ASUMU GALLERY Jepang, menggandeng deDada Studio dan Credo Art Studio untuk melanjutkan rangkaian kegiatan Pameran dan Workshop di Homeschooling Persada Jatibening – Bekasi pada Sabtu, 10 Maret 2018. Kegiatan ini akan melibatkan beberapa Seniman dari Jepang, deDada Studio, Credo Art Studio dan para mahasiswa seni murni ISBI Bandung. Dimana akan dipamerkan sekitar 70 hasil karya seni dari Jepang, deDada Studio dan Credo Art Studio serta karya seni dari mahasiswa seni murni ISBI Bandung dan Pemeran kali ini dikuratori Izumi Mizuta dari Jepang.

jpgisbiSementara itu dalam Pameran kali ini “Topeng Noh” yang dibuat oleh seniman topeng Prof. Yasushi Mizutani menjadi acara utama dari kegiatan Japan-Indonesia International Friendship Exhibition, Neo Asia Neo Japon 2018 (The Traditional Japanese Art and Culture of Contemporary Art).

“Topeng Noh merupakan bukti keberlanjutan seni tradisi yang tetap terjaga dan terus menerus diwariskan pada tiap generasi di Jepang. Penghargaan terhadap nilai tradisi yang mengemuka lewat bentuk topeng Noh telah menjadi inspirasi bagi banyak karya seni kontemporer di Jepang, tidak hanya terbatas pada karya seni patung, tetapi telah mempengaruhi berbagai perupaan produk budaya popular di Jepang, seperti pada animasi, manga, ataupun karya-karya popular lainnya,” papar Agus Cahyana kepada SENI.CO.ID Selesa, 6 Maret 2018.

Prof. Yasushi Mizutani, seniman topeng Jepang/AO-seni.co.id
Prof. Yasushi Mizutani, seniman topeng Jepang/AO-seni.co.id

Yang unik dari Pameran Topeng Noh ini menampilkan 23 karya Topeng Noh dengan berbagai karakter wajah yang berbeda. Karakter wajah yang khas menjadikan simbol kekuatan budaya tradisi Jepang yang mengandung nilai-nilai kearifan dan makna yang mendalam.

Keluhuran budaya tradisi Topeng Noh ini membuat topeng ini begitu istimewa, sehingga tidak semua orang bisa membuat Topeng Noh. Melalui pameran ini, setidaknya memberikan sedikit ‘pencerahan’ mengenai cara memperlakukan seni tradisional yang tetap dijadikan sarana untuk pembelajaran nilai-nilai kearifan yang terkandung didalamnya, sekaligus menjadi salah satu dasar untuk mengembangkan karya seni di masa sekarang. Dengan demikian, karya seni tidak hanya berkutat di wilayah kepuasan estetik dan kesenangan akan keindahan, tetapi juga menghadirkan spirit budaya tradisi yang akan diwariskan pada generasi berikutnya.

Agus menambahkan di Indonesia sendiri, tradisi penggunaan topeng untuk pertunjukan sudah ada sejak lama, seperti di Bali, Cirebon, Dayak, hingga pedalaman Papua. Keberagaman bentuk, karakter, dan fungsi topeng di Indonesia tersebut hanya sebatas untuk dikagumi sebagai warisan budaya yang layak untuk dijadikan tanda mata dari satu wilayah, masih jarang yang kemudian menjadikan topeng itu sebagai sarana pewarisan nilai kearifan lokal serta dijadikan sebagai acuan untuk memunculkan sebuah identitas seni yang unggul.

jpgisbi2“Melalui pameran ini dapat memunculkan kesadaran mengenai pentingnya melestarikan, mempelajari, dan mengembangkan warisan budaya rupa kita yang selalu dapat menyesuaikan dengan semangat zamannya, tanpa kehilangan fungsi sebagai sarana pewarisan nilai-nilai budaya luhur kita,”jelasnya

Pameran diharapkan menjadi motivasi bagi para peserta untuk terus berkarya dengan mengacu pada interpretasi budaya tradisi yang dituangkan dalam inovasi kebaruan sehingga semakin melatih skill kekaryaan dan mempertajam konsep seni rupa saat ini.

Selain itu, melalui pameran yang menginjak tahun ketiga ini dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan perupa dan karyanya kepada seniman, kolektor, dan apresiator seni rupa di Indonesia.

“Kegiatan pameran ini tidak sekadar bentuk intepretasi para perupa terhadap seni dan budaya Jepang-Indonesia semata, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan sekaligus pernyataan terhadap identitas yang menjadi keyakinan bahwa nilai-nilai dalam budaya tradisi akan selalu dapat diwariskan sesuai dengan bentuk dan konteks jamannya,”tandasnya.***

Laporan & Foto-foto Andi Omes  | Editor Aendra Medita

 

 

Comments

comments

Leave a Reply

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY