Reportase Tubuh

Reportase Tubuh

656
1
SHARE
Tony Broer dalam acara Ulang Tahun Teater Payung Hitam /Ist

Reportase Tubuh

Pada tahun 1979, ketika saya menjadi Mahasiswa Jurusan Teater ASTI Bandung berkesempatan menonton pertunjukan “Meta Ekologi” karya Sardono W. Kusumo di halaman belakang Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Pertunjukan itu menghipnotis dan memberikan empati terhadap masalah lingkungan, sepengetahuan saya pada saat itu, tidak banyak orang yang berbicara tentang persoalan lingkungan, dan tidak ada pertunjukan yang mengusung tema lingkungan.

Pada tahun 1982, saya diminta menampilkan pertunjukan di hotel Panghegar Bandung. Pertama kali saya bersama ketiga rekan saya (Sistriadji, Nandi Rifandi, dan Budi) menampilkan teater tubuh yang berjudul “Payung Hitam”. Pertunjukan itu menjadi cikal-bakal proses pencaharian saya di teater tubuh. Selanjutnya pada tahun 1989, saya berkesempatan kedua kalinya berkesempatan menonton pertunjukan “Hutan Plastik” karya Sarddono W. Kusumo di Gedung Kesenian Sunan Ambu STSI Bandung. “Hutan Plastik” dan “Meta Ekologi” memberikan inspirasi terhadap proses pencaharian saya di wilayah seni pertunjukan, khususnya di wilayah ketubuhan.

Tahun 1989, saya menyutradari pertunjukan “Tuhan dan Kami” bersama aktor Teater Payung Hitam.   Pertunjukan teater yang mengarah pada religi. Melakuka pencaharian pada tubuh yang diam, tubuh yang mediatif. Tubuh yang diam, dan tubuh yang bergerak memaknai religiusitas tubuh dan hubungannya dengan alam dan yang Maha Pencipta.

Tahun 1991, saya melakukan proses ketubuhan untuk pertunjukan “Meta Teater”. Dalam proses ini, selain melibatkan para aktor yang berlatar-belakang teater, juga melibatkan Seniman Tari, Seniman Rupa, Seniman Musik, dan Seniman Multi Media yang secara liar melakukan berbagai kemungkinan. Pencaharian para aktor pada wilayah ketubuhan dilakukan lebih ekstrim. Tubuh para aktor didistorsi sedemikian rupa menjadi sangat dominan.

Tahun 1992, pertunjukan “Menunggu Godot” karya Samuel Becket, sebuah naskah absurd saya tafsirkan ke dalam bentuk pertunjukan teater tubuh. Sebelumnya pertunjukan “Menunggu Godot” dibawakan ke dalam bentuk pertunjukan teater kata-kata. Juga lakon “Caligula” (Aku Masih Hidup) karya Albert Camus dimainkan tanpa kata-kata pada tahun 1996.

Pada tahun 1994, 1995, 1997, 2001, pertunjukan “Kaspar” di Jaman Orde Baru. Pertunjukan yang bermuatan kritik sosial disampaikan lewat bahasa tubuh dan bahasa visual.

Pemberedelan Majalah Tempo, Detik, dan Editor oleh kekuasaan rezim (Orde Baru) Soeharto menjadi pemicu adanya krisis kepercayaan terhadap bahasa kata-kata yang disampaikan pemerintah pada saat itu. Kata-kata menjadi alat kekuasaan. Kata-kata menjadi penindasan. Kata-kata menjadi tong-kosong yang nyaring bunyinya. Momen pertunjukan “Kaspar” dianggap tepat, karena situasi sosial-politik Indonesia pada saat itu dalam keadaan cheos. Tahun 2001, “Kaspar” ditampilkan di Festival “Lakoon, Hamburg, Jerman”

Pada tahun 2003, 2007, 2014, 2015 pertunjukan “Merah Bolong” telah berulang kali dipentaskan di berbagai festival nasional dan internasional (Australia dan Amerika).

Pencaharian pada tubuh-tubuh urban, tubuh-tubuh marginal, tubuh-tubuh ringkih, tubuh-tubuh yang terdistorsi oleh tekanan politik dan kekuasaan, demokrasi yang kebablasan. Tubuh-tubuh para aktor dihadapkan pada tubuh-tubuh baru yang mengepung dan mengancam setiap gerak, dan tubuh menjadi tidak berdaya.

Pada tahun 2014, kolaborasi pertunjukan “Tubuhku Ingin Menjelma Menjadi Padi Yang Merunduk” berangkat dari latar belakang budaya antara Indonesia dengan Taiwan. Kolaborasi ini dimulai Chung Shefong, seorang Artistik Direktor dari Taiwan bersama saya dan Bulqini (Penata Artistik), menggabas “Rice and River Project” sebagai event Festival Lingkungan.

Pohaci dalam konsep mitologi masyarakat Sunda dan Kwan Im sebagai Dewi Welas Asih dalam konsep mitologi masyarakat Suku Ihkei di Taiwan, dijadikan sebagai benang merah kolaborasi budaya Indonesia-Taiwan.masing-masing mempunyai mitos dan tradisi ritualnya dalam menyikapi alam dan lingkungan dengan ketubuhannya. Spirit Pohaci dan spirit Kwan Im dijadikan inspirasi untuk kolaborasi pertunjukan “Tubuhku Ingin Menjelma Menjadi Padi Yang Merunduk”.

Pertumbuhan teater di berbagai banyak negara dikembangkan seiring dengan munculnya masalah dan isu-isu yang tengah terjadi. Tumbuhnya kehadiran teater tubuh di masyarakat internasional kepentingannya semakin kontekstual dan universal. Selain itu, diharapkan dapat menawarkan pilihan pada bentuk pertunjukan teater tubuh sebagai pengembangan teater modern Indonesia yang berakar dan bersumber pada spirit tradisi seni-budaya Indonesia.

Ketubuhan dalam teater bukanlah sesuatu yang baru. Sejak zaman primitif pun ekspresi tubuh menjadi peristiwa ritual kehidupan manusia. Sejak manusia mengenal tubuhnya, mengenal tubuh manusia lainnya, dan mengenal tubuh lingkungannya.

Tubuh sebagai pusat energi manusia dalam melakukan aktivitasnya. Tubuh dilengkapi pancaindra sebagai suatu kesatuan anugerah yang diberikan Maha Pencipta kepada manusia. Keberadaan manusia tidak bisa terpisahkan dari kondisi dan situasi tubuh alam yang mempengaruhi karakteristik tubuh manusia. Tubuh yang tumbuh di alam mempunyai ruang, waktu, dan dimensi yang berbeda. Pertumbuhan tubuh manusia mempunyai ketergantungan terhadap alam.

Tubuh alam semakin dihancurkan oleh peradaban yang memberhalakan industri. Pengaruh kekuatan kapitalis yang mengakibatkan tatanan tubuh budaya dan tubuh lingkungan ditenggelamkan oleh gelombang arus globalisasi industri yang dibangun tanpa batas dan ukuran. Tubuh bukan hanya hadir sebagai gambaran dari realitas yang ada. Lebih dari itu, tubuh berupaya melakukan pencaharian dan pemahaman terhadap ketubuhannya sendiri. Media utama manusia adalah tubuhnya. Ada tiga tahapan yang bisa dilakukan untuk mengolah ketubuhan;

  1. Mengenal tubuh sendiri
  2. Mengenal tubuh orang lain
  3. Mengenal tubuh lingkungan

Tiga tahapan di atas merupakan dasar dari pengenalan dan pemahaman terhadap sejatinya tubuh.

“Aku mengolah tanah dan air dengan tubuhku. Aku mencangkul tanah, membalikkan tanah, mengalirkan air selokan ke sawah. Aku tanam padi dari kesadaran tubuhku, menggerakkan laku tubuhku untuk mempertahankan hidup agar tetap terjaga. Karena hidup adalah hidup. Karena hidup adalah anugerah yang selayaknya disyukuri dan dipertahankan keberlangsungannya, demi kehidupan selanjutnya yang lebih baik.”

(Tubuhku Ingin Menjelma Menjadi Padi yang Merunduk)

Narasi di atas dijadikan teks tubuh untuk kebutuhan melakukan proses kreatif ketubuhan Penulis dalam menyiapkan proses “Tubuhku Ingin Menjelma Menjadi Padi yang Merunduk”. Prosesnya masih tetap berlangsung sampai sekarang, dipersiapkan sejak 2014 yang lalu. Selama 24 tahun melakukan “Trial and Error”, mencari dan mengembangkan teater tubuh bersama para aktor dan penata artistik dari beberapa generasi di Teater Payung Hitam.

Pertunjukan teater tubuh memberikan ekstra imajinasi dan tafsir (nalar) yang multi interpretasi bagi pelaku dan penontonnya. Interaksi antara aktor (tanpa kata) dengan penonton, di mana kata-kata (verbal) utamanya muncul dari imajinasi dan pikiran penonton.

Memahami tubuh sendiri, memahami tubuh orang lain, dan memahami tubuh lingkungan menjadi filosofi tubuh yang universal. Tubuh bukan hanya tulang, daging, darah dan kulit. Tubuh digunakan oleh pikiran dan rasa, oleh jiwa yang bersemayam di dalam tubuh. Mengolah tubuh adalah mengolah kesadaran agar tubuh selalu terjaga dari kehidupan yang dilakoninya.

Tubuh natural para petani padi melakukan aktivitas kesehariannya di sawah. Tubuhnya digunakan untuk bekerja. Mengolah sawah, mencangkul tanah, membajak tanah, mengalirkan air selokan ke sawah, menanam padi, membuat bebegig untuk mengusir burung-burung di sawah, menjaga dan merawat padi yang ditanam, begitu dan seterusnya. Sampai saatnya panen tiba, para petani bersukacita memetik hasil kerjanya menanam padi. Padi yang mereka tanam. Perhelatan diselenggarakan sebagai tanda syukur dan rasa terimakasih kepada Maha Pencipta yang telah memberikan sumber kehidupan melalui padi yang mereka tanam.

Kesederhanaan pola hidup para petani diungkapkan dengan pola laku tubuh mereka yang natural. Apa adanya, tanpa pretensi atau tujuan tertentu, selain bekerja dengan segala peralatan yang ada pada tubuhnya, demi menjaga keberlangsungan hidup yang lebih baik. Tubuhnya, sawahnya, padinya, tidak terpisahkan. Satu sama lain saling berhubungan, membangun kesatuan tubuh yang mengakar pada tradisi dan budayanya.

Tubuh televisi mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi pikiran dan emosi penontonnya. Peristiwa apapun yang ditayangkan di televisi bisa menjadi peristiwa “dramatik”, bergantung dari cara pengemasan dan penyampaiannya. Masing-masing stasiun televisi berlomba-lomba menghidangkan berbagai macam tayangan. Mulai dari hiruk-pikuknya suasana politik, bisnis hiburan, mimpi-mimpi, bencana alam, perkosaan, pembunuhan, begal, narkoba, kongkalikong pengadilan, pameran kekayaan, pameran kemiskinan, koruptor, gosip, selingkuhan, supranatural, mistik, reality show, tepuk tangan bayaran, sinetron sabun, semuanya bisa ditayangkan. Semuanya bisa dijual menjadi iklan yang menyesatkan, tapi meraup keuntungan besar bagi para cukong.

Apa yang tidak ada di televisi? Segalanya serba ada. Tinggal pilih saja. Tinggal pilih channelbila yang ditayangkan tidak sesuai dengan selera yang diinginkan. Tubuh televisi banyak dijejali tayangan tubuh-tubuh palsu. Tubuh-tubuh natural yang pura-pura. Didistorsi oleh kepentingan tubuh pasar.

Tubuh marginal yang nasibnya selalu ditimpa celaka. Kecelakaan demi kecelakaan beruntun menjadi sesuatu yang biasa. Rutin. Tergesa-gesa. Kecelakaan menjadi efek domino bagi tubuh marginal. Seperti apa yang terjadi dalam pertunjukan “Post Haste”. Peristiwa kecelakaan Tubuh Tremor membayangi kehidupan kaum marginal yang semakin terkepung oleh tubuh-tubuh raksasa (kekuasaan) negeri ini.

Tubuh bagi seorang aktor adalah segalanya. Spiritualitas yang ada di kedalaman tubuhnya menjadi (magma) kekuatan untuk melakukan proses kreatif ketubuhan. Tubuh seperti halnya sebongkah tanah lempung yang lentur. Tubuhnya diolah, dibanting-banting, ditekuk, diluruskan, dibengkokkan, dibulatkan, dipatahkan, dan kembali menjadi tubuh natural sebagaimana sejatinya tubuh.***

*Rachman Sabur adalah pendiri/sutradara Teater Payung Hitan dan dosen Tetaer di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Comments

comments

Leave a Reply

1 COMMENT

LEAVE A REPLY