Home DIALOG Sehari Bersama Pranoto Àhmad Raji, Kisah Master Gambar Model

Sehari Bersama Pranoto Àhmad Raji, Kisah Master Gambar Model

1197
0
Pranoto Àhmad Raji/ DG
SENI.CO.ID – Sebagai seniman lukis otodidak di Ubud, Bali nama  Pranoto Àhmad Raji sangat dikenal sebagai Master Gambar Model dengan program Gambar Model bersama yang rutin dilakukan sejak 1996. Semula program Gambar Model bersama ini dilakukan  Pranoto hanya untuk mengajarkan istrinya yaitu Kerry Pendergast (Almarhum) seniman asal Australia dan teman-temannya, kemudian meluas kepada seniman-seniman lokal dan mancanegara.
Pranoto dilahirkan tahun 1952 di Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Kota Surakarta, Solo, Jawa Tengah, di lingkungan keluarga dan tetangga pembuat batik. Sehingga  dia sejak kecil dia akrab dengan kegiatan menggambar.  Pada usia 13-14 tahun ia sudah memutuskan untuk menjadi seniman karena baginya menjadi seniman itu panggilan jiwa yang mengasyikkan. Untuk mengasah bakatnya dari desa yang tidak ada seni visual modern, dia pindah ke kota Solo dan bertemu dengan pelukis Dullah, Sudibio, Sumitro, yang menjadi idolanya, yang saat waktu itu sekitar tahun 1960-70an ia tinggal di Solo. Kemudian ia bergabung dengan kelompok seniman di Solo. Saat itu Pranoto tertarik dengan lukisan pada Becak dan mengembangkan kaligrafi yang juga disukai sejak Sekolah Dasar.
Kesulitannya kepercayaan diri dia saat itu pada seni sangat kecil karena masih muda dan belum berpengalaman. Ditambah lagi kegaduhan suasana tahun 1965 banyak seniman-seniman muda lainnya yang takut dituduh komunis karena melukis, Pranoto termasuk beruntung bisa memasuki dunia seni adalah seni tanpa embel-embel politik yang dihubung-hubungkan dengan komunis.
Tahun 1974 Pranoto pindah dan menetap di Ubud, Bali. Dia tahu tentang Ubud dari Buku Koleksi Seni Presiden Soekarno dimana ada banyak pula seniman-seniman Indonesia dan mancanegara  seperti dari Paris, Belanda, Spanyol, New York dan sebagainya yang tinggal atau sekadar berkunjung yang tertarik Ubud sebagai sebuah komunitas seni.
Dia banyak belajar dari pengamatan langsung dan pergi ke Museum Ubud untuk melihat karya-karya seniman yang berbobot yang banyak dibuat tahun 1940an, lukisan-lukisan yang kuat, karismatik dan bernilai tinggi. Sekalipun berbeda ide, konsep dan gayanya dari generasi berikutnya.
Seperti dalam militer makin banyak tentaranya akan memungkinkan makin banyak jenderalnya. Kuantitas yang banyak mempengaruhi mutu. Mutu yang bagus mempengaruhi kuantitas. Dalam komunitas seni, seorang seniman perlu melihat kegiatan seniman lainnya. Tapi apabila ia hidup terasing di atas gunung tanpa seniman lainnya itu menjadi sulit berkembang.
WhatsApp Image 2017-05-12 at 11.34.40Pada masa awal datang ke Bali, Pranoto banyak dibantu oleh seniman-seniman lainnya baik dari sisi keuangan maupun pengetahuan. Maka sekarang apabila mampu Pranoto senang sekali jika bisa membantu seniman lainnya. Seniman itu baik kalau saling membantu, kemudian bisa mandiri untuk menentukan jalannya sendiri. Dalam ide bantu-membantu ini, untuk seseorang bisa mencapai tujuannya, suatu waktu ia juga akan perlu dibantu dan membantu kehidupan seniman lainnya.
Sekalipun begitu Pranoto tidak suka berada pada komunitas seni yang formal seperti tergabung menjadi pengurus atau anggota dalam Asosiasi seni. Sebagai seniman hanya senang berada pada komunitas yang tidak resmi, dimana semua orang bisa bebas melakukan apa saja yang diinginkannya.
WhatsApp Image 2017-05-12 at 11.33.13Saat di Solo Pranoto belum pernah menggambar model telanjang kecuali dari imajinasi ataupun menjadi model gambar bagi dirinya sendiri. Di Ubud karena masyarakatnya adalah masyarakat seni jadi tidak mempersoalkan dan bisa menerima program kegiatan gambar model dengan baik, selain itu banyak yang menawarkan dirinya untuk menjadi model. Baginya Ubud adalah tempat yang baik untuk bekerja dan bermain, dan masih banyak air yang segar untuk berenang di sungai dan memancing.
Untuk menambah pengetahuannya Pranoto banyak belajar dari buku-buku yang banyak diberikan oleh kawan-kawannya, tetapi kebanyakan dia belajar dengan melakukan langsung. Dari buku, kita bisa membandingkan tetapi paling baik langsung berkarya dan belajar dari kegagalan.
WhatsApp Image 2017-05-12 at 11.31.58Sebenarnya Pranoto ingin belajar dari sekolah seni tapi sayangnya tidak mampu secara ekonomi. Pranoto iri dengan seniman yang bisa belajar di sekolah seni. Tentu saja gelar Sarjana itu baik, tapi untuk hidup sebagai seniman dibutuhkan kemauan yang keras dan tidak mudah putus asa. Karena tidak ada yang mengajari secara langsung Pranoto belajar seperti orang buta yang meraba kesana kemari, untuk membangun kepercayaan dan kemampuan membutuhkan waktu yang lama.
Masalah objek dan model telanjang bagi Pranoto lebih kepada meminjam objek apakah itu figur, batu atau awan tidak terlalu dipersoalkan. Objeknya tidak begitu penting. Yang penting adalah aturan dasar dalam melukis, bagaimana memainkan garis, bentuk, tone, warna pada media. Seperti musik yang memainkan Nada A, B, C, D.  Objeknya hanya sesuatu yang dipinjam untuk dicerna.
Ketelanjangan di Indonesia bisa jadi masalah akan tetapi bagi Pranoto sebagai seniman bisa dibilang tidak bermasalah. Tetapi bagi kalangan lainnya tentu saja bisa berpendapat lain. Gambar atau lukisan Pranoto tidak memperlihatkan ketelanjangan sekalipun memang telanjang tetapi apa yang dimakaud tidak mengarah kepada sensualitas dan seksualitas. Lukisan itu hanyalah sebuah lukisan.
WhatsApp Image 2017-05-12 at 11.31.20Pranoto banyak mendapatkan dukungan dari keluarga, istrinya yang juga seorang seniman pun tidak pernah cemburu karena dia menggambar perempuan telanjang, malah ikut bergabung bersama seniman-seniman lainnya dalam program gambar model. Tetapi walaupun begitu Pranoto juga bisa memahami pandangan yang berbeda dari sudut yang lainnya. Menggunakan objek telanjang bukanlah sesuatu yang baru di dunia seni Ubud, seperti Bonnet, Abdul Azis, Antonio Blanco, dan lain-lain. Sebenarnya objek telanjang itu banyak sekali digunakan di Indonesia sekalipun bukan pada media lukis seperti di Candi Borobudur dimana banyak patung-patung yang telanjang, setengah telanjang atau hanya memakai kain sarung  yang tipis. Kalau berpikir tentang sensualitas dan seksualitas, patung-patung tersebut lebih mengundang hasrat berahi dibandingkan lukisan maupun gambar karya Pranoto.
Pranoto sangat mencintai lukisannya dan juga lukisan teman-temannya. Kalau mempunyai banyak uang Pranoto akan membeli lebih banyak lagi lukisan teman-temannya, lukisan itu indah. Setiap lukisan itu berbeda. Kalau anda suka dan sudah membelinya, lukisan itu hidup bersama anda. Lukisan yang bagus itu akan tumbuh bersama pembelinya dan itu kenikmatan yang luar biasa tidak terbatas. Itu mengapa banyak orang berbondong-bondong belanja lukisan. Lukisan itu dibuat untuk dilihat, tidak ada keharusan untuk menyukainya dan membelinya, jika lukisan itu dapat di apresiasi dan ditangkap keindahahannya dan direkam dalam memori dengan baik itu pun sudah lebih dari cukup. Tidak seperti membaca buku yang membutuhkan waktu lama, melihat lukisan cukup dalam waktu yang singkat sudah bisa merangkum semua apa yang dilihat.
Bagi Pranoto berhasil atau tidaknya seniman itu tidak penting, yang penting bisa menjadi seniman yang baik. Untuk berhasil seseorang harus sering memamerkan karyanya agar lebih banyak dikenal orang.
“Ada anggapan bahwa kehidupan seniman itu berat namun kehidupan seniman itu juga tidak penting, lakukan saja apa yang mau dilakukan apakah berhasil atau gagal itu tidak penting karena secara naluri dia hanya ingin menjadi pelukis dan melanjutkan kehidupannya sebagai seniman,” jelasnya.
Sebagai seniman Pranoto menggumi senman dunia seperti  Gustav Klimt, Gauguin yang disukai warnanya, Van Gogh, Matisse, Picasso. Dan seniman Indonesia yang ia sukai diantaranya adalah Affandi, Ida Bagus Made Poleng, Widayat, Sudibio, Nashar. Dia juga banyak suka seniman-seniman muda, banyak diantaranya yang baik karyanya.
Sekalipun tidak banyak buku-buku tentang Seni di Indonesia tetapi Pranoto beruntung bisa bertemu dengan banyak seniman terkenal Indonesia karena tinggal di Ubud diantaranya adalah Affandi, Dullah,  Sudjojono, Hendra Gunawan waktu mereka datang dan melukis di Bali. Jadi bisa belajar langsung dari apa yang mereka kerjakan dan apa yang mereka katakan, tidak dari buku. Pranoto belajar dari mereka itu tentang bagaimana menjadi seniman; menjadi pelukis dan juga tentang komunitas seni.
Setelah bertahun-tahun melukis dan menggambar dengan menggunakan bermacam-macam media, Pranoto telah berhasil mengembangkan kepribadiannya sendiri melalui karya-karyanya yang bertanggung jawab. perkembangan itu juga dilakukan dengan membentuk galeri bersama Almarhum istrinya Kerry Pendergast pada tahun 1996 mengajar seni, mendirikan studio yang digunakan untuk menggambar model bersama serta berdiskusi dengan seniman lainnya.
Pasaran seni di Ubud ini sangat  kuat apalagi kalau dikombinasikan dengan pariwisata, kadang-kadang lukisan hanya seperti produk untuk pariwisata. Galeri seni akan membantu para seniman muda, terutama kalau mereka tergantung pada galerinya. Galeri itu sendiri memerlukan lukisan untuk kebutuhan pariwisata, tapi sebagai seniman tidak boleh kehilangan visi.
“Dalam melukis tujuannya harus jelas. Uang bukan yang utama. Lukisan adalah produk dari kebudayaan, bukan semata-mata untuk menghasilkan kemakmuran. Untuk seniman, apa yang mereka lakukan sebenarnya bukan untuk menumpuk kekayaan tetapi untuk mengekspresikan kebudayaan, imajinasi, perasaan dan lingkungannya,” tuturnya.
Pada tahun 1980 di Ubud ada 30 galeri, sekarang mungkin ada lebih dari 200.  Ada yang besar dan ada juga yang kecil. Galeri-galeri di pinggir jalan sudah ada sebelum jalan-jalan di aspal.  
Ubud sudah menjadi pusat seni ratusan tahun sebelum ini. Kalau baca sejarah Ubud akan kita temukan bahwa pada tahun 1920an sudah ada banyak seniman disini. Ini berarti bibitnya sudah tertanam ratusan tahun sebelumnya. Batuan juga sebagai tempat yang bibitnya sudah tertanam lama. Jadi, waktu Bonnet,  Arie Smit dan Walter Spies datang, Ubud sudah mempunyai banyak seniman.
Dalam sejarah dikatakan, orang Bali membuat karya seni untuk menghiasi Pura, ukiran dan gambar untuk dipasang di rumah. Jadi waktu Pranoto datang di Ubud 1974, sudah banyak galeri yang buka. Waktu itu menjual lukisan sudah menjadi trend. Makin banyak orang yang membuat galeri menjadi pedagang seni dan pameran tapi bibitnya sudah tertanam lama sebelumnya. 
Orang datang dari Paris atau New York, dari mana saja sering terkejut dengan banyaknya galeri di Ubud. Ada banyak yang berhasil, yang menjadi acuan untuk yang lainnya membuka lebih banyak galeri. Kalau dibandingkan sekarang dengan tahun ’70an, galeri sekarang lebih baik, ruang pamerannya lebih baik, kompetisi lebih baik dan penampilannya juga lebih baik.
Pranoto masih sangat muda usianya ketika  memutuskan dirinya untuk menjadi pelukis. Dia tidak tahu kenapa, mungkin Tuhan memberikan ilham untuk menjadi seorang pelukis. Dalam hidup ini seseorang boleh melakukan apa saja. Anda boleh memilih untuk menjadi insinyur, dokter, pilot,sopir taksi, seorang pelukis atau pematung atau pekerja di bank. Dalam alam ini anda boleh memilih untuk menjadi apa saja.
“Melukis itu perlu kemauan dan pengetahuan. Juga modal untuk melukis tidak murah. Di sekolah kita bisa menemukan banyak teman seperjuangan, sangat penting untuk saling mengetahui cita-cita masing-masing,” kisahnya.
Menurutnya di sekolah kita bertemu dengan anak-anak yang sebaya dimana kita bisa berbagi rasa dalam impian untuk menjadi apa yang kita mau. Kita perlu orang untuk mengkritik atau memuji karya kita. Pastikan bahwa anak-anak itu harus terus giat berjuang. Harus diingat bahwa semua kupu-kupu yang indah itu dulunya hanyalah ulat-ulat yang menjijikkan.

“Sebenarnya untuk menjadi seniman pelukis itu adalah pilihan. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk menjadi pelukis atau presiden Republik Indonesia. Tapi kalau mau menjadi pelukis, semua orang bisa menjadi pelukis, jangan halangi diri sendiri. Melukislah,” kelakarnya.

Masih kata Pranoto menjadi pelukis itu sulit. Sebenarnya untuk menjadi apapun yang  di inginkan, itu juga sulit. Coba pikirkan, ada berapa banyak orang yang mau menjadi bintang film, pindah ke Hollywood. Kalau orang itu tidak mempunyai kemauan yang keras dan koneksi, baru beberapa hari pun orang itu sudah ingin pulang kampung karena putus asa.
Ilham sangat penting dalam membuat konsep dan langkah dasar dalam melukis. Sesudah ilham harus ada visi. Dari visi inilah kita bisa melihat bagaimana kita bisa merealisasikan ilham kita. Jadi bukannya banyak ilham yang kita perlukan tapi visi yang luas. Visi ini seperti peta. Ilhamnya adalah titik pusat; tujuan ke mana kita mau melemparkan batu kita. Visi adalah peta  yang menunjukkan kemungkinan arah dalam mewujudkan impian.

“Ide itu membangunkan kita. Sketsa memberikan kita kesempatan untuk mematangkan visi kita,” ungkapnya.
Pranoto menganggap dirinya belum berada di puncak gunung sekarang. Dia melihat dirinya di kaki bukit… sebagai pelukis. Dia hanya memimpikan untuk lebih banyak melukis dengan baik. Inilah impian seniman. Terus membuat karya yang lebih baik.
Pranoto mengatakan tentang sketsa sebagai sebuah rencana.  Rencana itu sangat penting. Makin jelas rencana gambar, makin mudah untuk melukisnya. Dengan sketsa sebagai rencana, kita akan bisa lebih alami berekspresi waktu memulai lukisan kita.

Sketsa sebagai karya yang selesai adalah karena disengaja hanya menggunakan kekuatan 2-3 inti utama karya dua dimensi,  garis dan bentuk potongan bidang saja ataupun kalau mau bisa ditambahkan dengan pemakaian tone gelap-terang tanpa warna.Ibarat pematung sudah puas dengan karyanya, tidak perlu lagi memberi cat berwarna-warni.

Sketsa sebagai latihan mata dan ketrampilan tangan juga penting sekali. Untuk para seniman pemula, ini adalah kesempatan untuk melatih tangan dan mata mereka. Melatih mata dulu; mengamati keindahan pemandangan maupun modelnya, kemudian baru melatih ketrampilan tangan.
Dengan musik, bunyi itu penting, begitu juga dengan kesunyian. Kita harus memperhitungkan bunyi dan juga kesunyian. Dalam melukis, latar belakangnya 50% dan objeknya 50% sama pentingnya.

Kreatifitas dalam melukis berarti kita harus mengikuti rencana kita sendiri, bukan hanya mengikuti sketsanya? Rencana itu penting. Dengan perencanaan, tubuh kita akan bergerak sesuai dengan kehendak kita. Kadang-kadang kita terhambat dalam mengekspresikan apa yang mau diekspresikan.
Rencana itu seperti peta, tapi ini bukan berarti kita harus mengikutinya dengan persis. Perencanaan memberikan  gambaran seperti apa lukisan kita, warna  apa yang akan digunakan. Seperti menggunakan denah waktu kita membangun rumah menunjukkan bagian-bagian dari rumah, dapurnya disana. Visi kita menjadi lebih jelas. Perencanaan  membuat visi kita menjadi lebih jelas, kita bisa memfokuskan diri pada visi kita tanpa harus meniru atau kira-kira. Dari sketsa atau rencana, kita sudah menjajaki beberapa kemungkinan. Kalau kita sudah membuat 6 kemungkinan, kita tahu yang mana yang kita suka. Pilih yang terbaik. Waktu kita memulai melukis, lebih mudah bagi pikiran dan tubuh untuk menyatu dalam mengekspresikan keinginan kita.
  
Apakah ukuran itu penting? Dulu Pranoto banyak membuat lukisan besar, tapi kemudian dia juga membuat banyak lukisan kecil. Sebenarnya besar atau kecil itu bukan masalah. Contohnya ‘Monalisa’ itu lukisan yang kecil dan Jackson Pollock suka membuat lukisan yang besar tapi asalkan bagus, ukuran bukan masalah. Yang penting adalah garis dan bentuk; penggunaan warna yang baik. Dalam musik, kita sudah mempersiapkan lagunya, ‘mood’ apa yang kita mau untuk lagunya? Taruh bass disini, piano disini, trompet disini atau mungkin jangan menggunakan trompet, karena bisa membuat lagunya jadi sentimentil. Warna itu ibarat alat musik.

Orang-orang berpikir, dalam satu minggu murid-murid sekolah  seni sudah harus bisa menggambar. Seni itu adalah gabungan antara pengetahuan, kemauan dan keterampilan. Pengetahuan mungkin bisa didapat dalam satu minggu, tapi untuk mendapatkan keterampilan mungkin saja memakan waktu sepuluh tahun. Seperti bermain piano, anda tahu lagunya tidak sulit tapi tidak bisa memainkannya dengan tangan-tangan anda. Perlu kombinasi dari pengetahuan, emosi dan keterampilan. Mungkin emosi anda baik tapi tangan anda tidak bisa diajak kompromi. Untuk menggabungkan keterampilan dan perasaan, seseorang memerlukan latihan yang lama. Kalau anda seorang musisi, perasaan dan keterampilan anda sudah menyatu; maka, mudah untuk memainkan piano atau menciptakan lagu baru.

Beberapa musisi tidak perlu melihat alatnya waktu bermain. Tapi musik adalah musik sedangkan lukisan adalah lukisan, berbeda ya?
Ya, tapi juga sama, hanya medan  dan medianya yang berbeda. Karena pemusik itu jelas harus mendengarkan bunyinya sedangkan melukis harus dengan mata yang terbuka.

Menggambar adalah untuk melatih mata, kemudian dengan tangan dan mata. Ada beberapa metode dalam melatih mata. Misalnya, salah satu metode untuk melihat adalah dengan mengamati secara seksama bidang negatif di sekitar objeknya (bukan objek itu
sendiri). Anda masih bisa menggambar dari kaki ke kemana saja, atau dari kiri ke kanan. Yang anda gambar, bukan objeknya tapi ruang negatifnya. Ruang kosong itu adalah induk dari objeknya.
Tanpa kekosongan, objek itu tidak ada. Tanpa kesunyian, bunyi itu tidak ada. Dibandingkan dengan musik, seperti menangkap kesunyian. Jadi, seniman itu mencoba mengalihkan fokusnya. Ketika menggambar negatif itu anda berfokus pada ruang kosong. Seniman ini harus mengenal akrab ruang negatifnya. Ruang ini sangat penting.
Latar belakangnya 50% dan objeknya 50%. Latar belakang lukisan sangat penting karena ini yang menyangga objeknya. Kalau tidak ada kekosongan, lalu siapa yang bisa mendengar bunyi apabila tidak ada kesunyian diantaranya? Jadi kesunyian itu 50%. Filosofi ini datang dari mana-mana filosofi Barat, filosofi Cina (misalnya
yin dan yang) dan filosofi Jawa. Juga dari filosofi musik. Setiap ajaran mempunyai ide keseimbangan ini.
Bagaimana anda bisa menyebut kamar yang indah apabila tidak ada ruang losing di dalamnya. Ruang itu penting, sama penting dengan objeknya. Orang
bisa mengerti bahwa ruang itu bernilai 50%. Cara ini melatih mata kita untuk berkonsentrasi pada kekosongan di antara bagian-bagian dari objek itu.
Sampai kini Program kegiatan gambar model dari Pranoto Art Gallery terus berlangsung yang uniknya syarat seniman-seniman tersebut harus mengikuti aturan yang berlaku yaitu mereka harus menggambar dan tidak mengganggu jalannya program dua kali seminggu dan menjadi ajang berkumpulnya para seniman Iokal dan mancanegara dalam berbagi pengalaman dan ilmu serta mengasah keterampilan disini. untuk tahu informasi lengkap silakan kunjungi laman www.pranotoartgallery.com
dari UBUD Bali Dwi Dago, untuk SENI.CO.ID
Dwi Dago kontributor SENI.CO.ID  (Bali)
Dwi Dago kontributor SENI.CO.ID (Bali)

 

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here