Catatan Film Kartini Hanung Bramantyo

Catatan Film Kartini Hanung Bramantyo

558
0
SHARE
Salah satu adegan dari Kartini besutan Hanung Bramantyo

SENI.CO.ID – Menonton film Kartini, besutan Hanung Bramantyo, memang terkesan antara film sejarah dan bukan sejarah. Meskipun plot nya tersaji dengan bagus dan apik. Selain peran Kartini yang dimainkan Dian Sastro juga sangat bagus. begitupula Chritine Hakim jiwanya dapet banget dalam memerankan Ibu Ngasirah.ibu kandung Kartini dan Isteri Bupati Jepara Sosrodiningrat. Tapi untuk selebihnya, ada banyak adegan yang kurang narasi sejarah sehingga tokoh-tokoh yang selintas selintas munculnya itu, tidak diketahui jatidirnya. Padahal mereka ini juga ikut menentukan sejarah. Baik sosok orang Belanda maupun Indonesia.

Misal, ketika Kartini dititipi kunci lemari buku oleh kakaknya, penonton yang kurang punya pengetahuan sejarah, paling dianggap salah satu kakak Kartini yang baik hati dan tidak sombong.

Padahal, Kakak Kartini yang menanamkan minat baca dan pengethauan pada adiknya itu, adalah Raden Mas Sostrokartono. Salah seorang anak bangsa yang cukup jenius pada zamannya. Beliau sering disebut Poliglot. Seorang yang berbakat menguasa berbagai bahasa.

Sempat bersekolah di belanda, menguasai puluhan bahasa asing baik dari Eropa maupun Timur. Pernah jadi wartawan perang. Dan lebih dari itu, termasuk yang paling awal ikut membangunkan kesadaran nasional di kalangan berbagai suku di bumi nusantara.

Swwaktu beliau pulang ke Indonesia, beliau menetap di Bandung. Belakangan malah menguasai Ilmu Makrifat. Bung Karno, yang pada masa mudanya menempuh kuliah di Bandung, Pak Kartono belakangan juga menjadi salah seorang mentor spiritua dan politik Bung Karno.

Mungkin karena Hanung tidak terlalu berpretensi membuat sejarah, ada banyak adegan yang benar benar tanpa narasi sejarah. Misalnya kenapa Dr Abendanon begitu gigihnya membujuk bapaknya Kartini, agar putrinya boleh sekolah di Belanda. Terus kenapa Kartini begitu akrab dengan yang namanya Nyonya Ovienk Soer. Atau sahabat penanya yang bernama Stella Zaehndlaar.

Kalau keterlibatan Abendanon tergali secukupnya melalui film ini, akan terlihat bahwa ada upaya pemerintah Kolonial Belanda untuk memanfaatkan orang orang model kartini untuk dijadikan “Belanda Sawo Matang” dalam hal pola pikir dan cara pandang. Dengan memanfaatkan tekanan feodalisme kerajaan Jawa yang waktu itu memang masih menganak-tirikan kaum perempuan.

Sebab tanpa menjelaskan latarbelakang ini meski sekilas, film Kartini besutan Hanung Bramantyo ini, terkesan bahwa yang melakukan penjajahan adalah feodalisme Jawa, sedangkan orang orang Belanda justru jadi pahlawan.

Padahal situasi sesungguhnya waktu itu adalah, pemerintah kolonial Belanda dalam rangka menjajah tanah Jawa, memanfaatkan feodalisme Jawa, agar bisa secara tidak langsung memerintah dan menindas rakyat Jawa.

Dalam situasi seperti itu, ada orang orang macam Abendanon atau Dr Snock Horgronje, yang ingin membangun lapisan kelas terdidiik dari kalangan bangsawan jawa, baik laki atau perempuan, yang setelah disekolahkan oleh Belanda, akan semakin memihak pemerintah kolonial Belanda.

Masalahnya kemudian, strategi kalangan seperti Abendanon atau Horgronje yang pada dasarnya berhaluan liberal dan pendukung politik etis Belanda, dalam kasus Kartini, mereka terbentur oleh feodalisme kerajaan Jawa, yang waktu itu memandanng perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Karena toh begitu umur dewasa,. langsung dinikahkan oleh orang tuanya.

Bagi Kartini, sistem penindasan Belanda dan sistem penindasan feodalisme Jawa seakan menyatu unuk membunuh kepribadian dan jatidirinya. Bukan sekadar melarang dirinya dan adik-adik perempuannya sekolah tinggi-tinggi.

Untunglah ibu kandung Kartini, Ibu Ngasirah, meskipun tidak bersekolah, namun intuisi dan kecerdasan spiritualnya sangat tinggi.Ketika Kartoini dihadapkan dilema apakah sekolah di Belanda dengan biasiswa pemerintah, ataukah tunduk pada perintah keluarga untuk menikah dengan Bupati Rembang, ibunya menjadi rujukan dan kata akhir dalam pertimbangan Kartini buat bikin keputusan.

Ibu Ngasirah, meskipun setuju dengan ayahanda Kartini dan keluarga besarnya agar Kartini jangan ke Belanda, namun dasar pertimbangan Ibu kandung Kartini lah yang dirasa lebih pas buat Kartini. Sehingga akhirnya lebih memilih dinikahkan daripada meneruskan sekolah ke Belanda.

Kurang lebih kata Ibu Ngasirah, ada hal di luar lingkup yang Kartini pelajari dari segala hal yang berasal dari Belanda. Yaitu makna dari Darma Bakti. Darma bakti bukan berarti menyerah pada keadaan, tapi soal menghayati suatu peran karena memang itulah jalan takdir.

Kesadaran bahwa Kartini termasuk kaum perempuan Jawa yang dipasung jiwanya dan dihalangi menempuh sekolah setinggi tingginya, memang satu soal. Namun tersirat dari nasehat ibu Ngasirah, dari situ pula jalan takdir Kartini sebagai pendidik dan pencerah dari kaumnya tentang betapa pentingnya menempuh pendidikan dan sekolah, Jalan takdir Kartini sebagai guru dan pendidik.

Jika memang begtitu halnya, untuk apa harus ke Belanda hanya untuk menjemput takdirnya sebagai guru, pendidik dan sang pencerah?

Itulah yang akhirnya Kartini memutuskan menerima lamaran Bupati Rembang, namun dengan salah satu syaratnya, boleh mendirikan sekolah bagi pendidikan kaum perempuan.

Dalam tataran ini, entah sadar atau tidak, Hanung telah memasukkan salah satu plot penting, dialog antara Kartini dan ibunya, Ngasirah.

Kalau seandainya Kartini akhirnya sekilah ke Belanda, mungkin tercapai jugalah cita citanya untuk sekolah tinggi. Namun kalau melihat bagaimana pengaruh seorang feminis Belanda Stella Zahendlaar, Nyonya Ovienk Soer, dan beberapa inteltual Belanda lainnya, bisa jadi Kartini yang muncul kemudian, adalah kartini sebagai seorang Feminis, sebuah paham yang berkembang di dunia Eropa Barat, tentang persamaan pria dan wanita. Namun yang sangat diwarnai budaya barat.

Dalam alam pikir Feminisme Barat, pria dan wanita, bukan sekadar setara, tapi di bawah sadarnya, ada semacam persaingan. Kalau priao bisa jadi dokter, kenapa perempuan tidak. Kalau perempuan bisa jadi tentara kenapa perempuan tidak.

Namun ada sesuatu yang menggangu dan tidak pas, mengenai hubungan pria dan perempuan dalam kerangka pikir kaum feminis di Eropa.

Kepekaan intuitif ibu Ngasirah, yang kemudian seperti juga ayahnada dan keluarga besarnya melarang Kartini meneruskan sekolah ke luar negeri, menurut saya telah menyelamatkan Kartini.

Menyelamatkan Kartini agar tetap setia pada jalan takdir hidupnya. Menjadi seorang isteri dan ibu rumah tangga, namun juga memenuhi panggilan jiwa sejatinya, untuk jadi guru dan pendidik, sang pencerah kaumnya. Namun tetap jadi perempuan yang kha Indonesia. Khas Jawa. Khas Nusantara.

Selain itu,batalnya Kartini sekolah ke Belanda atas dasar beasiswa dari Belanda, justru membawa berkah. karena gara gara itu, Haji Agus Salim beruntung dapat peluang mendapat beasiswa yang sedianya buat Kartini. Sehingga Agus Salim kemudian nenjadi salah seorang anak bangsa yang patut dibanggakan oleh bangsa dan negara kita. Menjadi sosok intelektual Islam yang cukup kritis dan militan di pentar pergerakan kemerdekaan Indonesia sejak awal abad 20.

Kelak Haji Agus Salim tercatat dalam sejarah sebagai salah seorang motor penggerak Sarikat Islam, dan Menteri luar negeri pertama di era kemerdekaan Indonesia.

Oh ya satu lagi lemahnya narasi sejarah film Kartini, ketika memunculkan Kyai Sholeh Darat, Semarang. Ketika ada salah satu plot beliau kasih pengajian di pendopo istana bupati Jepara.

Karena tanpa narasi sejarah, Kyai Sholeh Darat seakan seorang ustadz alias guru ngaji yang dulu seringkali diminta ngasih les ngaji di rumah keluarga bangsawan.

Padahal kalau menilik kesejarahannya, Kya Sholeh Darat ini adalah guru dari Kya Haji Hasyim Asyari dan Kyai Haji Achmad Dahlan. Pendiri dan motor penggerak NU dan Muhamadiyah.

OLEH Hendrajit

Comments

comments

Leave a Reply

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY