Bincang dengan Ananda Sukarlan tentang Legenda Simfonik yang unik

Bincang dengan Ananda Sukarlan tentang Legenda Simfonik yang unik

1747
0
SHARE
SENI – Anda tentu pernah, bahkan sering menikmati karya luarbiasa komponis Rusia Sergei Prokofiev, Peter and The Wolf, sebuah karya orkes dengan narator yang menceritakan kisah anak-anak. Karya itu adalah karya pertama di dunia dalam bentuk narasi baik secara pembacaan maupun deskriptif musikal, dan tidak banyak karya-karya seperti itu sesudahnya. Kini Indonesia bukan hanya akan memiliki 1 karya seperti itu, tapi TIGA karya. Dan tiga-tiganya berasal dari cerita rakyat Indonesia, dengan musik orkes berakar dari musik daerah Indonesia, dan ditulis, dimainkan, bahkan dikoreografi oleh orang Indonesia.
Pada tanggal 7 Agustus 2016, Ananda Sukarlan akan memimpin orkes remaja yang baru saja lahir April lalu, Indonesia Youth Concert Orchestra (IYCO) memperdanakan 3 karya orkes terbarunya, Symphonic Legends. 3 karya ini berdasarkan 3 cerita rakyat Indonesia yang masing2 akan dinarasikan oleh para tokoh Triawan Munaf, Handry Satriago dan Fasli Djalal. Teks narasi itu ditulis oleh Dr. Murti Bunanta, Doktor pertama yang mendalami sastra cerita rakyat Indonesia. Ananda tertarik membuat musik dari cerita2 yang diceritakan ulang oleh Murti Bunanta karena buku2 Dr. Bunanta itu telah menjadi bacaan Alicia, anak semata wayang Ananda, untuk memahami cerita2 rakyat Indonesia waktu ia masih kecil, sekaligus untuk belajar bahasa Indonesia. Dr. Bunanta menceritakannya kembali dengan bahasa yang sangat segar & inspiratif, sehingga waktu Ananda membacakannya kepada si kecil Alicia, kata-kata di buku itu mampu menebar imajinasi musikal di benaknya. Lebih dari 10 tahun kemudian, sketsa-sketsa itu kini dikumpulkan dan dibuat menjadi karya orkes utuh oleh sang ayah yang juga seorang komponis terkemuka. Tiga mahakarya orkes ini akan menjadi sangat unik, selain dinarasikan juga akan ditampilkan dengan tarian atas koreografi Chendra Panatan, membuat karya2 ini menjadi “Peter and the Wolf”-nya Indonesia.  3 cerita itu adalah Bujang Permai (Sumatra Barat), Legenda Pohon Beringin (Jawa) dan Hua Lo Pu (Maluku). Acara akan mengambil tempat di Graha Bhakti Budaya, Minggu 7 Agustus pk. 7 malam.
Untuk mengetahui tentang orkes IYCO, silakan klik http://www.thejakartapost.com/news/2016/05/04/the-birth-an-orchestra.html
bunanta poster
Berikut tanya jawab dengan sang komponis yang juga akan memimpin IYCO di 3 karya barunya 7 Agustus nanti.
SENI : Anda menggunakan istilah “symphonic legends”. Apa sih sebetulnya “symphonic” itu?
AS : Kalau kita menggunakan istilah “simfonik”, baik karya yang benar-benar simfoni atau seperti karya baru saya ini, biasanya adalah karya yang berdurasi cukup panjang (simfoni terpendek yang saya tahu adalah sekitar 15 menit-an, dari abad 18, yaitu simfoninya Joseph Haydn atau W.A. Mozart). Durasi bukanlah intinya, yang penting karya simfonik itu mengajak pendengar untuk “mengembara” ; simfoni adalah suatu perjalanan. Kita mendengar motif-motif, tema-tema berkembang dan saling bertemu atau bervariasi, menyusuri berbagai suasana. Semakin ke era modern, durasi simfoni semakin panjang (hehe .. mungkin karena hidup ini tambah rumit ya). Saya pernah memainkan simfoni yang saat ini terpanjang, yaitu 1,5 jam : Turangalila Symphonie, karya komponis Perancis Olivier Messiaen yang ditulis th 1946-48. Yang harus diingat kalau mau memainkan karya seperti ini: sebelum keluar panggung, ke toilet dulu. Kita tidak akan bisa “minta izin” selama 1,5 jam kedepan!
SENI : Kenapa karya anda tidak bisa disebut Simfoni saja?
AS : Sebetulnya bisa sih, cuma saja biasanya Simfoni itu abstrak, alias tidak ada ceritanya. Nah, karya-karya saya ini karena berdasarkan cerita, jadi musiknya mengikuti itu, maka saya sebut “Legenda Simfonik” (berdasarkan “legenda” rakyat). Tapi sebetulnya ada istilah yang lebih tepat untuk karya-karya baru saya ini, yaitu “Concerto for Orchestra”, karena “concerto” berarti ada pemain solo. Nah, di Symphonic Legends ini selalu ada bagian “solo” untuk tiap pemain utama tiap seksi. Ini saya buat karena saya ingin menunjukkan virtuositas dari para pemain utama IYCO yang memiliki konsep sangat bagus, yaitu memilih pemain-pemain terbaik bukan hanya di Jakarta tapi juga dari seluruh Nusantara. Sekalian deh, terimakasih ke Dewi Atmodjo sebagai pendiri IYCO serta dirigen Addie MS yang sama-sama duduk dalam audisi awal para pemain yang datang dari berbagai pulau ini.
SENI : Bagaimana hubungan narator dengan orkes?
AS : Selain membacakan karangan ulang Murti Bunanta, fungsi narator adalah membimbing pendengar, karena pendengar tetap boleh berimajinasi semaunya dengan musiknya. Misalnya jika sang tokoh sedang mengobati putri raja, saya menginterpretasinya menurut saya, dan sang pendengar setelah mendengar musik saya, bisa saja berimajinasi macam-macam, bagaimana caranya ia mengobatinya. Keistimewaan musik itu di situ, bisa menggambarkan suasana, tapi tidak dengan konkret sehingga “mengikat” imajinasi pendengar. Musik dapat mengekspresikan hal-hal yang sangat sutil, tapi juga mengajak pendengar untuk berimajinasi menurut caranya dan berdasarkan pengalaman hidup masing-masing. Jadi, musik adalah demokrasi yang paling absolut!
SENI: Apakah karya-karya baru Anda ini nantinya bisa dimainkan tanpa narator, dan apakah publik harus tahu cerita dibalik musiknya?
AS : Bisa, dan pendengar sih tidak perlu mengetahui cerita dibaliknya. Itulah mengapa jenis karya seperti ini (seperti Peter and the Wolf-nya Prokofiev juga) sangat sedikit diciptakan. Sangatlah sulit mengawinkan struktur karya secara abstrak/musikal/aural dengan cerita aslinya. Kadang-kadang musiknya menuntut ke satu arah, sementara ceritanya mengikat sang komponis ke arah yang lain. Itu juga sebabnya saya butuh waktu cukup lama menuliskan 3 Symphonic Legends ini.
SENI : Nah itu yang saya mau tanyakan. Berapa lama waktu anda butuhkan untuk menyelesaikan 3 Symphonic Legends ini?
AS : Wah ini pertanyaan yang selalu sulit dijawab, karena dalam menulis musik itu banyak waktu dibutuhkan untuk “melamun”. Kelihatannya saya sedang tidak kerja, dan tidak ada 1 not pun tertulis, padahal proses kreatif sudah mulai berjalan. Saya bekerja seperti arsitek, yaitu bikin kerangka musiknya dulu (ini yang makan waktu lama) kemudian baru menuliskan not baloknya satu-satu. Walaupun nantinya ada jutaan not, tapi menuliskannya itu buat saya jauh lebih cepat daripada membuat kerangkanya. Nah, di Symphonic Legends ini kerangkanya sudah banyak di”dikte” oleh cerita aslinya, tapi seperti yang saya bilang, kadang-kadang musiknya seperti “anak bandel” yang tidak mau nurut “orang tuanya”. Jadi, yang saya tadinya kira kerangkanya sudah separuh jadi dibikinkan oleh ceritanya Murti Bunanta, ternyata justru kadang-kadang bertolak-belakang dengan tuntutan musiknya. Jadi kalau anda ingin tahu berapa lama ya hmmm … begini saja… Saya mulai berpikir soal strukturnya, kerangkanya itu sejak awal tahun ini, setelah konser saya di Jakarta New Year Concert. Sambil memikirkan dan mem”bongkar-pasang” kerangkanya, saya sih menuliskan karya saya yang lain, An Ode to The Nation, karya untuk tenor, paduan suara anak dan orkes yang diminta oleh Pak B.J. Habibie sebagai perwujudan cinta kasihnya ke alm. istrinya Ibu Ainun. Karya itu kelar sekitar bulan Mei lalu, walaupun pertunjukan perdananya justru 5 hari setelah Symphonic Legends (tgl 12 Agustus di Goethe Haus) jadi sejak itulah saya intensif menuliskan not-not Symphonic Legends. Ini agak telat nih, biasanya 1 bulan sebelum konser saya sudah menyelesaikan karyanya, ini baru 2 dari 3 Legends yang betul-betul selesai.
SENI: Jadi bisa dibilang, Anda bikin 2 karya dalam waktu yang bersamaan?
AS: Sebetulnya sih saya selalu begitu. Sambil memikirkan kerangka sebuah karya yang panjang / besar, saya “corat-coret” karya-karya pendek, atau karya yang strukturnya sudah saya dapatkan dengan jelas seperti halnya Ode to The Nation itu.  Atau kalau saya sedang “break” dari menuliskan karya yang panjang, saya biasanya menulis karya-karya pendek yang lebih “light”. Itu sebabnya saya banyak bikin Rapsodia Nusantara untuk piano, juga karya-karya vokal saya berdasarkan puisi-puisi kini hampir berjumlah 200 (!), karena di saat itu saya sedangkan mematangkan konsep sebuah karya besar di kepala saya.
SENI: Tapi ini untuk IYCO yang orkes anak / remaja, jadinya lebih mudah, bukan?
AS : Justru kebalikannya juga : bikin musik yang mudah itu lebih sulit! Tapi ternyata IYCO itu penuh dengan musikus yang tekniknya sudah (hampir) sama dengan para pemain profesional di Indonesia, jadi apa yang saya khawatirkan itu tidak perlu sebetulnya.
SENI: Apa yang membedakan Symphonic Legends anda dengan, misalnya karya Prokofiev tersebut tadi?
AS: Yang pasti, yang satu sangat Rusia, yang tiga ini sangat Indonesia. Selain itu, ada jelang waktu tepat 80 tahun sejak “Peter” yang ditulis th. 1936 dan karya saya. Selama itu, banyak teknik orkestrasi telah berkembang, dan saya menggunakan banyak teknik orkestrasi baru itu di karya saya. Teknik-teknik itu antara lain penggabungan instrumen untuk menghasilkan bunyi yang baru, cara memainkan instrumen dll. yang belum dikembangkan bahkan ditemukan di zaman Prokofiev. -AEME/SENI

Comments

comments

Leave a Reply

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY