PENGGELAPAN SEJARAH PUISI INDONESIA (Denny JA Tidak pula Insyaf)

PENGGELAPAN SEJARAH PUISI INDONESIA (Denny JA Tidak pula Insyaf)

1792
1
SHARE
Hikmat Gumelar

Oleh Hikmat Gumelar*)

Denny Januar Ali (DJA) tidak pula insyaf. Terhadap proyek puisi esai yang dia akui direkayasanya, ditembakan berbagai kritik dari berbagai kalangan dan dari berbagai penjuru di tanah air kita. Dan ini terus berlanjut setiap hari hingga kini dari sejak proyek penerbitan 34 buku puisi esai yang serba dibayar itu terendus. Tetapi DJA seperti spink. Dia tetap bergeming. Bahkan mereka yang berbeda pendapat denganya mengenai puisi esai diserangnya. Berbagai stigma negatif ditembakan semau dia.

Misalnya, mereka yang menyoalkan perjanjian kontrak antara pihak perekayasa dengan penulis karena klausul-klausul dalam kontrk itu yang mendikte penulisan puisi dan tanpa klausul pembatalan kontrak distigmanya sebagai orang-orang terbelakang, tidak tahu bahwa di negara-negara maju soal perjanjian kontrak dalam dunia seni adalah hal yang sudah biasa.

Stigma demikian juga ditembakkan kepada mereka yang menyoalkan soal hasutan untuk menulis puisi dengan berorientasi kepada uang dan pembayaran sebagian yang disebut honor sebelum puisi ditulis. Distigmanya bahwa mereka tidak tahu bahwa para penulis besar di negara-negara maju itu hidup kaya raya. Mereka yang menyoalkan kebaruan puisi esai dan basis konseptual proyek puisi esai distigmanya sebagai “penyair dengan mindset zaman lama”. Mereka juga distigma tidak punya ide segar, naif, jumud, antiperubahan, dan sebagainya.

DJA juga merendahkan seluruh puisi Indonesia yang tidak masuk dalam kategori puisi esai yang dia klaim sebagai puisi jenis baru hasil temuannya. Bahkan Khotbah dan Nyanyian Angsa, dua puisi gemilang karya penyair besar W.S.Rendra, direndahkan di bawah puisi-puisi DJA. DJA menyebut puisi-puisinya lebih unggul bukan karena keunggulan unsur-unsurnya dan kerja sama unsur-unsur puisi itu, melainkan semata-mata karena puisi-puisinya sudah diangkat ke layar lebar dan penuh dengan catatan kaki.

Pada saat bersamaan, DJA terus menggelembungkan dirinya dan proyeknya. Misalnya, dia menggelembungkan pembaharuan yang disebut dilakukannya dalam bidang perpuisian di Indonesia sama seperti pembaharuan yang dilakukan dalam dunia perfilman di Amerika Serikat oleh Quentin Tarantino. Berarti jelas dia juga menggelumbungkan dirinya hingga sekaliber Tarantino. Proyek puisi esai disebutnya sebagai gerakan besar puisi esai nasional yang melahirkan angkatan puisi esai dan menghadirkan potret batin Indonesia. Dan, tentu saja, proyek demikian ditegas-tegaskannya belum pernah dilakukan siapa pun di tanah air kita.

Klaim-klaim seperti itu yang berjibun keruan mengganggu para penggiat sastra di berbagai penjuru negeri ini. Mereka mengungkap rasa dan nalar mereka dengan berbagai bentuk. Salah satunya melalui penulisan esai. Salah satu esai yang menyoal proyek penulisan puisi esai terbit di Koran Tempo. Seminggu setelahnya (9-10 Februari), tulisan tanggapan DJA terbit di koran yang sama. Namun, betapa DJA angkuh. DJA sama sekali tidak menyinggung esai yang ditulis penyair Bandung Ahda Imran itu. Padahal, esai itu dengan terang membandingkan proyek puisi esai dengan Gerakan Puisi mBeling yang monumental itu, yang buahnya menunjukkan betapa proyek puisi esai itu kedodoran. Tulisan DJA yang bertajuk Puisi Esai: Apa, Mengapa dan Keunggulannya melulu sibuk menunjuk-nunjukkan apa yang disebut-sebutnya keunggulan dan kebaruan puisi esai dan proyek puisi esai, serta, tak lupa, dia menyerang para pihak yang diidentifikasinya sebagai seterunya.

Di situlah dia kembali merendahkan puisi-puisi Indonesia,termasuk karya monumental Linus Suryadi A.G., Pengakuan Pariyem, dan dua puisi gemilang Rendra itu. Dan, setelahnya, kembali dia mereduksi pendapat-pendapat yang berbeda dengannya. Kemudian para seteru bayangannya itu dia tembaki.
“Ini era ketika marketing sama pentingnya dengan produksi. Ini era ketika marketing sama pentingnya dengan estetika. Dalam dunia industri, sebuah film yang sangat bagus tapi tak laku dan rugi, tak lagi cukup. Marketing harus hadir dalam industri seni.

Demikian tulis DJA. Teranglah dia merendah-rendahkan estetika dan meninggi-ninggikan pemasaran. Alinea setelahnya semakin menegaskan bagaimana dia mendudukkan pemasaran.

“Umumnya penandatangan petisi yang protes adalah penyair dengan mindset zaman lama. Saya seorang entreprenuer, pengusaha, hidup di era ketika marketing menjadi pangeran.”

Setelah mereka yang berbeda pendapat dengannya distigma lagi sebagai golongan orang terbelakang, DJA menulis dengan cara yang menerbitkan bayangan dia berdiri di mimbar, membusungkan dada, mendongakan dagu, dan menyemburkan khotbah, ”Gunakan aneka teknik marketing agar karyamu dilihat orang. Jika tidak, kau akan tenggelam. Menjadi masa silam.”

Tetapi siapa menghina masa silam, dia kehilangan ingatan. Termasuk kehilangan ingatan akan perjalanan puisi yang panjang dan beragam.

Jauh sebelum tulisan dikenal, puisi dan komunitas puitik sudah hidup di berbagai penjuru dunia. Puisi-puisi dan komunitas-komunitas puitik itu saling menghidupi. Puisi-puisi memungkinkan berlangsungnya berbagai ritus penting komunitas seperti ritus daur ulang hidup. Puisi-puisi juga memungkinkan harmoni dengan alam, semesta dan Sang Maha Pencipta. Puisi-puisi juga memungkinkan perdamaian dengan mahluk-mahluk gaib. Puisi-puisi juga menjinakkan binatang-bintang buas yang mengalami hal yang tidak sebagai biasanya. Puuisi-puisi juga memenuhi kebetuhan sehari-hari komunitas. Misalnya, puisi-puisi membantu memetik buah-buahan tertentu untuk dimakan bersama. Puisi-puisi membantu perbeuruan hewan-hewan tertentu baik untuk makanan bersama maupun untuk ternak.

Untuk menjadikan puisi-puisi bisa berfungsi demikian, komunitas-komunitas dituntut untuk memenuhi syarat-syaratnya. Syaratnya yang utama adalah warga komunitas rukun, satu sama lain saling berbagi dan saling menjaga, serta warga komunitas semua mengupayakan agar kesehatan udara tetap terjaga. Kesehatan udara mesti tetap terjaga karena pada masa tulisan belum dikenal puisi dilisankan, bahkan dinyanyikan sehingga puisi pun menjadikan tubuh-tubuh bergerak mengikutinya dan lalu membentuk pola tertentu sehingga lahirlah tarian. Dan, ternyata, upaya menjaga kesehatan udara ini juga menyehatkan tanaman-tanaman dan hewan-hewan, bahkan tanah dan air. Jadilah puisi-puisi berperan signifikan di dalam memakmurkan komunitas-komunitas puitik di berbagai penjuru dunia, juga di dalam pembentukan identitas budaya dan solidaritas sosial komunitas-komunitas itu.

Begitulah kisah perjalanan puisi yang disampaikan Frank Stewart, penyair keturunan suku Indian Cherokee yang merupakan perintis Manoa: Pasific Journal (University of Hawaai Press), sebuah jurnal sastra tentang sastra kontemporer di Asi/Pasifik/Amerika yang cukup berwibawa di Amerika.

Octavio Paz juga menulis cukup banyak, luas, dan dalam perjalan puisi di seluruh dunia. Ihwal perpuisian semasa dengan yang dikisahkan Stewart, penyair peraih Hadiah Nobel Sastra asal Mexico ini antara lain menulis bahwa “pada masyarakat purba: rasa persaudaraan dan kemurahhatian dalam kelompok disampaikan oleh para penyair. Kelompok-kelompok ini sering menjalankan fungsi-fungsi keagamaan dan liturgis. Di antara banyak orang, penyair dipandang memiliki karakter waskita dan juru ramal. Secara luas diyakini bahwa penyair mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, karena ia tahu masa silam. Pengetahuannya merupakan pengetahuan tentang asal-muasal. Dalam masyarakat seperti itu, masa kini dan masa depan sama-sama berfungsi dalam pengertia kata-kata itu; tentang masa silam”.

Paz pun tentu saja banyak pula menulis perihal perjalanan puisi modern. Dia antara lain menulis bahwa puisi modern, seperti juga puisi Purba dan di Timur, “juga mematangkan kelahiran para filsuf. Hampir tidak adapara pemikirbesar yang tidak mengapresiasi puisi, baik diamenulis puisi maupun tidak, baik tulisan-tulisannya diwarnai atau diperindah dengan sanjak atau peribahasa atau pepatah yang dipetik dari para penyair maupun tidak. Ini berlaku dari mulai St. Thomas sampai Machiavelli, Bacon sampai Schopenhauer, Montaigne sampai Karl Marx”.

Ketika puisi ikut mematangkan para filsuf dan pemikir yang berpengaruh besar seperti itu teranglah peran sosial puisi pun besar. Begitu halnya dengan peran puisi terhadap kehidupan pribadi. Paz juga menulis ihwal ini. Menurutnya, “Para penyairmembantu kita untuk memahami apa yang disebut hasrat atau nafsu, dan oleh karena itu membantu kita untuk memahami diri kita sendiri; kedengkian atau iri hati, sensualitas, kekejaman, hipokrisi atau kemunafikan; singkatnya semua kompeksitas dari jiwa manusia.”

Bagi manusia, memahami jiwanya terang amatlah penting. Tanpa memahami jiwanya, seseorang sama seperti kehiangan atau tak berjiwa. Dan manusia tanpa jiwa, orang-orang bilang zombie namanya. Maka, kembali betapa puisi itu menyuntikkan hal yang sedemikian penting bagi hidup manusia.

Bagi manusia Indonesia seperti kita, pun bukan kekecualian. Terlebih jika kita sama mengakui bahwa sebelum terbentuk negara Indonesia, lebih dulu lahir bangsa Indonesia. Penanda kelahiran bangsa Indonesia yang paling monumental ialah peristiwa pamungkas dalam Kongres Pemuda II di Batavia, pada 27-28 Oktober 1928. Peristiwa pamungkas itu tidak lain adalah pengikraran Sumpah Pemuda. Soetardji Calzoum Bachri, penyair besar yang menggebrak perpuisian Indonesia dengan kumpulan puisi radikal O Amuk Kapak, berulang menyebut bahwa Sumpah Pemuda itu adalah puisi.

Tentu bukan puisi tersebut saja yang membentuk bangsa Indonesia. Sebelum dan setelahnya, ada begitu banyak puisi Indonesia yang dengan caranya masing-masing ikut membentuk bangsa Indonesia. Puisi-puisi parapenyair generasi milenial pun banyak yang ambil bagian dalam proses pembentukan bangsa kita. Ini bukan hal yang mengherankan. Yang disebut bangsa itu selalu merupakan bangunan yang belum sudah dan terus berubah.

Puisi Indonesia pun tentu sedemikian banyak yang menghidupkan jiwa-jiwa manusia Indonesia. Dari sejak mula ada, semasih menggunakan bahasa Melayu Pasar, yang didiskriminasi oleh rezim kolonial Belanda dengan sebutan Melayu rendah, hingga di era milenial ini, betapa berlimpah puisi Indonesia yang ikut menjadikan manusia-manusia Indonesia berjiwa.

Semua itu tak pelak membuktikan betapa kergaman puisi dari sejak dahulu kala hingga kini memberi sumbangan tak terbilang terhadap hidup dan penghidupan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai satu bangsa. Dan, meski berdiri sendiri-sendiri, puisi-puisi itu bertalian. Mereka tumbuh dalam dan menumbuhkan tradisi puisi. “Setiap penyair bagai gelombang di atas sungai tradisi, suatu moment bahasa (moment of language,” tulis Paz.

Maka, teranglah masa silam sama sekali bukanlah nonsens. Masa silam memberi sumbangan besarkepada kita untuk menata masakini dan masa depan. “Kehilangan masa silam tidak bisa tidak adalah juga kehilangan masa depan,” tulis Paz lagi.

Bila demikian, kenapa DJA menghina masa silam (sastra Indonesia)? Tulisan-tulisannya ihwal puisi esai, proyek puisi esai, dan angkatan puisi esai memperlihatkan betapa menggelegak hasratnya untuk beroleh predikat sebagai tokoh pembaharu perpuisian Indonesia. Dan predikat tokoh pembaharu perpuisian Indonesia ini kini maunya berarti membawa perpuisian Indonesia masuk ke sistem pasar. Ini tidak gampang karena membawa perpuisian Indonesia masuk ke sistem pasar berarti membuat mekanisme untuk mengorganisir kehidupan bersama dalam dunia puisi Indonesia berdasarkan logika untung-rugi dalam transaksi pasar neoliberalisme.

Padahal, diakuinya sendiri, dia baru mulai menulis puisi pada tahun 2012. Memang dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, DJA salah satu dari 33 tokoh itu. Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwa buku ini akal-akalan DJA. Wajar jika hingga kini pun buku tersebut masih dipersoalkan sisi-sisi gelapnya oleh banyak kalangan. Wajar pula bila DJA tampak benar menggelapkan sejarah sastra Indonesia, khususnya sejarah puisi Indonesia.

Boleh saja dia bilang, kalau menggelapkan sejarah sastra Indonesia, tak akan dia menerbitkan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Namun, buku tersebut justru salah satu bukti dari penggelapan sejarah sastra Indonesia. Dan penggelapan yang kini tengah dilakukannya adalah dengan apa yang disebutnya gerakan puisi esai, yang pula diklaimnya dari rakyat,oleh rakyat, untuk rakyat. Padahal, tulisan-tulisan DJA sendiri memperlihatkan bahwa gerakan puisi esai itu takber lebih jika dikata dari DJA,oleh DJA, untuk DJA.
*) Ketua Institut Nalar Jatinangor

Comments

comments

Leave a Reply

1 COMMENT

LEAVE A REPLY