Home AGENDA Pameran “Nautika Rasa” Estetika Kekayaan Bahari yang Hambar

Pameran “Nautika Rasa” Estetika Kekayaan Bahari yang Hambar

712
0

SENI – Pameran ‘Nautika Rasa’ digelar pada 13-25 September 2016 di Galeri Nasional Indonesia – Jl. Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta. Sebuah pameran kolosal dengan dua venue, ruang utama dan ruang C.

Pameran menampilkan karya seni rupa, lukisan, gambar, dan patung. Sejumlah seniman terlibat, objek pameran arah kuatnya bahari Indonesia. Maka dibukalah pameran ini oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Susi Pudjiastuti.

Karya mereka adalah karya khusus yang dihadirkan berdasarkan pengalaman, mereka merespon bahari Indonesia.

“Pameran ini setidaknya memiliki dua ajakan yang penting bagi masyarakat di perkotaan, khususnya di Jakarta, untuk kembali menjadi dekat serta akrab dengan khazanah kekayaan bahari Indonesia yang kaya,” tulis Susi Pudjiastuti dalam katalog sambutan pameran ini.

Sekaligus juga, kata Susi mengajak para pencinta seni rupa untuk menghayati inspirasi keindahan laut yang ditawarkan inspirasi hidup.

Memang sebenarnya seni rupa adalah pengalaman khusus seniman. Karya yang lahir diciptakan dalam ruang ekspresi.

Tema ‘Nautika Rasa’ adalah ikatan yang menyatukan kekayaan pengalaman memandang dan mengenal semesta bahari Indonesia yang beraneka ragam, dalam pandangan-batin dan arus perasaan para seniman yang terus bergerak, tulis panitia dalam blognya.

Baiklah kita siamak bagaimana pameran ini. Secara luas pameran dengan menggelar seniman alumni juga para pengajar di Bale Seni Barli (Bandung), para anggota terpilih dari kelompok kerja Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI), serta beberapa orang seniman terpilih yang akan diundang secara khusus Pameran Seni Rupa Nautika Rasa ini terlalu beragam.

Fokus karya dibuka lebar atau memang kuarasinya yang terlalu longgar, sehingga karya nampaknya dipaksakan harus terlibat dalam pameran ini. Sayang benar retorika besar melebar ada para filsuf dunia diejawantahkan dalam karya atau paparan retorikan seni. Tapi Tak satu pun karya yang dibedah oleh kurator dalam pameran ini. Artinya pameran ini sebenarnya kalau dilihat ada sejumlah karya yang bisa dibedah atau aling tidak disinggung meski tafsir itu kekuatannya sangat luas. Makna dari karya yang di tampilkan dalam tulisan kurator tak mewakili  sejumlah karya yang di pamerkan. Bukannya tugas kurator membedah karya yang akan disajikan, atau memang kini hanya pengantar apreasiasi saja sang kurator, layaknya sebuah rilis untuk media?

Sambutan Galeri Nasional Indonesia dalam katalognya menulis bahwa perhelatan ini kiranya juga terpinsirasi dan relevan dengan perhatian pemerintah yang hendak mengaktualisasikan dan mengoptimalisasasikan kembali sumber daya kemaritiman Indonesia, tulis Tubagus ‘Andre’ Sukmana, jadi dalam pengantar ini masih rancu kiranya. Bukannya yang buka Menteri Susi, jika bicara Maritim harusnya layaknya tulisan ini untuk Menko Maritim dan Galnas tak menyebut Susi yang ada di Kelautan dan Perikanan. persoalan lainnya karya-karya yang ditampilkan adalah karya yang lebih ada wisata bahari, alam yang elok dan indahnya dunia satwa laut dan bawah laut, habit masyarakat dan interpretasi lain soal Nautika. Maritim adalah kekuatan tertorial luas bentang dan politis dunia akan status terbesar negara kelautan Indonesia yang kemaritimannnya harus terjaga dan memiliki nilai pertahanan kuat. Makanya dalam maritim konsepnya ada tol laut, karena persoalan akses yang harus cepat dan selain itu harus kuat karena ini bagian dari sebuah pertahanan bangsa yang mana Indonesia adalah pemilik salah satu maritim terluas.

Karya-karya yang dipamerkan dalam Nautika Rasa ada yang kuat ada yang masih lemah, sejumlah karya dihadirkan, lebih dari seratusan, dari 130an seniman. Ini memang luar biasanya dan patut diapresiasi penyelenggaranya bisa menyumpulkan seniman dengan jumlah banyak.

Sejumlah karya dalam lukisan sangat nampak masih lemah yang dimaksud, misalnya lukisan Susi “Nautika Rasa” yang mendayung ini kalau dilihat secara detail elan anatomi masih lemah, tangan bu susi pendek, lengan yang seakan dipaksakan mendayung.

Ini salah satu bagian saja yang terlihat kasat. Karya lukisan banyak yang sublim juga meski yang seperti itu bagian dari karya yang sifatnya respon terhadap Nautika. Sejumlah karya lukis yang menamilkan kemlekan dan keindshan nyata ada dan juga bagian ini snagat menarik karena masuk ruangan pameran kita segar seolah ada di sebuah seaworld. Kita bisa melihat sejumlah habitat alam laut dan bawah laut dari sejumlah angle setiap senimannya yang mengekpresiakan karya Nautika ini.

Di karya patung saya melihat banyak yang sudah terlihat matang, bahkan olahan dan cara tarikan kuat di karya patung lebih kokoh dan ajeg. Pameran ini jelas menarik kami mengaprisiasinya dan karya mereka diharapkan lebih akan matang lagi jika jam terbang mereka makin melaju terus dengan proses yang lebih konsisten. Agar Nautika rasa itu tidak terasa hambar. Tabik!  | AENDRA MEDITA  

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here