Gerakan Sastra, Jabar Tolak Denny JA

Gerakan Sastra, Jabar Tolak Denny JA

379
1
SHARE

Pengantar:

Sebelumnya redaksi sampaikan bahwa akan membuka ruang terbuka seluas-luasnya atas kasus ini. Jadi jika tulisan ini akan bantah-bantahan maka redaksi akan buka lebar sampai menemukan titik temu, yang tentunya titik temu dalam perdebatan umumnya tak akan puas di berbagai belah pihak. 

SENI.CO.ID – Sebuah gerakan sastra datang dari Jawa Barat (JABAR) yaitu gerakan JABAR TOLAK DJA.

Gerakan ini digagas oleh Matdon penyair Jawa Barat Pemimpin Majelis Sastra Bandung (MSB)

Rupanya pantauan SENI.CO.ID pemantiknya adalah Soal puisi esai yang dilontarkan DJA. Namun gerakan ini muncul akhirnya karena punya alasan yang jelas.

“Ini gerakan Edun,” ujar teman-teman seniman di kota Bandung dalam Group WA.

Dalam group WA itu ada sejunlah seniman baik penyair maupun sastrawan, selain Matdon ada Ahda Imran, Acep Zamzam Noer, Hikmat Gumelar dan lainnya.

Kekuatirannya sastra di Jabar ada yang mulai dirasuki, gerakan Jabar Tolak DJA ini tulus.

Matdon mengungkapkan bahwa dalam WAG itu jika teman-teman, group ini dibuat oleh Matdon dan Ahda Imra, dengan maksud bisa menjadi ruang bagi para aktivis sastra di Jawa Barat dalam menyikapi atau saling menukar informasi menyoal gerakan Denny JA lewat puisi esai, sebagaimana ramainya penolakan atas gerakan tersebut. Jika ada teman-teman yang merasa tidak tertarik dengan urusan tersebut, tapi kadung dimasukkan ke group ini, kami mohon maaf, dan kami tidak keberatan untuk keluar dari group.

Namun sambutan makin banyak dan mereka malah menyatakan tidak keberatan kok masuk dlaam Group WA itu.

Uing ngadukung! 👍👍” kata salah satu dari group itu.

Seperti diketahui awalnya ramai di media sosial, gerakan puisi esai Denny JA telah menuai banyak reaksi penolakan. Inti dari penolakan tersebut menyasar pada bagaimana Denny JA telah menggunakan kekuatan modalnya untuk membayar para penulis 5 juta rupiah untuk menulis puisi esai. Gerakan bekerja diam-diam menyebar para orang mirip calo tenaga kerja ilegal, mengajak orang nulis puisi esai dan langsung teken kontrak 5 jt. Di beberapa propinsi tercatat para penulis yang terlibat dalam gerakan tsb (Jabar tidak ada). Gerakan ini semata-mata ditujukan demi makin menguatkan dirinya sebagai tokoh paling penting dan berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia. Ini jelas gerakan atau manipulasi yang culas. Karena itulah wajar muncul berbagai reaksi. Karena itu:
1. Bagaimana reaksi kita terhadap manipulasi sastra semacam ini?
2. Dalam bentuk apa sikap dan reaksi penolakan itu kita nyatakan?

Selain itu ada kasus lainnya Bagaimana tuh penulis profil DJA dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia (2015)? Dibayar berapa ya?

Soal angka bayaran saya yakin tak ada seorangpun di sini yang tahu. Satu-satunya yang banyak orang tahu, gerakan puisi esai yang akhir-akhir  ini berlangsung dibayar 5 jt setiap penulis. Tapi baik kita fokus saja pada isu gerakan DJA yg baru saja, yg dia sebut “Gerakan Puisi Esai Nasional”.

Matdon membenarkan betul tidak etis, dan nafsu Deni JA ingin disebut tokoh juga tak masuk akal. Saya didatangi anak buah (murid) DJA kantor ditawaran.

Dalam gerakan ini ada yang menyuarakan bahwa Tak ada larangan orang bikin puisi esai, atau apapun, rek puisi dangdut, rek sonian, rek ganjaran, mangga, cuma caranya yang memanipulasi untuk ketokohan dirinya lewat gerakan berduit yang culas, semata agar dirinya didapuk sebagai tokoh dalam sejarah-sejarah sastra. Ini sangat berbeda dengan Puisi Mbeling

Hikmat Gumelar mengakatan Bung Ahda, saya kira, ada dua peristiwa historis di Bandung yang berkait dengan DJA: gerakan puisi mbeling dan pengadilan puisi. Yg pertama soal bagaimana lahirnya genre. Yg kedua soal usaha mematahkan apa yg dibayangkan sebagai hegemoni. Keduanya mungkin bisa dijadikan model. Mungkin bisa saja bikin acara dg tajuk “Pengadilan Puisi Esai”. Mungkin.

Kelangsung gerakan JABAR TOLAK DJA ini akan dibahas secara langsung dalam 9 Tahun MSB dalam Tema Komunitas Sastra di Jabar.
Di Studio Jeihan JL Padasuka 143 Bandung. |SN/RED

Comments

comments

Leave a Reply

1 COMMENT

LEAVE A REPLY