Sejarah Buruk Sebuah Festival Film

Sejarah Buruk Sebuah Festival Film

387
0
SHARE

SENI.CO.ID – Mungkin inilah dalam sejarah sebuah

Festival Film yang terburuk di dunia. Kenapa begitu?

Saya punya pengalaman banyak mengahadiri festival film dan film-film rata-rata film yang tersaji adalah film kualitas yang sangat jelas dan alurnya memakai struktur dramatik yang jelas pula.

Bahkan tanpa menyepelekan atau memfitnah pihak-pihak yang berbeda, baik ras, agama, atau bahkan persoalan tradisi.Festival film umumnya lahir dan kuat dari lokal jenius bahkan.  Di Festival US-ASEAN yang setiap dua tahun sekali diadakan di Washington DC Amerika pada tahun 2005 saya diundang dan hadir disana.

Kebanyakan festival ini filmnya kuat tanpa menyudutkan pihak-pihak lain.Kekuatan film festival umumnya riset sebagai kekuatan dan narasi yang jelas.

Selainnya lainnya film jika itu dokumenter ya harus integrated dan bahkan secara kekuatan narasi film-film yang dihadirkan terkuak konsep yang dalam dan sublim.

Para dewan juri pun yang dilibatkan umumnya di festival ini harus independen dan paham tentang apa itu sejumlah pengetahuan ilmu, terlepas dari subtansi teknik film.

Umumnya juri lebih independen bahakan tak ada kaitan dengan film yang diikutkan festival.

Nah kenapa saya ingin bahas ini, karena saya tergelitik atas kasus besar. Ya kasus besar bagi saya sih, sebab ada keanehan sebuah festival yang jurannya adalah disinyalir juga benar produser film yang menang, bahkan di jurinya juga  dari lembaga yang mengelar festival itu. Inilah yang saya sebut sebagai sejarah buruk Festival Film di dunia.

Sangatlah tidak beres dan preseden bagi film festival. Ada yang uniknya dalam sosmed bahwa ini semakin ramai. Misalnya sejumah akun berkicau antaralain:

Sebagai berikut:  Akun @Zaman_Akhirr  menulis  Jika benar Woowww… ini producer nya Perwira lagi. Bukan ecek2. Malah ini akan bikin citra @DivHumasPolri terpuruk.. inilah kalo kebanyakan makan uang haram ! akun ini juga melampirkan fotonya.

 Lain dengan Akun @CanDigawai  menulis: Kl benar produser film itu polisi, knp diikutkn  di festival film polisi? Juara pula. Dr sini aja perlihatkan ada yg gak patut. Kongkalikong?

Masih dari akun @CanDigawai mengakatan : Sbg karya fiksi, film memang tak harus sama dgn realitas keseharian, tp harus logis & punya plausibilitas yg tinggi.

Sementara akunㅤㅤ @MbahUyok : Lht. film yg dijdkan juara festival film polkis, jd. ingat film kampanye Ahok Djarot yg. jg. menuai protes. Sama2 SARA #PolriProvokatorSARA

Sementara itu Politisi senior tidak menyangka dengan aparat kepolisian saat ini. Bahkan sebelum dan jauh dari pimpinan Tito Karnavian, ia mengaku tidak pernah terjadi ketakutan kepada Islam yang luar biasa seperti sekarang.  MS Kaban menukik menulisnya

“Mengikuti Kapolri sejak zaman almarhum Anton Sujarwo sampai Sutarman belum pernah terjadi institusi Polri terlibat nuansa islamophobia. Benar-benar ada apa,” tulis MS Ka’ban, di akun Twitter pribadi miliknya, Selasa (27/6/2017).

Hal lain yang dikatakan ole Ka’ban, dan nampak menyimpulkan aparat kepolisian bertindak islamophibia adalah saat ia melihat dengan teliti apa yang diberitakan oleh Divisi Humas Polri. Dan ia bahkan menyebut di tubuh Polri lah bibit islamophobia berada.

“Setelah mencermati apa yang dilansir Divisi Humas tentang toleransi, ternyata bibit ‘radikal’ islamophobia ada di dalam tubuh Polri.

Ada apa Polri dengan Islam?”

Namun belum tahu apa yang dimaksud oleh Ka’ban soal Divisi Humas Polri tentang islamophobia.  Tetapi sebelum, sebagaimana yang sedang hangat saat Hari Raya umat Islam muncul video yang dirasa cukup provokatif. Dalam video itu di antaranya terdapat umat Islam tidak memberikan izin ambulans yang membawa pasien Kristiani melewatinya karena bertepatan acara pengajian.

Video itu awalnya tersdapat di akun BNPT di @BNPTRI. Namun, karena banyaknya keberatan dengan video tersebut, tidak lama akun BNPT menghapus postingan tersebut.

“Komjen Suhardi Alius kepada @BNPTRI mengakabarkan kepada saya model twit yang cenderung membuat stigma, beliau perintahkan untuk dihapus. Terima kasih,” demikian kata Ketum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak di akun Twitter pribadinya, Senin (26/6/2017).

Dari laman Republika.co.id saya menemukan bahwa Sutradara Film Kau adalah Aku yang Lain, yang sedang gaduh Anto Galon, meminta maaf apabila pesan yang ingin disampaikan dalam filmnya tidak sampai sepenuhnya. Akibatnya, film yang sebenarnya ingin menyampaikan pesan Islam sebagai agama yang mengedepankan toleransi justru menjadi kontroversi.

“Film itu adalah sebuah renungan bahwa sebagai seorang Muslim agar tidak menjadi oknum seperti yang si mbah dalam film,” kata dia melalui keterangan resmi yang dirilis Kepolisian Republik Indonesia, Rabu (28/6).

Sebagian orang menganggap film Kau adalah Aku yang Lain menyudutkan Islam melalui sebuah adegan. Yaitu, adanya karakter dalam film tersebut yang mencegah sebuah ambulans melintas karena sedang ada pengajian.

Padahal, ambulans tersebut sedang membawa orang sakit.  Anto mengatakan film tersebut memang tidak bisa ditonton secara parsial, apalagi pada bagian si mbah melarang ambulans lewat. Dia menerangkan tokoh si mbah merupakan gambaran watak sebagian manusia, bukan hanya Muslim, yang memiliki pemikiran kolot. “

Tonton film tersebut secara utuh dan resapi,” kata dia beralibi.  Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto menambahkan sutradara juga ingin menyampaikan melalui film tersebut tentang toleransi antarumat beragama.

“Dia ingin menggambarkan (dalam film) bahwa Islam itu toleran. Dia juga berharap penonton jangan terfokus pada tokoh si mbah, dan jangan hanya nonton sebagian,” kata Rikwanto.

Film Kau adalah Aku yang Lain menjadi pemenang dalam festival film pendek yang digagas Mabes Polri atau Police Movie Festival IV 2017. Film ini diunggah ke Youtube kemudian link-nya dibagikan melalui akun Facebook dan Twitter Divisi Humas Polri pada hari Kamis, (23/6) lalu.

Catatan akhirnya jika memang akan bikin Fetival dan tidak membuat gaduh, buatlah festival film yang cerdas dan beradab. Jangan asal-asalan. Lalu lakukanlah riset lebih utama dan tema yang idela serta pertimbangkan hal lainnya misalnya juri dan jelai melihat jangan sampai producer film terlibat dalam kepanitiaan.

Sudah gitu saja dari saya, semoga ini pelajaran berharga dan festival film tidak menjadi sejarah buruk.

AENDRA MEDITA, Pemimpin Redaksi SENI.CO.ID

Comments

comments

Leave a Reply

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY