Pentas “Bunga Penutup Abad” Adaptasi Tetralogi Pulau Buru

Pentas “Bunga Penutup Abad” Adaptasi Tetralogi Pulau Buru

Menggenang 10 tahun Wafatnya Pramoedya Ananta Toer

795
0
SHARE
Pentas drama "Bunga penutup abad/ Foto : Wahyu Putro A/ANT

SENI – Titimangsa Foundation bekerja sama dengan Yayasan Titian Penerus Bangsa dan Bakti Budaya Djarum Foundation, pentaskan adaptasi novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa yang termasuk dalam seri novel Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Pementasan tanggal 25 – 27 Agustus 2016 ini merupakan persembahan dalam mengenang 10 tahun meninggalnya Pramoedya ini menampilkan Happy Salma  (Nyai Ontosoroh), Reza Rahadian (Minke).

Pementasan disutradarai Wawan Sofwan yang pernah menyutradari berbagai pementasan teater seperti Mereka Memanggilku Nyai OntosorohMonolog Inggit, Musikal Sangkuriang, Rumah Boneka dan Subversif.

Selain Aktor Reza Rahardian yang berperan sebagai Minke beradu akting dengan Happy Salma yang berperan sebagai Nyai Ontosoroh ada juga, Lukman Sardi yang memerankan Jean Marais, Sabia Arifin yang menjadi May Marais serta Chelsea Islan yang memerankan Annelies Mellena.

Karya sastra legendaris dalam sebuah pementasan teater. “Ini satu kebahagiaan bagi saya yang boleh mengapresiasi karya penulis besar Indonesia ke panggung teater dan salah satu cara untuk mengenalkan generasi muda akan karya-karya sastra Indonesia,” ujar Happy Salma yang juga produser.

Bunga Penutup Abad ini berkisah mengenai kehidupan Nyai Ontosoroh dan putrinya Annelies. Setelah kedatangan Minke, teman Robert, kakaknya, Minke terpikat pada kecantikan Annelies. Keduanya pun menjadi tak terpisahkan. Dikisahkan pula tentang latar perjuangan Nyai Ontosoroh, menuntut haknya sebagai istri Robert Mellema yang sah di mata hukum. Namun, diskriminasi hukum itu begitu kuatnya. Ketika anak kandung Robert datang dari Belanda, untuk merebut seluruh harta ayahnya, Nyai Ontosoroh tak berdaya.

Tak hanya itu, ia juga kehilangan hak asuh atas Annelies. Pengadilan memutuskan, Annelies harus dibawa ke Belanda. Bahkan, pernikahannya dengan Minke pun tak diakui di mata huku. Nyai Ontosoroh yang khawatir mengenai keberadaan Annelies, mengutus seorang pegawainya untuk menemani kemana pun Annelies pergi, bernama Robert Jan Dapperste atau Panji Darman. Kehidupan Annelies sejak berangkat dari pelabuhan Surabaya dikabarkan oleh Panji Darman melalui surat-suratnya yang dikirimkan pada Minke dan Nyai Ontosoroh. Surat-surat itu bercap pos dari berbagai kota tempat singgahnya kapal yang ditumpangi Annelies dan Panji Darman. Minke selalu membacakan surat-surat itu pada Nyai Ontosoroh. Surat demi surat membuka sebuah pintu nostalgia antara mereka bertiga, seperti ketika pertama kali Minke berkenalan dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh, bagaimana Nyai Ontosoroh digugat oleh anak tirinya sampai akhirnya Annelies harus dibawa pergi ke Belanda berdasarkan keputusan pengadilan putih Hindia Belanda. Narasi cerita dirangkai dari surat-surat yang dikirim Panji Darman.

Ketegangan makin memuncak setelah Minke mendapatkan kabar bahwa Annelies meninggal di Belanda. Minke yang dilanda kesedihan kemudian meminta izin pada Nyai Ontosoroh untuk pergi ke Batavia melanjutkan sekolah menjadi dokter. Ke Batavia, Minke membawa serta lukisan potret Annelies yang dilukis oleh sahabatnya Jean Marais. Minke memberi nama lukisan itu, Bunga Penutup Abad.

Dalam kisah tetralogi Pram seperti diketahui sangat jelas ceritanya penuh warna dan kuat dalam bertutur. Pram bukan saja mampu membangun imaji tapi ia juga kuat memberkikan ilustrasi bagaimana cerita itu mengalir dan tanpa kita bisa lenggah mengikuti alurnya. Karyanya begitu dahsyat. Dan kini Pram sudah 10 tahun pergi dan karyanya tetap bisa dikenang dan dinikmati dalam kisah-kisah yang ada dalam karya yang abadi. Tabik!  | AHMK

Comments

comments

Leave a Reply

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY