Home DUNIA Anton Chekhov Sang Pengaruh Literatur dan Pertunjukan Drama Abad 20

Anton Chekhov Sang Pengaruh Literatur dan Pertunjukan Drama Abad 20

1524
0
Anton Chekhov foto via famousauthors.org

SENI.CO.ID – AdaAnton Pavlovich Chekhov atau lebih dikenal di Indensia sebagai Anton Chekhov. Ia adalah Fisikawan, penulis cerita pendek, drama pendek kewarganegaraan Rusia. Chekhov 29 Januari 1860  dan meninggal 15 Juli 1904 dalam Kalender Julian: 17 Januari 1860 dan 2 Juli 1904 merupakan seorang penulis besar Rusia yang terkenal terutama karena cerpen-cerpen dan dramanya.

Banyak karyanya dianggap sebagai apotheosis dari bentuk sementara dramanya, meskipun hanya sedikit – dan hanya empat yang dianggap besar – mempunyai dampak yang besar dalam literatur dan pertunjukan drama.

Chekhov lebih dikenal di Rusia modern karena ratusan cerpennya, dan banyak di antaranya dianggap merupakan adikarya dalam bentuk karangan tersebut. Namun drama-dramanya juga memberikan pengaruh yang mendalam terhadap drama abad ke-20.

Itulah Chekhov, dan banyak pengarang drama kontemporer belajar bagaimana memanfaatkan suasana hati, hal-hal yang kelihatannya tidak berarti dan inaksi (berdiam diri) untuk menyoroti psikologi batin para tokohnya.

Keempat drama utama Chekhov – Burung Camar, Paman Vanya, Tiga Saudari, dan Kebun Ceri—seringkali ditampilkan kembali dalam pementasan-pementasan modern.

Di Indonesia yang pernah sukses menampilkan karya Chekhov adalah kelompok teater modern pertaman Studiklub Teater Bandung -STB.  Burung Camar, Paman Vanya yang dipentaskan STB memberikan catatan penting dalam drama modern Indonesia. Yang garap adalah Suhu Teater Indonesia Suyatna Anirun yang lahir di Bandung 20 Juli 1936 dan meninggal 11 Januari 2002. Bergaul dengan dunia drama atau teater sejak masih menjadi pelajar di SLA, dan sejak itu teater tidak pernah lepas dari kehidupannya. 

STB lahir 30 Oktober 1958, saat itu Suyatna kuliah di Departemen Seni Rupa ITB dan mendirikan Studiklub Teater Bandung, bersama-sama dengan Jim (Lim) Adilimas (yang sejak tahun 1967 menjadi aktor di Paris, Prancis), Sutardjo Wiramihardja, Tien Sri Kartini, Soeharmono Tjitrosoewono, Gigo BS, dan Adrin Kahar. Sejak itu setiap tahun disutradarainya sekitar empat pergelaran teater (drama modern). Hampir semua drama terkenal yang merupakan naskah standar, baik nasional maupun internasional, pernah disutradarainya. Naskah Indonesia yang pernah disutradarainya antara lain, karya-karya: Saini KM, Dtuy T. Sontani, Kirjomulyo, Achdiat K. Miharja, Ajip Rosidi. Sedang naskah dunia yang pernah disutradarainya antara lain karya Anton Chekov, WB Yeat, Robert Anderson, Archikola Gogol, Ben Johnson, Yevgency Schawwart, Moliere, Bertolt Brecht, Hendri Von Kliest, Frederich Durrenmatt, Sophokles, Goethe, Albert Camus, Girradoux, Shakespeare, Schiller.

Selain menyutradarai, ia juga bermain dalam pergelaran yang disutradarainya, terutama pergelaran dalam kurun waktu 1958 sampai 1980-an. Pemainnya dalam pergelaran-pergelaran itu selalu mendapat pujian dari para penonton, maupun para kritisi, dalam peran apapun. Ketika bermain sebagai Raja Lear, dalam pergelaran King Lear, karya William Shakespear, yang juga disutradarainya sendiri merupakan karya paling monumental. Pada usianya yang ke 50 (Mei 1987) dia tampil sangat memikat, sehingga Arifin C. Noer menulis Suyatna tampil dalam setiap adegan dengan daya pikat yang sangat kuat. Dan puncak keseniannya tampil pada saat Lear berada pada puncak kegilaannya (Tempo, 1987).

Pergulatannya dengan Teater Indonesia tidak hanya terbatas pada penyutradaraan dan menjadi aktor, tetapi juga di bidang penerjemahan dan penyaduran karya-karya dunia. Karya terjemahannya adalah Arwah-Arwah (WB Yeats/1958), Pinangan (Anton Chekov/1958), Paman Vanya (Anton CheChekov/1961), Musa dan Fir’aun (Chrisoper Fry/1967), dan Karto Loewak(Ben Johnson/1982). Karya sadurannya antara lain Di Pantai Baile (WE Yeats),Burung Camar (Anton Chekov), Mawar Biru (Tenessee Williams), Jangan Biarkan Pagi Datang (Tenesse Williams), Tembang Perkasa (Joseph O’Connor), Tabib Tetiron (Malire), Pengadilan Anak Angkat (Bertolt Brecht), Jambangan yang Pecah (Hendrik von Kleis), Prabu Randumulus(Durrenmat), dan Kuda Perang (Goethe).

Kembali ke Chekhov. Ia dilahirkan di Taganrog, sebuah pelabuhan kecil di desa kecil di Laut Azov, di Rusia Selatan pada 29 Januari 1860. Ayahnya seorang pedagang kebutuhan sehari-hari, yang mempunyai kedudukan resmi sebagai Pedagang dari Gilda Ketiga dan kakeknya seorang petani dalam sistem feodal yang berhasil membeli kebebasannya. Anton adalah anak ketiga dari enam bersaudara. Katedral Kenaikan di Taganrog, Rusia, tempat Chekhov dibaptiskan pada 10 Februari 1860.

Chekhov belajar di sekolah untuk anak-anak Yunani di Taganrog (1866-1868), dan pada usia delapan tahun ia dikirim ke Gimnasium untuk anak-anak lelaki di Taganrog.Chekhov adalah seorang murid yang rata-rata. Ia agak pemalu dan tidak suka menonjolkan diri, namun ia terkenal karena sering memberikan komentar-komentar satir, karena sering berulah, dan membuat nama-nama julukan yang lucu-lucu untuk guru-gurunya. Ia senang tampil dalam teater-teater amatir dan sering pula menghadiri pertunjukan-pertunjukan di teater desa.

Pada masa remajanya ia mencoba mengarang berbagai “anekdot” singkat, cerita-cerita lucu ataupun yang menggoda, meskipun ketika itu ia juga dikenal pernah menulis drama panjang yang serius, “Anak piatu”, yang kemudian dihancurkannya.

Chekhov jatuh cinta dengan teater dan sastra sejak masa kanak-kanak. Pertunjukan pertama yang ia tonton adalah opereta Elena si Cantik karya Jacques Offenbach di panggung Teater Kota Taganrog pada 4 Oktober 1873.

Chekhov saat itu seorang murid Gimnasium yang berusia 13 tahun, dan sejak saat itu ia menjadi pencinta besar teater. Ia menghabiskan praktis semua tabungannya untuk teater. Kursi favoritnya di teater itu adalah barisan belakang karena murah (40 kopek perak), dan karena murid-murid Gimnasium membutuhkan izin khusus untuk masuk ke teater.

Seringkali izin tidak diberikan dan kebanyakan hanya untuk hari-hari biasa. Kadang-kadang Chekhov dan teman-temannya sesama murid sekolah menyamar dan bahkan mengenakanmake up, kacamata atau janggut palsu, untuk menipu staf sekolah biasa yang memeriksa kalau-kalau ada murid yang menonton tanpa izin.

Ibu si pengarang, Yevgeniya, adalah seorang juru cerita yang hebat, dan Chekhov diduga memperoleh bakatnya untuk bercerita dan belajar membaca dan menulis daripadanya. Ayahnya, Pavel Yegorovich Chekhov, seorang yang sangat berdisiplin dan fanatik, menuntut semua anaknya mengabdikan diri kepada Gereja Ortodoks Timur dan bisnis keluarganya. Pada 1875, ketika terancam bangkrut, ia terpaksa melarikan diri dari para kreditur ke Moskwa, tempat kedua anak sulungnya belajar di universitas.

Selama beberapa tahun berikutnya keluarganya hidup dalam kemiskinan. Anton tetap tinggal di Taganrog selama tiga tahun berikutnya untuk menyelesaikan sekolahnya. Ia berusaha mencukupi kebutuhannya dengan memberikan les privat, menjual barang-barang rumah tangga, dan belakangan, bekerja di gudang pakaian. Pada 1879, Chekhov menyelesaikan sekolahnya di gimnasium dan bergabung dengan keluarganya di Moskwa, setelah ia diteima di sekolah kedokteran di Universitas Negara Moskwa.

Chekhov mulai mengarang cerita-cerita pendek, sketsa humor dan vignet dari kehidupan Rusia masa itu, banyak di antaranya dengan menggunakan pseudonim seperti misalnya Antosha Chekhonte , Laki-laki tanpa perasaan , dan lain-lain. Karyanya yang pertama diterbitkan muncul di mingguan St Petersburg Strekoza pada Maret, 1880.

Tidak diketahui berapa banyak cerita yang ditulis Chekhov selama periode ini, namun ia dengan cepat menjadi penulis yang matang. Ia segera mendapatkan reputasi sebagai penulis satir kehidupan jalanan Rusia. Nicolas Leykin, salah seorang penerbit terkemuka pada masa itu dan pemilik Oskolki (“Fragmen-fragmen”), yang kepadanya Chekhov mulai memasukkan karya-karyanya yang lebih indah, mengenali bakat si penulis namun membatasi prosa Chekhov, hanya pada sketsa-sketsa sepanjang satu setengah halaman.

Sebagian percaya bahwa batasan inilah yang mengembangkan ciri khas gaya penulisan Chekhov yang ringkas padat. Chekhov lulus sebagai dokter pada 1884, namun tetap menulis untuk terbitan-terbitan mingguan dan pada 1885 mulai mengirimkan tulisannya ke Peterburgskaya Gazeta (“Gazeta Petersburg”) karya-karya yang lebih panjang dan sifatnya lebih serius. Leykin menolak karya-karya ini. Pada Desember 1885 ia diundang untuk menulis untuk salah satu koran yang paling dihormati di St Petersburg, Novoye vremya (Новое Время, “Zaman Baru”), yang dimiliki dan disunting oleh milyuner Alexey Suvorin.

Pada 1886 Chekhov sudah menjadi penulis terkenal, namun ia masih menganggap mengarang sebagai hobi. Dmitrii Grigorovich, salah seorang dari banyak penulis yang tertarik pada cerita-cerita Chekhov, membujuknya agar ia lebih serius dengan bakatnya. Dalam suatu tahun yang sangat produktif, Chekhov menulis lebih dari seratus cerita pendek dan menerbitkan kumpulannya yang pertama, “Aneka Cerita” (Pestrye rasskazy) dengan dukungan dari Suvorin, dan pada tahun berikutnya kumpulan cerita pendeknya “Di Kala Senja” (V sumerkakh) memenangkannya Penghargaan Pushkin yang sangat diincar. Ini menandai awal kariernya yang sangat produktif sebagai pengarang.

Tahun kematangan Chekhov

Pada akhir 1880-an, Chekhov tertulari tuberkulosis dari pasiennya. Pada 1887, dipaksa oleh beban kerja yang berlebihan dan kesehatannya yang memburuk, Chekhov melakukan perjalanan ke Ukraina timur. Sekembalinya, ia mulai menulis cerita pendeknya yang panjang, Steppa (Step), yang akhirnya diterbitkan dalam sebuah jurnal sastra yang serius, Severny vestnik (“Utusan Utara”). Cerita pendek ini menandai puncaknya yang baru sebagai pengarang, karena karyanya diterbitkan dalam sebuah terbitan terkemuka pada masa itu dan menunjukkan kematangan yang membedakan fiksinya yang belakangan.

Dengan Maxim Gorky di Yalta pada 1900. Produksi pertama “Burung Camar”, yang ditampilkan pertama kali pada 17 Oktober 1896, di St. Petersburg, merupakan bencana bagi Chekhov. Pada malam pembukaannya, penonton mengharapkan sebuah komedi, dan kelompok sandiwara itu hanya punya sembilan hari untuk berlatih. Ejekan dan cemooh menyambut monolog Nina pada akhir Babak I. Begitu kecewanya Chekhov sehingga ia menulis, “Saya tidak akan pernah melupakan kejadian semalam… saya tidak akan pernah menampilkan sandiwara itu di Moskwa, tidak akan pernah. TAK PERNAH lagi saya menulis atau menampilkannya lagi.” (Secara kebetulan, para penonton pada malam ke-2 dan ke-3 lebih menghargainya, namun Chekhov tidak memedulikannya.) Setelah produksi kedua Burung Camar (dan suksesnya yang pertama) oleh Teater Seni Moskwa, pada 1898, ia menulis tiga buah drama lagi untuk kelompok yang sama: Paman Vanya, Tiga Saudari dan Kebun Ceri. Pada1901 ia menikah dengan Olga Leonardovna Knipper (1870-1959), seorang aktris yang bermain dalam drama-dramanya.

Karya-karyanya Drama

That Worthless Fellow Platonov (Platonov yang Tidak Berguna) (l.k.1881) – satu babak On the Harmful Effects of Tobacco (Bahaya Racun Tembakau) (1886, 1902) Ivanov (1887) – empat babak The Bear (1888) – (Orang Kasar) komedi satu babak The Proposal atau A Marriage Proposal (Pinangan) (l.k.1888-1889) – satu babak The Wedding (1889) (Pesta Perkawinan) – satu babak The Wood Demon (Hantu Kayu) (1889) – komedi empat babak The Seagull (Burung Camar) (1896) Uncle Vanya (Paman Vanya) (1899-1900) – berdasarkan The Wood Demon Three Sisters (Tiga Saudari) (1901) The Cherry Orchard (Kebun Ceri) (1904)

Non fiksi

Perjalanan ke Sakhalin (1895), termasuk: Pulau Saghalien [atau Sakhalin] (1891-1895) Melintasi Siberia

Surat-surat Cerita pendek Banyak dari cerita-cerita yang lebih awal ditulis dengan nama samaran “Antosha Chekhonte”. “Intrigues” (1879-1884) – sembilan cerita “Late-Blooming Flowers” (1882) “The Death of a Government Clerk” (1883) (difilmkan di Indonesia oleh Syuman Djaya dengan judul “Si Mamad”) “The Swedish Match” (1883) “Lights” (1883-1888) “Oysters” (1884) “Perpetuum Mobile” (1884) A Living Chronology (1885) “Motley Stories” (“Pëstrye Rasskazy”) (1886) “Excellent People” (1886) “Misery” (1886) “The Princess” (1886) “The Scholmaster” (1886) “A Work of Art” (1886) “Hydrophobia” (1886-1901) “At Home” (1887) “The Beggar” (1887) “The Doctor” (1887) “Enemies” (1887) “The Examining Magistrate” (1887) “Happiness” (1887) “The Kiss” (1887) “On Easter Eve” (1887) “Typhus” (1887) “Volodya” (1887) “The Steppe” (1888) – memperoleh Penghargaan Pushkin “An Attack of Nerves” (1888) “An Awkward Business” (1888) “The Beauties” (1888) “The Swan Song” (1888) “Sleepy” (1888) “The Name-Day Party” (1888) “A Boring Story” (1889) “Gusev” (1890) “The Horse Stealers” (1890) “The Duel” (1891) “Peasant Wives” (1891) “Ward No 6” (1892) “In Exile” (1892) “The Grasshopper” (1892) “Neighbours” (1892) “Terror” (1892) “My Wife” (1892) “The Butterfly” (1892) “The Two Volodyas” (1893) “An Anonymous Story” (1893) “The Black Monk” (1894) “The Head Gardener’s Story” (1894) “Rothschild’s Fiddle” (1894) “The Student” (1894) “The Teacher of Literature” (1894) “A Woman’s Kingdom” (1894) “Three Years” (1895) “Ariadne” (1895) “Murder” (1895) “The House with an Attic” (1896) “My Life” (1896) “Peasants” (1897) “In the Cart” (1897) “The Man in a Case”, “Gooseberries”, “About Love” – the ‘Little Trilogy’ (1898) “Ionych” (1898) “A Doctor’s Visit” (1898) “The New Villa” (1898) “On Official Business” (1898) “The Darling” (1899) “The Lady with the Dog” (1899) “At Christmas” (1899) “In the Ravine” (1900) “The Bishop” (1902) “The Bet” (1889) “Betrothed” atau “A Marriageable Girl” (1903) “Agafya” “The Pipe” “The Lottery Ticket” “Verochka” Novel[sunting | sunting sumber] The Shooting Party (1884-1885)

Kehebatan Chekhov sampai ada sebuah kawah di Merkurius yang dinamai Chekhov untuk menghormatinya. -dbs/stb/SN

Leave a comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here