Home LITERASI CERPEN RUMAH BERHANTU

RUMAH BERHANTU

559
0
ilustrasi

CERITA PENDEK  Virginia Woolf

JAM berapa pun kau terjaga, ada sebuah pintu menutup. Dari satu ruang ke lain ruang mereka berpindah, bergandengan tangan, menutup pintu di sini, membuka pintu di sana, teramat nyata—sepasang hantu.

“Di sinilah kita meninggalkannya,” ujar wanita itu. Dan lelaki itu mengimbuhkan, “Oh, di sini juga!” “Di lantai atas,” gumam wanita itu. “Dan di taman,” bisik lelaki itu. “Tenanglah,” kata mereka, “atau kita akan membangunkan mereka.”

Tapi kalian tidak membangunkan kami. Oh, sama sekali tidak. “Mereka mencarinya; mereka menyingkap tirai gordin,” mungkin dia akan berkata seperti itu, dan terus membaca satu atau dua halaman. “Sekarang mereka telah menemukannya,” dia akan merasa yakin, menghentikan gerak pensilnya pada bagian pinggir halaman buku tersebut.

Dan kemudian, lelah karena membaca, dia akan bangkit dan bicara kepada dirinya sendiri, rumah itu seluruhnya kosong, pintu-pintunya terbuka, hanya seekor murai berdekut samar dan dengung mesin penebah terdengar dari arah perkebunan. “Untuk apa aku datang kemari? Apa yang ingin kutemukan di sini?” Tanganku hampa. “Barangkali apa yang kucari ada di lantai atas?” Buah-buah apel itu ada di loteng penyimpanan. Dan lagi pula di bawah sini, taman itu masih sama seperti sebelumnya, hanya saja sebuah buku telah terjatuh di atas rerumputannya.

Tapi mereka telah menemukannya di ruang yang gordinnya telah disingkapkan itu. Bukan karena dia bisa melihatnya. Kaca jendela di ruang itulah yang telah memantulkan buah-buah apel itu, memantulkan bunga-bunga mawar itu; daun-daun itu seluruhnya berwarna hijau dalam kaca jendela itu.

Jika mereka bergerak di dalam ruangan tersebut, buah-buah apel itu akan menampakkan sisinya yang berwarna kuning. Sekalipun begitu, sesaat setelahnya, jika pintu itu dibuka, menyebarlah di atas lantai, menghampar pada dinding, menggantung bagai anting-anting di langit-langit—apa itu? Tanganku hampa.

Bayangan seekor murai melintas di atas permadani ruangan; dari sumber keheningan terdalam murai itu menyeret suara dekutnya. “Hati-hati, hati-hati, hati-hati,” rumah itu berdegup lirih. “Harta itu terpendam; kamar itu…” degup itu terhenti sesaat.

Oh, apakah harta itu terpendam?

Sesaat kemudian cahaya memudar. Dari arah taman di luar itukah itu? Tapi di sana, pepohonan itu tengah memintal kegelapan dari cahaya matahari yang berpendaran.

Begitu halus, begitu tipis, tenggelam dengan tenang di bawah permukaan cahaya berseri-seri yang senantiasa kucari, yang senantiasa menyala di balik kaca jendela itu. Kematian adalah selembar kaca; kematian ada di antara kita; mendatangi wanita itu lebih dulu, ratusan tahun yang lalu, meninggalkan rumah itu, menutup semua jendela; ruangan-ruangan itu tenggelam dalam kegelapan.

Lelaki itu pergi, meninggalkan rumah itu, meninggalkan wanita itu, pergi ke Utara, pergi ke Timur, menyaksikan bintang-bintang bersebaran di langit Selatan; mencari rumah itu, menemukan rumah itu tenggelam di bawah kemuraman. “Hati-hati, hati-hati, hati-hati,” rumah itu berdegup dengan sukacita. “Harta itu milikmu.”

Angin menderu di jalan besar itu. Pepohonan membungkuk dan merunduk sedemikian rupa. Cahaya bulan memercik dan melebat tumpah di tengah hujan. Tapi cahaya lampu jatuh lurus-lurus dari jendela itu. Lilin menyala kaku dan bisu. Berkeliaran di dalam rumah itu, membuka jendela demi jendela, berbisik agar tidak membangunkan kita, sepasang hantu itu tengah mencari kebahagiaan mereka.

“Di sinilah kita tidur,” ujar wanita itu. Dan lelaki itu mengimbuhkan, “Berciuman berkali-kali.” “Bangun di pagi hari—” “Cahaya keperakan di antara pepohonan—” “Di lantai atas—” “Di kebun—” “Ketika musim panas tiba—” “Di musim dingin bersalju—” Pintu-pintu itu tertutup di kejauhan, dengan bunyi debam teredam serupa bunyi degup jantung.

Mereka datang, lebih dekat; berhenti di ambang pintu. Angin surut, hujan berwarna keperakan, menggelincir di bawah kaca jendela. Mata kami menggelap; kami tidak mendengar langkah siapapun di sekitar; kami tidak melihat wanita itu, yang menanggalkan mantel pucatnya.

Tangannya melindungi cahaya lentera. “Lihat,” wanita itu berkata. “Mereka tertidur lelap. Cinta berada di atas bibir mereka.”

Membungkuk, seraya memegangi lampu keperakan itu di atas kami, mereka menatap, lama dan dalam. Lama mereka terdiam. Sejurus angin berembus; sejurus nyala api lentera itu sedikit goyah.

Cahaya bulan yang deras menyebar melintasi lantai dan dinding, serta menyinari wajah-wajah yang tengah menunduk itu; wajah-wajah yang tengah termenung itu; wajah-wajah yang tengah menelusuri garis paras mereka yang tengah terlelap itu dan mencari kebahagiaan mereka yang tersembunyi.

“Hati-hati, hati-hati, hati-hati,” jantung rumah itu berdegup dengan bahagia demikian rupa. “Tahun-tahun yang panjang—” lelaki itu mendesah. “Sekali lagi, kau telah menemukanku.” “Di sini,” gumam wanita itu, “kita tidur; di taman itu, kita membaca; tertawa, menggelindingkan buah-buah apel di loteng penyimpanan. Di sinilah kita meninggalkan harta itu—” Membungkuk, lampu mereka menyingkapkan pelupuk mataku. “Hati-hati! Hati-hati! Hati-hati!” rumah itu berdegup kencang. Terjaga, aku menangis, “Oh, inikah hartamu yang terpendam itu? Cahaya di dalam hati.”

 

Penerjemah:

Lutfi Mardiansyah, lahir di Sukabumi, 4 Juli 1991. Terjemahannya yang telah terbit: Parabel Cervantes dan Don Quixote (sepilihan cerita pendek Jorge Luis Borges, Gambang: 2016), Pedro Páramo (novel + cerita pendek Juan Rulfo, Gambang: 2016), Pendekar Tongkat Sakti dari Argentina (sepilihan cerita pendek Jorge Luis Borges, Cantrik Pustaka: 2017), Malam Putih (novelet Fyodor Dostoevsky, Octopus: 2017) Cinta yang Mengundang Gelak Tawa (tiga cerita pendek Milan Kundera, Papyrus: 2017), Lelucon-lelucon Ganjil Kiamat Kesusastraan (sepilihan cerita pendek Roberto Bolaño, Cantrik Pustaka: 2017), Panggilan Telepon (sepilihan cerita pendek Roberto Bolaño, Trubadur: 2017), Kealpaan (novel Milan Kundera, Trubadur: 2017), Pesta Remeh-Temeh (novel Milan Kundera, Trubadur: 2017), dan Jalan Miguel (kumpulan cerita pendek V.S. Naipaul, Trubadur: 2018). Saat ini tinggal di Bandung.

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here