Di balik Gemerlap Kompetisi Piano

Di balik Gemerlap Kompetisi Piano

5894
0
SHARE
Ananda Sukarlan
Di balik Gemerlap Kompetisi Piano
Oleh Ananda Sukarlan, pianis & komponis
Tidak dapat dielakkan, kompetisi piano kini telah menjamur di Nusantara, dan dampak positif dan negatifnya makin terasa. Sayangnya belum ada standardisasi untuk kualitas serta penilaian juri terhadap para peserta, dan peserta sering menjadi “korban” baik sengaja atau tidak sengaja. Tulisan ini tadinya saya buat sebagai pengantar di edisi Ananda Sukarlan Award (ASA) Piano Competition yang diadakan akhir Juli ini di Jakarta, dimana hadiah tertingginya adalah beasiswa summercourse ke Perancis dari Institut Francaise d’Indonesie, tapi saya sadar bahwa ini ditujukan kepada semua yang berkecimpung di musik.
Di dalam dunia musik, semua adalah pemenang. Sayangnya , pertumbuhan kompetisi musik akhir-akhir ini telah menelurkan berbagai agenda yang telah melupakan ini. Menggunakan kompetisi untuk memenangkan seseorang yang tidak berkualitas “pemenang” dengan cara-cara yang tidak lazim akhirnya akan merugikan si “pemenang” dan kompetisi itu sendiri. Apalagi jika kompetisi bukanlah “tujuan akhir”. Bayangkan jika ASA mengirim seorang pianis yang tidak berkualitas cukup untuk menjadi duta bangsa. Selain memalukan ASA, tentu itu juga akan memalukan negara, karena bagaimanapun, setiap diri kita menyandang nama negara di dalam sikap dan perbuatan kita di dunia internasional, tanpa harus resmi menjadi seorang “diplomat”. Oleh sebab itu kompetisi ASA tidak pernah dan tidak akan pernah mengundang seseorang non-pianis duduk sebagai juri. Ia bisa saja mengerti banyak soal teori bermain piano, tapi ada jarak yang sangat lebar antara teori dan praktek dalam bermusik.

 
Dalam sebuah kompetisi dimana kelebihan satu peserta tidak bisa diukur secara pasti — seperti halnya lomba lari atau lompat tinggi –, tentu subyektivitas juri memegang peranan. Oleh sebab itu, seharusnya juri yang memiliki keterikatan profesional ataupun hanya secara batin ke peserta (guru ke murid, anggota keluarga atau teman dekat) seharusnya tidak ikut menilai.
 
Setiap peserta kompetisi mengharapkan untuk menang, walaupun mereka tahu, itu hanya bisa diraih oleh 1 orang di dalam kategorinya. Hal yang mereka harapkan kalau tidak meraih “juara I” itu adalah penilaian yang jujur dari para juri yang diharapkan memang lebih ahli, lebih peka dan lebih bijaksana. Lebih ahli, sehingga juri dapat menunjukkan bagaimana menurutnya suatu frase atau suatu elemen musikal dimainkan, bukan hanya mengkritiknya. Lebih peka, sehingga ia dapat mendengarkan hal-hal yang tadinya tidak didengar oleh peserta sewaktu bermain, sehingga dapat menyadarkannya tentang satu detail tertentu. Lebih bijaksana, dalam penyampaian dan dalam memperbaiki satu & lain hal, baik dalam hal teknis, komunikasi ke pendengar, pendalaman artistik atau pengetahuan musik. Memang penting sekali apa yang ditulis juri di lembaran komentar & penilaian, tapi lebih penting lagi adalah pembuktian bahwa sang juri itu dapat melakukan apa yang ia kritik di lembaran itu seperti yang dianjurkannya di komentarnya.
Memenangkan kompetisi bukanlah akhir dari suatu karir, tapi justru sebuah permulaan.  Memenangkan kompetisi hanyalah anak tangga pertama, yang memang harus ada di tangga untuk mencapai puncaknya, tapi tidak ada gunanya menang di sebuah kompetisi jika kemenangan itu rapuh dalam menunjang tangga itu sehingga akhirnya tidak berguna sebagai pengembangan kepribadiannya, dan nantinya kontribusinya untuk negara jadi nol besar.
 
Musik adalah universal. Musik adalah industri trilyunan dolar/euro di seluruh dunia. Berapa jam Anda pernah lewati tanpa mendengarkan musik? Ke mana-mana Anda pergi , hampir semua yang Anda alami berhubungan dengan musik. Kita dikelilingi olehnya, bermandikan bahkan berendam di dalamnya di hidup ini. Itu sebabnya pendidikan musik adalah milik kita semua, bukan hanya “kalangan elit, terpelajar” dll. Mengapa kita tidak ingin tahu lebih banyak tentang sesuatu yang selalu hadir dalam hidup kita? Apakah kita bisa hidup di dunia tanpa musik? Lalu mengapa kita masih bisa memperbolehkan sekolah umum tanpa pendidikan musik?
 
Ketidakmengertian dan ketidakacuhan terhadap musik lah yang membuat para pelaku & penggiat musik dapat memanipulasi, bahkan sampai tahap mengkorupsi, pandangan masyarakat terhadap musik. Sebuah kompetisi memang menunjuk dewan juri, tapi dewan juri ini adalah sekelompok manusia yang harusnya mewakili masyarakat konsumen musik. Mereka memang berhak menentukan siapa yang menang dan kalah, menuliskan apa saja tentang permainan piano sang peserta, tapi mereka tidak berhak menyalahgunakan kekuasaan ini, karena akhirnya ini akan kembali ke masyarakat. Penonton (awam) (seharusnya) tidak bodoh. Mereka juga bisa menilai kualitas setiap peserta, walaupun lebih secara intuitif dan bukan akademis (yang kadang justru lebih akurat). Musik bukanlah “The Emperor’s New Clothes”; semua orang dapat menikmatinya, merasakan nilai artistiknya walaupun tidak semua orang dapat memainkannya, atau kata Hans Christian Andersen, “menjahitnya”. Oleh sebab itu, ASA secara transparan memberi kekuasaan penuh kepada para peserta untuk menge-post kertas lembaran juri itu di social media, baik sebagai rasa kebanggaan atas pengakuan juri, maupun pernyataan protes atas apa yang ditulis juri tersebut. Dan di kertas itu tertera jelas nama juri, semua komentarnya serta nilai yang diberikan.
 
Seperti Emerson menulis, “Beauty is its own excuse for being”, atau ada lagi frase yang lebih terkenal (sampai-sampai saya tidak tahu siapa yang aslinya menulis ini): “Beauty is in the eye of the beholder”. Jangan sampai subyektivitas ini disalahgunakan. Mari kita gunakan hak kita semua untuk menikmati musik milik kita semua, dan mari kita gunakan musik untuk membela keadilan dan keindahan di dunia ini, paling tidak, di Nusantara tercinta.
 
Ananda Sukarlan, Juli 2016 untuk SENI.co.id

Comments

comments

Leave a Reply

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY