Saat Guru Seni Budaya Pajang Karya Rupa

Saat Guru Seni Budaya Pajang Karya Rupa

776
0
SHARE
Wadino - Belajar Jujur - cat akrilik pada kanvas - 150x150cm - 2016.jpg

SENI – Keterampilan guru seni budaya memang perlu untuk terus diperbarui sesuai dengan situasi terkini, sehingga dapat ditularkan pada anak didiknya.  Oleh sebab itu, pendidikan seni memiliki proyeksi jangka panjang yang berpotensi memunculkan generasi unggul. Guru seni juga melatih anak untuk berkreasi tanpa paksaan dan memiliki keberanian mengambil resiko, sehingga diharapkan dapat melahirkan karya terbaru dan kreatif.

Pada 2016 ini, acara memperingati Hari Pendidikan Nasional, berupa pameran seni rupa kembali digelar dengan mengusung tajuk “ALUR”. Perhelatan ini akan dilangsungkan pada 25 April – 6 Mei 2016, di Plaza Insan Berprestasi, Gedung Ki Hadjar Dewantara (Gedung A), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat.

Pameran diagendakan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan. Tercatat sebanyak 333 karya peserta yang berasal dari 213 sekolah di 25 provinsi di Indonesia telah mendaftar. Setelah melalui proses seleksi oleh tim kurator Galeri Nasional Indonesia, terpilih sebanyak 65 karya dengan berbagai pendekatan material, media, dan teknik, meliputi lukisan, patung, instalasi, objek, komik, keramik, grafis, drawing, batik, dan media pembelajaran. Karya terpilih merupakan hasil olah cipta 65 peserta dari 60 sekolah di 17 provinsi di Indonesia.

Karya-karya tersebut dilihat dari segi tema, dipaparkan Citra didominasi kritik sosial. Ada yang menerjemahkan kritik sosial melalui simbolisasi tokoh-tokoh pewayangan, ada pula yang memilih pendekatan teknik lukis super realis yang prima. Pameran ini semakin berbobot dengan adanya upaya beberapa guru yang melakukan eksplorasi media, juga keterampilan menggambar dengan menggunakanballpoint atau tinta cina.

Berbagai latar belakang budaya, sosial, dan geografi para peserta menjadi kekuatan masing-masing karya. “Meskipun salah satu indikator proses seleksi pameran ini adalah capaian hasil akhir karya, tapi tentunya kurang bijak menggeneralisir kemampuan teknik seorang guru dari satu wilayah dengan wilayah lain. Setidaknya kesempatan mendapatkan akses dan informasi tentang perkembangan seni rupa juga sangat mempengaruhi keterampilan seorang guru dari satu wilayah,” ungkap Citra.

Dengan menggelar Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya 2016, Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus ‘Andre’ Sukmana, berharap perhelatan ini dapat menjadi alur yang mengantarkan para guru seni budaya Indonesia untuk mengembangkan diri dan kreativitas serta kompetensinya sebagai seorang pengajar seni budaya, sekaligus menjadi semacam tolak ukur bagi para pengajar seni budaya untuk menunjukkan eksistensinya dalam profesi ganda, yaitu sebagai pengajar dan perupa.

Selain itu, perhelatan ini juga diharapkan mampu menginspirasi serta memotivasi para pengajar seni budaya dan para siswa untuk menciptakan karya yang berkualitas.

“Kepada para pemangku kepentingan di bidang pendidikan dan kebudayaan, serta masyarakat luas yang berkesempatan mengapresiasi pameran ini diharapkan mampu memberi penilaian positif serta menyerap nilai-nilai estetik dan edukatif yang disuguhkan, sehingga pagelaran ini menjadi media bagi kita semua untuk menjadi apresiator seni yang hebat,” pungkas Andre.(Frigidanto Agung)

Comments

comments

Leave a Reply

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY