Catatan Jakarta Biennal 2017, Merindukan Semsar dan Hendrawan Rianto

Catatan Jakarta Biennal 2017, Merindukan Semsar dan Hendrawan Rianto

495
0
SHARE

SENI.CO.ID – Seandainya Semsar dan Hendrawan Rianto masih ada maka betapa karya kedua yang dipajang saat Jakarta Biennal 2017 di Gudang Sarinah itu mengugah, pasti keduanya akan senyum dan bangga. Atau mungkin juga karya kedua seniman ini akan ada yang baru dan membuat kejutan lain.

Kerinduan pada dua seniman ini berkaitan erat kisah-kisah perjuangan dan tulusnya dengan kisah itu. Terusa terang saya hanya mengenal Semsar lewat karyanya, secara pribadi beberapa kali berjumpa. Dan lihat karyanya lebih banyak saat-saat itu. Namun saya mengenal baik Siapa Hendrawan Rianto, seniman kereamik dari FSRD ITB ini, karena saya sempat bersama-sama dalam diskusi dan bahkan pernah bersama-sama bergantian mengendarai mobil ke Jogajakarta saat Nienal Jogja tahun 1996. Hendrawan senima Keeramik yang mengolah ilmu keramik di Shigaraki Kyoto  memang selain membuat karya kerami belakangan sebelum pergi dia lebih banyak berekpresi dengan performance art.
Biennal1
Poster Marsinah Karya Semsar Siahaan
Melihat karya kedia seniman ini saya punya perasaan emosi dalam soal kenangan. Karya Semsar dalam foto dokumnetasi yang ditata rapi ada kisah dia dalam membuat karya dengan mengali ruang Galeri TIM sangat fenomena. Lukisan-lukisan wujud perjuangan, bahkan poster Buruh Marsinah membawa kita pada kenangan saat itu dalam perlawanan. Marsinah adalah simbol buruh yang tak terbantahkan, ia yang terbunuh  8 Mei 1993 menjadikan poster Semsar fenomena, dan poster karya Semsar yang membuka memori saya dan mengingat bahwa perlawanan saat itu jelas kemana arahnya. Kisah Marsinah telah menjadi sebuah simbol yang telah di munculkan dalam film, musik, teater. Kini Poster Marsinah karya Semsar yang terpajang itu ternyata sudah jadi koleksi Dolorosa seniman Patung rekan Semsar dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Biennal3
Karya Dwi Putro Mulyono (Pak Wi)
Biennal2Hal yang menarik dari event ini juga membawa kita pada ekspresi sejumlah karya yang bukan sekadar liar, nanum nilai estetik yang memiliki unsur – unsur harmoni dan rasa menemukan yang lain dalam Jakarta Biennal 2017 tahun ini. Jakarta Biennal 2017 hampir semua elemen masuk, sastra, musik dan multimedia jelas. Ini respon kekinian menyatu dalam hajatan yang memiliki nilai tinggi dibanding yang sebelumnya. Jakarta Biennal tahun ini membumi, dan mendunia. Karya seniman dari dunia banyak yang mengejutkan dan bahkan memberi warna lain dari peristiwa-peristiwa nyata.
karya Afrizal Malna berjudul "A>L>A>RM"
karya Afrizal Malna berjudul “A>L>A>RM”

Segala perwujudan ada di Jakarta Biennal ini. Misalnya saya terkesima dengan karya Afrizal Malna berjudul “A>L>A>RM”, sastrawan ini berinstalasi mengejutkan dalam box khusus. Video, puing, kerupuk dan bunyi kisah dalam puitika subjektif Afrizal Malan menjelma dalam karya 400x400x240 box itu. Afrizal sedang membuat kisahnya gelisahnya dan ini menarik Afrizal masuk dan tampil di Jakarta Biennal.

Karya Hanafi  "Perkenalan Pertama dengan Bahasa"
Karya Hanafi
“Perkenalan Pertama dengan Bahasa”

Ada juga karya Hanafi “Perkenalan Pertama dengan Bahasa” sebuah instalasi yang interaktif pengunjung bisa mengunakan jaket yang sudah dipasang sejumlah pinsil dan silakan memasuki ruang-ruang dan secara otomatis pinsil-pinsil akan bersentuhan dnegan dindng, sebuah masa lalu mengnggingatkan vandalism kanak-kanak dalam kehidupan awal selalu ingin mencoret diding.

Selain itu ada I Made Djirna yang juga karyanya sangat masif dengan batu-batu peradaban. “Unsung Heroes”  adalah karya instalasi batu apung yang di rajut dan di respon baik dengan pola benda-benda itu seperti dalam peradaban purba. Karya Djirna jelas kuat. Jika lihat lukisan Djirna maka di karya yang tersaji saat ini tak berbeda. Yang membedakan adalah  ruang dimensinya.
Marintan Sirait yang masih dengan karya eksploarai “Membangun Rumah” yang dia garap sejak 1992-1997 / 2017 dia konsisten. Saya pernah memotret karya-karya dia di tahun 1992-1997 itu dan karya fotonya masuk dalam Biennal Sao Paulo. Marintan bukan hanya mewujudkan karya instasli tumpukan tanah-tanah yang banyak dan tersentral satu dalam bentuk bukit, namun dia juga melakukan performance Art. Seni Marintan memiliki dimensi dua satu visual instalasi dan satu tubuh dalam performaning art. 
Biennal8Berbagai media seni dalam Jakarta Biennal ini menarik. Fotografi Rama Surya mengangkat kisah keluarga dalam Essai di Manowari. Ada pula karya Yola Yulfianti di ruang Galeri Ruru dia menampilkan Video tarian delapan lapis dalam 3D. “Pasar Senen Kampung Melayu” kualitas 3D yang simple dan menukik. Penari ini layak diapresiasi karyanya karena memiliki cara pandang beda dan peduli kota. Ini karya menarik dan ada dimensi ekplorasi liar dalam karyanya. Meluapkan segala emosi yang dirasakannya melalui gerak dan visul.
Tak ketinggalan saya melihat karya Siti Adiati dengan eceng Gindok dan Mawar Gold membawa kita pada imaji baru dalam lingkup kehidupan air. Karya ini mengugah kekaguman pengungjung sebab ada di dua center Gudang Sarinah dan juga dua lokasi lainnya di Museum Seni Rupa dan Keramik juga Museum Sejarah Jakarta. Pada Jakarta Biennal ini juga seniman berbagai penjuru dunia terlibat.
Melati Suryodarmo sebagai direktur artistik mengangkat konsep “Jiwa” sebagai gagasan artistiknya dan bersama Annissa Gultom, Hendro Wiyanto, Philippe Pirotte, dan Vít Havránek sebagai kurator, dan mereka telah memilih dan menampilkan karya-karya dari 51 seniman dari berbagai negara.
Salut buat semua kerjanya semoga saja Jakarta Biennal ini akan seperti Venice Biennale yang pameran seni tertua di dunia yang sejak 1895 selalu dirindukan seniman dunia ingin ikut terlibat. Kelak Jakarta Biennale akan segera menyita perhatian para penikmat seni di seluruh dunia. dan sekali lagi saya merasa terobati kerinduan lihat karya Semsar dan Hendrawan. Bravo Biennal Jakarta 2017.
– AENDRA MEDITA
@aendra234

Comments

comments

Leave a Reply

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY