“Communication Breakdown” Karya unik Terbaru Ananda Sukarlan

“Communication Breakdown” Karya unik Terbaru Ananda Sukarlan

1555
0
SHARE
Ananda Sukarlan (Ansuk) dengan latar berjudul "Kegelapan" karya Kukuh Nuswantoro yang merupakan karya pemenang UOB Painting of the Year 2017 Indonesia Award /dok SENI.co.id
SENI.CO.ID – Ananda Sukarlan menampilkan karya baru dan perdananya ditampilkan secara cukup unik, yaitu “menterjemahkan” lukisan berjudul “Kegelapan” karya Kukuh Nuswantoro yang merupakan karya pemenang UOB Painting of the Year 2017 Indonesia Award menjadi musik.
Karya ini dikukuhkan sebagai pemenang dari Indonesia oleh dewan juri yang terdiri dari Agung Hujatnikajennong, Hendro Wiyanto dan Nindityo Adipurnomo. “Kegelapan” akan dikirim ke Singapura untuk berikutnya berkompetisi dalam UOB Painting of the Year tingkat Asia Tenggara awal November ini. Karya musik Ananda yang berjudul “Communication Breakdown” telah diperdanakan pada saat gala pengumuman pemenang di Ballroom gedung UOB, Rabu 25 Oktober yang lalu, dimainkan oleh pemain flute dari Spanyol Carmen Caballero, pemain Fagot Stephanie Marcia dan Ananda sendiri. SENI.CO.ID melakukan wawancara dengan pianis international ini. Berikut wawancaranya:
 
Seni: Apa dasar anda untuk menerima permintaan UOB membuat karya ini sebelum anda tahu lukisannya?
Ananda Sukarlan (AS): UOB memang sudah meminta saya sejak sebelum pemenang dipilih oleh dewan juri dan diumumkan. Waktu saya diminta untuk membuat musiknya, saya sebetulnya galau. Karena saya tidak bisa bilang “tidak bisa” setelah kita tahu karya pemenangnya. Kalau saya mau menolak, saya harus menolaknya sejak saat saya diminta, sebelum pemenangnya ketahuan. Tapi setelah saya pikir, saya mau menerima tantangan itu, karena toh saya selalu “menterjemahkan” lukisan-lukisan atau banyak hal yang saya lihat, baca atau rasakan ke dalam musik. Mungkin ini semacam “anugrah” atau “sisi positif” dari sindrome Asperger yang saya miliki. Nah, apakah saya akan menyukai lukisan itu atau tidak, itu lain hal. Tapi saya terima tantangannya.
 
Seni: Berapa lama anda butuhkan untuk membuat musiknya?
AS: Inginnya sih lebih lama, tapi saya hanya dikasih waktu sekitar 10 hari, sejak juri bertemu untuk menentukan pemenangnya sampai acara gala-nya tgl 25 Oktober lalu. Tapi itu justru membuat saya lebih fokus, tidak sedikit-sedikit bolak-balik ke dapur bikin kopi, nyemil dsb. hahaha …..
 
Seni: Apa yang anda lihat di lukisan pada pandangan pertama, dan bagaimana menterjemahkannya?
AS: Yang terutama adalah warna yang dominan, atau kombinasi warna. Itu menentukan akord-akordnya, serta “suasana” musiknya. Seringkali saya baru dapat mengerti emosi atau ekspresi dari suatu karya seni, baik lukisan, tulisan (baik puisi atau prosa) atau visual art lainnya justru setelah saya terjemahkan ke musik. Kemudian garis-garis serta figur itu menjadi semacam melodi, yang tentu saja karakternya menentukan instrumen atau kombinasi instrumen apakah yang akan memainkannya. Waktu melihatnya, saya mendengar suara fagot dan flute yang kadang saling melengkapi, tapi juga sering saling bertolak belakang.
 
Seni: Bagaimana dengan struktur musiknya, apakah mengikuti struktur lukisannya? 
AS: Nah, ini belum tentu. Begini, kalau lukisan atau visual art lainnya itu menggunakan ruang (space), sedangkan di musik kita menggunakan waktu (time). Jadi “pandangan pertama” ke lukisan itu sangat penting, bisa 2 hal yang terjadi: bagian mana dari detail lukisan itu yang menarik perhatian kita, atau kebalikannya, kita lihatnya secara menyeluruh kemudian kita melihat detailnya. Untuk lukisan figur, seperti Monalisa (karya Leonardo da Vinci) misalnya, biasanya yang pertama lah yang terjadi, tapi di lukisan “Kegelapan” ini yang kedua. Kita tangkap dulu keseluruhannya, baru melihat detailsnya. Nah proses inilah menjadi linimasa dari karya musiknya. Karena saya melihat bahwa tema yang mendasar adalah kegagalan komunikasi, saya jadi ingat lagu Led Zeppelin tahun 70an, “Communication Breakdown”. Musik saya pun saya beri judul itu jadinya. Saya mengambil motif ritmiknya dari situ jadinya, dan ada quotation lagu aslinya 3 birama di tengah. Tapi musiknya saya akhiri dengan motif dari Beethoven Moonlight Sonata, yang menggambarkan suatu harapan akan keindahan dari sesuatu yang sudah ada sejak dahulu, tapi kini kita kehilangan.
 
Seni: Apa kesan anda terhadap lukisan itu setelah anda melihatnya secara seksama?
AS: Hahaha …. itu situasi yang cukup lucu sih, saya kira lagi-lagi karena sindrome Asperger saya. Saya sih merasakan kuatnya karakter lukisan “Kegelapan” itu. Tapi saya tidak menyadari betapa “mengerikan”nya lukisan itu sampai setelah saya menyelesaikan musiknya. Musik saya sendiri, setelah saya baca partiturnya dari depan sampai belakang, cukup …. apa yah ….klaustrofobik, mungkin. Memang sih menurut mas Kukuh, itu tentang kekacauan, tapi kan kekacauan di seni itu harus terstruktur. Kita tidak bisa asal kacau saja. Selain itu, setelah musiknya bunyi di kepala saya saya jadi sadar bahwa warna keseluruhan lukisan itu sebetulnya bukan “gelap” tapi “pucat”, karena yang bunyi ternyata bukan akord misalnya mayor (yang biasanya “cemerlang”), minor (nah, ini lebih “gelap”), tapi akord lain lagi yang tidak ada namanya. Bunyi akord itu, kalau saya mesti katakan dengan kata-kata, ya “pucat”. Buat saya sih ini sebuah discovery yang cukup surprising, karena biasanya saya tidak pernah memakai harmoni dan akord seperti itu. Sedangkan hal lain lagi adalah tidak adanya progresi akord, dimana akord “berjalan” dari satu akord ke berikutnya. Ini ada beberapa akord yang pucat yang kemudian saling bergiliran dan permutasi saja, dan inilah yang memberi kesan klaustrofobik karena musiknya seperti berputar-putar saja tidak berarah.
 
Seni: Lukisan apa saja yang telah anda buat jadi musik sebelum ini?
AS : Lumayan banyak sih, tapi belum pernah dari pelukis Indonesia. Antara lain ada “Bacchus & Ariadne”, yang saya tongkrongin terus di National Gallery of London, terus “Ixion”nya Jose de Ribera di Museo del Prado di Madrid yang juga sering saya kunjungi. Yang lebih kontemporer, terakhir adalah karya saya “Annanolli’s Sky”, itu berdasarkan sejumlah lukisan (jadi bukan satu lukisan tertentu) Tero Annanolli, seniman Finlandia. Di seluruh karyanya sampai sekitar 2 tahun yang lalu itu ada karakteristik yang sangat kuat dari caranya melukis langit (menggunakan bahan kanvas tersebut sebagai elemen penting, kadang-kadang), yang sangat menginspirasi saya.
Seni: Sudah dipagelarkan di Indonesia kah “Annanolli’s Sky”?

AS: Baru nanti tanggal 10 Desember di Jakarta, untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan Finlandia. Konser ini diadakan oleh Kedutaan Finlandia dan mendatangkan musikus Finlandia juga. Karya itu sebetulnya diminta oleh International Competition for Chamber Music di Arnuero, Spanyol 3 tahun lalu dan telah dimainkan di beberapa negara. Pokoknya waktu itu saya diminta untuk membuat karya untuk piano dan kuartet gesek, temanya bebas. Nah karena saya baru datang, terkagum-kagum dari pameran Annanolli dan bertemu pelukisnya, musik saya otomatis datangnya dari banyak kreasinya dia. |ATA/SN

Comments

comments

Leave a Reply

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY